Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
bahagia bersama mu


__ADS_3

Kembali kedalam kamar Nuha.


Faqih pun menyalakan lampu kamar itu sementara sang istri langsung menutup mulutnya seraya melirik sebal. Terlihat ekspresi kemenangan di wajah A' Faqih saat melihat sang istri yang menjadi jengkel di buatnya.


"Buka...!" Titah A' Faqih. Sementara gadis itu hanya diam saja, dia kesal akibat gambar kumis pak Raden di bagian atas bibirnya. Benar... Perbuatan A' Faqih itu. "Buka neng, A'a mau lihat hasil karya A'a."


'hasil karya apaan sih, tega sekali dia bikin gambar kumis di atas bibir Nuha begini?' Nuha hendak beranjak namun di tahan.


"Buka nggak?"


"Eng..." Nuha geleng-geleng. Hingga sebuah paksaan harus di lakukan A' Faqih. Kedua tangan Nuha dipegangnya dan di tarik paksa. Karena kekuatan pria lebih unggul dari pada wanita, tangan Nuha pun terbuka. Bersamaan dengan itu Faqih langsung tergelak.


"Buahahahahaha... Ya Allah Bu Raden." Ledeknya sembari memegangi perutnya yang kaku akibat tertawa.


'puas kan dia, puas sekali itu?' batin Nuha menatap sebal pada pria yang masih terkekeh melihat kumis buatannya.


Nuha pun mendorong dada A' Faqih kesal seraya bangun namun langsung di peluk A' Faqih.


"Awas A'a ihh... Sumpah A'a tuh ngeselin banget sih??" Gadis itu sudah semakin geram.


"Hahaha, maaf...maaf...Yuk mandi, nanti A'a bantu hilangkan." Ajak A' Faqih, Nuha pun menghela nafas. Dia masih berusaha mendorong-dorong tubuh sang suami agar melepaskan pelukannya. Hingga pelukan itu pun terlepas, dan Nuha jalan lebih dulu ke tandas sembari bersungut-sungut, sementara yang di belakang masih saja tertawa, seraya mengikuti langkah Nuha.


Di dalam tandas, Nuha duduk di atas Kloset duduk, sementara Faqih lah yang tengah berusaha menghapus coretan itu.


"Susah ilang kan pasti?" Bersungut.


"Bisa, Walaupun samar sih."


"Aaaaaaa... Tidak mau tahu A'... pokoknya harus ilang sempurna. A'a sih rese...! Sudah di bilang itu spidol permanen." Rengek Nuha.


"Apa sih? Siapa suruh mau nyoret wajah A'a duluan tadi."


"Ya kan Nuha nyoret di alis, tidak akan terlihat. Karena alis A'a sudah tebal. Ini apa? Malah di bikin kumis. Pokoknya harus hilang A'...."


"A'a usahakan." Faqih masih sibuk menghapus coretan di wajahnya. Namun bibirnya sesekali mengulum, dia benar-benar menahan tawa karena melihat kumis buatannya itu.


"Jangan ketawa!!" Merengek.

__ADS_1


"Siapa yang ketawa?" Faqih membalik badannya, menutup mulutnya sendiri dengan bahu yang bergetar. 'ya Allah ya Rabb... Kumisnya? Hahaha'


"A'a.. ck!!"


"Iya... Iya..." Masih mengulum senyum itu, beliau pun membalik badannya lagi. Di lihat Nuha semakin bersungut, sungguh sangat menggemaskan sekali ekspresinya itu membuat Faqih memberikan kecupan di bibirnya yang tengah di majukan itu sebentar, lalu kembali menyambung membersihkan coretan itu.


Cukup lama sih namun akhirnya, kumis buatan itu hilang juga. Nuha memastikannya di cermin dan benar kini dia bisa menghela nafas lega.


–––


Di depan meja rias...


A'a meminta Nuha untuk duduk saja. Dia menyisir rambut Nuha yang tak begitu panjang, baru kali ini sih A'a melakukan itu.


Dia terlihat senang dan ikhlas melakukannya.


Cuman masalah bukan itu, waktu sudah semakin berjalan. Gara-gara drama membersihkan kumis saja sudah memakan waktu hampir satu jam. Untung saja mereka bangun di jam tiga kurang seperempat.


"A'a ayo turun, sudah nyisirnya." Pinta Nuha merengek manja. Pria itu masih diam, tangannya masih terus menyisir rambut Nuha dengan sangat kakunya.


"Neng tahu? A'a senang melihat mu seperti ini."


'senang? Seperti ini? Maksudnya bagaimana sih?' (Nuha)


Faqih mencondongkan tubuhnya memeluk Nuha dari belakang. "A'a senang kamu kesal lagi sama A'a."


'apa sih? Orang kesal malah senang.' Nuha melengos.


"Selama ini neng banyak diam, sampai A'a takut neng tidak bahagia menikah sama A'a." Gumamnya dengan wajah terbenam di ceruk leher Nuha. Gadis itu pun tersenyum tipis, ia mengusap-usap rambut A' Faqih.


A'a memang terkadang nyeremin, nyebelin, namun dia punya sisi manis yang membuat Nuha sangat senang dan beruntung menikah dengannya.


"Neng?"


"Iya A'a, Nuha tidak pernah berfikir kalau Nuha tidak bahagia. Nuha sayang A'a."


"Benarkah sayang?" Tanya Faqih semakin memeluk erat seraya mencium lekuk leher itu sehingga membuat Nuha terkekeh geli.

__ADS_1


"Iya A'a, turun yuk. Sudah jam setengah empat lebih loh."


"Cium A'a dulu." Pintanya. Dia melepaskan pelukannya lalu semakin memajukan kepalanya dengan posisi kedua tangan menopang meja rias, mengungkung Nuha.


Senyum ceria terbit di bibir sang istri yang langsung memegangi wajah A' Faqih dengan satu tangannya lalu memberikan kecupan lembut di bagian pipi sebelah kirinya. Merasa kurang Faqih menoleh.


"Bibir A'a juga."


"Iisssshhh banyak maunya ya?" Terkekeh.


"Ayo neng." Dia tidak mau menunggu lama, Nuha pun tersenyum lalu memberikan itu pada A'a. Muaaaah.


"Sayang suami ku ini." Gumam Nuha setelah memberikan kecupan. Faqih tersenyum ia meraih lagi wajah Nuha dan mencium lagi bibirnya cukup lama.


Hingga sebuah ketukan di luar membuat keduanya terperanjat.


"Nuha... Faqih... Sahur dulu yuk." Seru Umma Rahma di luar pintu, karena dua anak itu tak kunjung keluar padahal waktu sudah semakin mepet.


"Iyaaa Umma." Nuha menyaut dari dalam, ia pun menoleh ke arah Faqih. "A'a sih..."


"Apa?" Faqih terkekeh, ia memberikan kecupan lagi sekali barulah setelah itu mereka beranjak.


***


Di sebuah meja makan


Mereka menyantap hidangan sahur dengan canda tawa Abi Irsyad, terlihat Abi Irsyad sesekali menggoda Umma Rahma sehingga membuat Umma sedikit bersungut. Dan dari hal itu juga lah yang membuat Nuha tertawa lepas.


memang kebiasaan Abi ya, yang tidak bisa memberikan ketentraman sedikit untuk Umma.


Mungkin benar kata orang yang menganggap sepasang suami istri, jika semakin tua, maka akan membuat mereka seperti seorang kakak beradik, dengan selayaknya kakak laki-laki yang gemar mengganggu sang adik. Itu lah Abi Irsyad yang tingkat isengnya pada Umma Rahma semakin menjadi.


Tak jauh berbeda dengan Umma, Nuha pun sama sebenarnya sedang mendapatkan keisengan dari pria yang masih terlihat santai menyantap makanannya.


kenapa bicara seperti itu? Karena yang di sebelah bukan iseng dalam hal ucapan. Lihat saja kakinya, dia mengusap-usap bagian betis Nuha. Menaikan kaki Nuha lalu menjatuhkan itu begitu saja, menaikan lagi lalu menjatuhkannya lagi, belum lagi dengan sedikit-sedikit mengusap-usap punggung kakinya, membuat Nuha merasa risih.


Hingga sebuah senyuman tersungging. Faqih senang sih, sepertinya Nuhanya yang ceria sudah mulai kembali. Pertanda apa yang dia lakukan membawa Nuha kembali kerumahnya adalah pilihan tepat.

__ADS_1


__ADS_2