
Selepas drama memalukan yang membuat Nuha, bahkan ingin kabur dan menghilang saja, andai dia bisa berlari saat ini. Memanjat gunung nan tinggi dan bersembunyi di baliknya. Atau mungkin tenggelam di dasar samudera yang pasti jangan munculkan lagi wajah mu di depan A' Faqih.
Pemikiran bodoh mu yang luar biasa ya Nuha, namun jika aku menjadi kau, mungkin akan sama hahaha.
Lihat saja, A'a hanya tersenyum. Dia bahkan langsung memberikan segelas air putih pada Nuha.
"Katanya mau minum?" Tanya dia santai.
'hei... Kau pasti sedang mengejek ku kan dalam hati A'...?' batin Nuha kala melihat Faqih yang masih tersenyum penuh arti. Entah lah apa dia senang melihat Nuha bisa kembali sadar, atau mungkin sedang menertawakan suara alam yang memalukan. Yang pasti Nuha ingin memiliki tongkat peri yang bisa menghilangkan ingatan A' Faqih saat ini. Hiks malu...
"Yuk A'a bantu." Faqih menopang kepala Nuha menaikannya sedikit.
"Aaaa..." Meringis. Di turunkan lagi kepala Nuha.
"Sakit ya?" Turut meringis.
"Iya..." Bernada manja. "Pakai sedotan saja A'.."
"Aaahhh iya... A'a lupa sayang, maaf ya." Diraihnya sedotan plastik yang berada di dekat gelas Nuha tadi. Memasukannya kedalam gelas lalu mengarahkan ujung sedotan yang tertekuk itu ke arah bibir Nuha.
Gadis itu melirik. "Jangan ngeliatin nanti pengen minum lagi." Terkekeh.
"A'a ngeliatin wajah mu bukan airnya."
"Masa?"
"Iya lah..."
"Nuha kan pucat A'... Pasti kacau sekali ya?"
"Enggak..."
"Benarkah?"
"Nggak salah maksudnya." Terkekeh.
"A'a ihhh..."
"Iya enggak sayang, jadi minum tidak sih?" Tanya Faqih, Nuha pun terkekeh.
"Maaf ya, minum di depan mu yang sedang berpuasa." Tuturnya Sebelum memasukan ujung sedotan itu ke dalam mulutnya.
"Tidak apa tinggal satu jam lagi kok, lagi pula iman A'a kan kuat." Mengamati bibir Nuha yang tengah menyedot air dalam gelasnya. Membuat dia merasa gemas, terlebih pipi Nuha yang kembang kempis. Terkekeh sejenak.
__ADS_1
"Mujair." Gumam Faqih tiba-tiba. Nuha pun mengangkat bola matanya.
"Apa?"
"Kamu tahu Empang?" Tanya A'a
"Iya," jawab Nuha.
"Kan suka ada ikan mujair tuh."
"Emmm. Terus?"
"Kaya kamu, neng."
"Kok kaya Nuha."
"Iya bibir mu tadi saat minum seperti mulut ikan mujair yang sedang membuka tutup, menengadah air dari talang air di atasnya." Terkekeh membayangkan lucunya mulut ikan mujair yang di samakan ke Nuha.
"Apa sih A'... Masa mulut Nuha di samakan dengan ikan. Menyebalkan." Bersungut. Faqih menopang dagunya seraya tersenyum tipis, sementara tangan satunya mengusap kepala Nuha.
"A'a gemas. Cepat sembuh ya sayang A'a pengen peluk neng." Tuturnya, tanpa menggubris ucapan Nuha. Gadis itu pun tersenyum kemudian.
"Nuha juga kangen di peluk A'a. Sayang A'a." Tuturnya bernada manja dengan senyumannya yang sangat indah itu.
"MashaAllah kabogoh Abdi." Mencondongkan tubuhnya mengecup pipi Nuha.
"Hehehe. Cepat sembuh sayang... A'a kangen sekali." Masih menempelkan bibirnya di pipi Nuha
"Iya, A'a Dosen sayang." Mengusap-usap pipi A' Faqih yang berada di dekat wajahnya.
"Astagfirullah al'azim, Sudah ahh... Kamu bikin A'a tidak tahan saja." Tutur Faqih. Nuha pun terkekeh namun langsung meringis lagi.
"A'a jangan bikin Nuha pengen ketawa. Perut Nuha sakit."
"Iya sayang maaf. Oh... Iya, A'a keluar dulu ya. Gantian sama Umma Rahma, dan Abi Irsyad." Tutur Faqih.
"Loh... Umma sama Abi di sini?"
"Iya neng, kan A'a harus bilang kondisi mu." Mengusap kepala Nuha. "Ya... A'a keluar dulu."
"Iya A'..." Jawab Nuha tersenyum. Faqih mengecup kening Nuha lalu beranjak dari bangkunya, keluar.
Selepas A'a keluar Nuha menghela nafas, dia masih merasakan sebagian kakinya yang seperti mati rasa sedikit namun di bagian perutnya kini sudah berangsur-angsur hilang efek biusnya, yang tersisa hanya rasa sakit yang semakin terasa saja.
__ADS_1
Dia melirik sekilas, di balik tirainya seperti mendengar rengekan anak kecil yang tak asing.
Dengan suara perempuan dewasa yang terus-menerus menenangkannya. Hingga tak lama tirainya kembali tersibak. Umma dan Abi masuk dengan jubah hijaunya menghampiri Nuha.
"Assalamualaikum." Sapa Rahma mengusap air matanya, gadis itu tersenyum tipis menyapa kedua orangtuanya. "Ya Allah Dede." Umma menghampiri Nuha dengan tatapan sedihnya.
"Umma, sama Abi di sini?" Tanya Nuha, meraih tangan Abi Irsyad lalu mengecup punggung tangannya. Bergantian setelah Umma Rahma mengecup kedua pipi Nuha. Abi Irsyad pun sama mengecup kedua pipi putrinya lalu Keningnya. Terdiam sejenak membacakan doa lalu mengecup lagi kening itu.
"Dede, kenapa kamu bisa diam saja tidak membicarakan ini pada Faqih? Ini bahaya sekali sayang." Tutur Rahma.
"Umma, Dede saja tidak tahu kalau Dede sakit usus buntu." Jawab Nuha lirih.
Abi Irsyad berdiri di sebelah sang istrinya yang sedang duduk di sebuah bangku seraya mengusap-usap kepala Nuha pelan, tanpa berbicara apapun.
"Setidaknya sakit apapun kamu harus bilang Nuha, jangan diam saja."
"Maaf Umma, Nuha kan hanya berfikir kalau Nuha itu kurang minum air putih." Jawab Nuha. Rahma pun menghela nafas lalu mengusap pipi Nuha.
"Pulang dari rumah sakit di rumah Abi Irsyad dulu ya." Pinta Rahma.
"Kenapa Umma? Kok pulangnya ke rumah Abi Irsyad?" Tanya Nuha
"Umma pengen ngerawat kamu sayang."
"Tapi Nuha kan? tinggal di rumah Abi Rahmat," jawab Nuha.
"Iya Umma tahu, cuma kamu harus benar-benar butuh perawatan sayang."
"Umma..." Panggil Abi Irsyad membelai kepala Rahma yang tertutup hijab. "Jangan memaksakan, Nuha sudah punya suami Umma. Tidak baik mengambil keputusan sendiri." Tutur Abi Irsyad.
"Tapi Bi?" Kata-kata Rahma tertahan saat tangan Nuha meraih tangannya.
"Terimakasih sudah perhatian pada Nuha, Umma. Tapi maaf, Nuha kan tinggal bersama A' Faqih, Nuha harus menuruti A' Faqih. Tidak bisa memaksa untuk tinggal sementara di Bekasi."
"Tapi kan hanya selama masa pemulihan saja. Ya sayang... Umma khawatir tidak ada yang bisa merawat mu dengan baik."
"Umma kok bilangnya seperti itu sih? Di sana kan ada Faqih, ada Teh Hasna juga. Dia sangat perhatian pada mu kan sayang?" Ucap Abi Irsyad. Nuha tersenyum tipis.
"Sangat Bi... Umma Hasna sangat perhatian sekali." Jawab Nuha dia pun menatap lagi ke arah Rahma. "Umma, jangan khawatir ya. Nuha akan baik-baik saja kok. Kan ada A' Faqih, dan juga Umma Hasna." Sambungnya.
"Apa boleh buat... Kalau kamu maunya seperti itu. Umma Rahma tidak bisa memaksa." Sedikit sedih. Namun langsung membuat Nuha terkekeh dan memasukan tangan ke cadar Umma Rahma, mengusap pipi sang ibu.
"Nuha tetap sayang Umma Rahma kok."
__ADS_1
"Huhuhu kamu sekarang bikin Umma cemburu Dede." Tutur Rahma yang lantas membuat keduanya terkekeh.
Abi Irsyad mengamati Nuha, dia memang menyadari anak gadisnya yang tak seceria dulu. Andai dulu dia mengizinkan Nuha untuk bersekolah mungkin Nuha akan bahagia namun? Ah... Sudah lah, ustadz Irsyad beristighfar dalam hati. Karena beliau pun memiliki alasan untuk melarangnya sekolah jauh.