Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
aku bukan jodoh yang salah


__ADS_3

Langit yang sudah menggelap membuat bulan menggantikan tugas sang mentari, memberikan cahaya redup untuk bagian bumi yang tak terjamah mentari.


Di tempat yang berbeda.


Ustadz Farhat tengah mengetik data dalam laptopnya, sudah beberapa hari ini beliau sibuk membatu Qori mengurus Agam.


Malam ini dia harus benar-benar mengetik data laporan nilai muridnya di madrasah.


Di sebuah ruang televisi, terdapat meja khusus untuknya mengerjakan semua pekerjaannya. Dengan di temani laptop beliau sesekali mengusap matanya yang perih, karena mengantuk.


Maklumlah, semenjak ada Agam beliau jadi sering kurang tidur.


Ya... Dia benar-benar menepati janjinya untuk mengurus Agam dan Qori, bahkan sampai semua kebutuhan anak itu. Karena memang beliau sudah benar-benar menganggap Agam sebagai anak kandungnya.


Dalam keheningan malam, Qori keluar dari kamar mereka, dia menoleh sejenak sang suami tengah sesekali memijat keningnya sehingga membuatnya merasa tidak tega, dia pun mendekati Farhat dengan hati-hati.


"Mas Farhat." Panggil Qori, mendekat.


"Iya dik?" Menoleh sejenak seraya tersenyum.


"Mas mau Qori buatkan minum tidak?"


"Mau... Mau sekali. Buatkan aku kopi ya, tapi gulanya jangan banyak-banyak." Mengusap lengan sang istri lalu kembali fokus pada laptopnya. Sementara Qori langsung bergegas menuju dapur, demi membuatkan kopi untuk suaminya.


Selama membuat kopi itu dia sangat ceria, senyumnya sesekali mengembang.


Karena hari ini dia sudah benar-benar bersih dengan nifasnya, akankah sang suami akan memberikannya nafkah batin malam ini?


entahlah tiba-tiba dia merasa malu sendiri... Ingin rasanya dia menunjukkan itu, namun dia sendiri malah justru tidak berani berbicara pada Farhat, kalau dia sudah bersih dari masa nifasnya.


Mungkin karena adanya rasa malu itu lah yang membuat Qori tidak bisa untuk mengutarakannya.


Lebih-lebih dengan debaran jantung yang terasa di dada. semakin membuatnya gugup jika ingin mengeluarkan suaranya saat ini.


Ting...Ting... Ketukan sendok ke bibir cangkir menandakan kopi itu sudah siap untuk di berikan ke suaminya.


"Semoga mas Farhat suka kopi buatan ku." Gumam Qori, mengembangkan senyumnya. Setelah itu dia kembali melangkah, di lihatnya sang suami tengah melepaskan peci kupluk nya, lalu menyibak rambutnya kebelakang. Membuat beliau jauh terlihat lebih tampan, terlebih dengan kaos oblong berwana putihnya, juga kain sarung itu.


'mas Farhat memang tampan. Aku beruntung bisa menjadi istrinya. Tapi dia belum terlihat mencintai ku, selama ini saja dia belum pernah mencium ku selain di kening.' batin Qori yang lantas kembali melangkah, mendekati sang suami setelah berhenti sesaat.

__ADS_1


Taaak... "Ini mas kopinya."


"Terimakasih dik." Meraih kopi itu lalu memindahkan sejenak agar tak begitu mengganggu gerak tangannya yang tengah mengetik.


Sementara Qori hanya diam saja, ia berharap ustadz Farhat mencoba kopi buatannya, lalu memujinya walaupun itu hanya basa-basi.


Farhat menoleh kearah gadis di sebelahnya...


"Agam sudah tidur?" Tanya Beliau.


"Sudah mas."


Farhat tersenyum. "Ya sudah, kamu juga tidur ya... Kamu pasti lelah." Usap-usap lengan Qori lagi, lalu kembali berfokus pada laptopnya.


Sementara Qori sedikit merasa kecewa.


'apa kau tak ingin memanjakan ku mas? Walaupun hanya sekedar mencumbu? Aku kan sudah halal untuk mu.' batin Qori. Gadis itu pun tersenyum kecut.


"Iya mas." Jawabnya merasa sedih. 'aku ingin di peluk mas Farhat.' batinnya seraya memutar tubuhnya, lalu berjalan pelan menuju kamar mereka.


Hingga pintu kamar itu sudah tertutup bersamaan dengan Qori. Farhat pun menoleh ke arah pintu, lalu menghela nafas dan menghembuskannya panjang.


Beradu pada pemikiran yang membuatnya merasa bersalah pada wanita yang sudah dia nikahi itu.


Sementara yang berada di dalam kamar tengah duduk di dekat ranjang Agam, dia mengayun pelan ranjang yang terbuat dari rotan itu. Sembari sesekali mengusap matanya yang basah.


'Qori, kau tidak boleh menuntut lebih dari ini. Jika suami mu belum mencintaimu? Seharusnya kau sadar diri.' Qori berusaha sekali untuk tidak menangis, jangan sampai ia terlihat sedih di depan suaminya, hingga membuat Farhat merasakan tidak nyaman berada di dekatnya, yang menganggapnya berlebihan.


Malam yang semakin larut, membuatnya semakin lelah. Dia pun berjalan menuju ranjanya lalu tidur di sana.


Menunggu mas Farhat menyelesaikan pekerjaannya, dia sangat ingin mengobrol lebih dekat lagi dengan sang suami. Namun pria itu menjadi tidak banyak bicara semenjak pulang dari rumah sakit.


Ada apa sih dengannya? Apa dia menyesal karena pernikahan ini?


Cklaaaak.... suara pintu terbuka, Qori pun tersenyum, ketika mendapati sang suami masuk kedalam kamar mereka.


"Kamu belum tidur?" Tanya Farhat, menutup pintu kamar itu, sedangkan Qori hanya beranjak duduk lalu menggeleng pelan.


Menunggu sang suami berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Kenapa? Kok belum tidur?" Farhat duduk di bibir ranjang menghadap ke Istrinya.


"Belum bisa tidur, karena aku menunggu mu mas."


"Kerjaan ku masih ada, tinggal beberapa lagi." Menyentuh wajah Qori lembut. "Kamu tidur duluan saja ya."


"Ya sudah kalau begitu." Jawab Qori pasrah, mau bagaimana lagi kan? Tidak mungkin dia meminta dicumbu oleh suaminya.


"Maaf ya, mas masuk cuma mau ambil charger laptop." Ucap ustadz Farhat. Beliau langsung beralih pada laci meja di sebelahnya lalu meraih charger tersebut. Dan setelah itu beliau beranjak, hingga di raihnya tangan itu oleh Qori.


"Mas." Panggil Qori saat sang suami sudah hendak bangun lalu kembali duduk. "Maaf, Qori hanya ingin bilang. Kalau aku mencintaimu." Menitikkan air matanya seraya tersenyum. Di lihat ustadz Farhat malah justru membeku. "Qori, ingin di cintai juga sama mas Farhat... Tapi Qori sabar kok. Dan...?" Merasa sedikit sesak, dia bahkan sedang menahan tangisnya lagi dengan cara memaksakan senyum. "Jangan lama-lama ya mas, sehingga membuat Qori menunggu untuk di cintai."


"Qori..." Mengusap wajah itu. "Maaf ya, mas melukai mu."


Gadis itu menggeleng. "Tidak mas... Qori tidak merasa mas Farhat melukai hati ku, inilah takdir cinta ku mas... Aku akan terus berjuang dan bertahan. Sampai aku benar-benar menyerah ketika kau benar-benar sudah tidak ingin ada aku di sisi mu." Mendengar itu, Farhat langsung menunduk.


"Mas?"


"Iya?" Mengangkat lagi kepalanya.


'sepertinya beliau tersiksa hidup bersama ku.' batin Qori.


"Maaf... tapi apa boleh? Qori meminta untuk di kecup? Karena sudah dua malam ini, mas belum memberikan ku kecupan."


"Astagfirullah al'azim, Ya Allah... Maaf ya sayang." Farhat mendekati kening gadis itu dan mengecupnya lembut.


"Hiks...Makasih mas. Maaf Qori cengeng, soalnya senang bisa di cium oleh mu." Gadis itu masih menggenggam tangan sang suami dengan kedua tangannya.


"Tidak apa sayang, maaf ya sekali lagi." Mengusap kepala Qori.


"Iya mas. Sekarang mas boleh kok melanjutkan pekerjaan mas." Qori merebahkan tubuhnya, dengan posisi miring, membelakangi.


Tangan Farhat sedikit terangkat namun urung, dia lebih memilih untuk membenarkan selimut Qori.


Beranjak setelahnya dan keluar dari kamar itu, meninggalkan Qori yang kembali menoleh kebelakang sejenak lalu kembali pada posisinya, menangis dengan mulut yang ia bungkam dengan kain selimut itu.


'di nikahi namun karena iba, ternyata tidak serta Merta membuat ku merasa lebih baik. Terlebih ketika aku menjadi seorang yang mencintai sendiri... aku harus bertahan, dan memberikannya keyakinan. kalau aku bukanlah jodoh yang salah.' Qori menghembuskan nafasnya pelan, berusaha meredam tangisnya dan bersikap normal lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2