
Kota Bandung...
Seorang gadis menggeliat, mengusap-usap matanya yang terasa perih.
Dia terjaga sebelum ponselnya berdering, biasanya Rumi hanya akan menelfonnya setelah di angkat dia akan mematikan lagi. Lalu Debby akan merespon dengan pesan chat bahwa dia sudah bangun.
Gadis itu duduk sejenak menilik jam di atas meja masih menunjukkan pukul 02:57. Cukup kepagian untuknya melakukan sahur, dia pun memutuskan untuk bermain ponsel melihat akun Kak Rumi. Kebiasaan Debby adalah stalking akun media sosial milik pria pujaannya itu. Walaupun Rumi sangat jarang phosting foto dirinya, lebih banyak phosting tentang kata-kata atau mungkin tangannya yang tengah menggenggam sesuatu.
'tangannya seksi dan putih... Ya ampun calon imam kapan tangan itu menyentuh wajah ku awwww...' dengan selimut yang menutupi dirinya yang sudah merubah posisi tengkurap, Debby cekikikan sendiri. Hingga dering ponsel pun berbunyi, Debby melebarkan bola matanya.
"Ya... Ampun panggilan surga ku..." Debby beranjak duduk seketika. Hendaknya dia menerima panggilan telepon dari Rumi, namun urung, "Tunggu dulu ahhh, biarkan suara dering ponsel ku yang mendadak menggetarkan hati ini terus berbunyi." Masih membiarkan panggil ponsel itu berdering, memang kurang kerjaan sih Dia. Namun biarkan saja Debby seperti itu karena di jelaskan pun kita tidak akan paham, nikmatnya memandang nama sang pemanggil dari layar ponsel yang tak lain adalah sang pujaan hati. Hehehe. (Jomblo lebih nggak paham sih ðŸ¤)
Panggilan itu terhenti, Debby kembali bertopang dagu dengan kedua tangannya. Menanti layar itu kembali menyala bertuliskan nama calon imam is calling...
"Tiga...? Dua...? Sa...?" Dering ponsel kembali berbunyi. Dengan bodohnya Debby turut bersenandung mengikuti irama musik panggilan teleponnya dengan nada Nanananana serta kepala yang bergoyang ke kiri dan ke kanan. (Antara bucin dan Gila beda tipis ya Deb ckckckck, author pengen nyetil si Debby.)
"Aaahhh... Mendadak dering ponsel ku ini menjadi senandung indah di pagi hari... Wahai ramadhan jangan dulu pergi ya, nggak ada alasan soalnya dia nelfon aku kalau tidak karena bangunin sahur hihihi."
Panggilan terus saja berbunyi sampai lima kali. "Angkat nggak ya?" Mengetuk-ketuk dagu dengan ujung jari telunjuknya. Panggilan itu kembali mati, barulah di panggilan ke enam Debby berdemam lalu menerima panggilan itu.
"Hmmmm..." Berusaha di serak-serakan.
"Maaf, kamu kok semakin susah di bangunkan ya?" Rumi protes dari sebrang, kesal dia karena harus menelfon Debby setiap hari, sudah gitu berkali-kali.
Tunggu tapi kamu mau kan kak? Padahal jika kau tidak melakukan juga tidak masalah, Debby bisa bangun sendiri Rumi hadeeehhh...
__ADS_1
"Emmm? Oh..." Menutup mulutnya ingin tertawa, sungguh akting yang sangat apik. Debby pura-pura masih seperti orang yang baru bangun tidur.
"Deb...!"
"Emmmm?" Menyaut. 'kalau tidak begini tidak lama kau menelfon ku, kak hehehe.' tertawa licik dalam hati.
"Bangun... Aku mau sahur ku matikan ya." Ucap Rumi. Hening dari sebrang. Rumi pun garuk-garuk kepala. "Debora Aruan...?" Memanggil dengan sedikit menekannya.
"Iya calon imam? sedang mengingat-ingat nama lengkap ku supaya tidak salah sebut pas ijab Qabul ya?" Terkekeh.
"Astagfirullah al'azim... Kau sudah bangun kan? Ya sudah ku matikan, sekarang." Tut Tut Tut. Panggilan telepon benar-benar di matikan. Debby pun tergelak.
"Ya Allah... Aku tahu kau sedang gemetaran saat ini kan calon imam? Hahaha." Debby menunjuk layar ponselnya lalu meletakkan ponsel itu di atas meja, mengikat rambutnya dan berjalan keluar kamar untuk makan sahur dengan penuh semangat.
Berbeda dengan yang ada di Jakarta...
Rumi beristighfar berkali-kali seraya mengelus dada. "Seharusnya aku jauh lebih menghindari. Sungguh dia bahaya sekali. Ya Allah." Gumam Rumi. Hingga sebuah ketukan membuat Rumi menoleh Abi Irsyad memanggilnya untuk segera turun.
Iya benar Rumi sampai di Jakarta selepas magrib karena memang berangkat agak sorean, dan pukul 22:10 Abi Irsyad memutuskan untuk pulang dengan Rahma, dan Rumi. walaupun Rahma sempat menolak dan meminta untuk di rumah sakit saja.
Namun karena berbagai alasan serta Nuha yang juga masih berada di ruang ICU, Irsyad pun tidak mengizinkan dia untuk menginap dan berjanji akan mengantar Rahma esok harinya sembari berangkat mengajar.
Di meja makan, keluaga itu makan dengan tenang. Rahma masih saja terdiam, dia bahkan tidak menyuapkan nasinya kedalam mulut. Hanya fokus mengaduk-aduk saja.
"Umma?" Panggil Abi Irsyad, keduanya menoleh. Rumi dengan Rahma, namun Rumi lebih fokus menatap ke ibunya kemudian.
__ADS_1
"Iya Bi?"
"Tahu arti mensyukuri nikmat, rezeki?" Tanya Abi Irsyad. Tanpa menjawab Rahma kembali menunduk, meraih sesuap nasi itu seujung sendok lalu memakannya. Hingga Rumi pun meraih sendoknya dan mengambil sesuap nasi untuk sang ibu.
"Makan ini Umma." Menyodorkan makan itu. Rahma mengangkat kepalanya, dia tersenyum tipis lalu mendekati nasi itu dan memasukkannya kedalam mulut.
"Ckckck... Manja sekali sih ibu satu ini." Tutur Abi Irsyad.
"Abi juga mau?" Tanya Rumi sembari terkekeh.
"Hmmm." Jawab Abi Irsyad pura-pura merajuk.
"Boleh... Boleh... Tapi sehabis ini antar Rumi ke bengkel ya Bi, buat servis motor." Terkekeh lagi. Lalu menyodorkan sesuap nasi untuk sang ayah.
"Haduhhh sudah tahu jalurnya kemana itu... Tadi sama Umma tidak ada tuh syaratnya. Sama Abi kenapa mesti ada pajaknya?" Tanya Abi Irsyad, membuka mulutnya kemudian hingga sesuap nasi dari tangan Rumi itu masuk. Rahma pun tertawa lirih melihat tingkah keduanya.
"Hehehe... Rumi harus servis low budget Bi. Kalau sama Abi kan lebih low lagi, jadi gratis." Tertawa.
"Gratis gundul mu itu... Sama saja Abi yang bayar itu namanya. Dasar anak Soleh satu ini ya."
"Hahaha. Itu maksudnya." Tergelak dua-duanya.
Sementara Rahma masih hanya menanggapi itu dengan senyum tipisnya. Dia tidak ceria lagi sekarang, masih saja mengingat nasib Nuha, karena seharusnya anak itu masih bersama mereka. Duduk di atas kursinya dan berebut lauk dengan kakaknya. Namun sekarang sosis di atas meja pun tidak habis, padahal hanya ada tiga ruas yang di potong menjadi tiga.
Umma Rahma meraih piring sosis itu dan menuang isinya ke atas nasi. 'punya Dede Umma saja yang makan.' batin Rahma dalam hati. Sementara Rumi hanya tersenyum membiarkan itu. Yang penting sang ibu mau makan.
__ADS_1