Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
Gara-gara bercumbu


__ADS_3

Di saat malam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, Faqih terjaga. Ia membaca doa bangun tidur lalu menoleh kearah Nuha. Gadis itu masih berada dalam dekapannya, membenamkan wajahnya di dada A' Faqih.


Dengan tatapan mengarah kepada sang istri yang sudah terlihat tidak pucat lagi, Faqih merasa lega. Itu tandanya Nuha sudah baik-baik saja, beliau mengecup kening Nuha lama. Dengan mata yang terpejam, lalu berpindah ke pipi dan berakhir di bibirnya. Membuat tubuh Nuha bergerak, membuat Faqih langsung saja menghentikan kegiatan itu.


Mengamati Nuha yang hanya memutar tubuhnya membelakangi, lalu tidur lagi.


Faqih tersenyum. Dia pun mengecup lagi pundak Nuha lalu beranjak, menuju tandas. Bersiap untuk mandi dan menjalani sholat malam, serta bertakbir hingga subuh menjelang.


Dua puluh menit setelahnya ustadz Irsyad memasuki area sholat dimana sudah di dapati sang menantu tengah berzikir, beliau pun melangsungkan sholat sunah di belakang Faqih tanpa menggangu kekhusyukan menantunya. Hingga datang Rumi yang juga sholat di belakang Faqih agak jauh sedikit jaraknya dari sang ayah.


Sampai adzan subuh mulai berkumandang, Faqih menoleh kebelakang, mendapati dua pria itu sudah berzikir juga di sana. Rumi tersenyum di ulurkannya tangan beliau kearah Faqih yang langsung menjabatnya. Lalu mengarahkan tangan itu pada Sang ayah mertua, mengecup punggung tangannya kemudian setelah ustadz Irsyad menjabat tangannya. Faqih beranjak guna membangunkan Nuha, kali saja sang istri belum bangun. dan baru saja beliau beranjak. Nuha sudah masuk mengucap salam pada tiga pria di ruangan itu serta di susul Rahma di belakangnya. Faqih tersenyum, mendapati Nuha sudah terlihat lebih segar dari hari-hari sebelumnya.


Hingga Rumi mulai berseru komat, sholat subuh berjamaah pun di mulai. Ruangan solat itu kini lebih luas, semenjak Nuha dan Rumi beranjak remaja.


Karena Ustadz Irsyad sudah merenovasi beberapa bagian rumahnya, Seperti kamar Nuha dan Rumi, yang tadinya hanya ada kamar beliau dan satu kamar kosong, kini sudah menjadi tiga kamar di lantai dua serta ruang solat yang yang di lebarkan.


Intinya ustadz Irsyad memang berusaha sekali memberi kenyamanan untuk keluarganya, itu tidak hanya di sandang dan pangannya saja, namun papan juga.


***


Pagi yang mulai temaram, menyambut dua anak manusia yang baru saja keluar dari tandas setelah mandi bersama.


Tenang mereka tidak berjima kok, hanya mandi saja walaupun main airnya lama hehehe.


Di luar, Nuha bersin lalu terkekeh kemudian. "Kamu kedinginan ya?" Tanya A' Faqih memeluk sang istri yang hanya berbalut handuk.


"Sedikit." Tersenyum lebar.


"Maaf ya..."


"Tidak apa... Nuha suka main air, namun kalau bisa jangan pagi hari ya." Bersin lagi. Faqih pun terkekeh.


"Siang? Sama sore ya?"


"Kok siang sama sore?" Masih berada dalam pelukan Faqih.


"Iya, mandinya sehari tiga kali."


"Banyak banget... Kelamaan main air nanti jadi mermaid loh." Tergelak keduanya.


"Mermaid? Dugong yang ada neng..." Tergelak lagi. Hingga Faqih mulai menempelkan bibirnya, menyatu dengan lembut. Sampai-sampai Nuha melepaskannya pelan.

__ADS_1


"Dingin, pakai baju dulu ayo. Keburu terang nanti telat solat eidnya." Tutur Nuha, sementara Faqih kembali terkekeh. Beliau pun melepaskan pelukannya lalu menyuruh Nuha untuk duduk saja di atas ranjang mereka.


Sementara sang suami mulai membuka lemari pakaiannya "mau pakai, gamis yang mana neng?" Tanya A'Faqih.


"Itu, yang nevy A'... Gamis yang A'a belikan untuk Dede."


"Oh... Yang ini?" Meraih gamis itu, lalu mendekatkannya pada Nuha.


"A'a pakai Koko yang mana? Ada yang warnanya senada tidak?" Tanya Nuha seraya meraih gamis dari tangan A' Faqih.


"Koko nevy tidak ada Hilwah... Paling putih yang ada, A'a tidak banyak bawa Koko soalnya."


"Ya Allah... Maaf ya A'... Kalau begitu, Nuha mau pakai gamis tahun lalu saja. Kan warnanya putih senada sama punya A'a."


"Kok pakai yang tahun lalu sih? Tidak apa tidak senada, A'a senang kalau neng pakai baju dari A'a."


"Tapi Nuha mau pakai yang minimal sama warnanya. Kan kita pasangan." Memegangi tangan sang suami. Faqih tersenyum lalu mengangguk.


"Yang mana bajunya biar A'a ambilkan." Berjalan lagi menuju lemari. Nuha pun mengikuti, lalu memeluk tubuh sang suami dari belakang yang hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Yang itu" satu tangannya menunjuk pakai yang tergantung. Faqih menoleh ke belakang.


"Tahu.... Memang kenapa?" Terkekeh jahil.


"Pakai tanya. Kita berdua masih polosan ya, peluk A'a Seperti ini kalau A'a kebablasan bagaimana?"


"Putar balik dong, kalau kebablasan." Tergelak, lalu mengecup punggung Putih bersih milik A' Faqih dengan sengaja.


"Neng? Kamu minta atau bagaimana ini." Faqih melepaskan pelukan Nuha lalu meraih tubuh itu menggendongnya.


"Aaaaaa... A'a?" Terkekeh.


"Apa? Sudah sehat ya? Hah?" Membawa tubuh Nuha keatas ranjang.


"Belum A'a. Hahaha... A'a geli." Semakin tergelak saat A'a mulai menciumi bagian leher Nuha.


"Hukuman mu ini, karena sudah mancing A'a." Semakin brutal menciumi apa yang ada.


"Hehehe Ampun... Ampun A'... Nuha tidak mau mandi lagi." Masih menangkis serangan kecupan dari sang suami, serta menahan kain handuknya yang hendak di lepas A' Faqih.


"Minta Ampunya pakai panggilan sayang coba." Menghentikan serangannya.

__ADS_1


"Ampun sayang." Ucap Nuha.


"Sayang apa?" Tersenyum dengan tatapan masih tertuju pada Nuha yang berada di bawahnya.


"Ampun kesayangan ku A' Faqih..." Balas Nuha lembut.


Faqih pun geleng-geleng kepala, dia beranjak duduk membelakangi Nuha di bibir ranjang, lalu mengacak-acak rambutnya yang masih sedikit basah, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan hasratnya.


Nuha turut beranjak dan kembali melingkari pinggang A' Faqih.


"Kenapa A'a jadi diam, dan membelakangi Nuha?" Tanya Nuha dia takut salah bicara. "A'a?" Panggil Nuha lagi karena Faqih hanya diam saja, beliu lantas menoleh lalu di ciumnya bibir Nuha lembut, seraya kembali merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang. Menikmati sentuhan cinta di bibir keduanya.


Faqih kembali melepaskan itu setelah beberapa menit bercumbu.


"Simpan buat nanti malam ya?" Tanya Faqih mengusap bibir Nuha. Gadis itu tersenyum.


"Iya sayang."


"MashaAllah... Neng." Kembali mendekati bibir Nuha namun tidak jadi. "Nggak ada selesainya kalau kaya gini mah. Ampun... Ampun... hasrat A'a naik ini neng, kamu sih... Allahu Rabbi." Beranjak lalu kembali masuk ke dalam bilik kamar mandi mengambil air wudhu lagi, sementara sang istri hanya terkekeh-kekeh.


Setelah A'a keluar, Nuha pun bergantian masuk mengambil air wudhu juga karena wudhu mereka batal akibat bercumbu tadi. Hehehe... Tahan ya A'a dan Dede?


________________________________________________


assalamualaikum warahmatullahi wabbarokatuh teman-teman ❤️❤️❤️


apa kabar hehehe... maaf aku lama liburnya.


mau bagaimana lagi, kesibukan membuat ku menunda terus upnya... ini saja masih lumayan sibuk sebenernya, tapi karena sudah banyak yang tanya kapan up.


akhirnya aku up, dan maaf aku upnya dua bab ya. beneran aku lagi belum luang bgt nih waktu ku.


walaupun gitu, aku ttp usahakan update tiap hari. karena aku juga suka pekerjaan ku ini. 🤗🤗 jadi aku nulis dengan ikhlas, inshaAllah.


dan maaf kalau di grup atau di komentar aku agak jarang aktif. aku tipe orang yang takut menyinggung perasaan seseorang karena kata2 ku.


jadi dari pada salah bicara lebih baik ku kurangi saja melontarkan kata-kata, semoga kalian tak menganggap ku author yang kurang mendekat ke pembaca ya. semua demi jaga-jaga saja, walaupun sejatinya aku tetap manusia biasa yang kadang suka baper kalo ada komen yang gimana. tapi tenang, itu jauh lebih baik dari pada aku yang menyinggung kalian... terimakasih atas kesetiaannya membaca novel ikrar cinta ya... semoga belom bosen deh sampai tamat. aamiin.


okay segitu saja ya aku menyapanya.


wassalammu Alaikum warahmatullahi wabbarokatuh. 🙏🙏🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2