
Selepas Dzuhur, Keduanyan sudah tiba di rumah Abi Rahmat, yang hendak menikmati santap siang mereka. Umma Hasna langsung saja menyambut dengan pelukan hangat pada Nuha.
"MashaAllah, kenapa aura mu kok lain ya neng? Jadi kaya lebih cantik, walaupun memang sudah cantik." Puji Umma Hasna, membuat Nuha tersipu.
"Haha... Umma bohong nih, Nuha kan tidak dandan."
"Serius... Sok atuh ikut makan, yuk Umma masak sayur balado kentang." Ucap Umma Hasna.
"Duh... Umma, kelihatannya enak sekali." Ucap Nuha. Mereka pun langsung duduk di kursi masing-masing.
Abi Rahmat tersenyum bahagia, saat melihat hubungan antara istri dan menantunya sudah terlihat harmonis sekarang, walaupun beliau belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun sudah lah. Dengan begitu saja sudah membuatnya merasa tenang sekarang. menoleh ke arah Faqih, dia mengingat sesuatu tentang tawaran temannya tadi.
"Faqih, bagaimana hasil jualan madu dan kurmanya?" Tanya Abi.
"Alhamdulillah lancar sih, sudah punya banyak langganan juga Bi."
"Alhamdulillah kalau begitu, ada niatan buat buka toko kah?"
"Untuk itu, belum kepikiran Bi. Modal juga belum mencukupi." Faqih menoleh pada Nuha yang tengah meletakkan sepiring nasi di hadapannya, lantas tersenyum.
"Begini, teman Abi ada yang mau jual rukonya. Ada di daerah pasar Asemka, tempatnya strategis sih, di pinggir jalan utama. Kalau mau nanti Abi tinggal hubungi beliau."
"Di pinggir jalan? Pasti mahal sekali itu." Faqih mulai tertarik.
"Soal harga nanti gampang sih nanti tinggal negosiasi saja, kalau kamu mau. Abi bisa bantu." Tutur Abi Rahmat. Faqih pun terdiam lalu menoleh ke arah Nuha yang tengah tersenyum kepadanya. Mungkin Faqih ingin meminta pendapat pada Nuha walaupun hanya sebatas diam saja, dan dari tatapan Nuha menunjukkan bahwa dia menyerahkan hal itu pada sang suami, sementara tugasnya hanya percaya saja.
"Bagaimana?" Tanya Abi Rahmat.
"Nanti biar, kami berdua rundingan dulu Bi." Jawab Faqih, Abi Rahmat pun tersenyum seraya mengangguk.
"Sudah dulu ngobrolnya ayo makan dulu saja ya." Tutur Umma Hasna pada dua pria beda generasi tersebut.
__ADS_1
Dan mereka pun menyambung makan mereka lebih dulu dengan tenang, hingga yang terdengar hanya dencingan suara sendok dan garpu saja di sana. Sampai selesai makan, Nuha mulai beranjak sembari meraih beberapa piring kotor di dekatnya.
Melihat itu Faqih segera menahan Nuha dan memintanya untuk kembali duduk.
"Umma, Abi kami mau bicara sebentar ya." Ucap Faqih. Membuat keduanya fokus pada Faqih dan Nuha. "Kami punya kabar yang membahagiakan..." Sambung Faqih, yang langsung meraih tangan Nuha dan menggenggamnya lembut.
"Kabar membahagiakan? Apa itu?" Abi Rahmat tersenyum tipis, bersemangat.
"Kami, akan punya anak Bi, karena istri Faqih sedang mengandung anak Faqih." Faqih mengusap perut Nuha Kemudian.
"Subhanallah... Alhamdulillah ya Allah." Gumam Abi Rahmat. Sementara Umma Hasna hanya diam saja lalu beranjak mendekati Nuha, diraihnya kedua tangan Nuha membuat gadis itu beranjak dari kursinya. Umma Hasna menitikkan air matanya hingga di sentuh pula perut Nuha dengan tatapan haru mengarah ke bagian perut Nuha.
"Cucu Umma? Hiks... MashaAllah Neng? Kamu mau kasih Umma cucu?" Tanya Umma Hasna. Gadis itu turut Berkaca-kaca sembari tersenyum dan mengangguk cepat. "MashaAllah, selamat ya neng." Umma Hasna langsung mengecup kedua pipi menantunya lalu memeluk Nuha erat.
"Umma senang, Nuha hamil?" Tanya Nuha.
"Jelas atuh... Ini yang Umma harapkan neng, MashaAllah." Jawab Umma Hasna, sehingga membuat Nuha semakin bahagia.
Sama halnya Abi Rahmat yang langsung memeluk Faqih turut bahagia karena akan adanya momongan secepat ini. Sungguh nikmat yang tak terkira.
"Iya Bi inshaAllah," pria itu tersenyum bahagia. Setelahnya Abi Rahmat mendekati Nuha, beliau menyentuh perut menantunya, bergumam membacakan doa lalu mengecup pangkal kepala Nuha memberikannya selamat.
***
Selepas magrib, keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju Bekasi, dan menginap satu malam di rumah Abi Irsyad.
Dalam perjalanan, senyum Nuha terus saja berkembang. Dia tidak sabar untuk segera mendatangi rumah Abinya.
"A'a... Nuha senang pas lihat reaksi Abi dan Umma saat tahu Nuha hamil. Mereka terlihat bahagia sekali." Ucap Nuha, sementara Faqih hanya tersenyum sembari mengusap kepala Nuha.
"Jelas sayang... Siapa yang tak bahagia saat mendengar akan adanya cucu pertama, apa lagi Abi dan Umma hanya punya A'a selama ini."
__ADS_1
"Iya A'... Kalau reaksi Abi Irsyad dan Umma Rahma bagaimana ya?" Nuha tersenyum tidak sabar rasanya untuk segera sampai di sana.
"Pasti juga sama, atau mungkin lebih heboh lagi... Tau sendiri kan Umma Rahma seperti apa."
"Hehe iya A'..."
–––
Di Bekasi...
Umma Rahma berjalan pelan sembari menyentuh bagian dadanya, entah mengapa dia merasa sesak.
Bahkan pandangannya mulai kabur.
"Astagfirullah al'azim, dada ku sakit sekali." Satu tangan Umma Rahma bertopang pada tembok di dekat ruang tengah, karena beliau baru saja selesai mengaji dan berzikir bersama sang suami.
Sementara di ruang sholat Abi Irsyad merasakan hati yang tiba-tiba tidak enak. membuatnya segera beranjak dan keluar.
benar saja....
Umma Rahma sudah dalam posisi berjongkok dengan tubuh tercondong kedepan.
"Astagfirullah al'azim... Dek kenapa?" Abi Irsyad berlari cepat menghampiri sang istri.
"Dada ku... Sesak mas... Sakit." Suara Umma Rahma terdengar lirih, wajahnya pun sudah sangat pucat.
"Ya Allah..." Abi Irsyad berusaha membantu Umma Rahma untuk bangun, "Umma, usahakan tetap sadarkan diri ya... Kita kerumah sakit sekarang."
"Abi..." Panggil Rahma lirih.
"Ssssttt, jangan berucap apapun, Abi mohon, Umma yang kuat ya... tetap usahakan tersadar, sayang." Abi Irsyad terlihat sangat panik namun dia masih berusaha tenang, sementara Umma Rahma hanya diam saja, menyeret satu persatu kakinya, yang sudah tidak ada tenaga lagi.
__ADS_1
Bahkan saat ini Abi Irsyad semakin merasakan kepanikan teramat. Melihat Rahma yang sesekali hendak menutup matanya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Extra part masih berlanjut....