Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
gara-gara buang gas


__ADS_3

Setelah bergulir cukup lama dalam pemikiran masa lalu ustadz Irsyad pun tersadar, karena suara adzan ashar di dalam masjid mulai berkumandang.


Ustadz Irsyad mengusap cepat matanya yang basah. Dia tidak ingin menyesali semua yang sudah terlewati, kini yang ia fokuskan adalah Faqih. Bagaimana anak itu sudah bersusah payah dengan segala kekuatannya demi bisa membahagiakan Nuha, hal apa yang akan dia berikan untuk ucapan terimakasihnya kepada Faqih, yang pasti apapun yang di lakukan Faqih sudah membuatnya semakin yakin untuk menyerahkan seluruh tanggungjawabnya akan Nuha pada Faqih.


"Ustadz mohon maaf, mungkin salah satu di antara ustadz berkenan untuk mengimami?" Tanya seseorang yang sudah duduk di hadapan ustadz Irsyad dan ustadz Rahmat.


Kedua pria paruh baya itu saling bertatapan. "Silahkan ustadz Rahmat saja."


"Tidak apa kah?" Tanya ustadz Rahmat.


"Iya." Jawab ustadz Irsyad tersenyum. Hingga ustadz Rahmat pun beranjak dan berjalan ke posisi imam di depan, hingga komat pun di lantang kan, pertanda sholat akan segera di mulai.


Di sisi lain, Faqih hendak berjalan menuju masjid. Namun lampu operasi padam, pertanda operasi telah selesai.


"Alhamdulillah," tersenyum senang. Menunggu lagi sampai pintu itu terbuka.


Dilihatnya Nuha masih dalam posisi tak sadarkan diri akibat obat biusnya.


Seorang dokter langsung saja menghampiri keluarga pasien dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar, hanya menunggu pasien siuman di ruangan ICU. Dan setelah itu menunggu lagi si pasien bisa buang angin ya, nanti baru boleh makan dan minum. Itu saja harus sedikit-sedikit." Ucap sang dokter ramah.


"Terimakasih banyak Dokter, ucap Faqih tersenyum haru."


"Sama-sama. Saya permisi dulu, mas Bu." Berpamitan lalu melenggang pergi.


Faqih menoleh kearah dua Ummanya lalu memeluk keduanya, bersyukur.

__ADS_1


***


Di ruangan ICU....


Perlahan mata Nuha mulai mengerjap, bayangan gelap, yang berubah terang lalu samar-samar menjadi jelas.


Dan orang pertama yang dia lihat adalah senyum A' Faqih. Pria itu mencondongkan tubuhnya lalu berbisik di telinga Nuha.


"Assalamualaikum sayang..." Bisik Faqih lembut, Nuha tersenyum tipis.


"Walaikumsalam, suami ku." Jawab Nuha sangat lemah. Di cium lah wajah Nuha beberapa kali.


"A'a rindu sayang... Sangat rindu." Ucapnya senang.


"Nuha juga." Jawab Nuha dengan suara sedikit berbisik. "Maaf ya A'... Su...sudah buat A'a khawatir."


"Haus A'..." Tuturnya lirih.


"Nanti ya sayang... Kamu harus buang angin dulu, baru boleh minum."


"Begitu ya?"


"Iya..."


"Ini jam berapa?"


"Sudah masuk pukul lima sore sayang." Mengusap kepala Nuha. Gadis itu pun hanya diam saja, lalu meringis.

__ADS_1


"Sakit, A'..."


"Yang mana sayang? Yang mana yang sakit?"


"Perutnya." Rengek Nuha, akibat obat bius yang mulai menghilang Nuha mulai merasakan sakit.


"Sabar ya, banyakin istighfar... Setelah ini kamu sembuh kok." Faqih mengusap-usap bagian wajah Nuha.


"Sssshhhh.... Haus A'... Sakit... Hiks," Nuha merengek lagi. Faqih pun mengecup kening Nuha, lalu mengusap pelan bagian perut Nuha sisa operasi tadi.


"Bismillahirrahmanirrahim, Allahuma rabbin naas, adzhibil ba'sasfii, isfi antasy syaafi laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqama" gumam Faqih membacakan doa.


(Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkan lah penyakit ini, sembuhkan lah. Engkau lah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.)


Faqih memanjatkan doa itu sebanyak-banyaknya, sampai rintihan Nuha mulai mereda. Lalu mengecup lagi pipi sang istri.


"Bagaimana sayang? Masih sakit?" Tanya A' Faqih lembut.


"Sedikit lebih baik A'... Lakukan lagi." Pinta Nuha merasa nyaman di perlakukan seperti tadi. Seolah sakit itu sedikit berkurang saat Faqih melakukan itu. A'a tersenyum, beliau pun melakukan lagi dengan senang hati.


Membacakan doa seraya menempelkan bibirnya di pipi Nuha dengan tangan kanan mengusap pelan. Hingga sebuah suara membuat Faqih menghentikannya. Dia menoleh kearah Nuha yang tengah melebarkan matanya, lalu menoleh ke arah Faqih juga seraya menggeleng pelan.


"Wallahi, Nuha tidak sengaja A'..." Dia merasa malu sekali saat suara angin dari bagian belakangnya terdengar sampai ke A' Faqih. Pria itu tersenyum jail.


"Sopannya diri mu ya? Ckckckck."


"Ya Allah A'a maaf... Maaf A'..." Nuha menyentuh tangan A' Faqih. Pria itu pun hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah Nuha. Padahal si A'a biasa saja, namun Nuhanya yang justru merasakan malu karena sudah buang angin sampai terdengar ke A' Faqih. Hahahaha

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2