
Malam semakin terasa dingin, beberapa orang mulai berhamburan dari dalam masjid selepas melaksanakan sholat tarawih.
Sama halnya dengan Nuha Han A' Faqih, sementara Abi Rahmat masih berada di sana bercengkrama dengan para jamaah pria.
Hari ini Umma Hasna tidak terawih beliau merasa lelah setelah seharian berkutat di dapur.
Dan lebih memilih untuk meluruskan kakinya, mengusap kedua kakinya itu seraya memijat-pijatkan pelan. Hingga seruan salam mulai terdengar, Faqih dan Nuha baru saja kembali dari masjid.
"Assalamualaikum Umma." Sapa Nuha, gadis itu menyalami Umma Hasna yang turut membalas salam itu dari Nuha.
"Umma lelah?" Tanya A'a menyentuh kaki ibunya.
"Sedikit," jawab beliau.
"Lagian Umma, biasanya kan pesan katering. kenapa harus membuat makanan sendiri sih." Mulai memijat telapak kaki sang ibu pelan.
"Sudah lah, Umma kan cuma pengen nyoba bikin sendiri." Tutur beliau tatapannya masih tertuju pada layar televisi di depan, menonton serial drama rumah tangga yang tayang setiap hari.
"Sini sajadahnya A'." Nuha menarik pelan sajadah yang berada di bahu sang suami, sementara A' Faqih sedikit meluruskan satu tangannya agar lebih mudah.
"Neng, ke kamar dulu ya nanti A'a nyusul. A'a sudah buatkan soal kuis untuk mu." Ucap Faqih, terlihat ekspresi berbinar di wajah Nuha dia pun mengangguk lalu berjalan pelan mendekati tangga.
Umma Hasna melirik. "Soal? Kuis? Maksudnya gimana? Memang Nuha sekolah lagi?" Tanya Umma Hasna, bingung.
"Tidak Umma, hanya belajar dengan Faqih." Jawab A'a masih memijat kaki sang ibu, sementara sang ibu hanya membulatkan mulutnya. "Sebentar ya Umma, nanti Faqih sambung."
"Iya." Jawab Umma yang masih fokus menonton televisi. Setelahnya Faqih beranjak menuju kamarnya.
Di dalam kamar itu Faqih langsung melepas baju kokonya lalu menyerahkan pada Nuha yang sudah berdiri di dekatnya, dengan kaos oblong di tangan yang langsung ia serahkan pula pada Faqih.
Setelah berganti pakaian, dan kain sarung yang masih ia kenakan, A'a berjalan mendekati meja belajar, dengan Nuha mengikuti di belakang.
Beliau lantas membuka laci di meja belajar itu lalu mengeluarkan kertas berisi soal-soal evaluasi yang beliau tulis kemarin-kemarin sebelum kerumah Ustadz Irsyad.
"A'a sudah pernah bilang kalau A'a sesekali akan kasih neng kuis kan?" Tanya Faqih. Nuha mengangguk. "Semoga materi-materi terakhir benar-benar neng pelajari dengan baik ya?" Faqih meraih tangan Nuha, memintanya untuk duduk.
Sebuah kecupan mendarat di pangkal kepala Nuha, posisi A'a berdiri di belakang bangku Nuha, dengan tangan kiri bertopang pada meja. sementara tangan kanannya memegangi lembar soal buatannya, sedikit mengungkung tubuh Nuha.
__ADS_1
"kerjakan soalnya dengan benar ya? murid kesayangan ku." Titah A'a. Nuha pun tersenyum seraya membuka lembar soalnya yang menggunakan bahasa Arab. "Baca dulu soalnya, ada tidak yang neng tidak tahu, nanti tanyakan."
Nuha membaca satu persatu, "sepertinya Nuha paham semua bahasanya A'..."
"Benar ya? Kalau sampai salah mengartikan awas saja." Mengecup pipi Nuha.
"Hehehe, nanti Nuha akan tanyakan lagi kok kalau menemukan kesulitan." Nuha beringsut, merasa geli karena Faqih terus saja mengecup bagian pipi Nuha.
"Mmmm oke lah, memang murid Kesayangan..." Masih mengecup pipi, leher dan pundak sang istri.
"Hehehe A'a Dosen, nggak baik loh nyium anak muridnya." Ucap Nuha seraya terkekeh.
"Kata siapa? kan murid ku ini istimewa." Mengecup lagi.
"Kalau di cium terus begini Bagaimana mau serius garap soalnya, coba?" Nuha mengusap kepala A'a yang tercondong di dekat bahunya.
"Iya deh, kerjakan dengan benar ya. Ini ujian pertama loh. Materinya juga sudah A'a jelaskan sebaik mungkin, kalau sampai salah banyak siap-siap aja, rotan A'a akan memberikan mu pelajaran."
"Nggak mau pakai rotan aaahh, masa pakai rotan."
"Terus maunya apa?"
"Jangan mancing syahwat ya, nanti ujiannya A'a ganti loh, mau?"
Nuha Melepaskan tangan A'a seraya tertawa "Hahaha. Iya... Iya deh, sudah sana katanya mau pijitin Umma."
"Kasih hadiah dulu A'a dosennya." Mengetuk-ketuk pipinya sendiri.
"Iiissshhh modus nih A'a Dosen." Nuha terkekeh, dia pun memberi kecupan di pipi kiri A'a. A' Faqih tersenyum tipis lalu membalas kecupan sekali di bibir Nuha.
"A'a turun dulu ya. Kerjakan itu soalnya, jangan nyontek loh. Awas saja."
"Iya... Iya..." jawab Nuha, Faqih sempatkan mengusap kepala Nuha lalu keluar dari kamarnya.
Selama di kamar gadis itu fokus mengerjakan setiap soal yang di buatkan A'a.
Pada soal pertama, kedua dan ketiga lumayan mudah bisa dia kerjakan dengan lancar. Di soal ke empat, gadis itu seperti menemukan kesulitan akhirnya dia alihkan mengerjakan soal yang lain dulu di soal nomor lima? Ahhh... lagi dia melompatinya, beralih pada soal nomor enam dan untung nya soal itu bisa dia kerjakan. Beralih lagi pada soal selanjutnya, Nuha terdiam lagi di ketuk-ketuknya pena itu ke kepalanya sendiri.
__ADS_1
'lumayan sulit juga ya, padahal cuma soal buatan A'a...' batin Nuha, masih melamun memandangi salah satu soal itu. Mata Nuha mulai menyipit lalu garuk-garuk kepala.
"ini apa sih? Kok agak susah kebaca? Bagaimana ini? Baru beberapa menit, aku sudah menemukan banyak kesulitan. Okay ulang ke nomor empat tadi deh." Nuha kembali membaca soal nomor empat, terdiam sejenak berusaha mengingat-ingat.
"Ini benar tidak ya artinya? Soalnya kalau benar A'a tuh belum bahas materi ini. Coba ku tanya saja lah." Nuha beranjak dari kursinya dan berjalan keluar.
Baru sampai di ujung tangga lantai dasar, Nuha sudah menghentikan langkahnya karena mendengar ucapan Umma Hasna.
"A'a tahu? Zahra tadi datang loh." Kata Umma.
"Zahra? Dia kesini? Ngapain?" Tanya Faqih.
"Nganterin pesanan Abi kamu dari pak Huda."
"Lalu?"
"Dia bantu Umma cicipi makanan Umma. Dia bilang enak sekali. Gadis itu memang baik, bahkan tadi Umma di kasih hijab yang lumayan bagus." Kata Umma Hasna bercerita dengan penuh semangat.
Sementara Nuha masih terdiam di sana, dia tidak berani memasuki ruang tengah. Menunggu pembahasan Zahra selesai saja.
"Faqih, kenapa diam saja respon dong."
"Respon untuk apa Umma, tidak penting A'a merespon itu. Lagipula untuk apa Umma menerima hijab pemberiannya? Sudah Faqih bilang kan? Jangan lagi menerima apapun dari dia, Faqih kurang suka sikapnya itu."
"Kenapa sih A'…? Apa salahnya jika Zahra memberikan itu pada Umma, anak itu baik loh. Walaupun kau menolak perasaannya, dia masih mau bersikap baik pada Umma."
Degg...! 'me...menolak perasaan? Jadi kak Zahra menyukai A'a? Astagfirullah al'azim, kok aku jadi menguping pembicaraan A'a dan Umma begini?' Nuha hendak melangkah naik namun urung.
"Umma sudah, jangan bahas Zahra lagi?"
"Salah gitu kalau Umma mau membahas tentang mantan calon menantu Umma."
Nuha menunduk. Dia ingin melangkahkan kakinya untuk naik lagi ke tangga namun sulit, seolah telinganya masih ingin mendengarkan.
"Umma! jangan bicara seperti itu. Ada Nuha Umma, kalau dia dengar bagaimana? Istri Faqih bisa salah Faham."
"Kau bilang dia di kamar sedang mengerjakan soal ujian dari mu kan? Lagian memang Fakta Umma lebih menyukai Zahra dari pada Nuha, ya walaupun anak itu baik, namun entah lah hati Umma tetap pada Zahra."
__ADS_1
Gadis itu memegangi dadanya, 'sakit.' Nuha tersenyum kecut, perlahan langkah itu mulai terayun menaiki anak tangga seraya mengusap matanya yang basah.