Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
kesayangan.


__ADS_3

Perlahan langkah itu mulai mendekat, dia pun duduk di sebuah bangku di dekat Qori.


"Tenangkan dirimu mbak." Meraih sebotol air mineral, membukakan penutup botol itu lalu menyerahkannya pada Qori. Gadis itu pun termenung menatap ke arah botol yang terarah kepadanya. ia mengangkat bola matanya pelan, dilihat pria itu tersenyum kearahnya. "Minumlah mbak. Ayo." Tuturnya lembut, kemudian.


Qori mengusap air matanya, perlahan dia raih botol itu.


"Sini biar saya gendong anak ini dulu. Boleh?" Pinta Farhat. Gadis itu kembali Menitikkan air matanya.


"Ustadz, tolong maafkan saya. Tolong maafkan ayah saya tadi. Hiks." Kembali terisak.


"Ssssstt tidak apa mbak... Sungguh saya tidak apa-apa."


"Tapi saya tidak enak sekali pada ustadz." Masih terisak. Farhat pun tersenyum.


"Tidak usah di pikirkan hal tadi, sekarang tolong ijinkan saya menggendong anak ini ya. Mbaknya minum dulu." Pinta Farhat sopan. Gadis itu pun mengangguk pelan lalu diserahkannya anak itu pada Farhat.


"Bismillahirrahmanirrahim." Menerima anak itu pelan-pelan. Qori tersenyum senang melihat pria itu beranjak menggendong anaknya, mendekati pak lek dan Haidir di sana. "Lucu ya pak lek." Tutur Farhat seraya tersenyum.


"Sudah pintar kamu gendong bayi ya? Sudah waktunya menikah itu tandanya." Lek Hilman terkekeh. Haidir dan Farhat pun turut sama.


'ya Allah, baiknya laki-laki itu.' batin Qori seraya tersenyum menatap kearah Ustadz Farhat yang masih menggendong anaknya, seolah figur seorang ayah terlihat dari diri pria berusia tiga puluh tahun itu. dengan sesekali mencium pipi mungilnya, dia terlihat sangat senang dengan bayi laki-laki itu.


Qori pun menunduk menatap kearah botol minum itu. 'mashaAllah, kenapa rasanya jadi lain.' tangan yang tengah menggenggam botol itu tiba-tiba gemetaran.


***


Di tempat yang berbeda...


Waktu sudah semakin senja, ustadz Irsyad dan Ustadz Rahmat pun sudah berada di rumah sakit, mengobrol bersama yang lain di dalam ruang rawat Nuha.


Sepertinya gadis itu sudah semakin pulih, bahkan Nuha sudah bisa berjalan pelan menuju toiletnya.


Seperti malam ini saat semuanya sudah pulang Nuha tengah berjalan menuju tandas sendirian yang langsung di susul oleh Faqih yang baru saja mengantar orang tua mereka, sebenarnya Rahma ingin menginap di rumah sakit. Namun Faqih memberikan pengertian agar orang tuanya di rumah saja, dia tidak mau mereka kelelahan di rumah sakit. Terlebih tidur tanpa alas yang tebal, khawatir mereka sakit juga.


Dengan sedikit bujukan akhirnya Rahma pun mengiyakan.


Saat ini Faqih melihat Nuha kembali meringis sedikit.

__ADS_1


"Neng, masih sakit ya?" Tanya Faqih saat memegangi tubuh Nuha yang tengah berjalan menuju ranjanya lagi.


"Sedikit. Tapi tidak apa kok A'..."


"Jangan di paksa neng."


"Nggak apa-apa A'... Biar cepat sehat dan Nuha bisa cepat pulang."


"Iya tapi tidak di paksakan juga, kan?" Tuturnya, Faqih mengangkat tubuh Nuha pelan membuat gadis itu terkejut.


"A'a... Ya Allah kok Nuha di gendong, kan bisa naik sendiri."


"A'a pengen gendong kamu." Tersenyum, ia pun merebahkan tubuh sang istri pelan. Gadis itu terkekeh, tangannya masih melingkar di leher A' Faqih.


"Memang aku tidak berat?" Tanya Nuha manja. Faqih menggeleng, ia mengecup bagian bibir Nuha.


"Kangen." Gumam Faqih.


"Ya ampun, bilang kangen. Kaya setiap hari nggak ketemu saja."


"Kangen yang lain neng." Mengusap wajah Nuha. "Kangen memanjakan mu." Bisiknya kemudian. Nuha pun tersipu.


"Kalau gitu mau cium saja deh."


"A'a... Jangan nanti kalau tau-tau ada perawat masuk bagaimana?" Terkekeh karena A'a sudah mulai menciumi wajah Nuha. Faqih pun menghentikan kegiatannya, dia terkekeh.


"Neng, sehabis lebaran ini... Kita liburan di puncak yuk." Ajak A' Faqih.


"Ke puncak?"


"Iya... anggap saja bulan madu lah, setelah acara tasyakuran pernikahan kita." Ucap Faqih.


Nuha tersenyum ceria. "Sepertinya seru. Nuha mau A'..." Bersemangat. Pria itu membelai pangkal kepala Nuha lembut.


"Iya nanti kita nginep beberapa hari di vila ya. A'a jadi tidak sabar." Mengecup tangan Nuha.


"Iya, Nuha juga tidak sabar." Tersenyum.

__ADS_1


"Cepat sembuh makanya, sebentar lagi lembaran. Semoga tidak sampai malam takbiran kamu sudah boleh pulang."


"Iya A'a aamiin, semoga saja. Nuha juga kasihan sama A'a pasti lelah dan Jenuh sekali menunggu orang sakit." Ucap Nuha. Faqih menggeleng.


"Bukan begitu sayang. Kalau kamu sudah pulang kan, A'a tenang." Mengecup bibir Nuha sebentar. "MashaAllah mengandung candu sekali sih." Muaaah muaaah... Terus saja A'a meluncurkan kecupan di bibir Nuha berkali-kali. Seraya terkekeh.


Tok.. tok.. tok... Terperanjat keduanya, hingga membuat Faqih dan Nuha salah tingkah, lalu tertawa kemudian.


"Masuk." Seru Faqih pada seseorang di depan pintu. Ia pun menatap Nuha lagi seraya tersenyum.


Sementara seorang perawat masuk.


"Maaf, tensi dulu ya." Tutur sang perawat membawa alat pengukur tensi darah. Nuha pun mengangguk, sedangkan A'a sedikit menjauh memberi ruang untuk sang perawat bekerja. "Kantung infusnya tinggal sedikit, saya ganti sekalian ya." Ucap perawat tersebut.


"Iya sus." Jawab Nuha. Setelah semua selesai perawat pun keluar, dengan Faqih yang langsung menutup rapat pintu bangsal itu.


"Mengganggu saja." Gumam Faqih, yang di balas dengan tawa Nuha pelan.


"A'a yang salah, di rumah sakit main cium-cium. Issssshhh." Memukul lengan A' Faqih gemas. Pria itu pun kembali duduk di bangkunya. Mengusap-usap lagi wajah sang istri.


"Makanya cepat sehat. Jadi cepat pulang, dan A'a bisa cium kamu sepuasnya." Menarik hidung Nuha gemas.


"Habis dong nanti pipi Nuha." Ledeknya.


"Manis mu tidak akan habis kok, sungguh."


"Masaaaa?" Terkekeh dengan imutnya.


Faqih geleng-geleng kepala. "Aaahhh sudah jangan mancing A'a dengan tingkah mu itu. Bikin pengen makan saja."


"A'a...!"


"Apa?" Meraih roti sobek di atas meja. "Mikir apa kamu? Hah?" Memukul kepala Nuha dengan roti di tangannya seraya terkekeh.


"Pinter banget mengalihkan ya." Bersungut.


"Hahaha." Membuka bungkusan rotinya lalu mengarahkan pada Nuha. Gadis itu menggigitnya, bergantian dengan Faqih yang memakannya di bekas gigitan sang istri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2