
Sekujur tubuh Faqih benar-benar lemas. Dia menanti penuh kecemasan di luar ruangan Operasi. Sudah berjalan di sana ketika lampu papan di atas pintu sudah menyala.
'aku bersalah, aku yang terlalu egois. Ya Allah maafkan hamba Mu yang tak bisa menjaga istri ku dengan baik.' Faqih duduk dengan posisi mencondongkan tubuhnya kedepan bertopang dua tangan yang saling bertaut di depan.
Perasaan yang benar-benar hancur, sebuah kegagalan yang tak pernah dia pikirkan akan terjadi.
'kebahagiaan apa yang sudah ku berikan pada Nuha? Tidak ada, yang ada aku hanya Membuatnya tertekan.' pikiran yang penuh dengan rasa bersalah membuat Faqih tak henti-hentinya menitikkan air mata.
"Faqih." Panggil Farhat. Membuat Faqih langsung menoleh pelan.
"Maaf Aku, harus pulang. Dan mungkin akan kembali ke rumah Tafiz sebentar." Ucap Farhat. Faqih pun menunduk.
"Aku harus bagaimana?" Gumam Faqih lirih. Sementara Farhat masih diam saja, niatnya untuk beranjak ia urungkan. Sepertinya Faqih ingin mengutarakan isi hatinya pada Farhat. Faqih memang lebih muda tiga tahun dari Farhat, itulah mungkin yang membuat Farhat jauh lebih dewasa ketimbang Faqih. "Aku membawa Nuha keluar dari rumahnya, membuatnya putus akan mimpinya, dan berusaha bekerja sekeras mungkin untuk membuatnya bangga memiliki suami seperti ku. Yang mampu mengayomi dia dengan kemampuan ku sendiri. Namun kenyataannya? Aku malah membuat dia seperti ini." Sambungnya. Farhat menepuk-nepuk bahu Faqih pelan.
"Kau suami yang baik. Aku percaya itu." Farhat berusaha menenangkan.
"Tidak. Andai saja, aku belum menikahinya, Nuha pasti sudah menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan. Tidak seperti sekarang."
"Yakinkah seperti itu?" Tanya Farhat.
"Emmm."
"Apa kau sedang putus asa sekarang?" Tanya Farhat lagi. Faqih pun menoleh lalu kembali menunduk pelan seraya menggeleng.
"Bukan putus asa, hanya menyesali apa yang sudah terlewati begitu saja. Seolah semuanya sia-sia, Nuha ku tidak seceria dulu saat belum menjadi istri ku." jawab Faqih.
"Apa Seperti itu yang kau pikirkan? Aku pikir kau adalah seorang Faqih Al Malik, pria tegas yang memiliki keimanan kuat. Ternyata....? Kau tidak jauh berbeda dengan mereka-mereka yang awam." Ucap Farhat.
"Aku hanya manusia biasa. Aku bisa hancur dan merasa gagal bukan?" Jawab Faqih.
Farhat menghela nafas sejenak.
"Kau benar, namun kau perlu ingat, bahwasanya seorang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah." Tutur Farhat mengingatkan. Faqih menutup mulutnya ia kembali menangis.
"Aku pria lemah, kak." Tiba-tiba saja Faqih menyebut kak pada Farhat karena memang usia Farhat yang lebih tua darinya. Tangan kanan Farhat melingkar di bahu Faqih mengusap-usap pelan.
"Qadarullah A'... Semua takdir Allah."
__ADS_1
"Hiks." Semakin terisak lah Faqih saat mendengar kata-kata itu.
"A'a, aku hanya mengingatkan bukan maksud menggurui, membaca ulang hadist yang ku ingat untuk mu tentang ini? Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: 'Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.' Akan tetapi hendaklah kau katakan: 'Qodarullah wa maa-syaa-a fa'ala.' Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi. Karena perkataan seandainya dapat membuka pintu syaitan. Kau percaya itu takdir Allah kan? Lalu kenapa kau menyalahkan diri sendiri. Dimana keimanan mu A'? Bukankah itu sudah terjabarkan dalam Hadis dengan jelas, apa kau lupa?"
"Astagfirullah al'azim... astagfirullah al'azim... Astagfirullah al'azim." Tubuh Faqih semakin berguncang hebat. Farhat mendekatkan tubuh itu, memeluknya.
"Sabar Faqih... ustadzah Nuha akan baik-baik saja. Dan setelah ini berusaha lah untuk lebih baik lagi. Cintai dan lindungi dia. Sebagaimana letak tulang rusuk mu yang dekat dengan hati mu. Buat dia nyaman di sebelah mu."
"Astagfirullah al'azim... Ya Allah." Masih saja A'a menumpahkan segalanya di pelukan Farhat, hingga beberapa menit sampai beliau bisa melepaskan pelukannya karena sudah lebih tenang sekarang.
"Bersabarlah, aku percaya pada mu. Kau pria yang kuat." Farhat masih berusaha menenangkan. Seolah membukakan pintu hati Faqih yang selama ini sudah berfikir buruk pada Farhat. Hingga terbesit rasa tidak enak sekaligus malu.
"Maaf." Gumamnya lirih. Kening Farhat berkerut. "Maaf aku sudah memposisikan diri mu sebagai salah satu orang yang paling ku takuti."
"Maksudnya?"
"Istri ku, aku takut... Kalau kau masih menyukainya." Jawab Faqih lirih. Farhat pun tersenyum dia Menyentuh bahu Faqih lagi pelan.
"Aku memang masih mengagumi Ustadzah Nuha hingga detik ini." Jawab Farhat, ucapan Farhat membuat Faqih menoleh cepat. "Itu manusiawi kan? Karena itu rasa yang benar-benar tidak bisa kita tolak kehadirannya. Dan aku pun tidak bisa memastikan sampai kapan rasa kagum itu bersemayam di dalam hati ku. Namun selayaknya pria yang masih memiliki iman, aku hanya berusaha mengubur itu semua. Mau bagaimana pun juga dia sudah memiliki suami." Sambung Farhat. Sementara Faqih kembali menunduk.
"Cemburu adalah bukti kau mencintainya. Namun apa kau yakin istri mu akan merasa nyaman dengan itu? Jangan terlalu menggenggam sesuatu yang justru akan membuatnya ingin terlepas dari mu. Kau bisa menjadi surganya yang tidak lagi dia rindukan jika terus saja seperti ini." Tutur Farhat.
"Aku harus bagaimana? Aku sangat mencintai Nuha. Aku takut kalian? Aaah sudah lupakan."
"Aku paham. Apa perlu aku keluar dari rumah Tafiz?" Tanya Farhat.
"Jangan...! Ku mohon jangan."
"Ini cara terbaik bukan?"
"Kau tahu anak-anak lebih suka di ajar oleh mu. Ku mohon jangan keluar dari rumah Tafiz. Tolong maafkan aku, aku percaya kau pria beriman. Bahkan lebih di atas ku... Seharusnya aku percaya itu. Dan kesetiaan istri ku juga." Tutur Faqih memohon. Farhat tersenyum, sifat Farhat memang sedikit mendekati ustadz Irsyad, jika kalian ingin tahu.
"Iya." Jawabnya tulus.
"Terimakasih ustadz Farhat." Faqih tersenyum.
"Sama-sama." Keduanya saling berpelukan sejenak. Sedikit kelegaan di hati Faqih, ketika rasa bersalah itu sudah terlepas sebagian. Kini dia percaya, ketakutannya sama sekali tak beralasan.
__ADS_1
Hingga akhirnya Farhat pun berpamitan pulang, karena waktu juga sudah semakin mendekati sore hari.
–––
Catatan:
Hal cemburu dan tidak percaya pada seorang pasangan adalah hal yang lumrah terjadi. Seperti saat Rosulullah Saw, mendengar kabar selingkuhnya Aisyah dari para kaum Quraisy dengan salah seorang sahabatnya. Padahal kejadiannya tak seperti itu, nama sahabatnya itu adalah Shafwan bin Al-Mu’aththal.
Beliau bertugas untuk mengecek barang-barang yang tertinggal ketika Rosulullah dan para sahabat lain sedang touring (ambil bahasa yang enak saja.) Jadi kebiasaan nabi ketika ingin bepergian dengan para tentaranya dan sahabat, beliau akan mengundi istri yang mana yang akan Beliau ajak untuk pergi. (Yang nggak pernah di ajak suaminya pergi kasih aja cerita ini ya hahaha) dan saat itu terpilihlah Aisyah.
Singkat cerita Aisyah merasakan kalungnya putus, dia pun berusaha mencarinya tanpa berbicara pada Rosulullah. Karena apa? Jika Aisyah berbicara, sudah pasti Baginda Nabi akan turut mencarinya hingga semuanya pun akan turut sama. (Merasa tidak enak saja Aisyah Ra itu) hal itu pula yang membuatnya tidak masuk ke dalam tandu yang berada di atas unta. Sayangnya rombongan itu tidak ada yang menyadari jika Aisyah belum masuk ke tandunya.
Dan akhirnya tertinggal lah Aisyah, namun beliau percaya bahwa Rosulullah pasti akan menyadari dan kembali menjemputnya. Maka duduklah Aisyah Ra di salah satu batu besar menunggu kekasihnya, akibat kantuk yang teramat dia pun tertidur di atas batu itu.
Di situlah Shafwan melihat sesosok orang dengan kain hitam menutupi tubuhnya. Setelah di tilik ternyata adalah Aisyah. Seketika itu pula Shafwan langsung beristirja Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Berpaling lah wajah Beliau hingga Aisyah terjaga lalu berusaha menutupi wajahnya.
Sungguh sangat berimannya laki-laki itu Beliau idak berani menatap Aisyah, bahkan berbicara sepatah kata pun tidak.
sampai Aisyah Ra naik ke atas untanya Beliau tetap membelakangi tidak mau melihatnya. Lalu di tariklah unta itu dengan Aisyah yang berada di atasnya. Melewati gerbang masuk kota tempat tinggal Aisyah di Madinah, dimana orang kafir Quraisy langsung menanggapi itu sebagai hal yang mencurigakan. Gunjingan demi gunjingan pun keluar, dimana fitnah tentang selingkuhnya Aisyah menyebar begitu saja, sampai ke telinga Baginda Nabi.
Beliau pun bertanya pada Aisyah 'apa kau mendengar gosip tentang mu ya aish?'
Saat itu betapa kecewanya Aisyah Ra pada sang suami. Dimana beliau adalah orang yang beriman namun masih saja percaya akan hal itu. Dan apa yang di jawab Aisyah.
'ya Rosul? Jika saya berbicara tidak benar, apakah kau percaya? Dan jika aku berkata itu benar.. wallahi sesungguhnya Allah maha melihat apa yang sebenarnya terjadi.' hanya sebatas menjawab itu Aisyah pun masuk kembali kedalam rumahnya. Nabi langsung tertunduk karena memang antara percaya tidak percaya saat itu.
Hingga akhirnya turun surah An-Nur ayat 11 sebagai pembelaan dari Allah SWT pada Aisyah.
...“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 11)...
Dari situlah nabi langsung merasa bersalah, dan dia kembali pada Asiyah untuk meminta maaf. Namun karena hati sang istri masih terluka beliau memutuskan untuk memberi waktu padanya sejenak sampai Kondisi hati Aisyah membaik.
Bisa di ambil hikmahnya ya teman-teman...
Sesungguhnya tidak semua yang kita lihat itu adalah yang sebenar-benarnya terjadi, dan sebaik-baiknya orang yang mendengar gosip harusnya kita mencari tahu kebenarannya barulah menyebar kembali berita itu. Dan walaupun itu benar adanya kesalahan yang di lakukan mereka, maka tutup mulut lah dan jangan menjadi bagian dari mereka yang memakan bangkai saudaranya sendiri.
Dan lagi rasa cemburu juga adalah hal manusiawi. Jadi di sini tidak bisa pula kita menganggap Faqih bukan orang yang beriman, karena sifat manusia memang seperti itu kan? Hehehe.
__ADS_1