
Hari yang sudah berganti...
Dengan riuh suara adzan subuh di toa-toa masjid. Sepasang mata mulai mengerjap dia menoleh kearah samping, dengan sesekali mengusap wajahnya yang pedih sembari beranjak.
Kenapa pagi ini mas Farhat tidak membangunkannya? Dia masih pada posisi duduk mengumpulkan tenaganya setelah tidur beberapa jam.
semalaman?
Sepertinya Agam tidak terjaga, sampai bisa membuatnya tidur hingga pagi menjelang.
Kini tubuh yang berangsur-angsur segar mulai turun dari ranjang setelah melipat selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Dia lantas berjalan keluar dari kamar seraya menguap.
Di depan pintu Qori terdiam dengan satu tangan masih memegangi handel pintu, di lihat mas Farhat tengah tidur di kursi panjang di ruang tengah.
'kok, mas Farhat tidur di luar? Apa jangan-jangan selama ini dia tidur di luar?' batin Qori menduga-duga, padahal sebenarnya ustadz Farhat hanya ketiduran. Karena dia harus mengetik ulang ketika filenya hilang akibat laptopnya yang mati sebab telat di charge.
Mimik wajah sedih mulai terbit, rasanya sulit memang untuk menjadi Qori. Ketika kita harus merasa bahwa orang itu tak mencintai kita, berkorban untuk menikahi kita demi bisa menutupi aib kita. Tentu saja sebagai wanita yang tahu diri kita tidak berhak menuntut apapun bukan.
Begitulah perasaan Qori saat ini. Hingga tubuh pria itu bergerak, Farhat terjaga.
"Astagfirullah al'azim, sudah adzan subuh." Gumamnya. Dia beranjak bangun dan menoleh kebelakang, sebuah senyum mengembang ke arahnya. "Qori? Sudah bangun?" Tanya mas Farhat. Sementara gadis itu hanya mengangguk.
Mas Farhat pun langsung bergegas mendekati kamar, dia hanya melewati gadis itu
buru-buru masuk kedalam tandasnya untuk mandi.
'ya Allah, bagaimana caranya. Agar aku bisa membuatnya lebih perhatian lagi.' gumam Qori, air matanya mulai jatuh dan dia seka dengan cepat.
Seperti biasa
Tidak ingin dia menangis terlebih-lebih sampai ketahuan Mas Farhat. Tahu diri lah Qori, tahu diri lah... itulah yang terus dia tancapkan di benaknya.
Hingga beberapa menit berselang, mas Farhat keluar dari tandas, dia segera memakai Kokonya, sudah tidak ada waktu ke masjid. Dia pun segera menuju ruang solat.
__ADS_1
"Mas," panggil Qori, menghentikan langkah pria jangkung yang sudah melewatinya walau tangan dia sempat mengusap pelan Kepalanya.
"Iya?"
"Kamu tidak ingin mengajak ku solat berjamaah?"
Deg...!
"Ka...kamu sudah selesai nifas?" Tanya Farhat, tiba-tiba saja dia menjadi sedikit panik.
"Iya." Tersenyum lebar. Farhat pun menunduk.
'itu tandanya, aku sudah harus memberikan dia nafkah batin, paling tidak, nanti malam. Ya Allah bagaimana ini?? Aku...?'
"Mas Farhat kok diam saja?" Qori mendekati Farhat seraya menyentuh lengannya, "ajak aku juga ya? Imam ku."
'ya Allah...' Farhat berusaha tersenyum, sebenarnya dia tidak menyesal karena telah menolong Qori dan Agam. Hanya saja dia belum siap, memperlakukan Qori selayaknya seorang istri. Yang harus dia manjakan dan dia gauli.
'aku tidak peduli, Kata orang untuk mengambil hati suami. Tidak perlu kita peduli tentang harga diri ataupun gengsi kan?'
"Suami ku, kau banyak diam?"
"Emmm Qori, panggil mas saja ya. Jangan seperti itu. Aneh soalnya." Berusaha terkekeh, sementara satu tangannya Melepaskan tangan Qori, gadis itu pun langsung mematung melihat tangannya yang sudah menggantung begitu saja. "Siap-siap saja ya dik, mas tunggu di ruang sholat." Tersenyum, dia bahkan tidak mengecup kening Qori lebih dulu dan langsung berjalan meninggalkan gadis itu begitu saja.
Seperti tidak ingin lagi di tahan, air mata itu kembali terjatuh. Di sentuhnya dada itu oleh Qori, dia pun memutar badannya lunglai masuk ke dalam kamar mereka dan menutup pintu kamar itu lagi untuk bersiap-siap.
Di balik pintu.
Gadis itu membungkam mulutnya sejenak, membiarkan air mata itu mengalir deras untuk beberapa saat. Sampai dia bisa berusaha meredam dengan menghembuskan nafas panjang berkali-kali. "Tidak apa-apa Qori... Berjuanglah... Ayo berjuang demi cinta suami mu." Tersenyum, walau sesekali terisak. Hingga dia harus memukul-mukul dadanya menghalau sesak.
Karena ternyata, kehidupannya belum benar-benar bahagia, dan dia juga harus mematuhi suratan hidupnya ini. Ternyata dia masih harus berjuang.
Namun,
__ADS_1
Mau sampai kapan? Sementara hidup dengan mas Farhat dan berusaha melayani beliau yang sepertinya semakin terlihat canggung di dekatnya membuatnya semakin merasa tidak enak.
'Apa aku harus menyerah dan meminta suami ku menceraikan ku saja, lalu aku kembali ke rumah ku?' Qori menggeleng cepat, 'tidak-tidak, hutang ku banyak kepada mas Farhat. Setidaknya, aku harus melayani mas Farhat semaksimal mungkin, sampai benar-benar yakin bahwa hutang Budi ku sudah terlunasi seluruhnya, barulah aku bisa pergi dari kehidupan mas Farhat, dan merelakan dia menemukan cintanya yang sesungguhnya.' Qori menyeka air matanya, dia pun kembali bergegas untuk bersiap karena sang suami sudah menunggu dia di ruang sholat.
***
Pagi yang mulai terang membuat aktivitas keduanya semakin sibuk. Mas Farhat, kini tengah memandikan Agam, sementara Qori tengah memasak di dapur.
Pria itu terlihat telaten sekali membasuh tubuh bayi yang baru berusia empat puluh tiga hari, memakainya minyak telon, bedak dan pelembab kulit bayi.
Memakaikan kain gurita dan popoknya serta baju hingga ke kain bedongnya.
"Tampan sekali anak ayah." Tersenyum, beliau mengecup pipi bayi itu lembut. "Wanginya kesayangan ayah ini. MashaAllah." Terkekeh, Farhat benar-benar menyayangi Agam selayaknya anak kandung dia sendiri.
Di sela-sela asiknya Farhat dengan Agam, Qori masuk dengan senyum mengembang tulus. Lalu duduk di sebelah Farhat, mengamati Farhat yang masih saja mengecup pipi yang masih kemerahan itu.
"Agam sepertinya ingin di beri ASI, dik. Lihat ini, bibirnya sudah membuka terus saat di beri punggung jari." Farhat terkekeh memainkan jarinya di dekat bibir Agam yang terbuka saat di beri rangsangan.
Berbeda dengan Qori yang hanya menatap wajah tampan sang suami. "Dik?" Menoleh ke arah Qori yang langsung terkesiap.
"I...iya mas, sini biar Qori kasih ASI." Ucap Qori seraya meraih Agam, dan membawanya pada pangkuannya.
"Sini kasih bantal dulu bawahnya biar tidak susah." Farhat meraih satu bantal dan meletakkannya di pangkuan Qori. Gadis itu tersenyum.
'mas Farhat tidak sepenuhnya pasif, dia masih perhatian. Namun jika hanya berdua saja dengan ku. Dia memang masih terlihat canggung.' batin Qori. "Oh... Mas mau sarapan sekarang? Makanan sudah Qori siapkan di meja makan." Tuturnya seraya membuka kancing bajunya, wajah Farhat langsung berpaling.
"I..iya, mas keluar dulu ya."
"Mas?" Qori menahannya, dia memegangi lengan Farhat. "Kenapa mas selalu berpaling? Kan tidak apa mas melihat aku menyusui Agam."
"Iya, dik tapi? Ah... Mas sudah sedikit merasa lapar, mas makan duluan tidak apa ya?" Ucap Farhat, Qori pun melepaskan tangannya.
"Ya sudah." Jawabnya. Hingga punggung itu mulai melangkah menjauh, keluar dari kamar mereka, Qori pun menghela nafas. Dia kembali fokus mengeluarkan satu bagian dadanya dan menyerahkan itu pada anaknya yang langsung saja menyusu padanya.
__ADS_1