
Malam itu keduanya berjalan bersama setelah pulang dari masjid. Abi Irsyad dan Umma Rahma sudah di depan, seperti sengaja saja A' Faqih berjalan lebih pelan di belakang seraya menggandeng tangan Nuha. Mungkin agar bisa lebih lama tuh jalannya.
"Neng?" Panggil A' Faqih.
"Ya, A'...?"
"Kamu waktu belum nikah sama A'a, setiap hari naik motor ke rumah Tafiz, tidak lelah?" Tanya A' Faqih.
"Lelah dong, kadang ada sih rasa kaya malas berangkat. Tapi kalau sudah ingat punya anak didik yang menunggu Nuha, lelahnya hilang." Jawab Nuha.
Faqih tersenyum. Dalam hatinya merasa kagum saja.
"Tapi, sebenarnya ya A' bukan masalah males jalannya." Tutur Nuha.
"Lalu?"
"Gini, Nuha mau tanya. Di rumah Tafiz itu suka ada mahluk astral tidak sih?" Tanya Nuha. Faqih pun geleng-geleng kepala.
"Tiba-tiba ngomongin mahluk astral, jin, setan kan memang ada." Faqih menanggapi, Walaupun dari tampang dia seperti berbicara Ahhh ngomong apa sih ni bocah?
"Nggak, gini loh A'.... Nuha tuh ya, masih heran dulu segala tas, kadang sepatu itu suka berpindah tempat di locker." Ujar Nuha, yang langsung membuat si pelaku utama yang tengah berjalan di sebelahnya membisu. "Kan kesel jadinya...!"
"Neng sudah tahu, siapa pelakunya?" Tanya Faqih masih bergaya santai.
"sampai saat ini, pelakunya belum di temukan. Tapi kalau sampai Beneran itu hantu... Ihhh ngerinya."
"Kalau manusia yang ngelakuin?" Tanya A' Faqih.
"Ohooo? Kalau manusia, mungkin Nuha akan meminjam rotan A'a untuk memukulnya." Nuha tersenyum jahat.
"Bagus... Berati sudah ada niatan buat mukul A'a ya neng?" Tanya Faqih.
Eh....? Nuha menghentikan langkahnya.
"Kok mukulin A'a, maksudnya bagaimana ini?"
"Karena A'a pelakunya." Jawab Faqih enteng tanpa dosa, se-enteng diri mu saat makan mie instan punya kakak mu tapi izinnya ke mamah. Dan saat di tanya? Jawabnya 'orang sama mama boleh' pengen nampol kan jadinya kakak mu itu.
__ADS_1
"Tunggu... Tunggu... Jadi A'a yang ngelakuin?" Tanya Nuha berkacak pinggang dengan satu tangannya. Tangan Faqih pun meraih tangan itu hingga kembali turun.
"Iya..." Jawabnya kemudian lalu tersenyum jahat.
"Faedahnya apa itu?" Tanya Nuha, dia ingin marah sih. Tapi tidak berani.
"Faedahnya, A'a terhibur." Jawab A' Faqih, dia benar-benar ingin tergelak saat melihat Nuha mendesah kesal kepadanya. Wajah kesal itulah yang sangat dia rindukan, pasalnya setelah menikah sepertinya dia sudah jauh lebih pendiam.
Jangan kumat ke jailan mu itu ya A' issshhhh issshhhh issshhhh.
"Demi Apa A'a yang ngelakuin?" Nuha masih tidak percaya, orang seperti Faqih yang pada masa itu kaku dan dinginnya nauzubillah bisa melakukan hal konyol tak berfaedah seperti itu.
"Tidak perlu demi-demian, memang A'a pelakunya. Kenapa? Masih mau pinjam rotan A'a untuk memukuli…?"
"Curangnya? Ngaku setelah menjadi suami?" Nuha geram.
"Karena suami mu itu adalah aturan paling benar yang perlu kau patuhi.... Jadi sebelum neng ngamuk dan mukul A'a pakai rotan A'a sendiri. Mending ku jadikan istri. Sekarang bagaimana? Bimbang kan? Masih berani mau mukul A'a, pakai rotan?" Faqih terkekeh jahat.
'ku pikir dia sudah taubat ngeselinnya, ternyata belum ya?' Batin Nuha seraya menatap sebal ke arah A' Faqih. Gadis itu pun membuang muka lalu berjalan lebih dulu.
"Neng...!" Seru A' Faqih, sedangkan gadis yang baru berjalan beberapa langkah pun berhenti. "Selangkah lagi maju ninggalin A'a, liat saja?" Ancam A' Faqih.
'liat tampangnya yang ngeselin itu, mendadak kembali pada A' Faqih yang dulu.' bersungut.
"Neng...!"
"Iya, ih...?" Nuha mengaitkan tangannya di lengan Faqih.
"Istri Solehah." Puji A' Faqih yang merasa puas kala melihat wajah kesal Nuha itu. Akhirnya, sebuah kebohongan sudah terbongkar dan dia jadi sudah tak memiliki dosa lagi. Walaupun harus membuat Nuha semakin kesal ya A'... Bukannya minta maaf malah semakin jadi A'a ini, haduuuuhh.
***
Di luar langit masih gelap, masih seperti hari-hari sebelumnya. Suara murotal yang di putar menggunakan kaset dan di serukan menggunakan pengeras suara menjadi teman sunyi bagi mereka yang tengah menikmati tidurnya.
Dalam kamar yang masih remang-remang karena hanya mendapatkan pencahayaan dari lampu tidur saja, sepasang mata sudah mengerjap. Dia menoleh, kesamping di lihatnya A' Faqih masih tertidur dengan posisi terlentang dan kedua tangan menyilang didepan dada. Sungguh, dalam pose tidur saja dia masih bisa terlihat sombong ya hehehe hanya bercanda A'.
Nuha pun menyunggingkan senyum jahil, seperti sebuah keberuntungan dia bangun lebih dulu dari A' Faqih.
__ADS_1
Hingga tersirat pikiran yang tidak baik pada benak gadis itu.
Dengan sangat hati-hati Nuha turun dari ranjang. Dia berjalan berindik mendekati meja belajarnya, lalu meraih sesuatu dari gelas penyimpanan alat tulis. Sebuah spidol di sana.
Nuha menoleh sekilas ke belakang, 'aku memang tidak bisa memukulinya. Tapi dengan ini? Aku bisa melakukan pembalasan. Maaf ya Allah... Hanya pembalasan kecil, hehehe.' terkekeh jahat dalam hati. Nuha kembali mendekati A' Faqih, dengan kelima jarinya dia berusaha menggerakkan tangan itu di depan wajah A'a.
"Aman... Hehehe." Nuha Melepaskan penutup spidol itu. Lalu mengarahkan mata spidolnya ke dekat alis A' Faqih yang tebal itu. "Kalau ku tambah sedikit, pasti akan lucu kaya Sinchan." Perlahan-lahan Nuha menurunkan mata pena itu. Hingga tinggal satu inci lagi menyentuh alis A'Faqih, mata beliau pun terbuka.
"Ngapain?" Tanya beliau santai. Sementara sang istri masih mematung dengan spidol masih di tangan terarah pada Alis A'a.
Sungguh, tidak tahu lagi ingin mencari alasan apa, yang pasti dia sudah benar-benar kepergok tengah melakukan aksi kejahatan, yang mungkin akan berakhir antara hidup dan mati.
'hiks..!' Nuha menangis dalam hati. Mati lah kau Nuha hahahaha.
A' Faqih meraih spidol di tangan Nuha dengan mudahnya karena gadis itu masih membeku.
"Ckckck, jadi begini ya?" Mulai beranjak duduk Sementara Nuha bergeser sedikit posisi duduknya. "Neng mau melukis apa dengan ini di wajah A'a?" Tanya A' Faqih.
"I...itu, a...anu... Emmm?"
"Gagap kan tuh?"
"Ma...maaf... Bu...bukan maksud Nuha."
"Sini... Biar A'a ajarin ngelukis yang benar." Faqih mengarahkan spidol itu kearah wajah Nuha. Gadis itu pun menggeleng cepat.
"A'a Jangan... Jangan A' itu permanen." Nuha menjauh.
"Sudah tahu permanen, kenapa mau di coretin ke muka A'a?" Semakin mendekati Nuha.
"Cu... cuma mau gambar Alis." Nyengir.
"Alis A'a kurang tebal ya? Hah?"
"Hehehe... Ampun... Ampuan A'a," kedua tangan Nuha di tangkap A' Faqih. Dengan satu tangannya, sedangkan tangan satunya mengarahkan spidol itu di bagian bawah lubang hidung Nuha.
"Aaaaa... A'a jangaaaaaaannnn....!" Seru Nuha reflek. Berbarengan dengan gelak tawa A' Faqih.
__ADS_1
Umma Rahma yang baru keluar dari kamar pun sedikit terkejut, namun dia terkekeh kemudian. "Dasar pengantin baru, sudah mau sahur saja masih bersambung. Haduuuhhh." Geleng-geleng kepala. Mikir apa sih Umma? hahaha.