Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
teguran untuk Zahra.


__ADS_3

Langkah Zahra terus terayun mengikuti A' Faqih yang berjalan di depan. Hingga beliau berhenti tepat, di depan kap mobil milik Zahra lalu memutar tubuhnya. Dengan kedua tangan beliau masukan ke dalam saku jaketnya, Faqih terdiam sejenak.


"Apa kau ingin menjadi istri kedua ku?" Tanya Faqih tiba-tiba setelah terdiam cukup lama. Zahra pun mengangkat kepalanya, dia merasa terkejut karena tiba-tiba Faqih bicara seperti itu.


"I...itu?" Zahra tergagap.


"Kalau kau mau? Ayo kita menikah." Kedua tangan Faqih yang berada di dalam saku jaketnya terkepal, geram.


"A...? A'a sadar dengan apa yang A'a katakan?"


"Sangat sadar...! Jadi ayo kita menikah, jika perlu malam ini juga."


"Maaf A'...? A'a sudah ada Nuha, bagaimana bisa A'a bicara seperti ini?"


"Tidak masalah, aku akan meminta izin kepadanya, untuk menikahi mu." Ucap Faqih tegas, dengan tatapan serius.


"A...aku, tidak mungkin menjadi istri kedua." Jawab Zahra lirih seraya menunduk dengan tangan yang saling meremas.


"Baik, akan ku kembalikan Nuha pada orangtuanya. Jika kau mau menjadi istri ku satu-satunya."


Degg...! Zahra mundur satu langkah. Ia menggeleng pelan.


"Semudah itu kau mengatakan ingin mengembalikannya?" Tanya Zahra.


"Memang kenapa? Bukankah itu yang kau inginkan, mendekati Umma ku demi bisa mendapatkan ku? Sekarang kau akan mendapatkan hasil dari kegigihan mu itu. Ayo kita menikah, dan jadilah muhrim ku."


Menggeleng pelan. "Kenapa bicara seperti itu A'....? Aku bukan wanita yang selalu mengharap imbalan apapun setiap kali diri ku dekat dengan Umma mu."


"Lalu apa? Kenapa kau masih saja seperti ini Zahra? Apa Kau mau melukainya? Istri ku?"


"Tidak A'... Kau salah faham. Aku tidak bermaksud seperti itu. Kenapa A'a tega sekali berbicara seperti itu. Aku memang mengagumi mu. Tapi aku masih memiliki hati. Aku masih menghormati Nuha sebagai istri mu." Mata Zahra mulai menganak.


"Kalau begitu kenapa kau masih datang kemari? Dan membawakan sesuatu pada Umma?"


"Apa salah? jika aku masih ingin dekat dengan Umma mu?, Apa salah kalau aku ingin memberikan sesuatu padanya? Sebagai bukti bahwa aku menghargai kebaikannya selama ini kepada ku? aku sayang Umma mu A'... Aku ingin tetap dekat dengannya walaupun kau sudah menikah dengan Nuha, aku ingin tetap menjaga hubungan baik antara diri ku dan Umma mu." Zahra menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Tapi kau Membuatnya sedih Zahra." Mata Faqih mulai merah nanar. "Apa yang kau lakukan membuat Umma ku semakin sulit menerima istri ku."


"A...apa?" Zahra baru tahu jika Nuha tak di terima oleh Umma Hasna. "I...itu tidak mungkin A'... Umma Hasna bukan wanita yang seperti itu kan?"


Faqih menggeleng. Dia memalingkan wajahnya. "Tidak perlu aku menjelaskan apapun, cukup mengerti saja jika kau benar-benar menghargai hubungan ku dengan istri ku, ku mohon janganlah datang lagi." Menelungkup kan kedua tangannya di depan dada.


Zahra tertunduk. Ia baru ingat saat dirinya datang bertepatan ketika Nuha tengah membakar ayam tempo hari. Gadis itu terlihat sedih saat Umma Hasna memperlakukannya dengan baik. Bahkan saat mengobrol berdua pun, Umma sama sekali tak memanggil Nuha untuk turut serta dalam obrolan mereka.


"Ku mohon pada mu sekali lagi Zahra, aku ingin kau janganlah datang lagi, tolong beri kesempatan untuk istri ku agar bisa mendapatkan hatinya. Karena kau harus tahu, mau seperti apapun itu, aku tidak akan mungkin bisa memilih. Kalaupun aku menuruti keinginan Umma ku dulu. Kau tidak akan bisa bahagia dengan ku, karena aku tidak memiliki rasa apapun terhadap mu." Tegas A' Faqih. Sementara Zahra kembali menunduk.


"Aku... Aku mengerti A'..." Jawab Zahra lirih, bulir bening kembali terjatuh begitu saja saat mendengar kata-kata terakhir dari A'a.


"Terimakasih sudah mengerti. Jadi pulanglah. Dan maaf aku harus masuk Assalamualaikum." Faqih melenggang pergi meninggalkan Zahra yang masih terdiam di sana.


Hingga di jarak yang sudah semakin menjauh, Faqih menoleh ke belakang sejenak. Sebenarnya ada perasaan tidak tega karena sudah berkata seperti itu. Terlebih saat melihat punggung Zahra yang berguncang, sudah jelas gadis itu menangis.


Ia menggeleng pelan lalu melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah seraya menutup pintu itu.


Zahra menoleh saat setelah yakin Faqih sudah masuk ke dalam rumahnya. Zahra memejamkan matanya menekan dada itu merasa sesak kembali.


Dia mulai menyalakan mesin mobilnya lalu pergi.


A' Faqih menyibak gordennya, beliau lantas menutup lagi gorden itu mengucap syukur saat Zahra sudah pergi. 'maaf Zahra, maaf jika aku harus tegas dan mungkin sedikit melukai perasaan mu. Ini yang terbalik untuk semuanya.' Faqih tertunduk. Lalu kembali mengangkat kepalanya mengingat Nuha.


"Neng?" Gumam Faqih yang langsung berjalan cepat menuju kamar setelahnya.


–––


Di dalam kamar...


Mukena untuk Umma Hasna masih berada di pangkuannya, bulir bening masih saja menetes sedari tadi dengan tangan masih saja mengusap-usap mukenah tersebut. "Ssssshhh." Nuha meringis, ia kembali Menyentuh perutnya.


"Sakit... Ssssshhh... Ya Allah." Tangan kanan Nuha meraih segelas air di atas meja lalu meminumnya.


Cklaaaak... Nuha sedikit terperanjat, bahkan gelas itu sampai hampir terjatuh dari tangannya. dengan cepat Nuha menghapus air matanya. Lalu berusaha menyunggingkan senyum ketika A'a sudah masuk.

__ADS_1


"Neng maaf ya? Maafkan A'a." Memeluk tubuh Nuha yang tengah meringis tanpa suara.


"I...iya A'a. Tidak apa." Meringis lagi. 'sakit sekali ya Allah, tolong kuatkan aku.'


"Kamu tidak berfikir buruk tentang A'a kan? A'a hanya mengobrol biasa kok dengan Zahra. A'a tidak ingin dia datang lagi kesini. Semua demi kamu." Tutur Faqih.


"A...? A'a kok bilang seperti itu? Sungguh Nuha tidak apa-apa kalaupun Umma lebih menyukai kak Zahra. I...itu hak Umma kan." Meringis lagi, Nuha masih berusaha menahan sakit sehingga dia tanpa sadar mengatakan itu. Faqih pun melepaskan pelukannya. Gadis itu langsung mengembangkan senyumnya yang ceria itu di depan A'a.


"Neng tahu?" Faqih terkejut.


"Eh... Ta...tahu apa?" Nuha gelagapan. 'duh ngomong apa sih tadi aku?'


"Tahu kalau Umma? Mmmp" Ucapan Faqih terpotong saat Nuha mengecup bibir sang suami. Mata Nuha terpejam.


'ku mohon jangan tunjukkan sakit mu Nuha, jangan buat A'a khawatir.' batin Nuha. masih menempelkan bagian bibirnya ke bibir A'a. Tangan Nuha meremas kain seprai. Sepertinya rasa sakit itu semakin menjadi, sehingga membuatnya beristighfar berkali-kali.


Nuha Melepaskan kecupannya, lalu tersenyum tipis.


"Neng, neng tahu Umma?"


"Jangan katakan apapun A'... Maaf, Nuha tidak sengaja mendengar pembicaraan Umma dan A'a di ruang tengah."


Deg...!


"Astagfirullah al'azim. Kenapa kamu tidak bicara pada A'a?"


"Untuk apa? Itu bukan hal yang perlu Nuha bicarakan pada A'a kan?"


"Tapi neng?"


"Sssstt, A'a percaya kan Nuha tulus mencintai mu A'…? Setulus itu pula Nuha menerima Umma dan Abinya A'a. Jadi Nuha tidak mau mempermasalahkan ini. Nuha tidak mau A'a menegur Umma."


"Istri ku..." Faqih menangis dia memeluk Nuha dengan eratnya. "maaf ya neng... Sungguh maafkan Umma Hasna. Dan terimakasih atas cinta mu sayang." Faqih terisak. Semakin terasa lemas Nuha menahan sakit. Dia pun membalas pelukan A'a.


"I...iya A'a sayang." Mata Nuha terpejam sejenak, membiarkan rasa sakit itu semakin menjalar di bagian perutnya.

__ADS_1


__ADS_2