Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
perjalanan ke Bogor


__ADS_3

Hari yang sudah semakin siang menyorotkan sinar mentari yang mulai terik. Pukul sepuluh pagi jalan ke Bogor? Itu sudah agak kesiangan sih, tapi mau bagaimana lagi semoga saja tidak lama di sana. Dan niatnya untuk saling me-murojaah hafalan pun di batalkan, tujuannya sekarang hanya untuk melakukan tawar-menawar harga madu yang hendak dia beli saja.


Sebelum itu, A'a bertemu Harun di rumah Tafiz lebih dulu barulah mereka berjalan bersama menyusuri indahnya pohon Pinus di sepanjang jalan, di kanan dan kirinya. Sungguh nikmat, suasana sejuk yang membuatnya mengingat Nuha.


Aaahh andai saja dia datang dengan sang istri pasti akan lebih bahagia, oh... Dia pun punya ide, bagaimana jika habis lebaran ini dia berlibur ke puncak, menyewa villa di sana dan berbulan madu. Hahaha walaupun telat ya A' tapi niat mu bagus juga. A'a tersenyum sendiri di dalam masker yang menutupi mulut dan hidungnya, membayangkan hal indah yang akan dia lakukan bersama Nuha. Aaaaaa seru, seru, seru.


Motor mereka sudah tiba di pelataran masjid, karena mendengar suara adzan mereka pun memutuskan untuk rehat sejenak.


Dalam ke khusyukannya A' Faqih menjadi imam untuk Harun, dan di susul beberapa orang yang baru tiba turut menjadi makmum di sebelah Harun. Di rakaat pertama Faqih membacakan surah Al Mulk yang terdiri dari 30 ayat, di rakaat kedua Surah Al-A'la (19 ayat), di susul rakaat ketiga Al Qari'ah (11 ayat) dan di akhir raka'at di tutup dengan surah Al ikhlas.


Memang lama jika sholat dengan orang-orang seperti mereka, namun tahukah kalian, apa yang di lakukan imam masjid sekarang tidak seperti Orang-orang di zaman nabi, bacaan sholat sebelum ruku' pasti akan panjang-panjang bahkan sampai berjuz-juz.


Dan tahukah? Orang-orang itu bahkan sampai mengikat lingkar perut mereka dengan tali agar tidak jatuh saking lamanya bacaan sholat yang mereka baca (biasanya para wanita yang melakukan itu saat tengah solat sendirian di rumah mereka).


Faqih mengucap salam seraya menoleh ke kanan lalu ke kiri. Dia melihat ada sekitar tujuh orang di belakang, membuatnya merasa senang. Beberapa orang bahkan langsung memanggilnya Ustadz dan mengecup punggung tangan Faqih saat bersalaman selepas zikir singkat yang di pimpin A' Faqih.


"Luar biasa suara Ustadz, tidak di sangka saya istirahat di sini malah bertemu Ustadz bersuara merdu, MashaAllah, merinding saya tadz" Tutur seorang pria paruh baya yang bahkan sampai menangis saking menghayati bacaan sholat Faqih.


Sementara yang di puji tersenyum tipis.


"Alhamdulillah, jangan puji saya pak. Saya juga masih belajar."


"Masih belajar saja seperti ini. MashaAllah sudah tampan, masih muda, hafalannya bagus pula. Ustadz sudah berkeluarga? Jika belum mau jadi menantu saya?" Ucapnya blak-blakan dengan suara tawanya yang khas itu.


"Alhamdulillah, saya sudah beristri." Faqih menanggapi dengan senyum.


"Wah... Sayang sekali, tapi syukurlah Ustadz, semoga kebahagiaan selalu menyertai ustadz dan keluarga ya."


"Aamiin ya rabb." Gumam Faqih. "Maaf pak, saya harus melanjutkan perjalanan."

__ADS_1


"Iya tadz hati-hati, semoga selamat sampai tujuan." Tersenyum ramah seraya menjabat tangan Faqih, pria itu mengangguk. Lalu berjalan keluar.


Di dekat motor mereka masing-masing, Faqih dan Harun mengobrol singkat.


"Tidak di sangka di belakang ada makmum lain, jadi tidak enak baca suratan yang panjang." Tutur Faqih seraya memasang jaketnya.


"Hahaha ada beberapa sih kayanya yang langsung menyesal ikut menjadi makmum, nggak sengaja denger ada yang menggerutu di luar saat A'a sedang berzikir." Terkekeh.


"Tidak apa, sekali-kali kan?" Faqih turut terkekeh seraya memasang sarung tangannya.


"Kaya waktu di Mesir ya A'... Saya pernah tuh ikut tahajjud sama salah satu syekh.. MashaAllah lamanya, sampai-sampai tahajjud dari pukul sepuluh malam baru selesai pukul tiga lebih..." Faqih terkekeh mendengar cerita Harun.


"Itu berapa juz yang di baca?" Tanya A' Faqih.


"Tiga kayanya A' lupa, saya."


"Terus, besoknya lagi?"


"Jadi ingat salah satu kerabat Nabi, yang baru pertama ikut jamaah sama beliau. Karena bacaan surahnya panjang? Jadi sepanjang sholat itu berlangsung dia mengumpat terus 'tahu gini saya nggak sholat sama Nabi. Ahhh elaaah kapan selesainya sih ini?' mungkin antum kaya gitu ya." Mendengar cerita Faqih, Harun pun tergelak lagi.


"Bisa jadi iya hahahaha. Astagfirullah al'azim." Jawab Harun kemudian, yang kembali membuat keduanya tertawa.


Hingga mesin motor pun kembali di hidupkan, mereka melanjutkan lagi perjalanannya.


Sebenarnya obrolan ini saya kutip dari cerita salah seorang pria salih... Jadi mohon izin ku masukin ke Novel saya ya A'a ustadz, karena seru menurut saya. Hehehe


***


Kembali ke Jakarta...

__ADS_1


Seorang gadis tengah merias diri di depan cermin, sebenarnya ini adalah hari liburnya. Namun dia di suruh berangkat ke kantornya siang ini karena ada yang perlu dia garap.


Zahra sudah siap dengan penampilannya yang rapi itu, dia pun keluar.


Di sana pak Huda menghampiri Zahra. "Neng, mau ke kantor ya?"


"Iya Bi. Ada apa?"


"Ini, bisa minta tolong? Kantor mu kan lumayan dekat dari rumah Ustadz Rahmat, tolong mampir sebentar buat mengantarkan pesanan beliau ini ya. Karena hari ini beliau off jadi Abi tidak bertemu."


"Oh... Iya Bi." Jawab Zahra. Sedikit ragu saat menerima paper bag dari tangan Abinya. Beliau belum tahu jika Zahra menyukai anak dari Ustadz Rahmat itu.


"Bi, sebaiknya Musa atau sidik saja." Tutur Ummi Siti menghampiri mereka. Sedikit khawatir Ummi Siti saat mengetahui Putrinya akan mengantarkan bingkisan itu ke rumah Faqih.


"Sidik harus ke Malaka Mi, tadi sudah bilang ke Abi, dan Musa juga tadi baru pulang ngajar jadi sepertinya lelah." Ucap pak Huda.


"Tidak apa Ummi, Zahra sekaligus lewat kok." Ucap Zahra. 'semoga saja tidak ada A' Faqih dan Nuha di sana, hanya mengantarkan saja tidak akan lama kok.' batin Zahra.


Ummi Siti pun pasrah saat anak itu sudah mengucap salam dan mengecup punggung tangan keduanya. Sebenarnya, Beliau takut akan timbul fitnah, atau ada sesuatu yang tak di inginkan antara dia, Faqih dan Nuha.


Hingga mobil gadis itu mulai terdengar keluar dari halaman rumahnya yang lumayan luas.


'semoga Zahra bisa menjaga sikap.' batin Ummi Siti.


–––


Sementara Zahra sedang menuju rumah A' Faqih, di sana Nuha tengah membantu sang ibu mertua.


Sedangkan Abi Rahmat sudah pergi menuju rumah Tafiz sejak setengah jam yang lalu.

__ADS_1


Dapur itu sangat penuh dengan keheningan, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Umma Hasna. Kecuali jika Nuha bertanya barulah beliau menanggapi, itu saja sangat singkat membuat Nuha menjadi semakin tegang dan berharap tak melakukan kesalahan-kesalahan apapun.


__ADS_2