
Selang beberapa waktu, Qori sudah berada di Bangsalnya. Dia menatap kearah jendela sendirian, melamun. karena Farhat dan yang lain masih menunggu di luar.
Sembari memainkan kuku tangannya, dia benar-benar merasa takut. Seharusnya dia sudah menghubungi keluarga kaya itu dan mengabari jika anak mereka telah lahir. Namun selama sembilan bulan mengandung, seolah rasa tidak rela untuk menyerahkan bayi itu tiba-tiba mencuat begitu saja.
Dia masih ingat saat bayi itu menendang rahimnya, bergerak setiap malam menemaninya kala sedang sendirian di rumah.
Dan memberikan senyum saat ia tengah menangis.
Cklaaaak... Farhat masuk, gadis itu pun langsung mengusap air matanya, menundukkan kepalanya.
"Assalamualaikum."
"Wa... walaikumsalam ustadz." Jawab Qori terbata. Dia benar-benar gugup, sekaligus tidak enak hati.
"Bagaimana keadaannya mbak?" Tanya Farhat. Gadis itu pun memberanikan diri menatap pria yang berdiri lumayan jauh dari ranjang tidurnya.
Di lihatnya pria itu tersenyum ramah, Qori pun langsung berpaling.
"Ba...baik, Alhamdulillah."
"Syukurlah."
"Us... ustadz? Saya ingin mengucapkan terimakasih banyak pada ustadz, karena sudah menolong saya. Dan bahkan rela menunggu saya sampai proses melahirkan selesai. Saya? Saya tidak tahu bagaimana cara saya membalas kebaikan ustadz." Tutur Qori.
"Cukup jadilah ibu yang baik. Rawat bayi mu, dan didik dia menjadi pria yang Soleh. Kau belum melihat bayi mu ya? Dia sangatlah tampan dan menggemaskan loh." Tutur Farhat. Sedangkan Qori hanya tersenyum miris, sepertinya dia tidak bisa menunaikan itu.
Hingga tak lama, seorang perawat membawa masuk bayinya. Qori menoleh, sebulir air mata menetes dari netranya. Saat bayi itu mendekat kearahnya.
"Ibu, ini bayinya. Kalau ASI-nya sudah keluar boleh langsung di berikan kepadanya." Tutur sang perawat. Qori tersenyum menerima bayi mungil yang sangat lucu itu.
"Terimakasih suster." Gumamnya, dia pun mengecup kening bayi itu. "Sayang." Gumamnya.
Farhat turut terharu. Dia tersenyum bahagia, "saya keluar sebentar mungkin mbak mau menyusui." Ucap Farhat, dia pun melenggang keluar, sementara Qori hanya tersenyum tipis.
'Pria yang sangat baik hati. Beruntungnya wanita yang akan berjodoh dengan dia.' gumam Qori dalam hati, dia pun membuka kancing bajunya, mengeluarkan lalu memberikannya kepada sang bayi, yang langsung saja merespon dengan menghisapnya.
"MashaAllah, langsung mau sayang?" Mengusap kepala bayi yang kecil itu, senang.
Sementara di luar, Farhat kembali mengobrol dengan pamannya.
__ADS_1
Hingga seorang pria paruh baya datang, tampang pak lek pun berubah pias.
"Lukman?" Gumam beliau. Farhat pun menoleh. Ketika lek Hilman menepuk bahunya. "Itu bapaknya Qori." Ucap beliau.
Tubuh kekar, dengan kulit sawo matang tengah berjalan mendekati mereka, seraya menghisap rokoknya. Sepertinya dia tidak perduli walaupun ini di area rumah sakit pria itu pun berhenti di depan lek Hilman.
"Mana Qori?" Tanya Lukman menghisap lagi lalu menghembuskan asapnya kearah mereka.
"Di dalam pak." Jawab lek Hilman. Tatapan Lukman pun beralih pada Farhat.
"Apa kau yang membawanya?" Tanya beliau.
"Iya pak." Jawab Farhat.
"Kalau begitu kau boleh pulang, sekarang." Melenggang masuk kedalam ruangan bangsal Qori.
Kepala Farhat memutar, dia menoleh ke arah pria itu. Namun tangan lek Hilman sudah membuatnya kembali pada posisinya lalu menatap pak leknya.
"Ayo pulang, sudah ada bapaknya."
"Tapi, lek? Saya merasa berat rasanya meninggalkan gadis itu dan anaknya."
"Ta... tapi?" Belum selesai ucapannya itu, Farhat mendengar suara rintihan dan tangisan dari dalam. "Lek, dengar itu? Kau juga mendengarnya kan Haidir?" Tanya Farhat. Namun Haidir hanya mengangguk lalu menunduk.
"Sudah biarkan saja, mereka biasa seperti itu."
"Biasa bagaimana? Jika terjadi sesuatu?"
"Itu sudah bukan urusan kita Farhat, ayo pulang saja. Jangan cari masalah dengan keluarga Qori."
"Aaaaaa... Ampun pak, hiks... Sakit." Rintih Qori lagi dari dalam. Membuat Farhat mendekati pintu bangsal dan mengintip. Di sana bola matanya melebar saat melihat rambut yang tertutup hijab itu tengah di tarik dengan kasarnya oleh pria yang ia kenal sebagai ayah dari gadis itu.
"Astagfirullah al'azim." Tangan itu sudah meraih handel pintu, namun di tahan pak lek.
"Kau mau apa? Sudah jangan macam-macam Farhat, ayo pulang saja. Jangan ikut campur." Lek Hilman menahan keponakannya itu.
"Tapi wanita itu sedang mengalami kekerasan fisik lek, Farhat tidak bisa diam saja. Apalagi dia baru saja melahirkan."
"Lek sudah bilang, itu bukan urusan kita. Kamu tidak usah sok jadi pahlawan untuk dia? Kamu tidak kenal siapa Lukman jadi ayo kita pulang saja." Masih menarik tangan Farhat.
__ADS_1
"Lek... Tapi dia?"
"Sudah ayo pergi... Ayo Farhat." Masih berusaha membujuk Farhat, hingga jeritan kedua gadis itu pun membuat Farhat memaksakan untuk tetap masuk.
Braaaaakk... Keduanya menoleh, Qori pun langsung memeluk anaknya erat dengan tangisnya itu.
"Kenapa kalian masih di sini?" Tanya Lukman menatap tajam kearah tiga orang yang ada di pintu itu.
"Maaf pak? Bukan maksud saya untuk ikut campur, namun Gadis ini baru saja melahirkan bayinya tolong perlakuan dia dengan baik." Tutur Farhat.
Pak Lukman pun tergelak, dia berjalan mendekati pria berkoko itu. Lalu mencengkram kerah bajunya.
"Bapak jangan... Tolong jangan pak, lepaskan dia." Isak Qori. "Us... Ustadz tolong pergi saja, tolong pergi dari sini ustadz." Qori benar-benar ketakutan.
Sementara ustadz Farhat masih diam Saja berusaha menenangkan pria di hadapannya.
"Siapa kau? Anak kemarin sore, berani ikut campur urusan ku?" Menatap tajam kearah Farhat.
"Mohon maaf pak, tidak ada maksud untuk saya ikut campur. Saya hanya tidak tega dengannya?"
"Kau?" Tangannya yang terkepal itu sudah mulai terangkat.
"Pak... Pak Lukman tolong sabar ya, i...ini keponakan saya, tolong maafkan dia. Ka...kami akan pergi kok. Tolong jangan apa-apakan keponakan saya ini." Menahan tangan kekar itu agar tak melayangkan sebuah pukulan ke arah Farhat. Lukman pun menoleh kearah Hilman.
"Pak Hilman...!!! Sebelum saya benar-benar memukulinya, mending kau bawa dia keluar dari sini."
"Ba...baik pak." Meraih tangan Farhat hendak membawanya pergi. Namun Farhat menolak itu.
"Tidak...! Saya akan tetap di sini. Saya tidak akan membiarkan bapak menyiksa anak bapak sendiri." Ucap Farhat tegas. Pria di hadapannya itu pun mendesah, lalu terkekeh kemudian.
"Bedebah ini...! Tau apa kau hah...?!!" Hendak memukul lagi.
"Bapak jangan...! Qori mohon jangan pak... tolong maafkan Qori. Tolong bapak..." Isak gadis itu. Sang ayah pun menghentikan tangannya. "Qori hanya merasa sayang dengan anak ini tadi. Sekarang Qori ikhlas menyerahkan anak ini untuk keluarga itu. Asal jangan apa-apakan ustadz Farhat, beliau tidak tahu apa-apa."
'apa? Menyerahkan bayi?' batin Farhat bingung. Sementara senyum seringai di bibir pak Lukman pun mulai mengembang. Dilepaskannya cengkraman itu.
"Bagus, serahkan anak itu pada pemiliknya. Dan minta lagi sisanya. nanti sore bapak datang lagi." Membenahi bajunya lalu berjalan keluar dari bangsal tersebut.
"Astagfirullah al'azim." Geleng-geleng Kepala, Farhat pun kembali menoleh kearah gadis yang masih terisak seraya memeluk tubuh anaknya.
__ADS_1