Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
sikap yang tak sebenarnya jahat.


__ADS_3

Di kota Harapan Indah, Bekasi....


Sepasang suami istri tengah menyantap hidangan makan sahur mereka. Di temani suara murotal dari toa Masjid, hal biasa yang di dengar saat adanya bulan suci ramadhan, walaupun hari biasa juga kadang terdengar namun sepertinya beda saja jika di bulan Ramadhan, lebih semarak dan syahdu terdengar.


keduanya makan dengan tenang. Menyisir daging ikan dari tulangnya yang lunak.


Jelas, itu kan ikan sarden kalengan. Salah satu menu makanan kesukaan Abi Irsyad.


Terlihat dari cara ustadz Irsyad makan dengan lahapnya, mengunyah pelan seraya menikmati. Sungguh... Masakan Rahma sudah benar-benar naik level, sudah tidak perlu lagi beliau mengawasi layaknya pengawas Ujian Nasional.


Istrinya sudah benar-benar mahir, mengolah makanan, membuatnya merasa semakin menyayanginya.


Iya... Orang bilang suami bisa jauh lebih mencintai dari masakan kita loh... Ahhh masa? Namun faktanya demikian, walaupun sebagian orang lebih menyukai masakan Warung makan dari pada masakan istri di rumah ya hehehe...


Di sela-sela makannya, ustadz Irsyad mengangkat sedikit kepalanya menatap Rahma. Dia seperti tak berselera makan pagi ini, bahkan ia terlihat murung.


Ada apa dengan Umma? Mungkin seperti itu yang ada di benak Ustadz Irsyad kala keningnya menjadi berkerut. Hingga satu tangannya meletakan sendoknya lalu meraih tangan Rahma, menggenggamnya lembut.


Karena dia merasa tangannya tengah di genggam, Rahma menoleh.


"Kenapa Bi? Mau minta yang lain lagi?" Tanya Rahma.


"Tidak, cuma mau tanya... Ade tidak kasian sama ikannya? Cuma di hancurkan saja tanpa di makan?" Tanya Ustadz Irsyad. Rahma pun menghela nafas.


"Rahma tidak berselera."


"Kenapa?"


"Nuha... Tiba-tiba saja Rahma ingat Nuha," jawabnya, memang sedari tadi saat Rahma tengah menyiapkan makan sahur, ia seperti tidak tenang.


Pikirannya penuh dengan Nuha, bahkan seperti sedikit sesak di dada. Seolah-olah tengah terjadi sesuatu pada Nuha, yang entah apa.

__ADS_1


"Adek hanya rindu... Mas juga rindu. Mau main ke rumah ustadz Rahmat nanti, setelah langit terang??" Tanya Ustadz Irsyad. Rahma pun tersenyum lalu mengangguk cepat.


"Ya sudah kita habiskan makan kita ya, nanti agak siangan kita kunjungi Nuha."


"Terimakasih mas, Rahma pikir mas tidak akan mau karena merasa tidak enak."


"Tidak lah dek, sekalian silaturahmi. Ya sudah yuk habiskan makanannya."


"Iya Bi." Jawab Rahma yang kembali menyantap makanannya.


––––


Di tempat lain, ustadz Rahmat membawakan makanan untuk sang istri, beliau memang begitu. Sangat jauh berbeda dengan ustadz Irsyad tingkat ketegasannya.


Jika ustadz Irsyad mungkin tidak akan mau membujuk istrinya terlebih dahulu, mengingat apa yang di lakukan sang istri benar-benar sudah kelewatan.


Namun begitu lah ustadz Rahmat, mau se-marah apapun beliau? Tetap saja minta maaf lebih dulu adalah caranya mencairkan suasana. Karena beliau juga tidak ingin berlarut-larut dalam masalah ini, terlebih-lebih kata-katanya tadi, dia merasa bersalah karena sudah melukai hati Hasna.


Hingga sang suami mendekati lalu meletakkan nampan itu di atas meja setelah itu beliau kembali menutup pintu kamarnya, dan duduk di sebelah Hasna.


"Neng, makan dulu yuk. Sudah mepet waktunya." Ucap Ustadz Rahmat yang mulai meraih piring berisi nasi, lalu memberikan kuah sayur dan beberapa lauknya. Sementara Hasna masih diam saja, dia masih sakit hati karena ucapan sang suami yang berkata ingin mengembalikan Hasna ke rumah orangtuanya. Hingga sesendok nasi pun terarah ke padanya.


Ustadz Rahmat menyuapi sang istri. Perlahan bibir itu terbuka lalu memasukkannya kedalam mulut.


Ustadz Rahmat tersenyum, beliau lantas mengambil sesendok lagi untuk di memakannya.


"Enak kan? A'a gituh....yang masak..." Tutur ustadz Rahmat. Umma Hasna pun tersenyum seraya memalingkan wajah. Memang seperti itu wanita mau sejengkel apapun tetap saja, dia tidak akan bisa untuk tidak tersenyum saat sedikit godaan dari sang suami mulai keluar.


Secara bergantian suapan demi suapan nasi masuk ke mulut mereka berdua, hingga sepiring nasi yang menggunung itu habis di lahap keduanya.


"Alhamdulillah..." Ustadz Rahmat meraih gelas berisi air putih. "Nih minum dulu."

__ADS_1


Umma Hasna mendekatkan mulutnya kearah bibir gelas, lalu meminumnya. Setelah satu gelas itu habis, Abi Rahmat menuangnya lagi dan meminum air putih itu sendiri. "Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimiin." Gumam Ustadz Rahmat membaca doa sesudah makan.


Hening sejenak, hingga tangan ustadz Rahmat mulai membelai lembut rambut Hasna.


"Maaf ya neng, A'a sudah melukai mu." Tutur beliau, sementara Hasna hanya diam saja, tertunduk. "Neng, menjaga hubungan baik antara kita dan menantu itu penting, supa apa? Agar nasib rumah tangga anak kita tidak hancur sebab keegoisan kita. Neng harus paham maksud A'a."


"Iya, mungkin Hasna tidak akan berbicara apapun lagi pada Nuha. Toh, berbicara pun tetap salah, karena yang ada Umma malah semakin menjadi peran antagonis di rumah ini."


"Astagfirullah... Tidak seperti itu juga neng. Neng Hasna tetap harus berusaha akrab."


"A'a jangan paksa Hasna, semua butuh proses. Hasna sedang beradaptasi sekarang, tidak semudah itu menyukai orang yang dari awal sudah kurang pas di hati."


"Iya... Iya... Tapi tolong jangan berlarut-larut tidak sukanya. Lagian A'a tuh bingung sama Neng ya? Nuha tuh salahnya dimana? Sampai kamu setidak suka itu terhadapnya." Tanya Ustadz Rahmat merasa bingung juga. Dan Umma Hasna masih diam di sebelahnya.


"Nih Padahal ya? Nuha terlahir dari keturunan kyai besar di Magelang, ayahnya seorang ustadz, ibunya juga walaupun dia dari kalangan biasa tapi berpendidikan tinggi mantan perawat kan? Nuha itu sendiri juga anaknya Soleha, kenapa bisa Umma tidak menyukainya? Sedangkan banyak Gus, Habib, bahkan kyai yang sangat ingin menjadikannya menantu. Kita harus bersyukur ustadz Irsyad mau menyerahkan putrinya kepada Faqih." Ustadz Rahmat berbicara sehalus mungkin agar bara api di hati Umma Hasna tak kembali menyala.


"Umma juga tidak tahu, hati Umma sudah menolak dia dari awal. Sejak kecil pun Umma tidak suka dengan anak itu yang tidak bisa diam."


"Wajar kalau Nuha kecil tidak bisa diam Umma, dia masih anak-anak."


"Tapi tidak dengan anak-anak pak Huda? Zahra, Hanifah, Musa, Sidik, Hanan. Mereka semua diam. Hanya anak-anak mbak Rahma yang tidak bisa diam lebih-lebih Nuha, sejak kecil sudah berapa kali Nuha memecahkan barang di rumah ini? Sudah pasti didikan Mbak Rahma yang tidak baik itu."


"Allahuakbar, neng... Istighfar! Kok neng bicaranya seperti itu. Sadar tidak itu omongan yang tidak baik? Sepertinya A'a sudah gagal mendidik mu ya?" Ustadz Rahmat kembali kesal, dia tidak suka dengan ucapan sang istri yang semakin keterlaluan itu.


"Terserah A'a saja, semakin A'a menyalahkan Hasna semakin membuat Hasna tidak menyukai Nuha, seharusnya A'a mengerti perasaan Hasna!" Suara Hasna meninggi, hingga tangan Abi Rahmat pun hampir terangkat, seharusnya sebuah tamparan sudah mendarat di pipi sang istri namun dia tidak berani melakukan itu. Ustadz Rahmat pun menghela nafas, beliau lantas beranjak dari ranjang itu.


"Terserah neng, A'a sudah gagal. A'a tidak tahu lagi harus berbicara apa, mungkin memang sebaiknya Nuha dan Faqih tidak tinggal di sini." Tutur beliau seraya meraih nampan berisi piring kosong sisa makan mereka. "A'a cuma memperingatkan mu, jangan pernah menyesali apapun setelah kau sia-siakan wanita yang sangat baik hatinya demi ego mu itu, apalagi sampai mengorbankan kebahagiaan anak mu sendiri. Sungguh itu adalah suatu kerugian untuk mu, A'a benar-benar kecewa dengan mu Hasna!!!"


Abi Rahmat pun berjalan keluar dari kamar itu dengan perasaan kesal, meninggalkan Umma Hasna yang masih tertunduk di atas ranjang.


'sampai seperti itu beliau berucap. Bahkan menyebut namaku begitu saja? Kenapa tidak ada yang mengerti perasaan ku? Kenapa tidak ada yang paham? Aku sudah berusaha keras menerima anak itu, namun jika hati masih menolak mau di apakan? Kenapa A'a tidak mengerti juga sih? Kenapa jadi aku yang terlihat bersalah di sini?' batin Umma Hasna merasa sedih seraya meremas baju di bagian dadanya, seolah tingkat kesalnya semakin meninggi di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2