Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
cium aku seratus kali


__ADS_3

Senja Ramadhan beranjak pergi, berganti fajar syawal di pagi hari. Membawa cahaya kedamaian di penghujung ramadhan. Menebar berkah di hari kemenangan.


Seperti sebuah permadani yang berwarna putih jika di lihat dari atas, sekelompok wanita menggunakan mukenahnya memenuhi shaf mereka di sebuah lapangan terbuka, karena area masjid sudah penuh, jadi mau tidak mau sebagian wanita pun banyak yang berada di luar.


Dengan khusyuknya mereka menjalankan ibadah shalat Ied. Dengan hembusan angin pagi yang masih segar menghempas ke sana kemari mukenah mereka yang putih dan bersih.


Sungguh pagi yang luar biasa bukan? Dimana Jiwa-jiwa kembali putih seakan terlahir kembali. Jutaan syukur menggema di langit Ilahi.


Seraya membuka pintu-pintu ampunan bagi kita yang bertakwa, bukti kasih sayang Allah SWT pada para hambaNya.


Khutbah IdulFitri telah usai, mereka yang melakukan halal bihalal pun sudah selesai. Kini Nuha dan Rahma berdiri di bawah pohon menunggu para pria yang masih di dalam masjid entah sedang apa. Hingga datang beberapa orang menyapa keduanya lalu berlalu.


"Bu Rahma? duluan ya." Sapa seorang wanita lain yang melewati mereka.


"Oh iya Bu..." Membalas sembari tersenyum.


Hingga datang A' Faqih dan Rumi menghampiri keduanya.


"Umma kita pulang dulu saja. Abi masih lama." Kata Rumi mengajak mereka, karena ustadz Irsyad tengah mengobrol dengan beberapa orang. seperti ketua RT dan RW setempat, Juga bapak-bapak yang lain.


"Begitu ya? Ayo lah kalau begitu." Tangan Rahma melingkar di lengan Rumi berjalan lebih dulu di depan. Memang selalu seperti itu keduanya, dan biasanya Nuha lah yang akan menggandeng tangan Abi Irsyad ketika Rahma sudah memilih untuk menggandeng tangan Rumi. Namun sekarang sudah ada Faqih, hingga satu orang pria harus rela menjadi jomblo Sementara hehehe.


Sedangkan di sisi lain seorang lagi hanya menatap dengan senyumannya ke arah Nuha.


"Ehmmm." Berdeham, lalu menekuk satu sikunya. Gadis itu paham sih, maksudnya apa, tapi dia memilih untuk diam saja. Pura-pura tidak peka.


"Ayo A'..." Jalan lebih dulu.


"Neng...!" Panggil beliau. Nuha menoleh, angin yang menyibak tubuh Nuha membuat hijab itu berkibar, bahkan bagian belakangnya terangkat. Hingga langsung saja membuat Faqih menahan itu dengan sajadah yang ia kalungkan di bagian pundak Nuha. Gadis itu tersenyum.


'sweetnya suami galak ku.' batin Nuha. Karena memang dia hanya berani mencelanya di dalam hati. "Terimakasih suami ku." Kata Nuha dengan nada imut di luar.


"Makasih saja?"


"Iya?"


"Hmmm, terus ini urusannya bagaimana?" Masih menekuk satu sikunya.


"Ada apa dengan itu?" Pura-pura tidak tahu. Sementara Faqih hanya mendesah.


"Kamu tidak tahu maksudnya? Haruskah A'a kasih kode lebih dari ini?" Berkacak pinggang. Gadis itu pun tergelak.


"Iya deh... Sini," Nuha menyentuh lengan itu, menyerah. Hingga berjalan pelan turun dan sampailah di telapak tangan A'a, kemudian menautkannya. "Enakan begini. Hehehe." Mendongak.

__ADS_1


Satu tangan A' Faqih mengusap kepalanya, "ya Hilwah MashaAllah."


"Pujaan hati ku MashaAllah." Menjawab. Keduanya terkekeh kemudian.


"Waaah... A'a sudah jadi pujaan hati nih? Bukan senior bikin emosi lagi?"


"Hahaha... Dikit... dikit... Yuk aaahhh jalan."


"Buru-buru sekali. Pelan saja, kan masih pagi." Terkekeh.


"Apa sih A'..."


"Apa? Memang benar kan masih pagi? Ckckck kamu tuh mikir apa memangnya?"


"Nggak mikir apa-apa tuh, takut salah bicara ahh. A'a kan gitu orangnya."


"Gitu bagaimana? Ngangenin maksudnya?"


"Hehehe iya.... Sudah lah A'a, ini masih di tempat umum. ayo jalan." Nuha Sudah tidak tahan dengan godaan A' Faqih, sementara sang suami hanya terkekeh-kekeh.


–––


Dalam langkah kaki Keduanya, Nuha nampak murung. Entah apa yang di pikirkan, yang pasti dalam perjalanan pulang itu hanya ada keheningan dengan pandangan kosong mengarah ke bawah, melamun.


"Neng?" Panggil Faqih sembari menggerak-gerakkan tangannya yang saling bertaut dengan tangan Nuha. Gadis itu menoleh, walau sedikit terkesiap. "Kamu tidak dengar tadi di sapa orang yang melewati kita?" Kata Faqih dengan satu ibu jari mengarah ke belakang.


Nuha menoleh seketika, di lihat ada dua orang wanita paruh baya yang jika di lihat dari belakang sepertinya dia kenal.


"Ya Allah..." Gumam Nuha merasa tidak enak.


"Kamu kenapa, jadi mendadak murung?" Tanya Faqih. Keduanya mengehentikan langkah mereka sejenak.


"Nuha sedih puasa tahun ini, Nuha tidak beribadah dengan sempurna."


"Kesempurnaan hanya milik Allah." Tukas A' Faqih.


"Iiissshhh Nuha tahu. Namun merasa sedih saja, karena Nuha banyak bolongnya. Saat menstruasi dan saat sakit juga." Bergumam. Faqih pun menyentuh pangkal kepala Nuha.


"Jangan sedih, Sekarang kan Syawal puasa lagi saja ya. A'a temani." Ucap A' Faqih.


"Serius A'a mau menemani?" Tanya Nuha.


"Serius, kita puasa sama-sama. Selama sebulan. Tapi untuk mu jangan di paksa juga ya, semampunya saja." Tutur A' Faqih. Gadis itu pun tersenyum manis lalu mengangguk kemudian.

__ADS_1


Hingga kedua tangan Nuha terangkat menengadah.


"Apa itu?" Tanya A' Faqih datar.


"Salam tempelnya mana?" Nyengir, hingga gigi itu nampak.


A' Faqih melebarkan senyumnya melihat ekspresi wajah Nuha. "Sungkem dulu dan cium A'a seratus kali. Baru di kasih."


"Wah... Wah... Syaratnya MashaAllah ya?" Ucap Nuha. Sementara Faqih hanya tergelak. "Ya sudah ayo cepat jalannya biar segera tertunaikan." Nuha meraih tangan A' Faqih dan menggandeng pria yang tengah tersenyum tipis itu.


"Serius mau di kasih nih?" Tanya Faqih, seraya melangkah.


"Nggak juga sih hehe."


"Itu bohong namanya, kalau kamu nggak mau kasih. A'a yang bakal ngasih ciumnya."


"Nggak bohong A'... Cuman nggak seratus juga. Tapi dua cukup, ya... Ya... Ayo." Balasnya.


"Nggak seratus."


"dua puluh." Tawar Nuha.


"Seratus."


"Dua lima deh."


"seratus neng."


"Kebanyakan A'a"


"Seratus kali di bagi empat deh... Selama sehari." Jawab A' Faqih memberi keringanan.


"Idih... Kaya apa saja."


"Neng...? Mau nolak? Itu salah satu hukuman juga, waktu kamu pulang dari rumah sakit kamu gelitiki A'a kan?"


"Itu kan salah A'a, salah sendiri gelian."


"Apa? Salah A'a?" Menghentikan langkahnya, gadis itu pun melebarkan senyumnya saat melihat ekspresi wajah mengerikan milik sang suami.


"Maaf... Maaf sayang, iya deh salah Nuha..." mengalah.


"Pokoknya seratus kali cium, nggak mau tahu. Ayo jalan." Menggandeng lagi tangan Nuha serta membawanya melanjutkan langkah mereka menuju rumah Abi Irsyad dengan Nuha yang memasang tampang pasrah saja. Karena dia memang begitu, dari pada menambah hukuman aneh lainnya kan?

__ADS_1


__ADS_2