Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
selamat jalan Ziya


__ADS_3

Di dalam Farhat mencoba menenangkan, hingga kedua tangan gadis itu Menyentuh tangan kanan Farhat meremasnya.


'astagfirullah al'azim... Ya Allah.' Farhat canggung, karena tangannya di jadikan alat untuk mereda rasa sakitnya oleh wanita itu.


"Sakit... Ya Allah." Rintih Qori yang semakin terisak.


"Istighfar mbak... Tunggu sebentar ya." Masih berusaha menenangkan dengan tatapan tertuju pada tangannya yang masih di remas gadis itu. 'ya Allah, ampuni saya.' batin Farhat yang semakin gemetaran. Hingga beberapa orang pun mulai datang menghampiri mereka.


"Tolong bantu, kita bawa ke rumah sakit. Di sini ada yang tahu orang tuanya?" Tanya Farhat.


"Tidak perlu di cari orang tuanya ustadz, ayah dia saat ini belum pulang dari semalam, pasti sedang judi entah dimana." Tutur salah satu tetangga terdekat Qori.


"Be...begitu ya? Kalau ibunya?"


"Ibunya dia, sudah lama kabur dengan selingkuhannya ustadz, bahkan Qori ini saja hamil tanpa suami." Jawab wanita paruh baya di sebelah Qori. Gadis itu semakin menitikkan air matanya, ketika aib keluarganya di buka di depan Ustadz Farhat.


Mendengar itu Farhat langsung mengalihkan, dia tidak ingin mendengar hal buruk dari keluarga gadis itu. Dan langsung menghalau warga untuk membantu membawanya ke rumah sakit.


(Yang penasaran siapa Qori, bisa cek Novel Ikrar cinta ustadz Irsyad, bab Rindu yang berjudul wanita Hamil.)


–––


Di rumah sakit...


Seorang bidan mengecek pembukaannya, yang ternyata masih pada pembukaan satu.


Beliau pun meminta pria yang menunggu di luar untuk masuk saja mendampingi istrinya, itu yang bidan itu tahu.


Hingga seorang perawat keluar, menghampiri Farhat yang duduk di depan.


"Permisi mas." Panggil perawatan tersebut. Farhat pun langsung beranjak. "Apa mas suami dari pasien?" Tanya beliau kemudian.


"Bu... Bukan, bukan suster." Jawab Farhat.


"Kalau begitu anda siapanya?"


"Saya? Saya kerabatnya," jawab Farhat asal.


"Begitu ya. Karena anda sebagai wali dari pasien, saya minta anda untuk tidak kemana-mana. Dan tolong dampingi pasien sampai pembuka akhir ya mas. Karena pasien ini sepertinya masih lama melahirkannya, bisa sampai dua puluh empat jam."


"Selama itu kah?" Tanya Farhat.


"Kurang lebih mas, terkadang malah ada yang lebih. Mudah-mudahan sih mbaknya tidak sampai selama itu."

__ADS_1


"Ya Allah."


"Mohon dampingi dia ya mas di dalam."


"Ta...tapi sus?"


"Silahkan masnya ikut saya saja. Kasian mbaknya sedang kesakitan sendiri di sana."


Farhat belum mau melangkah, dia masih bingung. Bagaimana bisa dia menunggu Qori di dalam sedangkan mereka bukan muhrim. Tapi karena tidak ada di antara para ibu-ibu yang ingin turut ikut menemaninya ke rumah sakit, Farhat malah jadi mengurus semuanya sendiri. Dan sekarang dia juga harus menunggu wanita itu? Farhat bimbang, namun akhirnya dia pun masuk dengan beristighfar berkali-kali.


Di dalam dia melihat posisi Qori yang tengah miring ke sebelah kiri sesuai anjuran sang bidan agar pembukaan cepat bertambah. Farhat pun mendekati, namun tidak terlalu dekat juga. Dia melihat wajah itu masih kesakitan sehingga membuatnya tidak tega.


"Sa...sabar ya... Mbak." Tutur Farhat. Walaupun Qori masih tidak menjawabnya. Farhat pun mendekatkan kursi plastik, dan duduk di sana dengan jarak kurang lebih setengah meter dari posisi Bed Qori, tepat di pintu masuk tirainya.


Karena tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, Farhat pun membacakan surah Maryam untuk gadis itu. Berharap penderitaannya segera berlalu, dan dia bisa melahirkan dengan normal dan lancar.


***


Di rumah sakit yang berbeda...


Langit pagi yang mulai terang, membuat beberapa perawat datang guna membuka tirai-tirai, dan jendela agar sirkulasi udara masuk dengan baik di dalam. Selain itu biasanya para petugas kebersihan pun akan membersihkan bagian lantainya seperti menyapu dan mengepel.


Selama masa bersih-bersih itu di lakukan, para penunggu pasien akan di minta untuk keluar, sama halnya dengan Faqih, hingga membuat Nuha sendirian di sana.


Dalam keheningan, ia mendengar suara rintihan anak kecil di sebelahnya, Nuha pun menoleh. Ia belum bisa melihat wajah anak itu karena terhalang sebuah tabung oksigen besar di sebelahnya. Nuha merasa kasian, dilihat dari tubuhnya, gadis itu sepertinya masih sangat belia. Dan suaranya pun bahkan tidak asing.


"Ibuuu? Hiks... Ibu...?" Panggil dia dalam Isak tangisnya. Nuha merasa tidak tega sekali, dia pun mencoba untuk berusaha duduk, namun sepertinya perutnya belum kuat. Hingga dia kembali merebahkan lagi tubuhnya.


"Ibu–" panggilnya lagi.


"Dek..." Panggil Nuha. Gadis itu pun terdiam tiba-tiba. "Ade jangan nangis ya. Ibu mu sedang di luar sebentar. Jangan takut juga, karena ada kakak di sini." Sambung Nuha lembut.


Gadis kecil itu pun mengusap pelan air matanya. "Kakak siapa? Suara kakak seperti suara ustadzah Nuha." Tanyanya dengan suara yang lemah.


Deg...! Nuha baru ingat suara ini adalah suara Ziya, anak didiknya.


"I...iya ini ustadzah Nuha, Ziya kah yang di sana? Ziya sakit apa sayang?" Tanya Nuha.


"Ustadzah Nuha? Benarkah?" Gadis itu hendak bangun namun karena sangatlah lemah dia tidak bisa melakukannya. "Ust... Ustadzah kenapa di sini? Apa ustadzah sakit juga seperti Ziya?" Tanyanya, suaranya sangat lirih terdengar.


"Ziya sakit? Memang Ziya sakit apa?" Tanya Nuha balik, Tiba-tiba saja rasa sedihnya mulai mencuat.


"Ziya tidak tahu sakit apa? Tapi kata ibu, biar cepat sembuh Ziya harus rutin kesini. Bertemu dokter yang sayang sama Ziya."

__ADS_1


"Ya Allah..." Nuha menyentuh dadanya.


"Ust..." Panggil gadis itu.


"Iya sayang?"


"Kemarin hafalan surah Al Mulk kan?" Tanya Ziya.


"Iya sayang."


"Maaf, Ziya tidak berangkat. Tapi...?" Terjeda sejenak karena gadis itu kembali terbatuk-batuk, hingga darah segar kembali keluar dari hidungnya. Dia pun menyekanya dengan baju yang ia kenakan.


"Ziya... Tidak apa-apa kan?" Nuha khawatir, dia bahkan sudah menitikkan air matanya.


"Ziya tidak apa-apa kok ust, hehehe." Masih bisa terkekeh walaupun dengan suaranya yang lemah itu. "Ust... Ziya setor sekarang ya hafalannya." Tutur Ziya.


"Tapi Ziya kan masih sakit, nanti saja nunggu Ziya sembuh ya. Kita ketemu lagi di rumah Tafiz."


"Ziya mau nyetor sekarang ust..." Jawabnya seraya memejamkan matanya sejenak lalu membuka lagi.


"I..iya, ustadzah dengar kan. lafadz kan ta'awudz dan basmalahnya, sayang." Titah Nuha, seraya mengusap air matanya.


"Iya ust." Tersenyum, terbatuk-batuk lagi sejenak... Bahkan hingga bercak darah mulai keluar dari mulutnya.


"Ziya?"


"Aku mulai ya ust... audzubillahiminasyaitonirojim bismillahirrahmanirrahim." Terbatuk lagi.


"Ziya, jangan sekarang ya?" Nuha semakin khawatir. Sementara Ziya masih saja melanjutkan bacaannya. Terdengar sangat lemah sekali bacaan itu. Sementara Nuha masih menutup mulutnya, menangis. karena suara Ziya selalu tersendat dengan batuknya. Yang jika Nuha lihat itu mungkin akan miris lagi, di mana mulut Ziya sudah penuh dengan darah yang keluar, bahkan di bagian hidungnya juga.


"Sodaqallahul'adziim." Gumam Ziya lebih lirih lagi, mata itu terpejam, dengan tangan yang terjatuh dari mulutnya yang ia tutupi, dan menggantung begitu saja.


"Zi... Ziya? Ziya?" Panggil Nuha, dia memaksakan untuk bangun, walau rasa sakit itu masih terasa bahkan semakin terasa. Dia menoleh ke arah samping, mendapatkan gadis itu sudah diam saja. Nuha pun menekan bel emergency untuk memanggil perawat di luar.


"Ziya bangun... Ziya...?" Masih menekan-nekan belnya. Ibunda Ziya pun berlari masuk karena ia melihat putrinya dari luar.


"Ziya... Hiks... Nak bangun... Nak..?" Isak ibunda Ziya.


Dokter dan perawat pun turut masuk mengecek kondisi Ziya.


"Ya Allah..." Gumam Nuha seraya menitikkan air mata, merasa semakin panik, terlebih saat tirai itu kembali di tutup oleh sang perawat.


Dokter mengecek jamnya. Lalu melipat kedua tangan gadis kecil itu di depan. Menoleh ke arah sang ibu kemudian. "Maaf, ananda Ziya sudah berpulang tepat pukul enam lebih lima belas menit," ucap sang dokter, sementara perawatan itu sedang membersihkan sisa darah di bagian bibir dan hidungnya.

__ADS_1


"Ziyaaaaa... Ziya..." Isak sang ibu lemas, mendapati anaknya telah berpulang lebih dulu.


__ADS_2