
di siang yang sama namun di kota yang berbeda...
Sebuah mobil Travel yang membawa Shafa sudah tiba di kota Bandung.
Sesuai perjanjian, Shafa turun di depan kampus Rumi.
Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Rumi jika dirinya sudah tiba.
Cukup lama dia berdiri hingga seorang gadis tak berhijab keluar dari gerbang utama itu, dan mendapati Shafa yang tengah berdiri sendirian.
'Ya ampun, wanita itu siapa? Cantik sekali, Soleha pula.' puji wanita itu yang tak lain Adalah Debora. Dia merasa kagum dengan Shafa yang menurutnya sangat cantik dengan posturnya yang tak terlalu tinggi tapi tidak pendek juga. Hijabnya yang panjang dengan kulit wajah yang benar-benar halus dan putih bersih.
Debby tersenyum ia pun membawa laju motornya mendekati Shafa.
"Assalamualaikum." Sapa Debby.
"Walaikum...?" Shafa menoleh namun sesaat ia melihat kalung salib itu. "Alaikum." Jawab Shafa kemudian seraya tersenyum ramah.
'ampuuunnn suaranya lembut sekali.' batin Debora.
"Teteh sendirian?" Tanya Debby.
"Ah... Iya, sedang menunggu seseorang teh," jawab Shafa.
"Siapa?" Tanya Debby "kali saja saya kenal orangnya?"
"Dia...?" Baru saja Shafa hendak menjawab motor Rumi sudah mendekat dan berhenti di hadapan dua wanita itu.
"Assalamualaikum. Shafa maaf, lama menunggu ya?" Tanya Rumi. Debby menoleh ke arah Rumi lalu kembali menatap ke arah Shafa.
'jadi orang yang di tunggu adalah kak Rumi? Dia siapanya kak Rumi ya?' batin Debby, merasa sedikit khawatir keduanya ada hubungan dekat.
"Walaikumsalam warahmatullah... Tidak apa kok, aku juga baru saja sampai, dan untung ada teteh ini jadi saya tidak begitu sendirian," jawab Shafa seraya tersenyum begitu juga dengan Debora.
Dengan pakaian itu, Rumi terlihat lebih gagah. Eh... Dia pun beristighfar setelah terlalu lama menatap Rumi.
"Begitu ya? Emmm, maaf aku niatnya mau menitipkan mu pada salah satu ukhti yang ku kenal, cuman dia bilang hari ini adiknya datang jadi tidak bisa memberi tumpangan padahal dia sudah bilang bisa sebelumnya. Bagaimana ya?"
"Tidak apa-apa Rumi, nanti biar aku berusaha cari penginapan. Hanya malam ini saja sih besok aku sudah balik ke Jakarta."
"Ya sudah, nanti ku bantu cari penginapan ya." Rumi mengusulkan.
"Terimakasih banyak Rumi." Shafa tersenyum.
"Maaf nih... Bukan saya maksud nguping pembicaraan kalian, karena saya di sini dan kuping saya masih waras jadi saya dengar." Potong Debby, yang di balas dengan kekehan Rumi dan Shafa. "Begini... Tadi saya dengar tetehnya mau cari penginapan, bagaimana kalau di rumah ku saja?"
__ADS_1
Keduanya menoleh ke arah Debby.
"Maaf, tapi kan?" Shafa sedikit ragu.
"Tenang saja, Walaupun saya katolik tapi keluarga saya menjunjung tinggi toleransi kok. Kalau teteh mau menginap di rumah saya, insyaAllah pasti di perbolehkan." Tutur Debby semangat.
'dia katolik tapi enteng sekali mengucap insyaAllah... Jadi kagum,' batin Shafa tersenyum.
"Bagaimana Shafa?" Tanya Rumi membuyarkan lamunan Shafa yang masih mengamati penampilan Debby, walaupun dia seorang katolik namun pakaiannya santun dan tertutup. Bahkan tidak membentuk lekuk tubuhnya yang langsing dan bagus itu. "insyaAllah dia baik kok, aku kenal dia juga." sambung Rumi kemudian.
'What...! Demi apa dia muji aku, ya Ampun, andai dia bukan pria alim sudah ku peluk itu. Hehehe.' batin Debby, yang merasa tersanjung.
"Apa aku tidak merepotkan mu?" Tanya Shafa pada Debby.
"Tidak lah, aku malah senang... Tadi nama teteh siapa?"
"Shafa."
"Nama yang sangat cantik, seperti orangnya." Puji Debby.
"MashaAllah, kamu juga sangat cantik kok, rambut mu sungguh indah." Puji Shafa balik, Debby pun tersenyum lebar.
"Kalau gitu kita kenalan yuk, aku Debora, panggil saja Debby biar akrab." Mengulurkan tangan, Shafa pun menjabatnya.
"Senang berkenalan dengan mu Debby." Jawab Shafa lembut.
"Alhamdulillah," gumam Rumi lirih, yang merasa lega karena Shafa ada tempat untuk singgah, sementara Debby juga jadi memiliki teman untuk memperdalam ilmu agamanya. Seolah seperti sesuatu yang saling menguntungkan satu sama lain, setidaknya masalah pun terselesaikan hari ini.
Ya... Jujur saja, Rumi itu tidak ada perasaan apapun baik dengan Debby ataupun Shafa... Jika dengan Debby dia hanya simpatik dengan keinginannya yang agak sulit untuk dia tunaikan, dan jika dengan Shafa? Dia juga tidak ada bedanya dengan Nuha Walaupun lebih tinggi sayangnya kepada Nuha sebagai seorang kakak kepada adiknya.
***
Di rumah Debby....
Motor yang di bawa Debby berhenti di pelataran rumah gadis itu. Dengan Shafa yang sedikit canggung itu pun turun dari motor Debby.
"Selamat datang di rumah ku." Ucap Debby.
"Beneran tidak apa-apa aku ke sini? Aku tidak enak dengan keluarga mu Debby."
"Iisssshhh, santai saja. Aku biasa bawa teman yang berhijab juga, yuk masuk."
"Iya Deb, makasih ya..." Shafa merasa senang.
"Sama-sama." Tersenyum ceria seraya menggandeng tangan Shafa. Mereka pun berjalan mendekati pintu.
__ADS_1
Terdengar samar-samar suara dari dalam, seperti sebuah lagu rohani yang di putar oleh seseorang.
Dan saat pintu itu terbuka, suara itu semakin jelas, ada rasa tidak nyaman namu Shafa berusaha menutupinya.
Saat pertama kali masuk, Shafa sudah di suguhi hiasan dinding berbentuk salib dengan Tuhan mereka di tengah-tengah. Juga beberapa bingkai-bingkai bertuliskan kata-kata rohani.
Tidak hanya itu, foto Tuhan mereka pun terpajang dengan ukuran bingkai yang lumayan besar.
'ya Allah, aku tidak salah kan masuk ke rumah ini?' ada sedikit keraguan di benak Shafa. Saat sudah berdiri di ruang tamu itu.
"Ayo masuk ke kamar ku."
"Emmm, maaf Deb. Sebaiknya aku ketemu ibu mu dulu, sebagai tamu kan seharusnya izin dulu."
"Sebenarnya tidak izin juga tidak apa kok. Aku sudah biasa, membawa teman langsung ke dalam kamar. Ya sudah sebentar ya... Aku cari mamah dulu." Tutur Debby. Shafa pun mengangguk.
"Teteh duduk dulu ya."
"Iya Deb. Terimakasih." Shafa pun mendekati Sofa dan duduk di sana.
'Sepertinya keluarga ini sangat taat... Banyak sekali kata-kata di Alkitab mereka yang di pajang di dinding.' batin Shafa, pandangannya masih berkelana.
'duh... Aku kok ragu ya? Apa aku batalkan saja, sepertinya aku juga akan kurang nyaman ibadah di sini.'
"Perkenalkan mah... Dia Teh Shafa dari Jakarta, teman Debby." Tutur Debby. Shafa pun beranjak.
"Selamat sore Tante." Sapa Shafa.
"Sore juga... Ya ampun cantiknya. Mau menginap di sini katanya ya?" Dengan ramah ibunda Debby langsung memeluknya.
"I...iya, tapi sepertinya saya akan mencari penginapan di tempat lain saja."
"Loh kenapa?" Tanya ibunda dari Debby itu.
"Saya tidak enak Tante."
"Hei, jangan sungkan-sungkan. Tidak apa kok. Di sini saja ya."
"Iya tapi?"
"Jangan ragu teh, mamah ku kan sudah memberi izin."
"Emmm, iya Deb. Terimakasih banyak Tante." Ucap Shafa. Dia masih sedikit kurang nyaman dengan suara dari lagu rohani itu.
"Sama-sama, sekarang istirahat saja. Ayo Deb, ajak teman mu masuk."
__ADS_1
"Iya mah... Ayo teh." Debby menggandeng tangan Shafa seraya membawanya masuk.
"I...iya. saya permisi dulu Tante." Ucap Shafa seraya tersenyum. Yang di balas dengan anggukan kepala pelan dari ibunda Debby yang juga turut tersenyum ramah.