
Di sisi lain...
Rumi tengah mengadakan tausiyah singkatnya, hal biasa yang di lakukan Rumi di setiap hari Jumat, adalah kajian.
Di sela-sela kajiannya, entah mengapa Rumi merasakan sedikit nyeri di bagian perutnya. Namun ia hanya merasakan itu sekali sehingga membuatnya membungkuk sedikit.
Beberapa jama'ah beranjak dan mencoba membantu Rumi.
"Kenapa kak??" Tanya salah satu dari mereka.
"Tidak tahu, mendadak perut ku seperti kram. Tapi sudah mulai mereda sih." Jawab Rumi.
"Sudahi saja kultumnya kak. Sambung Jumat depan saja." Si A mengusulkan.
Dan hal itu pun di setujui para teman-teman yang lain. Mengingat kondisi Rumi seperti tidak baik-baik saja.
'Nuha.' batin Rumi tiba-tiba saja seperti mendapat sebuah bayangan wajah sang adik. 'ada apa ya? Tiba-tiba aku kepikiran Nuha.' beliau pun mengakhiri kultumnya. Dan duduk menyandar di masjid itu dengan beberapa jama'ah yang masih duduk melingkar di depan Rumi.
"Mau membatalkan puasa saja kak?" Tanya salah satunya.
"Tidak... Saya masih kuat kok." Jawab Rumi menolak, tangannya masih menyentuh bagian perutnya.
"lalu bagaimana? Apa perutnya masih sakit?" Tanya si B.
"Sedikit, Seperti sakit yang hanya tiba-tiba datang lalu hilang begitu saja." Jawab Rumi.
"Syukurlah, kalau begitu kak." Jawab beberapa orang.
"sepertinya saya harus pulang ke kost saya. Maaf ya teman-teman."
"Tidak apa kak. mau kami antar?"
"Tidak terimakasih... masih bisa kok." tersenyum hingga beliau pun beranjak bangun dan keluar dari masjid itu setelah mengucap salam pada mereka.
–––
Di sebuah parkiran, Rumi duduk di atas motornya. Perasaannya seperti tidak enak saja, ada apa dengan Nuha? Pertanyaan itu terngiang-ngiang di pikirannya.
"Dede, semoga kau baik-baik saja." Ia pun meraih ponselnya menekan tombol call pada layar tersebut, mencoba menghubungi Nuha. Karena tiba-tiba pikirannya terus tertuju pada Nuha.
"Tidak di angkat. Telfon A' Faqih deh." Beralih pada nomor Faqih yang sama-sama tak ada jawaban.
"Ya Allah, mendadak cemas. Ku harap kau tidak apa-apa, Dek." Terdiam sejenak di atas motornya itu. Hingga seorang gadis menghampiri.
"Assalamualaikum." Sapa Debora. Rumi menoleh.
"Alaikum." Jawab Rumi yang kembali memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Ngapain?" Tanya Rumi membelakangi.
"Maaf."
"Maaf untuk apa?"
"Kak Rumi marah ya sama Debby?"
"Atas dasar apa aku marah pada mu?" Rumi masih memalingkan wajahnya. Gadis itu menunduk.
"Maaf, karena aku salah bicara tadi. Aku masuk Islam kan bukan karena dirimu. Ya... Sedikit sih. Nggak banyak, sumpah." Mengangkat dua jarinya.
Rumi pun menghela nafas, dan membuka tasnya. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya itu, seperti sebuah buku.
"Ambil ini, kemarin aku tidak sengaja melihat ini di toko buku." Ucap Rumi mengulurkan buku itu ke samping kanan tanpa melihat kearah Debby.
Perlahan gadis itu menerimanya. Lalu membacanya sejenak dalam hati judul buku yang bertuliskan (perjalanan hidup seorang mualaf yang taat di jalan Allah). Gadis itu tersenyum.
'duh... marah tapi masih mau ngasih buku loh dia? MashaAllah imutnya. Pengen peyukkk hehehe.' Debby terkekeh dalam hati.
'Ehhh...?' terkejut saat Rumi menarik buku itu lagi.
"Kok di minta lagi?" Tanya Debby.
"Jangan sekarang deh ngasihnya."
"Nggak papa, nanti saja setelah lebaran."
"Kenapa harus menunggu habis lebara sih, calon imam?"
'ck...! Kalo sama dia bawaannya pengen istighfar melulu.' Rumi menggerutu. "Pokoknya lebaran saja titik." Rumi memasukan kembali buku itu ke dalam tasnya.lalu menaiki motor miliknya.
"Dasar plin plan... Kasih Sekarang sama nanti apa bedanya sih?"
"Kalau tidak sabar beli saja sendiri." Rumi mulai menyalakan mesin motornya.
"Kak Rumi?"
"Maaf Deb aku harus kembali ke kost ku. Permisi." Tutur Rumi memundurkan motornya lalu berjalan keluar area kampus.
"Issssshhh....pengen gigit kupingnya itu, kesel tapi bikin bucin. Iiiiiiiihhhh dasar kak Rumi. Benci tapi saranghae... aaaahhh tau aaahhh." Melenggang pergi.
***
Di rumah sakit...
Nuha sudah berada di ruang IGD, dengan A' Faqih yang masih mendampingi. Karena Nuha masih saja menangis merasakan sakit yang teramat. dalam posisi miring sembari meringkuk.
__ADS_1
"Sabar sayang... Sabar ya." Faqih mengusap-usap kepala Nuha lembut mencoba menenangkan Nuha seraya menunggu dokter datang.
"Sakiiiit A'... Sakit sekali." Meremas kencang tangan A' Faqih.
"Istighfar neng..." Faqih benar-benar panik bercampur tidak tega melihat Nuha yang seperti itu. Hingga dokter pun tiba.
"Selamat siang mas... Sudah berapa hari sakitnya?" Tanya dokter tersebut.
"I...itu? sudah beberapa hari belakangan, cuman istri saya sepertinya menahannya dok," jawab A' Faqih yang mengetahui itu dari Farhat saat di perjalanan tadi.
Sang dokter pun menekan perut Nuha dan melepaskannya.
"Aaaaaaaaaa." Semakin berteriak Nuha akibat tekanan yang di lepaskan itu. Dokter itu menoleh pada perawatnya.
"Sudah ambil sampel darahnya?"
"Sudah Dok."
"Bagus, pindahkan pasien ke ruangan saya. Kita lakukan USG." Titah sang dokter wanita itu yang langsung di iyakan oleh perawat di hadapannya. Setelah itu dokter tersebut menoleh kearah Faqih.
"Mohon maaf mas, mbaknya ini saya cek dulu karena harus menempuh beberapa prosedur pemeriksaan lebih lanjut. Soalnya kalau di lihat dari analisa Saya, pasien mengalami radang usus buntu." Jawab dokter tersebut.
"Be...begitu kah? Sudah berapa parah dok?"
"Melihat dari kesakitan pasien seperti sudah lumayan parah mas. Kita lakukan USG terlebih dahulu saja agar bisa memastikan penyebab sakit di perut pasien."
"Iya dok lakukan lah yang terbaik," jawab Faqih pada seorang dokter yang sudah berpamitan keluar dari Bed tersebut.
Hingga tiba pemeriksaan di ruangan SPOG , Dokter kandungan tengah memeriksa bagian perutnya.
Dan benar saja, hasil USG menunjukkan bahwa telah di temukan sebuah organ berbentuk kantung kecil yang tipis berukuran delapan Senti yang terhubung pada usus besar milik Nuha.
"Mohon maaf mas, sepertinya dugaan saya benar pasien mengalami peradangan usus buntu yang untungnya belum pecah namun sudah muncul abses. Mungkin pasien sudah merasakan sakit ini cukup lama." Ucap sang dokter pada Faqih.
"Ya Allah, lalu bagaimana Dok?"
"Mau tidak mau pasien harus segera menjalani apendektomi. Atau operasi pengangkatan usus buntu. Dengan prosedur operasi bedah terbuka, yang dilakukan dengan membedah perut bagian kanan bawah sepanjang 5-10 sentimeter, dan mengangkat usus buntu. Kenapa saya menganjurkan prosedur bedah terbuka karena peradangan usus buntu yang di alami istri mas sudah mengalami infeksi yang bahkan sudah bernanah (abses)." Tutur Dokter tersebut menjelaskan.
"Ya Allah..." Faqih menitikkan air matanya, ia melihat Nuha sudah benar-benar kesakitan dengan tangannya terus saja mengusap kepala Nuha. "Kalau begitu lakukan saja dokter. Tolong kasih tindakan secepatnya, selamatkan istri saya dok." Faqih memohon.
"Baik mas, kalau begitu silahkan ikut mbak suster ini. Untuk melakukan penandatanganan surat pernyataan, karena ini bisa di sebut sebagai operasi besar." Titah sang dokter. Faqih pun mengikuti sang perawat tersebut lalu mengguratkan pena tanda tangannya di atas kolom tanda tangan.
"Mas, mohon maaf keluar dulu ya. Karena pasien akan segera mempersiapkan diri untuk melakukan operasi." Ucap suster tersebut seraya memegangi kertas yang sudah di tandatangani Faqih.
Perlahan Faqih menoleh ke arah Nuha dia mendekati sebentar sang istri. Seraya mengecup keningnya.
"bertahan ya sayang, dan keluarlah dengan sehat. A'a akan menunggu di luar. Menanti senyuman mu kembali tersungging di hadapan ku dengan sangat manisnya. Maafkan A'a yang sangat kurang memperhatikan mu... A'a sayang pada mu wahai istriku." Mengecup lagi pipi sang istri yang sudah tidak bisa mendengarkan dengan jelas, akibat rasa sakit yang sudah tak tertahankan itu.
__ADS_1
Hingga air mata A' Faqih semakin menetes. Dia sangat takut sekali akan terjadi sesuatu pada Nuha, dan jika itu terjadi dia akan menjadi suami paling gagal di dunia ini.