
Di luar langit sudah terang.
Hawa dingin menusuk mulai membuat tubuh Nuha menggigil, kata siapa mandi pagi dengan A'a menjadi hangat. Nyatanya tidak tuh...
Lihat sepertinya tidak suka dia berbulan madu di tempat dingin.
Lebih-lebih mandi wajib tidak di perbolehkan menggunakan air hangat, walau sesekali di peluk A'a dari belakang? Tetap saja air sedingin es itu membuat gigi-giginya menimbulkan suara gretak-gretak... Ambil saja bahasa mudahnya haha.
Gadis itu menoleh ke arah A' Faqih, dia belum juga keluar dari kamar mandi. hingga beberapa detik berikutnya, dia pun akhirnya keluar sembari memegangi perutnya. Dengan wajah sedikit pucat.
"Neng...?" Memegangi perutnya,
"Ya A'?" Nuha mendekati.
"A'a sepertinya masuk angin." Di dalam tandas tadi A' Faqih sudah muntah-muntah.
'hmmmm... Salah siapa ngajak bersenggama dan mandi malam, di tambah pagi juga. Masuk angin kan jadinya.' batin Nuha yang ingin melontarkan ucapan itu secara langsung. Namun dia lebih memilih cari aman dengan bergumam di hatinya.
"Mau Nuha kerik punggungnya A'...?" Menawarkan.
"Boleh deh..." Beliau langsung merebahkan tubuhnya. "Tapi nanti saja lah neng, A'a pengen makan nasi bebek."
"Lah... Katanya mual, kok mau makan nasi bebek sih? Itu kan pedas A'... Cari saja makanan yang lain ya, yang enak di perut."
"Nggak neng, A'a mau nasi bebek." Langsung beranjak saja pria itu.
'aneh banget tiba-tiba minta nasi bebek.' batin Nuha, mengamati sang suami yang sudah mendadak segar, dan bersiap meraih kunci mobil setelah memasang peci kupluknya.
"Ayo Hilwah..." Menarik pergelangan tangan Nuha.
"A'a tunggu, kita mau cari nasi bebek di mana? Ini masih pagi loh. Di puncak lagi."
"Turun sebentar kita cari, pokoknya harus nemu. A'a tuh kepengen banget. Serius." Saking inginnya menikmati nasi bebek A' Faqih malah justru pecicilan sendiri, hingga di tendangnya sebuah kaki kursi membuat mengaduh.
"A'a tuh kenapa sih? Pelan-pelan jalannya."
"Aaaaarrrhhh astagfirullah al'azim... Kenapa ada kursi di sini sih?" Meruntuk.
"A'a ini ya... Sebelum kita menginap kursi memang sudah di sediakan di sini lah, bagaimana sih."
"Allahu Rabbi... Sudah ayo, jalan lah." Keduanya melanjutkan langkah kakinya walau dengan sedikit terpincang-pincang A' Faqih tetap bersemangat keluar dari vila tersebut. Memasuki mobil mereka dan mobil pun mulai melaju.
Sepanjang jalan kepala Faqih tidak hanya fokus di jalan, namun dia lebih melihat-lihat ke arah warung tenda pinggir jalan yang ada di sekitarnya, kali saja ada yang jualan nasi Madura itu.
"Duh mana ya?"
__ADS_1
"Sepertinya tidak ada A'... Nasi bebek jam segini, lagi pula Nuha nggak yakin ada yang jualan di sini." Gumam Nuha, sementara A'a hanya diam saja.
"Kok tiba-tiba jadi pengen serabi yang di Bandung juga ya neng."
"Serabi? Bandung?" Nuha terkejut.
"Iya, kita ke Bandung aja kali ya."
"Nasi bebeknya? Ya Allah A' Faqih... Masa kita mau ke Bandung cuma buat beli serabi?"
"Nggak papa mumpung masih pagi, kita sekalian jalan-jalan."
"Jauh A'a..."
"Nggak jauh, demi keinginan yang harus tertunaikan. Kita harus ke Bandung." Menyolek dagu Nuha seraya terkekeh. Nuha pun geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"A'... Sekalian saja kita bawa barang-barang kita, habis itu pulang ke Jakarta, dari pada balik lagi ke Vila."
"Tapi kita baru dua hari neng, niat A'a kan lima hari."
"Nggak apa-apa A'... Lain kali kita ke sini lagi. Lagi pula, A'a Sepertinya kurang sehat."
"A'a baik-baik saja... Agak sedikit mual tapi sekarang sudah tidak begitu. Hanya saja di rasa tuh Seperti ingin makan yang segar-segar."
Nuha tersenyum aneh ke arah Faqih yang tengah melebarkan senyumnya itu. Lalu kembali menghadap lurus ke depan. "Puter balik saja lah A'... Kita ambil barang-barang, check out sekalian. Baru habis itu kita ke Bandung."
"Hmmm, iya... Jadi nasi bebeknya bagaimana ini?"
"Sudah tidak berselera lagi sayang. Pengennya serabi yang di siram kuah durian. Enak sekali sepertinya...." A'a mengatur gigi mobilnya semakin mempercepat.
***
Beberapa jam kemudian...
Mereka sudah tiba di Bandung, tanpa mencari tempat rehat. Keduanya langsung masuk ke sebuah lokasi penjual serabi yang cukup terkenal dengan beberapa menu serabinya.
Hingga dua porsi Serabi kuah pun tersaji di hadapan mereka, A'a terlihat lebih bersemangat lagi saat melihat makanan yang beliau pesan.
"MashaAllah... Enak sekali sepertinya ini, neng."
"Iya A'... A'a tuh aneh sekali hari ini. Seperti orang ngidam saja."
"Masa sih? Bismillah." A' Faqih mulai memasukkan potongan serabi ke dalam mulutnya. "MashaAllah enak." Gumamnya lalu memakannya dengan lahap, hingga satu porsi itu habis. Kemudian memutuskan untuk memesan satu porsi lagi.
Ketika di porsi yang kedua, Faqih baru melihat itu saja sudah tidak ingin memakannya membuatnya hanya menyandar di kursi saja tanpa menyentuh porsi kedua itu.
__ADS_1
"Di makan A'..." Titah Nuha.
"Sudah kenyang A'a." Jawabnya.
"Astagfirullah al'azim, kalau sudah kenyang kenapa tadi pesan lagi."
"Pas baru abis tadi tuh Seperti masih ingin makan. Tapi sekarang tidak lagi."
"Terus bagaimana dong? Nuha tidak mungkin menghabiskannya? Nuha juga sudah kenyang. A'a tahu kan kita tidak boleh mubasir makanan?"
A' Faqih menghela nafas, sudah tidak ingin dia makan lagi sebenarnya. Dia pun meraih garpu lalu memotong serabi tersebut.
"Baiklah A'a makan, cuman kamu juga makan ya."
"Iya." Nuha mengiyakan, suapan pertama itu di berikan pada Nuha, lalu berikutnya ke dia. Dan sepertinya serabi itu terasa lebih nikmat rasanya ketika di suapi oleh sang suami. Keduanya terkekeh, mendadak sadar karena mereka harus berpindah lokasi hanya karena keinginan aneh A' Faqih.
Hingga senja pun bergulir, kini langit sudah semakin gelap di kota Bandung. Membuat keduanya bersiap untuk berjamaah sholat Maghrib.
Mereka menginap di salah satu hotel, dengan pemandangan kota Bandung yang sangat indah. Gadis itu dengan mukenanya sedang menunggu A'a selesai dari tandas mengambil air wudhu.
"Sudah siap?" Tanya A' Faqih dengan Koko dan sarungnya.
"Sudah A'..." Tersenyum lalu berjalan mendekati alas sujud, berdiri di belakang A' Faqih. Kedua tangan A' Faqih mulai terangkat berseru takbir dan di mulailah, keduanya melakukan shalat berjamaah.
Setelah tiga rakaat itu selesai, A' Faqih sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
Nuha pun menyentuh pundaknya, mengusap-usap bagian punggungnya.
"Kenapa A'?"
"Rasanya kok tidak enak sekali ya?"
"Apa yang A'a rasa? Kita ke rumah sakit saja?"
"A'a hanya mual neng, sebentar ya." Beranjak sebelum zikir mereka di mulai. A' Faqih berlari masuk ke dalam tandas hanya untuk muntah-muntah. Merasa tidak tega Nuha langsung merapikan mukenah dan sajadah itu lalu menyusul A' Faqih menyerahkan tissue yang ada di dekat A' Faqih berdiri.
"A'... Ke rumah sakit saja ya." Mengusap punggung sang suami.
"Sebenarnya A'a seger neng, cuma mual saja." Faqih beralih pada Nuha, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang Istri.
"Ya sudah Nuha kerik saja punggung A'a."
"Iya." Jawabnya.
Malam itu Nuha sibuk mengerik dan memijat A'a yang mendadak sakit, belum lagi dengan keinginan A'a yang ingin makan ini dan itu sehingga membuatnya harus memesan jasa pengiriman makanan. Selama ini dia tidak tahu, jika A'a sedang sakit bisa semanja ini. Bahkan di tinggal ke toilet saja Faqih sudah berseru memanggil nama Nuha, sungguh ya A'... Masuk angin saja sampai seperti ini kamu.
__ADS_1
Lihat... Tangan Nuha yang di peganginya, terlihat berlebihan sekali. Ckckck. Beruntung kau punya istri yang penurut A' karena Nuha hanya mengusap-usap kening A' Faqih yang mulai memejamkan matanya itu.