Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
ratu ku (Qori dan Farhat)


__ADS_3

Hari demi hari hingga bulan mulai berganti.


Kehidupan Qori bisa di bilang lebih baik, seperti itu pula cinta mas Farhat. Yang terlihat lebih menyayanginya dan Agam, sore ini Keduanya baru saja pulang setelah belanja bulanan.


Walaupun hanya menggunakan sepeda motor namun Qori tetap senang. Berbeda dengan Farhat yang tetap merasa khawatir pada Agam karena harus di bawa angin-anginan.


Setelah memarkirkan motornya, Farhat membawa dua kantung keresek lumayan besar menghampiri pintu rumah mereka dan membukanya.


"Masuk dik, sudah senja. Tidak baik untuk Agam." Titah Farhat, mempersilahkan keduanya untuk masuk lebih dulu. Baru setelah itu beliau.


---


Di beberapa jam berikutnya, ketika langit senja sudah menggelap. Farhat pun beranjak dari alas sujudnya, menghampiri Qori yang tengah menyiapkan makan malam.


"Agam sudah tidur?" Tanya Beliau melingkari satu tangannya di pinggang Qori, saat gadis itu tengah meletakkan sayur yang baru saja dia hangatkan di atas meja.


"Iya mas."


"Maaf ya pakai motor tadi... Seharusnya aku saja yang jalan."


"Nggak apa-apa... Aku senang sambil jalan-jalan mas. Emmm itu, mobil mas Farhat masih rusak ya?" Tanya Qori. Sementara Farhat hanya diam saja, sampai saat ini istrinya belum tahu kalau dia menjual mobil itu demi bisa menambah biaya besar saat hendak menikahinya. "Mas?" Tanya Qori memecahkan lamunan Farhat.


Farhat pun tersenyum, dia menarik kursi lalu memintanya untuk duduk. "Mas Farhat boleh jujur tidak?"


"Apa mas?"


"Mobil ku itu, sebenarnya sudah mas jual ke Faqih."


"Faqih? Suaminya Nuha bukan?"


"Iya sayang..."


"Tapi kenapa?" Qori menuangkan air mineral kedalam gelas, lalu mendorong pelan ke arah Farhat. "Kenapa di Jual mas."


"Alasan kenapa mas jual, karena mas butuh biaya besar pada saat itu." Jawab Farhat, meraih gelas berisi air lalu menengguknya. Sementara yang di sebelah menjadi merasa bersalah, dia pun menunduk.


"Qori benar-benar merepotkan mu ya mas?"


"Emmm..." Farhat menghabiskan minumannya lalu meletakkan gelas itu lagi... "Nggak... Nggak gitu dik... Kamu tidak merepotkan ku kok."


"Pasti mas jual mobil karena membayar hutang ku, serta mahar dari bapak kan?" Tanya Qori, sementara Farhat diam saja. Membuatnya menafsirkan diamnya Farhat sebagai sebuah pembenaran dari pertanyaannya itu.


"Apa ada benda lain selain mobil yang kamu jual mas?" Tanya Qori.


"Tabungan... Tapi itu tidak penting lagi. Kita tidak usah bahas itu ya?"


"Tabungan apa?"


"Bukan tabungan yang penting kok. Cuma tabungan biasa saja."


"Bohong kan? Jujur saja mas." Qori menyentuh tangan Farhat menggoyang-goyangkannya pelan. Farhat pun tersenyum.


"Tidak perlu mas jawab ya... sungguh, mas sudah ikhlas." Farhat mengusap kepala Qori.

__ADS_1


"Ayo mas jujur... Jujur saja tidak apa, Qori harus tahu, seberapa besar pengorbanan suami ku ini untuk membebaskan ku dan anak ku." Mendesak terus Qori hingga membuat Farhat akhirnya membeberkan.


"Tabungan haji mas sendiri."


"Astagfirullah al'azim..." Qori semakin merasa tidak enak. "Lalu apa ada lagi?"


'aku tidak mungkin berbicara kalau ibu dan ayah ku sampai menjual salah satu sapi ternaknya untuk membayar mahar.' gumam Farhat dalam hati. "Tidak ada lagi sayang, hanya itu." Jawab Farhat.


"Sungguh hanya itu mas?"


"Iya... Sungguh hanya itu." Jawab Farhat.


"Haruskah aku bekerja untuk mengganti semua tabungan mu mas?"


"kamu ini bicara apa sih? Nggak... nggak perlu sayang."


"tapi Qori harus menggantinya mas... Qori akan membantu mas Farhat agar tabungan haji mas kembali. Aku bisa bikin kerajinan, seperti Bros dari manik-manik. Itu biasa aku lakukan waktu SMA dan ku jual ke teman-teman untuk menambah uang jajan, atau mungkin membuat apapun. Katering mungkin? Mas percaya qori bisa masak kan? Soalnya Qori pernah Nyambi kerja di warteg pas sebelum hamil mas." Terkekeh walaupun mata Qori basah karena mengingat momen-momen terpedih dalam hidupnya.


'ya Allah, jadi dia dulu bekerja keras selama itu?' Farhat menggeleng, hingga di raihnya tubuh mungil itu seraya memelukannya erat.


"Qori serius mas Farhat... Qori mau bantu mengganti uang tabungan mu."


"Sssstttt Qori... Qori... Dengarkan mas ya. Kamu mau mengganti semua itu? Boleh... Tapi dengan cara lainya."


"Apa? Katakan mas." Qori mendongakkan kepalanya.


"Cukup rawat Agam dan didik dia dengan baik. jadikan dia anak yang Soleh ya... Dan jika bibit yang mas titipkan di sini tumbuh, tolong rawat juga dengan baik." Farhat menyentuh bagian perut Qori, walaupun dia tahu. Mungkin akan terjeda beberapa tahun sampai Qori melepas pengamannya itu dari dalam rahim.


"Mas Farhat... Aku tidak bisa berkata-kata selain... Iya... Iya akan ku lakukan mas."


"Hehehe iya, kita asik ngobrol. Bentar mas... Qori ambil dulu ya piringnya."


"Iya." Jawab Farhat tersenyum. Dia pun mengamati Qori yang tengah bersemangat meraih dua piring keramik di lemari piringnya. Lalu mendekati Farhat lagi.


"Nasinya seberapa mas?"


"Kamu duduk saja, biar mas yang ambilkan."


"Loh kok mas Farhat?"


"Iya... Kamu kan ratu ku." Ucap Farhat seraya mengambil piring yang ada di tangan Qori. Gadis itu tersenyum lalu duduk di kursinya sesuai perintah mas Farhat. "Kamu mau lauk mana nih?"


"Telur itu mas." Menunjuk ke arah telur bulat yang di olah dengan bumbu balado.


"Sayur ini mau?" Menawarkan sayur labu Siam.


"Mau."


"Baiklah... Sini." Farhat menarik kursinya semakin mendekati Qori. "Berdoa dulu."


"Sudah mas."


"Mana nggak dengar tuh."

__ADS_1


"Ya sudah di dalam hati."


"Tapi mas tidak mendengarnya."


"Hahaha... Masa harus di lafadzkan sih?" Ucap Qori terkekeh.


"Harus! ayo baca doa."


"Malu mas..." Rengek Qori.


"Ada-ada saja, masa baca doa malu. Cepet."


"Ya... Tadi sudah." Terkekeh.


"Dik... Cepet baca."


"MashaAllah... Iya... Iya." Qori menatap wajah Farhat dengan malu-malu di lihat mas Farhat sudah melebarkan senyum lebih tepatnya menahan tawa sih. "Jangan di ketawain."


"Siapa? Nggak ihh... Cepet baca." Farhat menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


"Dihh kan ketawa kamu tuh mas."


"Nggak Dik... Beneran, nanti keburu dingin nih makanannya."


"Iya... Deh..." Qori menyematkan rambutnya ke bagian telinga kanan dan kirinya, seraya menahan tawanya karena malu. "Bis?"


"Alhamdulillah..." potong Farhat.


"Belum mas...!" Qori mendorong bahu mas Farhat, membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha... Belum ya... Ya sudah yuk baca."


"Jangan ngeledek terus sih, mau makan ribet sekali perasaan?"


"Ya sudah cepat baca makanya. Tangan sudah pegal nih pegang piring dan sendok."


"Makanya janji nggak ngeledek lagi."


"inshaAllah nggak janji, dik." Terkekeh.


"Kan?"


"Sudah cepat baca doanya... Mas dengarkan." Titah Farhat.


Gadis itu mengulum senyumnya, lalu menghela nafas dan mulai membaca doa makan itu, seperti anak kecil yang tengah di ajarkan doa makan. Farhat berkali-kali membenarkan. Namun gadis itu tetap mengikuti tidak peduli walaupun sedang di kerjai Farhat. Hingga sebuah kecupan gemas di bibir Qori pun membuat kedua terkekeh malu-malu.


Kemudian sesendok nasi pun di arahkan ke mulut Qori.


"Di suapin nih?"


"Nggak mau?" Tanya Farhat.


"Mau... Mau banget." Qori memegangi tangan Farhat lalu menarik tangan itu agar sendok di tangannya masuk ke dalam mulut Qori. Farhat pun tersenyum, baru setelahnya dia sendiri lah yang memakan suapan kedua dari sendok yang sama.

__ADS_1


'aku bersyukur, ada kau yang bisa membuat ku mampu melupakan pikiran haram ku selama ini terhadap ustadzah Nuha.... Mau seperti apapun kau? Tetap kau yang akan terus menduduki singgasana di hati ku, Qori.' gumam Farhat dalam hati, merasa senang dengan kehidupan barunya itu.


__ADS_2