Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
menjauhi suul khatimah (extra part)


__ADS_3

Saat ini keluaga telah berkumpul di salah satu bangsal kelas satu,


Di mana Umma Hasna menggendong cucu pertamanya dengan sangat hati-hati.


Terpancar rona bahagia di sana, sementara di sebelahnya ada Umma Rahma yang duduk di kursi rodanya.


Sedikit miris, karena dia hanya bisa melihat sembari menyunggingkan senyum. Karena kedua tangannya tidak bisa bekerja dengan baik sehingga membuatnya Tidak bisa menggendong Ziya dengan kedua tangannya itu, walaupun dia sangat ingin.


"Mba Rahma mau cium Ziya?" Umma Hasna menawarkan, sementara Rahma hanya mengangguk, hingga di dekati lah wajah Ziya pada Rahma. Agar Umma bisa mengecup pipi mungil yang masih kemerahan itu.


"Cantik sekali." Gumam Umma Rahma dengan sudut matanya yang menganak namun bibir tetap mengembangkan senyumnya.


"Iya cantik sekali, lucu. Jadi gemas." Umma Hasna terkekeh. Sama halnya dengan Rahma.


Hingga di gendongnya lagi bayi itu oleh Umma Hasna, membawanya mendekati ustadz Rahmat, Sementara Umma Rahma hanya menatap mereka berdua.


Di sisi lain Abi Irsyad langsung mendekati sang istri memberikan usapan lembut di bahu Rahma, yang membuat sang istri merasa lebih baik.


Tok tok tok... Sebuah ketukan membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah pintu, dan didapati lah pak Huda dan istrinya.


"Assalamualaikum." Sapa pak Huda dengan suaranya yang besar dan sedikit nyaring seperti biasanya.


"Walaikumsalam warahmatullah... Ya Kareem... Saudaraku." Ustadz Rahmat menyambut, bergantian dengan ustadz Irsyad yang mengusap bahu Rahma sejenak lalu melangkah mendekati pintu memeluk tubuh gempal pak Huda.


"Dua kakek ini akhirnya punya cucu ya? Saya doang loh yang belom." Kata pak Huda Terkekeh.


"Makanya cepat suruh nikah itu, Musa atau Zahra nya." Ucap ustadz Irsyad.


"Biar kaya kita ya tadz..." Saut ustadz Rahmat.


"Benar sekali." Ustadz Irsyad menanggapi.


"Pengen sih, tapi Zahranya belum ada calon."


"Ya di Carikan dong." Jawab ustadz Rahmat.


"Mau bagaimana lagi, Dianya yang tidak mau. Katanya, masih belum mau menerima hati lain. Entahlah... Selama ini dia selalu menolak pinangan laki-laki yang mau meminangnya. Nggak tau nunggu siapa anak itu." Terkekeh, sementara ummi Siti hanya diam saja. Beliau pun mendekati Umma Hasna memberikan dalam, lalu ke Nuha mengucapkan selamat setelahnya beliau mendekati wanita bercadar yang duduk di kursi rodanya.

__ADS_1


"Assalamualaikum mbak Rahma." Sapa kak Siti yang langsung memeluk tubuh Rahma karena merasa iba.


"Walaikumsalam warahmatullah kak." Jawab Umma Rahma, terlihat miris saat ini, nada bicara Rahma pun berubah tidak seperti sebelumnya.


"Apa kabar? Mbak Rahma sudah lebih baik kan?" Tanya kak Siti. Rahma mengangguk.


"Iya kak." Matanya yang menyipit menandakan dia tersenyum. Namun terlihat sudut matanya seperti berair.


"Syukur Alhamdulillah, selamat ya. Sudah punya cucu sekarang."


"Iya terkasih kak... Aku bahagia sekali masih di beri kesempatan untuk melihat cucu pertama ku." Jawab Rahma. Kak Siti pun tersenyum iba, di genggamannya tangan kanan Rahma memberikannya kekuatan.


"Mbak harus semangat lagi terapinya ya. Agar bisa kembali sehat seperti sedia kala." Ucap pak Huda.


"Iya pak Huda." Jawab Rahma. Ustadz Irsyad mengusap kedua matanya, sungguh dia merasa tidak tega sekali melihat kondisi Rahma yang sekarang, di mana pak Huda langsung menepuk-nepuk bahu ustadz Irsyad sembari menggeleng pelan. Karena beliau selalu meminta ustadz Irsyad agar tidak terlihat sedih di hadapan Rahma... Agar Rahma juga tidak sedih karena itu.


Hingga setelah beberapa jam kemudian...


Ustadz Irsyad baru saja sampai ke rumahnya, karena kondisi Umma Rahma, kamar mereka pun kembali pindah ke lantai satu, yang memang di khususkan untuk tamu.


Di dalam kamar itu Ustadz membantu mengganti pakaian sang istri, dengan penuh ketelatenan.


"Kenapa harus di sisir lagi mas?"


"Kan biar tambah cantik."


"Tapi uban Rahma jadi keliatan semua." Rengeknya sembari terkekeh


"Tidak apa." Ustadz Irsyad mencondongkan tubuhnya memeluk Umma Rahma dari belakang. "Kamu tetap cantik untuk mas loh." Tutur ustadz Irsyad sembari mengecup pangkal kepala Rahma.


Mendengar itu, air mata yang sedari tadi terbendung pun menetes. Rahma terisak tiba-tiba membuat ustadz Irsyad merubah posisinya, beliau duduk di bibir ranjang dengan kursi roda menghadap ke arahnya.


"Kenapa Khumaira ku... Kenapa nangis?"


"Rahma sedih mas... Maaf."


"Ssssttt jangan minta maaf. Nggak apa-apa, nangis saja sayang. Ayo tumpahkan kesedihan mu, mas tahu kau menahannya kan selama ini." Ucap Ustadz Irsyad, sementara Rahma semakin sesenggukan menangis hingga beberapa saat, sampai dia benar-benar bisa mengontrol dirinya.

__ADS_1


"Sudah lebih baik?" Tanya ustadz Irsyad saat tangis Rahma mulai reda. Rahma pun mengangguk pelan. "Sekarang cerita pada mas, apa yang membuat mu semakin sedih?"


"Hiks... Rahma ingin gendong cucu kita tapi tidak bisa. Rahma juga Ingin membatu merawat bayi itu tapi tidak bisa, Rahma ingin menyambut kelahiran cucu pertama kita mas tapi tidak bisa." Terisak-isak lagi.


"Bukan tidak bisa, kamu hanya tinggal menunggu sembuh saja sayang. Nanti kalau sudah sembuh pasti bisa gendong."


"Iya kalau sembuh... Kalau tidak?"


"Dek, jangan berfikir yang tidak-tidak, kenapa sih? Mas kan bilang, kesembuhan mu datang karena keyakinan mu." Ustadz Irsyad mengusap air mata Rahma.


"Hiks... Iya tapi Rahma takut mas."


"Takut apa dek?"


"Rahma takut akan kematian. Bahkan setiap kali mau tidur. Rahma takut tidak bisa bangun lagi."


"Dek Rahma, mas sudah bilang kamu jangan pernah berfikir yang tidak-tidak. Kematian itu tidak melulu datang hanya karena kita sakit. Bisa jadi mas yang sehat mendahului mu kan?" Ucap ustadz Irsyad pada Rahma yang masih terisak-isak. "Ini ujian mu sayang, kamu harus ikhlas... Kalau kamu mengeluh itu tandanya kamu tidak ikhlas."


"Rahma tidak mengeluh mas, Rahma hanya takut karena amal ibadah Rahma belum banyak. Di tambah dengan kesalahan-kesalahan ku di masa lalu, Rahma takut masuk neraka, mas."


Ustadz Irsyad menghela nafas. "Dek, Nasib kita tidak di tentukan sebagaimana buruknya kita di masa lalu, tapi yang menjadikan penentu adalah amalan di akhir hayat." Tutur ustadz Irsyad.


"Kenapa mas bilang seperti itu, karena ada satu hadis yang bunyinya seperti ini, 'sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya' (HR. Bukhari). Orang-orang terlalu takut kematian karena memikirkan dosa di masa lalu hingga menghalangi kita untuk mendapatkan husnul khatimah, namun tidak sadar bahwa sesungguhnya yang perlu kita lakukan yaitu bukan meratapi kesalahan di masa lali melainkan menjauhi suul khatimah. Dimana kematian datang saat kita tidak dalam keadaan beriman. Itu kenapa mas selalu meminta mu untuk selalu bertaubat dan bertaubat serta melakukan perbuatan baik dek. Supaya apa? Kebiasaan kita pengaruh pada saat kematian itu datang, jangan sampai fokus menginginkan umur panjang agar bisa hidup untuk waktu yang lama. Namun cobalah menjadi hamba Allah yang bahkan menanti kapan kematian itu datang untuk kita. Kamu harus tahu dek, sebaik-baik manusia itu tidak boleh takut akan kematiannya, karena sesungguhnya kematian memanglah akan datang kepada kita, ketika daun Bidara bertuliskan nama kita terjatuh, dan kita harus siap dengan itu."


"Berhusnuzon lah sayang... Percaya bahwa kita adalah hamba Allah yang akan menemui Rabb kita dalam keadaan baik. Makanya mas selalu minta kamu berzikir ya Allah biha, Ya Allah bihusnil khotimah setiap kali sholat kan, di resapi jika perlu sampai mata ini mengalirkan air mata. Dek... Berusaha beramal baik. Bukan takut akan kematian." Ustadz Irsyad memeluk tubuh sang istri seraya menangis.


"Mas juga takut, itu manusiawi. Namun sejatinya Manusia yang beriman, kita juga harus mempersiapkan itu." Tutur Beliau dengan suara seraknya. "Mas mencintai mu dek Rahma. Sangat mencintai mu. Mas tetap berharap kamu sehat lagi, jadi kamu harus tetap semangat ya demi bisa mendampingi mas, dengan waktu yang lebih lama lagi."


"Hiks... Iya mas Irsyad, iya." Keduanya saling berpelukan dengan erat.


***


Note:


Adapun jika keadaan kita masih mengenyam beberapa dosa? Maka langkah terbaik yaitu segera bertaubat. Jangan bersembunyi dalam kata nanti, lalu berharap umur panjang.


Karena sejatinya kita tidak pernah tahu seberapa jatah umur kita akan di akhiri.

__ADS_1


Betapa banyak kata 'nanti' telah memakan korban. Hingga banyak di antara mereka mengandaikan ingin hidup kembali ke dunia ini agar bisa mengulang waktu yang dulu pernah terbuka, namun tidak ada lagi kesempatan untuk mereka.


Dan saat ini kita masih bisa memilih, jalur mana yang akan kita tempuh. Tetap berleha-leha dengan fatamorgana dunia, atau berlari ke poros kita. Beribadah dengan semaksimal mungkin mengejar akhirat yang nyata untuk kita.


__ADS_2