
Siang ini, dua wanita paruh baya sedang duduk bersandingan. Berteman hiruk pikuk orang-orang berlalu lalang yang cukup ramai.
Karena ini adalah jam besuk pasien, jadi para kerabat akan datang mengunjungi mereka yang tengah berada pada masa perawatan, di bangsal mereka masing-masing.
Di sana, Hasna masih belum membuka suaranya. Dia masih bingung ingin memulai obrolan, Padahal dia biasanya paling pandai membuka obrolan selama ini. Namun sepertinya ada sesuatu yang tak kasat mata menutup mulutnya agar tidak bersuara.
Hingga membuatnya memutuskan untuk diam.
Sementara Umma Hasna sedikit gelisah, yang di sebelahnya pun sama sedang merasa gundah, serta menduga-duga saja. Apakah sikap baik Hasna terhadap Nuha itu tulus? Atau hanya karena rasa tidak enak saja? Entahlah yang pasti rasa percaya Rahma akan besannya itu semakin berkurang.
"Mbak Rahma?" Panggil Hasna yang semakin tidak nyaman dengan situasi ini. Rahma menoleh. "Saya tau, mbak pasti masih marah dengan saya?" Berbicara dengan nada yang lembut, seperti bukan Hasna yang dia kenal sebelumnya. Rahma menggeleng pelan.
"Tidak." Jawabnya singkat. Hasna saling meremas kedua tangannya.
"Maafkan saya sekali lagi. Saya janji, setelah pulang dari rumah sakit, saya akan merawat Nuha dengan baik." Tuturnya.
"Nuha akan di rumah saya Teh, untuk sementara waktu. Faqih sudah bilang hal itu kepada saya." Jawab Rahma. Hasna pun terdiam, dilihat dari segi mana pun. Rahma sepertinya masih kesal dan kecewa, dia pun tidak berani lagi membuka suaranya. Hingga hening kembali menyelimuti di antara keduanya hingga Faqih mulai keluar dari ruangan Nuha, seraya tersenyum.
"Umma, Faqih mau ke masjid dulu. Mau Dhuha." Tuturnya, Rahma pun beranjak dan berjalan masuk lebih dulu setelah tersenyum kepada Faqih. Berbarengan dengan itu Umma Hasna juga turut beranjak.
"Sekalian Umma ikut, A'..." Kata Umma Hasna yang di balas senyum A' Faqih. Mereka pun berjalan bersama menyusuri lorong rumah saki yang lumayan ramai orang.
"Umma, terimakasih ya." Ucap Faqih sembari melangkahkan kakinya. Umma Hasna hanya tersenyum tipis. "Terimakasih sudah mau membuka hati untuk Nuha."
"Iya, A'... Maaf Umma telat menerima dia." Gumam Hasna.
"Tidak kok Umma. Faqih bersyukur Umma mau menerima Nuha sebelum Ramadan ini usai. Faqih bersyukur sekali." Tersenyum senang. Sementara yang di samping merasa sedikit sedih sekali merasa bersalah. Dalam diamnya dia masih berusaha untuk berfikir bagaimana caranya agar hubungannya dengan Rahma membaik. Tapi sepertinya memang Rahma butuh waktu, dia pun memutuskan untuk membiarkan saja dulu. Karena Hasna yakin Rahma tidak seperti dirinya yang tidak akan memendam kekesalan dengan waktu yang lama. Hasna dan Faqih sudah hampir sampai mereka pun menuju tempat wudhu yang terpisah sebelum menjalankan ibadah shalat Dhuha bersama.
***
Hari yang semakin siang, membuat Farhat semakin merasa bingung. Dia harus menunggu wanita yang tidak dia kenal sendirian, yang entah kapan proses persalinannya itu berjalan.
__ADS_1
Di lihat gadis itu semakin lemas saja meremas bibir ranjangnya, menahan sakit.
Sempat terbesit ingin meninggalkannya saja, toh dia tidak kenal? Namun hati nurani berkata dia tidak tega. Tapi jika dia masih tetap di sini? Sama saja sebuah ketidaknyamanan untuk Farhat.
Hingga seorang bidan datang dengan dokter, mengecek kondisi pasien lagi. Keduanya saling berbisik, lalu menoleh pada Farhat.
"Maaf, benarkah anda bukan suaminya?" Tanya dokter tersebut.
"I...iya dok." Jawab Farhat.
"Tapi, apa anda bisa menjelaskan? Dimana wanita ini melakukan proses bayi tabungnya?"
"Ba...bayi tabung? Maksudnya dok?"
"Begini, susah di jelaskan ya. Karena wanita ini sepertinya belum pernah berhubungan intim dengan lawan jenisnya."
"Be...belum pernah? Saya tidak mengerti, lalu bagaimana bisa?" Tanya Farhat.
Seperti paham pria ini pun manggut-manggut mendengarkan dengan serius, hingga keputusan dokter yaitu meminta persetujuan wali pasien untuk melakukan operasi Caesar.
Terdiam sejenak Farhat saat mendengar itu, menoleh ke arah Qori sebentar lalu kembali pada dokter tersebut.
"Lakukan saja dok, yang penting Keduanyan selamat, saya bersedia menandatangani surat pernyataannya." Jawab Farhat setelah membaca basmalah dalam gumaman sebelumnya. Dokter pun mengiyakan hingga menunggu persiapan selanjutnya selama satu jam, dan proses operasi pun di jalankan.
Selama menunggu, paman dari Farhat pun datang bersama dengan Haidir putranya.
"Assalamualaikum Mas..." Sapa Haidir pada pria yang tengah duduk di depan ruangan operasi. Segera Farhat beranjak berdiri menyambut mereka dengan perasaan lega.
"Walaikumsalam warahmatullah, pak lek, Haidir." menjabat tangan Keduanya.
"Bagaimana Qori. Maaf pak lek baru dengar langsung kesini." Tanya pak lek Hilman.
__ADS_1
"Dia harus operasi, tapi Farhat bingung lek. Setelah ini mau bagaimana? Sedangkan Farhat tidak kenal keluarganya, agak takut juga sih saat menandatangani surat persetujuan itu."
"Pak lek juga mikir begitu. Apalagi bapaknya Qori bukan tipe seorang bapak yang mudah di ajak bicara, kenapa bisa kau terjebak dalam situasi seperti ini. Dia itu tukang peras Farhat, salah-salah kau bisa mendapatkan masalah berat jika sampai terjadi sesuatu dengan gadis itu."
"Ya Allah, tapi Farhat merasa tidak tega dengannya. Dia sudah kesakitan sekali."
"Kita berdoa saja mas, Qori akan baik-baik saja." Tutur Haidir. Yang di Amini oleh keduanya. Mereka pun menunggu lagi hingga proses operasi itu selesai.
–––
Di dalam ruang operasi, seorang suster mengangkat bayi berjenis kelamin laki-laki. setelah terlepas dari plasentanya dia pun di bawa keruang perawatan.
Sedangkan seorang perawat lainnya memanggil wali pasien, menghampiri tiga pria yang masih menunggu di depan ruang operasinya.
"Maaf, apakah di sini ada yang bersedia mengadzani bayinya?" Tanya suster tersebut. Farhat pun beranjak.
"Saya saja sus." Menawarkan diri, lalu mengikuti langkah suster yang sudah memintanya untuk masuk ke ruangan perawatan.
Di dalam...
Seorang bayi laki-laki tengah menangis, seperti tersentuh saja, membuat Farhat tersenyum.
"MashaAllah tampan dan lucu sekali." Gumam Farhat, dia pun mencondongkan tubuhnya mendekati telinga kanan sang bayi. Dengan satu tangan menyentuh telinga kanannya sendiri.
"Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar..." Farhat mengumandangkan adzan di dekat telinga bayi itu hingga selesai, lalu diakhiri dengan komat di telinga sebelah kirinya. Farhat kembali tersenyum. Dia menyentuh pipi bayi itu, menitikkan air mata.
"Jadilah anak Soleh ya nak." Gumam Farhat. Ia pun mengecup pipi mungil bayi itu.
'MashaAllah menggemaskan sekali bayi ini.' batin Farhat, meraih tangan mungil itu dan seperti tahu saja bayi itu pun memegangi jari telunjuk Farhat. Pria itu terkekeh kemudian, "suka dengan tangan bapak ya?" Gumamnya asal.
"Maaf mas, bayi ini harus kami taruh di inkubator sebentar. Karena sedikit kuning mas." Ucap sang perawat.
__ADS_1
"Oh iya sus." Jawab Farhat. Mengecup lagi bayi itu sebentar, terlihat senang dia dengan bayi mungil di hadapannya itu. "Bapak keluar dulu ya. Assalamualaikum anak Soleh." Farhat pun berjalan keluar, dimana bayi yang tadi tenang itu kembali menangis, tepat saat Farhat keluar dari pintu ruang perawatan.