Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
aku mencintaimu


__ADS_3

Malam semakin larut saja, bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 00:11. Hingga selesai aktifitas itu Nuha tertidur dengan tubuh tertutup kain selimut, itu saja tidak di sengaja. selepas hujaman puncak sang suami, mata gadis itu langsung terpejam begitu saja.


Sepertinya gadis itu lelah sekali, dia bahkan belum sempat menggunakan lagi pakaiannya. Sementara A' Faqih hanya tersenyum memiringkan tubuhnya di sebelah Nuha, sembari menaikan kain selimut itu hingga ke bagian leher sang istri. Berusaha semaksimal mungkin menutupi tubuh polos itu agar tak tersentuh dinginnya udara malam.


'dasar istri ku, tumben dia banyak mencium ku, tadi.' tersenyum. A'a tidak tahu jika gadis itu mendadak takut kehilangan mu. Bahkan dia masih saja memegangi lengan A'a dengan eratnya.


Sepanjang berjima tadi saja mata Nuha pun tak lepasnya memandangi A' Faqih.


Benar dalam hatinya, selalu bergumam 'dia milik ku, dia mencintai ku.' itu yang perlu A'a tahu.


"Kasian istri ku, seharusnya malam ini aku libur tidak menggaulinya." Di kecupnya kening Nuha dengan lembut, seraya mengusap pangkal kepalanya.


Setelah itu Faqih meraih handuknya guna menutupi lingkar pinggang kebawah, bebersih sedikit di tandas lalu berjalan mendekati meja belajar meraih lembar kerja milik sang istri.


Dia tersenyum, hanya ada satu soal yang salah, namun masih bisa di tolerir oleh A'a. "Istri ku yang pintar. Besok kasih hadiah apa ya? Ohhh... Apa mau ku kerjai sedikit, bilang kalau banyak yang salah? Hehehe. Kangen melihat wajah paniknya." Pria itu terkekeh jail.


"Nuha sayang A' Faqih." Rintih gadis itu tiba-tiba. Faqih pun menoleh lalu mendekati sang istri setelah meletakkan lagi lembar kerjanya.


Di sebelah Nuha, A'a menatap lekat-lekat mata yang masih terpejam itu.


"Neng? Belum tidur ya?" Tanya Faqih memastikan. Namun hening, gadis itu hanya mengigau tadi dengan air mata yang tiba-tiba keluar dari salah satu sudut matanya.


Satu tangan A'a mulai mengusapnya pelan. Dia pun kembali memeluk Nuha dengan erat.


"A'a juga sayang sama Nuha." Bisiknya lirih di dekat telinga Nuha. Gadis itu pun sepertinya semakin tenang dalam tidurnya, membuat Faqih kembali tersenyum lalu memejamkan matanya memasuki alam mimpi.


Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, gadis itu merasakan sedih teramat jika saja A'a tahu apa yang membuatnya sedih? Pasti dia akan khawatir dan tidak menutup kemungkinan A'a akan menegur sang ibu. Tidak... Tidak boleh terjadi karena hal itu akan membuat hubungannya dengan Nuha akan memburuk, itu juga penyebab Nuha lebih memilih untuk diam saja dan menganggap bahwa dia tidak Pernah mendengar apapun dari bibir Umma Hasna.


***


Di luar langit masih temaram, selepas subuh Nuha membantu Umma Hasna berbenah rumah.


Dengan sapu di tangan ia mulai menyapu beberapa sudut rumah, gadis itu bahkan mengamati Umma Hasna yang masih saja tidak bersuara sejak menyiapkan makanan sahur tadi.


Membuatnya menjadi murung, entahlah semenjak mendengar perkataan itu Nuha semakin merasa dirinya memang belum Pernah memberikan apapun untuk Umma, tapi apa yang ingin dia berikan? Jika memberikan hijab juga apa Umma mau mengenakannya, seperti saat ini beliau menggunakan hijab dari Zahra itu.

__ADS_1


Kalau tidak? Apa dia tidak semakin merasa sedih, bahkan kue dari Umma Rahma pun sepertinya hanya di makan Abi dan A' Faqih saja. Ada apa sih Umma, apa salah ku? Emmmm, tidak! tidak baik jika berfikir buruk kan? Umma hanya butuh waktu untuk mencintai ku, begitu batin Nuha, yang masih mengayunkan sapunya mendayung sampah itu keluar.


Seruan salam terdengar dari pintu. Abi yang baru saja pulang dari masjid Setelah membuka kuliah subuh di sana, namun sepertinya A'a belum nampak.


Ustadz Rahmat masuk seraya tersenyum pada sang menantu yang sudah membalas salamnya.


Dengan langkah kaki menaiki anak tangga, Abi semakin menghilang dari pandangan mata.


Sementara Nuha masih menunggu, kok A'a belum nampak, entahlah mungkin beliau sedang mengobrol dengan jamaah lain. Nuha masih melanjutkan pekerjaannya, hingga selesai dan Abi pun sudah kembali menuruni anak tangga.


"Neng, sini sebentar." Abi Rahmat duduk di sofa ruang tengah, sedangkan Nuha berjalan pelan mendekati ayah mertuanya. Dan duduk di sofa yang berbeda. Dua buah amplop di serahkan kepada Nuha membuat gadis itu mengerutkan keningnya.


"I...ini apa Bi?" Tanya Nuha. Dia sudah mendapatkan amplop seperti itu selama tiga bulan mengajar di rumah Tafiz, namun ini? Apa dia masih saja mendapatkan bayaran?


"Itu uang hasil kerja keras kamu sama Faqih. Abi kasih sekarang ya."


"Tapi Bi, Nuha kan sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Kok Nuha masih di gaji?"


"Loh, memangnya kenapa? Kan Nuha juga pengajar."


"Hahaha, kok bilangnya seperti itu sih?"


"Maaf ya Bi, Nuha salah bicara ya?"


"Bukan neng. Begini, kamu kan masih pengajar aktif di rumah Tafiz jadi ya tetap Abi kasih kamu uang jajan sebagai hadiah kamu sudah mau mendidik anak-anak di sana."


"Iya sih Bi, tapi Nuha ikhlas kok sekarang. Jadi ini Nuha kembalikan saja." Nuha mengembalikan satu yang terdapat nama Nuha di ujung amplopnya.


"Abi tidak mau loh menerima itu kembali, soalnya Abi juga ikhlas ngasihnya ke kamu. Terima saja neng itu rezeki kamu."


"Ya Allah Bi tapi Nuha tidak enak."


"Kalau tidak enak ya kasihkan ke kucing. Hehehe." Mendengar kekehan Abi Rahmat, Nuha pun tersenyum haru setidaknya dia masih di cintai Abi Rahmat.


"Terimakasih banyak ya Bi," Nuha meraih tangan Abi Rahmat dan mengecupnya.

__ADS_1


"Sama-sama neng." Mengusap pangkal kepala sang menantu dengan lembut.


'salut dengan Ustadz Irsyad, bagaimana cara beliau mendidik anak-anaknya ini, seperti Nuha contohnya. Dia bahkan berusaha rajin di rumah ini.' Abi Rahmat geleng-geleng kepala. Hingga seruan salam terdengar Nuha beranjak menghampiri sang suami, membawakan sajadahnya dan berjalan bersama menuju kamar mereka.


–––


Di dalam kamar...


Nuha menyerahkan amplop dari Abi Rahmat.


"Ini apa neng?"


"Di kasih sama Abi." Tersenyum ceria.


"Ohh... Ya sudah kamu pegang saja sayang."


"Ini punya A'a, Nuha juga di kasih nih." Menunjuk miliknya sendiri, seperti seorang anak kecil yang mendapat amplop lebaran dari sang ayah. Faqih terkekeh gemas.


"Pegang saja semuanya neng." Melepaskan kokonya, seraya menggantungnya di hanger.


"Loh, kok di pegang Nuha sih? Ini kan uang A'a. Nuha sudah punya milik Nuha sendiri." Ucap gadis itu. Faqih membelai lembut rambut Nuha.


"Neng, uang A'a itu uang kamu juga. Jadi A'a percayakan itu padamu, tolong di pegang dan gunakan sebaik mungkin ya. Itu nafkah A'a buat kamu."


"Ta...tapi kalau di pegang Nuha semua? A'a tidak punya pegangan dong?"


"A'a tetap ada, kamu jangan khawatir ya."


"A'a, ini tuh terlalu banyak kalau di pegang Nuha semua. Apa lagi punya A'a sepertinya lebih tebal dari punya Nuha, A'a tidak mau mengeceknya dulu? Baru A'a kasih ke Nuha seberapapun, jangan semuanya A'..." Nuha masih menyodorkan amplop itu pada sang suami, Faqih pun menyerah dia menerima amplop itu dan mengajak sang istri duduk.


"Baiklah A'a cek ya, tapi tetap nanti neng yang harus pegang uang A'a ini."


"Iya tapi nggak semuanya," Nuha menjawab dengan polos. Sementara A' Faqih hanya terkekeh sembari membuka amplop itu.


'benar kata Nuha ini lebih tebal tidak seperti biasanya.' A'a penasaran. Dan benar saja, ada lembaran uang seratus ribuan sekita lima puluh lembar. Mata Faqih membulat, 'ini Abi tidak salah kasih ya? Biasanya cuma di kasih sekitar dua juta, ini sampai lima juta?'

__ADS_1


"Sebentar ya neng, sepertinya ada yang salah." Faqih memasukan kembali uangnya kedalam amplop lalu beranjak dari ranjang itu dan keluar dari kamar mereka meninggalkan Nuha yang masih menatapnya bingung.


__ADS_2