
"Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang ia jadikan istri) dari ayah dan ibunya.Dosa apa saja yang telah dia lakukan.Dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat.
Semua yang berhubungan dengan si dia (perempuan yang ia jadikan istri), aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung. Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku”.Aku juga sadar,sekiranya aku gagal dan aku lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka aku fasik, suami yang dayus dan aku tahu bahwa nerakalah tempatku kerana akhirnya isteri dan anak-anakku yang akan menarik aku masuk kedalam Neraka Jahanam..
dan Malaikat Malik akan melibas aku hingga pecah hancur badanku.Akad nikah ini bukan saja perjanjian aku dengan si isteri dan si ibu bapa isteri, tetapi ini adalah perjanjian terus kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala “. Jika aku GAGAL (si Suami) ? ”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka.Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku”.(HR. Muslim)
_______________________________________
Malam yang cerah, di temani suara takbir dan letusan kembang api dari beberapa toa masjid, menemani sebuah prosesi yang mengharuskan.
Di mana dua tangan saling berjabat, memulai sebuah ikrar yang akan membuat Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yang dibuat olehnya di depan ALLAH,dengan disaksikan para malaikat dan manusia. Maka dari itu andai kata pun kita menghisap darah dan nanah dari hidung suami kita,maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadap kita.
Seperti yang terjabarkan pada hadits di atas, dimana ketika kita ingin meringankan beban suami bukan hanya dengan cara patuh saja. Namun menjalankan ibadah dengan baik, menutup aurat dan mendidik anak-anak kita menjadi anak yang Soleh dan Soleha.
Malam itu, Nuha memegangi tangan Qori di sebelahnya. Gadis itu sudah berderai air mata sedari tadi merasa terharu saat ustadz Farhat. Mulai menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai membuka suaranya.
Setelah terdiam diri cukup lama di depan penghulu, Beliau sedang meneguhkan hati. Terlihat dari genangan air mata yang sedari tadi membasahi sudut matanya.
"Bismillahirrahmanirrahim... Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq." Farhat berikrar dengan sangat lancar.
Hingga Bulir bening akhirnya menetes saat semuanya berseru sah kepadanya, senyum Farhat mengembang. Di peluknya sang ayah seraya menangis lalu beralih pada sang ibu dan berakhir pada Faqih.
"Selamat saudara ku." Ucap Faqih dalam pelukannya, sementara Farhat hanya terisak mengiyakan.
Di sisi lain Qori saling berpelukan dengan Nuha, seraya menangis baru lah ia beralih pada ibu mertuanya yang langsung mengecup kedua pipi gadis yang baru saja menjadi menantunya.
Setelah mengontrol diri. Farhat beranjak, ia mendekati Qori, mengulurkan tangan kanan itu padanya. Gadis itu pun meraihnya, di kecuplah punggung tangan Farhat yang langsung di balas kecupan di pangkal kepala oleh sang suami.
"Terimakasih mas." Gumam Qori lirih.
"Sama-sama istri ku." Masih menempelkan bibirnya di pangkal kepala.
Faqih pun mendekati Nuha. Ia meraih tangan Nuha dan menautkannya, Nuha menoleh kearah A'a yang sudah tersenyum kearahnya.
__ADS_1
Dan membalas senyumnya itu, senang.
Hingga tiga orang saksi lain dan penghulu keluar, Ayah mertua Qori pun duduk di sebelah pak Lukman yang tengah menyalakan api rokoknya.
"Pak Lukman, selamat ya. Kita jadi besan. Semoga hubungan kekeluargaan kita semakin terjalin apik." Tutur ayah Farhat, beliau melirik sejenak lalu kembali menatap kedepan seraya menghembuskan asap rokoknya.
"Mana?" Menengadahkan tangan.
"Oh... Iya." Beliau mengeluarkan amplop coklat berisikan uang. "Semoga bermanfaat untuk?" Kata-katanya terputus saat pak Lukman langsung saja menyerobot uang tersebut tanpa basa-basi.
"Okay... Urusan saya selesai. Dan terserah, anak saya mau tinggal di mana. Yang penting tanggungjawab saya sudah selesai, jadi saya permisi." Beranjak, dan melenggang pergi begitu saja. Sementara ayah Farhat hanya geleng-geleng kepala seraya beristighfar. "Kasihan, Qori." Gumam beliau kemudian.
"Mas, benar kan? Dia langsung pergi begitu saja." Tutur lek Hilman. Sementara sang kakak hanya tersenyum.
"Sudah lah biarkan saja. Yang penting Qori dan anaknya sudah sama Farhat." Jawab beliau.
–––
Di tempat lain...
Perlahan ia serahkan kunci mobilnya kepada Faqih, pria itu pun mengerutkan keningnya.
"Ini, sekarang mobil ku sudah jadi milik mu." Ucap Farhat. Benar.... Demi bisa menebus anak Qori dari keluarga kaya itu, Farhat harus menjual mobilnya. Itu saja tidak mudah membujuk mereka, karena yang mereka inginkan bukan uang yang di kembalikan namun tetap Agam.
Dan atas kekuatan doa, dia bisa menebusnya dengan angka seratus juta. Padahal DP yang di berikan hanya enam puluh juta, belum lagi membayar mahar yang di inginkan ayah Qori.
Dengan tabungan beliau, serta mobil yang ia jual kepada Faqih. Agam pun berpindah tangan. Dia tidak jadi di serahkan pada keluarga kaya itu.
Di sana Faqih Menyentuh pundak Farhat. "Aku tahu kau menabung cukup lama untuk mobil ini. Jadi? Pakai saja. Anggap saja kau berhutang... Cicil saja jika sudah ada." Ucap Faqih mendorong kunci mobil tersebut.
"Nggak... Nggak... pokoknya aku tidak mau berhutang. Aku percaya harta masih bisa di cari kok."
"Tapi kau masih butuh mobil ini Farhat. Sementara aku belum."
__ADS_1
"Faqih, uang mu juga tabungan untuk membeli rumah kan? Sebaiknya kau ambil mobil ku, dan jual lagi saja."
"Aku sudah ada yang membantu, makanya aku langsung mengiyakan saat kau bilang butuh uang cepat. Jadi mobil itu kau pakai saja."
"Faqih tolong jangan seperti ini. Aku tidak mau, tolong terima. Aku bilang menjual bukan pinjam." Meraih tangan Faqih lalu meletakkan kunci mobil itu di telapak tangan Faqih dan menutup tangan itu lagi.
"Farhat...?"
"Tidak, pokoknya bawa saja mobil itu sekarang juga. Sungguh aku ikhlas."
"Aku pun iklhas, jadi terima saja mobil ini. Pakai saja dulu, aku belum begitu perlu."
"Tidak Faqih."
"Hei..."
Keduanya masih saja saling lempar kunci mobil itu, hingga akhirnya terjatuh di lantai. Faqih mendesah.
"Ambil nggak?" Berkacak pinggang.
"Nggak." Keukeuh.
"Ck...!" Faqih membungkuk meraih kunci mobil tersebut, lalu berdiri tegap lagi. "Dengar ya? Kau itu butuh mobil ini untuk membawa istri dan anak mu pulang dari rumah sakit, serta kontrol mereka setelah ini. Jadi terima ini, anggap saja aku meminjamkan mobil ini sampai batas waktu yang tak ku tentukan." Meletakkan kunci itu paksa di telapak tangan Farhat.
"Faqih?" Hendak menyerahkan lagi namun Faqih langsung mengangkat kedua tangannya.
"Buang saja sekalian, jika kau ingin memberikan kunci itu lagi pada ku." Keduanya terdiam sejenak, terkekeh kemudian lalu saling memeluk.
"MashaAllah... Alhamdulillah... Terimakasih Faqih... Terimakasih banyak." Terharu.
"Sama-sama, Farhat... Kau kan juga pernah membantu ku."
"Membantu apa? Aku tidak pernah merasa tuh." Jawab beliau yang di balas dengan senyuman Faqih tipis.
__ADS_1
'syukurlah, dia sudah ada istri. Tidak ada alasan lagi untuk ku khawatir, kalau Farhat masih ada rasa kagum pada istri ku.' batin Faqih. Keduanya pun saling melepas pelukan, lalu kembali masuk kedalam ruangan rumah sakit.