
Rasa kagum yang berujung pada rasa cinta, terlebih jika rasa itu tak terbalaskan memang tak jarang membuat orang itu menjadi gila dan sesak. Bahkan rasa ingin memiliki yang bergejolak, mampu membuat orang itu berubah jahat.
Aku tidak mau seperti itu... Itu lah yang selalu ada dalam benak Zahra, gadis itu menatap Nuha dari kaca ruang ICU. Terlihat Faqih teramat memperhatikan istrinya. Rasa iri mulai tertancap saat ini, seolah membuat dia tidak rela. Cinta memang tidak bisa di paksakan, lalu bagaimana dengan dirinya yang sudah menyimpan rasa itu cukup lama? Bahkan dengan tidak memikirkan lagi posisinya yang seorang wanita berhijab, dia rela melangkah lebih maju demi mampu mendapatkan apa yang dia inginkan. Iya hati Faqih Al Malik.
Di lihatnya Faqih tak henti-hentinya mengusap pipi mulus Nuha. Membuatnya semakin iri saja.
'bagaimana rasanya Nuha? Aku ingin berada dalam posisi mu. Tidak....! Aku bukan orang jahat, aku bukan wanita jahat.' Zahra menepis itu, hingga sebuah sentuhan tangan membuatnya menoleh, Umma Hasna tersenyum pada Zahra yang sudah membalas senyumnya.
"Ikut Umma yuk." Ajak Umma Hasna. Gadis itu mengangguk mengiyakan.
Di sebuah kursi panjang, tepatnya lebih jauh dari lokasi ustadz Irsyad dan yang lainnya mereka duduk bersebelahan. Umma Hasna belum sama sekali masuk menjenguk Nuha hingga detik ini, terkecuali Abi Rahmat.
Belaian lembut tercurahkan untuk Zahra. Gadis itu merasakan sekali kasih sayang Umma Hasna. seolah mematahkan stigma tentang Umma Hasna yang sama sekali tidak adanya rasa simpati pada Nuha.
"Neng, Umma tuh dulu sering berkhayal. Bahwa kau akan masuk kedalam rumah Umma dan tinggal bersama sebagai istri Faqih." Tutur beliau, Zahra yang di sebelahnya hanya tersenyum tipis. Dia pun mengharapkan itu. "Seperti apa yang Umma bilang, kau itu yang terbaik." Sambungnya. Hingga beliau mulai merubah posisi duduknya yang tadinya menyamping menghadap Zahra kini menatap ke depan dengan pandangan sedikit kosong.
"Zahra, kau tahu? saat ini Umma sedang merasa bersalah dengan menantu Umma itu." Gumam Umma Hasna, kening Zahra berkerut. penuh tanda tanya. "Karena obsesi Umma, Umma jadi melukai hati menantu Umma." Ucapnya seraya menitikkan air mata.
Bersamaan dengan itu Rahma melintasi area Umma Hasna dan Zahra mengobrol, setelah keluar membeli sesuatu. Rahma pun menghentikan langkahnya.
"Umma tidak pernah berlaku baik di depan Nuha. Bahkan Umma sampai memaki dia saat dia memecahkan satu buah gelas yang tak ada harganya. Semua karena Umma tidak menyukainya. Umma tidak suka Nuha menjadi menantu Umma." Tutur Umma Hasna tanpa menyadari adanya Rahma yang tidak sengaja mendengar ucapan Hasna kepada Zahra.
sungguh bagai tertikam ribuan belati yang terhunus langsung di dada, Rahma merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Umma merasa malu sekaligus tidak enak dengan mbak Rahma yang bahkan sampai memeluk Umma seraya berterimakasih. Padahal Umma tidak pernah menganggap putri kesayangannya itu ada di rumah Umma."
__ADS_1
Deg...! Kotak tissue yang berada di tangan Rahma terjatuh. Ia menyentuh dadanya semakin merasa sesak.
'A...apa? aku salah dengar kan? Aku pasti salah dengar?' batin Rahma.
Dua wanita itu menoleh, merasa terkejut saja tiba-tiba ada Rahma di sana. Secepatnya Umma Hasna beranjak, tampang piasnya membuat dia tidak bisa berkata-kata.
Perlahan Rahma meraih tissue yang terjatuh itu. Lalu berjalan mendekati Hasna.
"Mbak... Mbak Rahma." Gelagapan.
"Tolong beritahu saya, Teh? Jika saya telah salah mendengar ini." ucap Rahma dengan sudut mata yang mulai menggenang.
"I...itu?"
"Tolong jawab Teh..." Isak Rahma kemudian, dengan nada bicara yang tak tinggi. "Buat aku mempercayai omongan Putri ku. Jika kau sangat menyayangi Nuha." Menekan dadanya, menahan sesak di hati saat mendengar itu.
"Teteh tahu?" potong Rahma. "Saya mengharapkan anak dengan doa dan air mata, sampai rahim ini terisi janin kembar, dengan bertaruh nyawa ku lahirkan dua anak itu, ku rawat dan ku besarkan bersama suami ku dengan penuh kasih sayang, serta kami berikan mereka pendidikan dengan akhlak yang baik. Setelah dewasa? Kami ikhlaskan salah satunya di bawa oleh pasangannya. Tanpa mementingkan ego kami yang sebenarnya belum rela dia menikah dan pergi dari rumah kami teh Hasna...!" Rahma mengusap air matanya.
"Saya tahu saya bersalah mbak... Saya menyadari itu. Saya mohon maafkan saya." Meraih tangan Rahma namun Rahma langsung menarik itu, seolah tidak ingin tersentuh Umma Hasna. Lalu menyeka matanya dengan kasar.
"Bersyukur lah putri ku baik-baik saja. Karena jika tidak...? Wallahi...! Aku tidak akan pernah ikhlas Teh...! Aku tidak akan pernah rela putri ku di sakiti oleh siapapun, termaksud Teteh...!" Melenggang pergi kemudian meninggalkan Hasna yang masih menunduk seraya menangis dengan tangan Zahra melingkar di bahunya.
Rahma pun belok dia sempatkan menghentikan langkahnya, dia tidak mungkin menunjukkan tangisnya di depan sang suami dan yang lain. Kepalanya menggeleng pelan, bibirnya terus beristighfar. Ia masih memegangi dadanya yang terasa sesak.
'putri ku... Aku tidak terima... Aku tidak terima hiks!' Rahma memutuskan untuk menumpahkan Isak tangisnya sampai benar-benar mereda.
__ADS_1
Dan kembali melanjutkan langkahnya mendekati ruang ICU lalu masuk, tanpa menghampiri sang suami yang yang sudah menatapnya bingung.
Beliau pun beranjak menuju kaca dimana dia bisa melihat Nuha dari luar.
Di dalam Rahma melihat Faqih masih setia menunggu Nuha. Beliau pun mendekati.
"Umma...?" Faqih beranjak. "Silahkan duduk Umma." Mempersilahkan bangku itu di duduki Rahma.
Rahma pun duduk di bangkunya tanpa berucap apapun selain mengusap wajah Nuha dan kembali menangis.
"Umma, jangan nangis terus. Nuha kan tidak apa-apa." Tutur Nuha mengusap mata sang ibu. Rahma pun meraih tangan Nuha mengecupnya berkali-kali.
"Dede? Dede pulang kerumah Abi Irsyad ya? Tinggal lagi sama Umma dan Abi."
Mendengar itu Faqih pun mengerutkan keningnya. 'kenapa tiba-tiba Umma Rahma meminta Nuha pulang kerumah orang tuanya?'
"Sssstt... Umma kok bilangnya gitu. Umma jangan bicara seperti itu, ada A' Faqih Umma." Bisik Nuha merasa tidak enak.
"Neng... A'a keluar dulu ya. Berbicara saja dulu dengan Umma." Ucap Faqih. Nuha pun hanya mengangguk. Sementara Rahma masih diam saja, dia masih menggenggam tangan Nuha dengan eratnya.
Setelah Faqih keluar, Nuha pun mengusap lagi air mata sang ibu lembut. "Umma, istighfar Umma jangan bicara seperti itu di depan A' Faqih itu tidak baik Umma."
"Umma tidak rela kamu tinggal di rumah Teh Hasna. Kamu harus tinggal di rumah Umma dan Abi Irsyad. Titik...!"
"Umma ini bicara apa sih? Nuha sudah bersuami. Tidak bisa lagi mengikuti keinginan orang tua."
__ADS_1
"Dede tolong mengertilah... Umma tidak ingin Dede menderita."
"Umma...?" Panggil Abi Irsyad yang tiba-tiba sudah muncul menyibak tirai hijau itu. Rahma pun terkesiap, dia langsung saja bungkam saat mendengar suara Abi Irsyad. "Keluarlah dulu. Ikut Abi sebentar." Titah Abi Irsyad kemudian sebelum kembali melangkah keluar. Sementara Rahma hanya mengusap air matanya, lalu mengecup pipi Nuha sejenak, Keluar meninggalkan gadis yang menatap sedih ke arah sang ibu.