Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
Cinta yang akan membelenggu pasangan mu.


__ADS_3

keduanya sudah tiba di rumah, melakukan solat magrib terlebih dahulu di salah satu masjid dekat toserba.


Baru lah mereka kembali ke rumah, dengan situasi yang sangat tak mengenakan. Di mana A'a benar-benar terlihat marah, padahal kesalahannya tak seberapa. Namun sepertinya sang suami sangat kesal kerena itu.


Kini Nuha sudah duduk dengan posisi sedikit menunduk, dia masih sangat takut melihat A' Faqih yang sepertinya lebih galak dari yang dia kenal.


Atau mungkin sikap baiknya selama ini membuat dia lupa kalau inilah A' Faqih yang sesungguhnya.


Ahh... Entahlah tapi dia kan hanya berdiri, dan tidak berselingkuh kenapa A'a harus semarah ini. Bahkan dia tak memberi kesempatan untuk bangun dari tempat tidur itu walaupun hanya sekedar bergeser saja.


"Neng belum menjawab pertanyaan A'a, sudah lama kah kalian berada di sana? Berdua, tadi?" Tuding Faqih, gadis itu pun mengangkat kepalanya menatap sang suami dengan mata yang sudah mengembun.


"Wallahi A'... Aku benar-benar tidak lama di sana bersama kak?"


"Ustadz...!" Bentak A' Faqih.


"Iya ustadz Farhat. Aku sudah lama menunggu mu di ruangan A'a, setelah itu keluar pun tidak lama. Ustadz Farhat hanya memberikan ku minuman, karena sudah masuk waktu Maghrib." Nuha berusaha menjelaskan sehalus mungkin, agar suaminya tak salah Faham.


"Lalu kau mau menerimanya?"


"Apa salahnya A'…? Niat dia baik."


"Ck...!" A' Faqih mengecak. Nuha pun meraih tangan Suaminya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, air matanya tiba-tiba menetes, dia tidak bisa melihat A' Faqih marah, sungguh dia takut. karena hanya A' Faqih lah yang menjadi alasan, kenapa Nuha ada di rumah ini.


"A'a maaf... Maafkan Nuha, jangan marah A'. Nuha tidak bisa jika A'a marah pada ku." Nuha mulai terisak.


"Neng mau tidak menuruti kemauan A'a?"


"Iya A'..." Jawab Nuha serak.


"Kalau begitu, Neng berhenti saja, tidak usah mengajar lagi di rumah Tafiz." Pintanya.

__ADS_1


Deg...! Nuha merenggangkan pegangannya. Dia tidak menyangka A' Faqih akan bicara seperti itu, melarangnya kerumah Tafiz? Apa itu tak berlebihan, mengingat kesalahannya hanya sebatas menerima air dari tangan Farhat.


"Kok gitu, Kenapa A'? Apa kesalahan Nuha sangat besar? Sampai-sampai A'a tidak mengizinkan Nuha mengajar lagi di sana? Nuha kan sudah bilang... Nuha hanya menunggu A'a, wallahi A', Nuha tidak melakukan apapun, tolong percaya pada ku."


"Neng tahu A'a sangat menyayangi mu?" Tanya Faqih, dia mulai melembutkan suaranya. Gadis itu mengangguk. Faqih pun mengusap pelan pipi sang istri yang basah. "Kalau begitu menurut lah, neng berhenti saja mengajar di rumah Tafiz."


Gadis itu menggeleng pelan. "A'a, Nuha tuh menghormati A'a... Tapi maaf sebagai seorang suami yang tingkat keimanan lebih dari pada Nuha, apa ini tidak berlebihan?" Nuha memberanikan diri untuk berbicara, dia merasa ini tidak adil saja. Dan A' Faqih terlihat sangatlah tidak bijaksana saat ini. Mungkinkah karena faktor usia mereka yang masih sama-sama terlalu muda. Namun itu tidak bisa menjadi patokan bukan? A' Faqih masih diam saja. Hingga Nuha mulai memberanikan diri berbicara lagi.


"Apa hanya karena masalah cemburu, A'a sampai melarang Nuha mengajar lagi? Maaf, tapi itu sangatlah tidak dewasa sekali, sayang" berusaha sangat lembut Nuha berbicara. Faqih menoleh, tatapan matanya masih menakutkan membuat Nuha berusaha tersenyum meluluhkan hati suaminya.


"Neng bilang, neng itu menghormati A'a kan?" Tanya Faqih, sepertinya rasa lelah dan banyaknya fikiran membuat Faqih kehilangan akal sehat.


"Iya A... Nuha menghormati A'a." Gadis itu mengusap lengan suaminya lembut.


"Kalau neng menghormati A'a neng harus menuruti keinginan A'a. Berhenti lah mengajar."


"Hiks..." Tubuh gadis itu semakin berguncang, dia melepaskan pegangannya pelan.


"Neng?" Hendak Menyentuh sang istri namun tangannya di tepis Nuha langsung.


"A'a egois, A'a tidak sayang Nuha." Gumam Nuha semakin terisak.


"Justru karena A'a sayang sama kamu, A'a tidak mau kamu dekat-dekat dengan ustadz Farhat. A'a takut, kamu akan berpaling dari A'a."


"Astagfirullah al'azim... Teganya A'a bilang seperti itu? A'a meragukan kesetiaan Nuha?" Tanya Nuha sembari memegangi dadanya, sedikit kecewa.


"Maaf." Jawab Faqih pelan.


"Ya Allah, suami Nuha meragukan kesetiaan Nuha?" Gadis itu beranjak. Faqih pun langsung memegangi tangannya.


"Duduk neng, A'a tak mengizinkan mu pergi kemanapun."

__ADS_1


"Nuha mau ambil air A'..."


"Biar A'a yang mengambilnya. Jadi duduklah." Titah Faqih. Gadis itu pun kembali duduk dengan tangan memegangi perutnya yang masih sedikit terasa sakit.


'A'a kenapa seperti ini sih? Aku tahu dia cemburu, tapi apa harus over seperti ini?' Nuha masih terisak, Faqih pun sudah kembali dengan air di gelasnya. Tangan Nuha meraih pelan dia meminumnya, berharap rasa sakit di bagian perut bawah sebelah kanan itu segera mereda, karena sepertinya berpindah ke area pinggang.


Selepas meminum satu gelas air itu ia meletakkan gelasnya di dekat meja.


"Neng? Mau ya, berhenti mengajar. Di rumah saja." Faqih masih berusaha membujuk Nuha, karena baginya itu adalah pilihan baik untuknya lebih tenang, karena setelah ini dia pasti akan sering pulang telat demi mengirim beberapa barang.


Nuha yang mendengar itu hanya diam saja, dia masih menangis merasa tidak rela dengan keinginan Suaminya itu. Benar-benar memberatkan baginya yang sudah bersedia melakukan apapun demi dia.


"Sayang." Panggil Faqih tiba-tiba merasa tidak tega melihat sang istri.


"A'a, Nuha mau sendiri... A'a mau ke masjid kan? Hari ini Nuha mau libur terawih." Jawab Nuha memalingkan wajahnya. Faqih pun meraih dagu Nuha.


"A'a sayang sama Nuha." Ucapnya lembut.


"Jika A'a Sayang? tidak seperti ini A'... Kalau A'a seperti ini? A'a seperti memenjarakan Nuha." Gadis itu sudah benar-benar kecewa, dia bahkan menepis tangan Suaminya, membuat Faqih kembali meraih wajah Nuha dan meluncurkan kecupan di bibirnya.


Terasa sedikit penolakan dari Nuha yang memalingkan wajahnya namun A' Faqih tetap mencium bibir sang istri lembut, seraya merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


Tangan Nuha menyusup masuk mendorong wajah itu agar ciuman itu terlepas. Tatapan Faqih tertuju pada Nuha saat ini.


"Jangan seperti ini neng... Maafkan A'a ya." Masih berusaha mencium bibir sang istri, namun Nuha kembali berpaling dia tidak mau di cium oleh suaminya saat ini, akibat rasa kecewanya kepada A'a.


"A'a jahat." Nuha memukul dada sang suami yang berada di atasnya sembari menangis.


"Maaf sayang, A'a cuma takut kehilanganmu."


"A'a takut kehilangan Nuha, tapi apa harus A'a mengikat Nuha? Itu tidak bisa di bilang cinta. Itu posesif namanya, A'a melukai hati Nuha." Nuha masih menangis, Sementara Faqih semakin tidak tega melihat sang istri. Dia merasa menyesal sudah membuat Nuha menangis karena egonya itu.

__ADS_1


"iya... A'a tidak akan melarang mu. Neng tetap boleh mengajar di rumah Tafiz. Maafkan A'a ya." Kembali mendekati bibir sang istri, dan menciumnya dengan waktu yang lama, hingga membuat Faqih memutuskan untuk melakukan aktivitas intim mereka sekarang juga, sebelum adzan isya berkumandang.


__ADS_2