Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
duka di balik senyum


__ADS_3

Senja mulai datang, Nuha dan Umma masih sibuk mengolah makanan hasil belanja mereka tadi. Terdengar canda tawa tiada henti di sana, menghangatkan suasana dapur yang sebenarnya sudah hangat.


Nuha merebus teh bubuk yang ia bawa dari rumah A' Faqih. Dia sudah izin sih pada A'a hehehe kenapa pada A'a karena saat ia hendak meminta izin pada Umma Hasna langsung seperti di cegah.


Tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, yang dia tahu sang ibu mertua tengah tidak enak badan.


Kembali pada teh yang tengah di seduh Nuha dengan mendidihkannya. Dia benar-benar melakukan sesuai dengan apa yang di ajarkan Umma Hasna tanpa menguranginya sedikitpun.


"Dek, teh nya wangi sekali?" Tanya Umma. Aroma seduhan teh itu sudah menyeruak ke seluruh ruangan dapur, bercampur dengan aroma masakan Umma Rahma.


"Iya, ini teh Favorit Abi Rahmat. Tehnya memang enak Umma, makanya Nuha bawa supaya Umma dan Abi bisa mencoba."


"Wah... Kau pandai membuat teh sekarang ya?" Umma mengusap kepala Nuha merasa senang, sepertinya Teh Hasna benar-benar menyayangi Nuha. Buktinya baru satu Minggu dia sudah pandai membuat Teh, begitu pikir Rahma yang merasa senang dan lega.


Nuha tersenyum cerah. "Umma tahu? Umma Hasna memang sangat menyayangi Nuha, perhatian lagi. Bahkan Besok, Dede mau buat ayam bakar dong." Ucap Nuha semangat.


"Oh... Ya?"


"Iya... Dan akan buat sama-sama dengan Umma Hasna. Jadi tidak sabar deh makan ayam bakar buatan sendiri." Gadis itu membayangkan hal indah di dalam dapur A'a, dimana saat dirinya tengah membakar ayam bersama, pasti akan menyenangkan.


"Huuuu senangnya, Umma kok iri ya? Kamu jadi lebih dekat dengan Umma Hasna sekarang?" Memajukan bibirnya.


"Hehehe... Umma ini? Nanti nih kalau Nuha ke sini lagi akan Nuha buatkan sesuatu yang di ajarkan Umma Hasna. Beliau pandai masak loh Umma." Nuha memuji sang ibu mertua dengan senyum cerianya itu.


"Aaaaaa, berarti masakan Umma tidak enak dong."


"Enak... Enak... Tetap enak untuk Nuha kok Umma." Nuha mengecup pipi sang ibu.


"Huuuuh, kan? Yang begini nih yang bikin Umma berat melepas mu kembali ke Asemka."


"Hehehe, tidak boleh begitu dong Umma. Kan Nuha juga bakal sering datang ke sini."

__ADS_1


"Janji ya?"


"Iya Umma insyaAllah." Jawab Nuha seraya terkekeh, Rahma pun tersenyum senang. Dia pun sadar bahwa kekhawatirannya selama ini hanya pikiran buruknya saja, dia bersyukur Walaupun sikap Teh Hasna kepadanya masih belum baik setidaknya dia menerima Nuha. "ayo Umma lanjut masaknya, kalau kita ngobrol terus kapan selesainya?"


"Ahhh iya...Baiklah... Baiklah... Nona koki, yuk lanjut masak." Umma Rahma mengangkat sendok sayurnya, pertanda ia siap kembali bertempur dengan bahan-bahan masakan di hadapannya, sementara gadis di hadapannya tertawa renyah.


Di sana keduanya semakin asik mengolah makanan, tanpa menyadari jika Abi Irsyad tengah berdiri di bibir pintu dapur. Beliau senang, Nuha bahagia setelah menikah. Dia bahkan terlihat semakin dewasa sekarang, dan sudah tak lagi merengek tentang keinginannya itu. Walaupun sebenarnya Bi? Anak mu masih merasa sedih karena impiannya yang gagal itu. Namun itulah Nuha, putri yang kau didik untuk tetap berfikir positif serta mensyukuri apapun nikmat hidup yang akan ia jalani.


––––


Adzan Maghrib sudah berkumandang... Nuha masih duduk di ruang tamu menunggu A' Faqih yang belum juga pulang, seharusnya tidak sampai sesore ini sih mengingat dia juga sering pulang pergi ke rumah Tafiz. Apa urusan dengan temannya itu sampai membuatnya membatalkan puasa di luar ya? Pikiran Nuha penuh dengan A' Faqih. Hingga Rahma pun mendekati sang putri.


"Dek, batalkan dulu puasa mu." Mengulurkan segelas teh hangat buatan Nuha tadi.


"Terimakasih Umma." Nuha meraih gelas itu dan meminumnya setelah membaca doa berbuka puasa. "Alhamdulillah." Gumamnya.


"Enak tehnya dek, seger... Abi suka katanya." Tutur Umma Rahma.


"Iya Umma, memang seger dan wangi melatinya terasa." Jawab Nuha seraya tersenyum. Hingga sebuah deru motor pun terdengar. "Alhamdulillah A'a sudah pulang." Nuha beranjak dan langsung saja dia keluar dari dalam rumahnya.


Abi Irsyad sudah mulai beranjak setelah menikmati segelas besar teh yang baru habis separuhnya, dua gorengan bakwan, dan tiga butir kurma.


"Mau sholat mas?" Tanya Rahma.


"Iya dek. Faqih belum pulang juga?" Tanya Irsyad.


"Sudah baru saja itu," jawab Rahma yang mendengar suara salam dari luar. Irsyad tersenyum Beliau lantas menoleh ke arah pintu masuk area dapur itu. Di mana bayangan Faqih dan Nuha sudah mulai terlihat.


"Assalamualaikum Bi, Umma." Sapa Faqih mengecup punggung tangan keduanya.


"Walaikumsalam warahmatullah, batalkan dulu puasa mu. Abi dan Umma sholat duluan ya." Ucap ustadz Irsyad.

__ADS_1


"Iya Bi." Jawab Faqih dia pun menoleh ke arah Nuha seraya tersenyum lalu mengusap-usap kepala sang istri.


"A'a...? Cobain tehnya, kaya di rumah kan A'a kan?" Nuha menyerahkan segelas teh hangat, pada Faqih yang baru saja duduk di kursinya.


"Kamu sudah pintar rasanya persis kaya buatan Umma." Puji Faqih setelah menyeruputnya.


"Hehehe, kan tinggal nyeduh doang A'... A'a mau makan yang mana dulu?"


"Minum dulu saja neng, kita sholat dulu saja."


"Iya A'..." Jawab Nuha mengiyakan.


***


Selepas terawih ustadz Irsyad memberikan kajian singkat di masjid tempatnya menjadi imam.


Dengan bertemakan (Senyum yang menutupi sebuah duka.)


Dengan ucapan salam terlebih dahulu, ustadz Irsyad pun memulai tausiyahnya.


"Jama'ah yang di rahmati Allah, percaya tidak? Jika dalam kehidupan ini. Kita semua pasti akan di temukan dengan yang namanya kesusahan, ujian hidup ya? karena seperti itu lah fitrahnya kita hidup di dunia. Barang siapa yang ingin Allah kasih dia kebaikan? Maka Allah uji dulu. kenapa seperti itu? 'Man yuridilahu bihi khairan' yang artinya barang siapa yang ingin Allah beri dia kebaikan maka dia akan menempuh ujian terlebih dahulu."


Dalam tausiyah itu Faqih terdiam mendengarkan setiap isi dari kajian sang ayah mertuanya.


"Seperti dalam surah Al insyirah-ayat 5 dan 6 ya? Allah sudah tekankan bahwasannya dalam surah itu tertulis. 'fa inna ma'al-'usri yusrā'


'inna ma'al-'usri yusrā'


Yang artinya Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, dan sesungguhnya di balik kesusahan pasti ada kemudahan. Itu jelas sekali Allah kasih tahu kepada kita bahwa kita itu harus dengar dan mentaati. Supaya apa? Kita tidak banyak mengeluh, mengaduh boleh ya... Tapi jangan pernah mengeluh seolah apa? Allah tuh tidak sayang kita."


"Tidak boleh seperti itu ya. Solanya? Dari jaman Nabi Adam As, sampai jaman kita saat ini, Allah pasti akan menguji hamba-hambaNya. Untuk apa? Untuk menjadikan kita masuk ke dalam golongan yang mana? Manusia penyabar atau manusia yang akan menyalahkan Allah SWT. Maka dari itu bertawakal lah, dan percaya bahwa orang yang mampu melewati segala ujian yang Allah kasih walaupun harus menangis ya? Itu manusiawi, kita malah perlu menangis di setiap masalah yang ada. Tapi nangisnya? Mengadunya kepada siapa? Tentu saja kepada Allah, sang maha sebaik-baiknya pembuka jalan. Di depan kita boleh tersenyum ya, ceria gitu seolah-olah tidak punya masalah, tidak punya beban dalam hidup tapi ternyata menyimpan kepedihan di hati, yang hanya dia dan Tuhannya yang tahu. Suka nemu orang yang seperti itu kan ya? Itu lah orang yang memegang teguh kata 'sami'na wa atho'na' dimana dia beriman pada setiap ketentuan hidup yang di berikan Allah, dan dia taat akan aturan itu."

__ADS_1


Dalam tausyiah yang tak memakan waktu lama, Faqih tersenyum. Dia paham jika akan ada kebaikan setelah ini, nikmat hidup yang akan ia dapatkan jika dia terus berusaha untuk bersabar, dalam menangani kebimbangan hatinya saat ini.


Bersambung...


__ADS_2