Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
tidak ada yang perlu di salahkan.


__ADS_3

Dalam langkahnya yang lunglai Faqih keluar dari ruangan obgyn tersebut. Bersamaan dengan itu Farhat beranjak.


"Bagaimana?" Tanya Farhat.


"Istri ku?" Faqih menutup mulutnya sejenak menahan tangis, lalu menghela nafas. "Istri ku Mengalami peradangan usus buntu."


"Inalillah..." Jawab Farhat, langsung saja dia peluk tubuh sahabatnya itu. "Sabar ya kawan... Kau harus sabar."


"Dia harus di operasi, karena sudah lumayan parah. Aku takut sungguh aku takut terjadi apa-apa dengannya." Bahu Faqih mulai berguncang, menangis.


"Ustadzah Nuha pasti akan baik-baik saja. Kau percayalah dengan itu." Farhat menepuk-nepuk punggung sahabatnya. Faqih pun melepaskan pelukan itu.


"Farhat...? Aku ingin tanya, sudah berapa kali kau melihat istri ku kesakitan?"


"Lumayan sering sih. Cuma yang terlihat jelas saat kau pergi waktu itu, dan beberapa hari kemarin, juga tadi saat ustadzah baru saja tiba di dekat ruangan kantor mu." Jawab Farhat.


"Ya Allah... Bagaimana aku bisa tidak tahu kalau istri ku sakit." Faqih membodoh-bodohkan dirinya sendiri, berjalan pelan mendekati tembok dengan kedua tangan terkepal di dekat Keningnya menempel dengan tembok itu seraya terisak. 'jadi malam itu istri ku sakit, dan jangan-jangan tadi malam juga. Ya Allah bodohnya diriku.' batin Faqih membentur-benturkan kepalanya pelan.


"Tenangkan diri mu Faqih. Beristighfar lah, ini ujian kalian..."


"Tapi aku bersalah, aku sama sekali tidak peka. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku, sampai-sampai aku tidak tahu istri ku sakit."


"Tidak ada yang patut di salahkan di sini, jadi berhentilah menyalahkan diri mu sendiri. Sekarang... sebaiknya kau hubungi keluarganya. Abi dan Ummanya harus tahu." Titah Farhat.


"Ya Allah." Faqih masih saja terisak. Ia pun menghela nafas panjang, dan menghembuskannya.


Hingga sebuah getaran ponsel membuatnya terkesiap. Ia melihat nama Rumi di layar. Faqih pun menerimanya.


"Assalamualaikum." Jawab Faqih serak.


"Walaikumsalam A'... Maaf, Apa ada masalah A'? Suara A'a terdengar tidak baik."

__ADS_1


"Nuha... Nuha sakit, dia terkena usus buntu. Dan saat ini hendak operasi." Jawab Faqih.


"Innalilah..." Gumam Rumi yang mendadak merasa lemas. "Apa Abi Irsyad sudah di beri tahu?" Tanya Rumi.


"Belum, aku belum memberitahukan kepada siapapun. Karena baru saja aku keluar dari ruangan dokter kandungan, setelah memeriksa Nuha."


"Ya Allah... Kalau begitu saya saja yang memberitahukannya kepada Abi dan Umma."


"Tidak usah Rumi. Biar Aku saja.... Aku tidak enak jika Abi Irsyad tahu berita ini dari mu."


"Baiklah kalau begitu A'... Yang sabar ya A' kita berdoa saja. Semoga Dede baik-baik saja, mungkin siang ini juga aku jalan ke Jakarta."


"Iya Rumi.... Hati-hati di jalan."


"Iya A'... Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab A' Faqih seraya mematikan ponselnya. Hingga akhirnya dia pun menekan tombol call pada nomor ustadz Irsyad, demi mengabarkan keadaan Nuha saat ini.


Di rumah ustadz Irsyad....


Ustadz meletakkan ponselnya di atas meja posisi beliau sedang berdiri saat ini hingga kedua tangannya bertopang pada meja tersebut dengan tubuh sedikit tercondong. Beliau pun beristighfar berkali-kali lalu berjalan memasuki ruangan dapur, tempat di mana Rahma tengah memasak hidangan berbuka.


"Dek Rahma." Panggil beliau dari pintu. Rahma pun menoleh.


"Iya mas?"


"Matikan dulu api kompornya sayang... Dan kemarilah." Ustadz Irsyad duduk di kursi meja makannya. Sementara Rahma langsung menuruti perintah sang suami dan langsung saja duduk di hadapannya.


"Ada apa mas?" Tanya Rahma.


"Ada kabar yang tidak baik sayang."

__ADS_1


"Kabar tidak baik? Apa mas? Maaf... Sedari tadi perasaan Rahma tidak enak. Rahma keingat Nuha, niatnya nanti setelah berbuka mau ajakin mas ke rumah ustadz Rahmat." Tutur Rahma yang tiba-tiba saja merasa sedih, terlebih mata ustadz juga sepertinya menggenang. Beliau mengusap wajah Rahma, terdiam sejenak. "Mas cepat jawab, kabar tidak mengenakan apa?" Sudah hampir menangis saja Rahma.


"Putri kita sakit." Jawabnya. Bulir bening pun menetes.


"Sa...sakit? Sakit apa?" Tanya Rahma.


"Terjadi peradangan usus buntu. Dan Nuha akan menjalankan operasi saat ini juga."


"Ya Allah kenapa bisa...? Kalau begitu tunggu apa lagi Kita kerumah sakit mas... Kita ke sana sekarang." Isak Rahma mengajak Suaminya.


"Ssssttt... Iya... Sayang, kita ke rumah sakit. Namun kamu harus tenang dulu. insyaAllah tidak akan terjadi apa-apa."


"Mas, usus buntu itu bukan penyakit yang bisa kita abaikan, itu bisa membahayakan nyawa Nuha mas!!"


"Iya mas Tahu. Tapi kita harus tenang dek."


"Sekarang Rahma mau tanya? Sudah seberapa parah?? Belum sempat pecah kan? Iya kan mas?"


"Alhamdulillahnya tidak kata Faqih. Cuman sudah sepanjang delapan Senti dan sudah mengeluarkan nanah juga."


"Ya Allah, kenapa bisa sih...? Memang Faqih tidak memperhatikan jika istrinya sakit? Itu pasti sudah sakit sekali mas."


"Hei... Istighfar sayang, jangan menyalahkan siapapun. Tidak baik... Ini ujian untuk kita, tidak ada yang berhak di salahkan."


"Hiks... Ya sudah sekarang kita ke rumah sakit mas... Ayo mas Irsyad." Menarik-narik tangan sang suami.


"Iya... Yuk, kita siap-siap." Ustadz Irsyad beranjak, mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit tempat Nuha menjalani operasi pengangkatan usus buntu tersebut.


Sama halnya dengan Ustadz Irsyad, Faqih pun mengabari kedua orangtuanya tentang kondisi Nuha. Hingga ustadz Rahmat dan juga sang istri pun bergegas menuju rumah sakit.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2