Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
Praha di dapur


__ADS_3

Pagi yang begitu cepat sudah menyapa mereka yang baru saja keluar dari tandas, setelah mandi junub.


Dengan cepat ia mengeringkan rambutnya, sebelum kembali mengenakan hijab.


Karena di rumah itu Nuha tetap mengenakan hijab saat keluar dari kamar A' Faqih. Membuat Faqih mengerutkan kening ketika tangan Nuha Mulai meraih hijabnya dan menutup rambutnya.


"Neng, rambut mu masih basah loh... Sebaiknya nanti saja nunggu kering."


"Nuha kan mau bantu Umma menyiapkan hidangan sahur." Jawab Nuha.


"Iya A'a tahu. Tapi kenapa neng masih memakai hijab di rumah A'a sih?"


"ada Abi," jawab Nuha.


Ya... Dia tetap menutup auratnya di hadapan ayah mertua. Alasannya bukan karena di haramkan, tapi karena belum pede.


"Neng, bukankah seorang menantu membuka auratnya sedikit di hadapan Ayah mertua itu sah-sah saja ya? Karena hubungan mu dengan Abi Rahmat sekarang kan bisa di sebut Muabbad (mahram yang bersifat abadi), karena adanya Nasab."


"Iya A', cuman Nuha masih belum terbiasa." Jawab Nuha. 'apa lagi setiap pagi rambut ku basah, tambah malu lah.'


"Ya tapi tidak baik menutup kepala saat rambut sedang basah neng."


"Justru karena basah A'..." Jawab Nuha. Faqih pun terdiam. Lalu dia mulai faham hingga terbitlah senyum tipis di bibirnya.


"Memang kenapa kalau basah rambutnya?"


"Tidak apa, memang hanya Nuha yang paham. Sudah lah Nuha keluar dulu. Sudah jam tiga. Umma pasti sudah di dapur." Tutur Nuha, gadis itu pun langsung beranjak. Sementara A' Faqih hanya geleng-geleng kepala seraya terkekeh gemas. Dia paham sih maksudnya, mungkin Nuha malu saat keluar dengan rambut yang basah. Sudah pasti ketahuan malam harinya habis apa? Haduh kan hal wajar ya A' namanya juga pengantin baru. Tapi ya sudah lah... Biarkan gadis itu bertingkah sesuai kemauannya.


––––


Di dapur yang lumayan luas, Nuha membantu ibu mertuanya.


Dia mendapat tugas membuat teh manis, lumayan mudah bukan? Nuha pun meraih bungkusan teh bubuk lalu meletakkannya kedalam teko.


Baru saja gadis itu hendak mengangkat termos untuk menuangkan air panas, Umma Hasna sudah menahannya.


"Mau buat apa air itu?" Tanya beliau, tatapnya sudah membidik kearah termos di tangan Nuha.


"Buat teh Umma."


"Kamu kemarin sudah Umma kasih tahu kan? Kalau membuat teh itu di rebus. bukan hanya di seduh saja."

__ADS_1


"Ahh... Iya maaf Umma, Nuha lupa." Kembali ia keluarkan bubuk teh dari teko tersebut lalu meraih panci perebus air, yang akan ia gunakan untuk merebus teh tersebut.


"Di ingat-ingat ya, kebiasaan di rumah mu jangan di bawa kesini, jangan samakan teh bubuk dengan teh celup." Tuturnya, beliau masih saja sulit untuk membuka sedikit saja hatinya. Terlebih wajah Nuha sangat mirip dengan Rahma, entahlah memang dasar hati jika sudah tidak suka dari awal mau di apakan lagi?


"iya Umma." jawab Nuha, yang sudah menyalakan kompornya.


Sembari menunggu air itu mendidih Nuha mendekati ibu mertuanya lagi.


"Ada lagi Umma?" Tanya Nuha.


"Siapkan saja gelas untuk tehnya, dan piring-piring." Titah beliau tanpa ekspresi, karena beliau masih sibuk menumis bumbu.


Seraya menyunggingkan senyum Nuha mengerjakan itu semua. Tidak ada sepatah katapun keluar lagi dari ke-duanya. Hingga membuat Nuha sedikit kikuk.


'jadi rindu Umma Rahma. Biasanya kami akan mengobrol dan bercanda. Di sini, Umma Hasna banyak diam, sampai-sampai aku bingung ingin melakukan apa lagi.' batin Nuha yang tengah mengelap gelas yang sedikit basah itu satu persatu.


"Neng...! Itu airnya mendidih." Umma Hasna menyeru.


"Ah iya Umma," buru-buru Nuha meletakkan gelasnya di atas meja, namun karena terlalu di pinggir meja, gelas itu pun terjatuh akibat tersangkut hijab Nuha juga.


Praaaaaang...!


"Astagfirullah." Nuha semakin gugup, ia pun bingung ingin menyentuh yang mana dulu Sementara didihan air teh itu sudah meninggi sampai keluar dari pancinya.


"Maaf Umma, Nuha tidak sengaja." Sedikit takut karena sudah memecahkan gelas di rumah ini, mata Nuha pun mengembun.


"Makanya, kalau mengerjakan apa-apa itu harus dengan keikhlasan. Jadi tidak seperti ini kan?" Hunus Umma Hasna pada gadis yang perlahan mulai berjongkok, dia meraih satu persatu pecahan gelas itu, sembari menggerak-gerakkan bola matanya agar tidak ada tetesan air mata yang luar. Hingga sebuah tangan Menyentuh tangan Nuha.


'A'a?' batin Nuha saat mengangkat kepalanya, dia ingin menangis saat itu juga, namun sekuat tenaga ditahannya. Dan hanya menyunggingkan senyum.


"Umma, kan Nuha tidak sengaja." Tutur Faqih membantu membereskan pecahan gelas itu.


"Terserah lah... sudah bereskan saja pecahan gelas itu dan kembali saja ke kamar. Tidak usah membantu Umma," Terdengar nada bicara yang sedikit kesal menghakimi. Nuha pun menunduk, ia benar-benar merasa bersalah. Sementara Faqih hanya menghela nafas.


"Neng, kamu ke kamar dulu ya." Titah A' Faqih.


"Tapi Umma siapa yang bantu?" Gumam Nuha sangat lirih.


"Biar A'a saja." Jawab Faqih mengusap mata istrinya yang basah itu, terlihat jelas mata Nuha mulai menganak walau mau di tahan seperti apapun hal itu tetap terlihat. Nuha menggeleng pelan.


"Jangan A'a, Nuha saja. Ini kewajiban Nuha."

__ADS_1


"Faqih...? Nuha...? Biar Abi saja yang membatu Umma menyiapkan hidangan sahur ya. Kalian di kamar dulu." Titah Abi Rahmat.


"Iya Bi." Jawab Faqih yang langsung beranjak, seraya memegangi kedua tangan Nuha. "Yuk neng." Ajak A' Faqih.


Keduanya pun berjalan keluar dari dapur, sesekali Nuha menoleh ke belakang. Sungguh dia merasa tidak enak sekali pada Umma Hasna saat ini, bahkan Nuha sempat ingin kembali membantu. Namun tangan Faqih yang melingkar di bahu Nuha seolah tak memberinya izin untuk mendekat lagi. Hingga langkah kaki mereka terus terayun menaiki anak tangga.


Masih di dapur itu Umma Hasna masih terlihat kesal, namun dia juga tak berani melirik ke arah sang suami, yang sudah berdiri di sebelahnya sembari menatap lurus kearah istrinya.


"Harga gelas berapa Umma?" Tanya Abi Rahmat. Kedua tangannya sudah menyilang di depan dada. Sementara Umma Hasna hanya diam saja.


Abi Rahmat pun mematikan kompor yang ada hadapan sang istri. "Lebih berharga mana? Gelas itu atau hati menantu mu?" Tuturnya kemudian, Umma Hasna pun menoleh.


"Bi...? Umma hanya ingin mengajarkan dia, supaya tidak pecicilan lagi. bukan masalah harga gelasnya."


"Mengajarkan bisa dengan cara baik-baik kan? lagi pula bagaimana Nuha tidak panik, Sementara kamunya ngasih komando dengan nada seperti itu?" Potong Abi Rahmat, nadanya sedikit meninggi.


"A'a kok gitu sih?"


"Gitu bagaimana?"


"A'a sadar? Kalau sudah menyakiti hati Hasna." Ucap Umma Hasna tiba-tiba.


"Apa yang membuat A'a melukai mu?"


"Kata-kata Abi, karena Abi terlalu membela Nuha demi bisa menjaga hubungan baik antara Abi dan ustadz Irsyad. Tanpa peduli kalau Hasna juga bisa terluka karena sikap Abi itu." Umma Hasna menitikkan air matanya, karena hal ini dia malah justru jadi semakin tidak menyukai Nuha.


"Jadi Umma merasa seperti itu?"


"Iya... Abi tahu seberapa besar hati Hasna berusaha menerima menantu pilihan Faqih? Umma hanya berusaha berbicara sesuai apa yang ada di hati Umma, apa itu salah?"


Abi Rahmat geleng-geleng Kepala Seraya beristighfar lirih.


"Jadi Maunya Umma bagaimana sekarang? Apa Umma mau kembali ke Tasikmalaya?"


Deg...! Mendengar itu Umma merasa terhunus belati di dadanya.


"Karena Umma semakin pandai menjawab ucapan Abi? Itu sudah tanda bahwa Umma tidak bisa lagi menghargai Abi? Dan ingin kembali pada Abah di Tasik?" Ustadz Rahmat masih menahan geramnya karena di rumah masih ada Nuha dan Faqih.


"Se-salah itukah Hasna? Abi benar-benar ya. Membela menantu sampai tega memarahi Hasna? Dan bilang ingin mengembalikan Hasna? Abi sadar itu sama saja talak kan?!" Taaaaakkk Umma Hasna meletakkan sendok sayur itu di atas kompor dengan sedikit membanting, lalu berjalan cepat keluar dari dapur itu.


Ustadz Rahmat pun beristighfar, beliau tidak tahu lagi ingin berucap seperti apa pada istrinya itu.

__ADS_1


Beliau pun memutuskan melanjutkan masakan di atas kompor itu, sembari sesekali di cicipi.


__ADS_2