
Di dalam kamar...
Terlihat kamar Debby lumayan luas dan bersih, dengan barang-barang yang tertata rapi.
Lumayan nyaman sih, Shafa pun duduk di atas ranjang milik gadis yang tengah sibuk menata buku-bukunya yang sedikit berserakan di atas ranjang.
"Maaf berantakan ya teh?" Tutur Debby.
"Tidak apa Deb, ini sudah rapi kok." Jawab Shafa. Hingga sayub-sayub terdengar suara adzan ashar membuatnya tersenyum.
"Alhamdulillah... Deb, aku mau ambil air wudhu, boleh aku Solat di sini?"
"Boleh sekali Teh... Kamar ku tidak najis kok... Jadi teteh bisa sholat dengan nyaman, nanti kita sholat sama-sama ya."
"A...apa?" Shafa terkejut saat Debby berbicara seperti itu.
"Hehehe... Sini deh aku bisikin" Debby mendekati telinga Shafa. "Sebenarnya selama ini aku sholat lima waktu secara diam-diam, dan hari ini pun aku puasa. Sudah ke delapan harinya." Bisik Debby. Seketika mata Shafa mengembun.
"MashaAllah... Allahuakbar... Kau sholat? Puasa?" Seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Debby pun mengangguk.
"Lihat ini deh." Gadis itu membuka lemari pakaiannya. Dan menunjukkan kertas yang tertempel di pintu lemari.
"Ini bacaan sholat yang sengaja ku tempel di sini, supaya aku mudah menghafalkannya."
"Allahuakbar..." Shafa menutup mulutnya tidak bisa berucap apa-apa lagi saking terharunya.
"Dan ini....?" Debby mengeluarkan, mukena, Al Qur'an, dan juga tasbih kecil miliknya. "Aku punya ini."
Dengan gemetaran Shafa menerima apa yang di sodorkan Debby kepadanya, hingga Bulir bening pun menetes dari netranya.
"Su...sungguh aku speechless, aku tidak bisa ngomong apa-apa Deb, MashaAllah..." Ia pun memeluk tubuh gadis itu. Sementara Debby merasa senang.
"Teh apa aku sudah bisa dikatakan seorang muslimah?" Tanya Debby dalam pelukan Shafa. Gadis itu pun Melepaskannya.
"Kau belum resmi jadi seorang muslim jika belum bersyahadat sahabat ku." Jawab Shafa lembut.
"Bagaimana caranya agar aku bisa bersyahadat?" Tanya Debby.
"Ya Allah, kau pegang tangan ku? Aku benar-benar gemetaran Debby, gara-gara mendengar itu." Shafa Menyentuh tangan Debby. "Dingin sekali tangan ku kan?"
Keduanya terkekeh. Entahlah Shafa benar-benar bahagia mendengar itu dari bibir seorang non-muslim.
"Oh iya, kau yakin ingin bersyahadat? Syaratnya hanya ke teguh hati mu, serta keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan percaya bahwa Rosulullah adalah utusan Allah, kau harus berikrar itu di depan para saksi." Tutur Shafa.
"Ya Allah... Hati ku sudah yakin teh, tapi?" Gadis itu murung.
__ADS_1
"Tapi kenapa?" Tanya Shafa.
"tapi aku tidak yakin akan mendapat persetujuan dari keluarga ku. Apalagi ayah ku seorang pendeta. Ibu ku seorang penyanyi Gereja. Aku takut Teh." Debby menitikkan air matanya.
"Kau percaya Tuhan akan memberikan jalan? Karena jika kau sudah yakin Allah pasti akan membantu mu." Shafa mengusap air mata Debby lembut. Gadis itu pun tersenyum.
"Teh Shafa bersedia? jadi teman sekaligus saksi perjuangan ku, saat menjadi seorang mualaf?" Tanya Debby mengangkat jari kelingkingnya. Shafa tersenyum lalu mengangguk cepat.
"Mau..." Jawabnya yang langsung mengaitkan jari kelingkingnya juga ke jari Debby. Keduanya pun terkekeh lalu kembali saling memeluk. "Ku doakan kau mampu sahabat ku."
"Hehehe... Aamiin,"
Beberapa menit berlalu, keduanya pun menjalani sholat di dalam kamar itu tanpa sepengetahuan keluarga Debby di luar. Shafa bahkan membimbingnya membaca Al Qur'an dengan benar, yang pasti dengan suara yang sangat lirih.
Mengajarkan pula hafalan surat-surat pendek.
Hingga waktu sudah mulai mendekati waktu berbuka, keduanya pun memutuskan untuk keluar sebelum waktu magrib tiba guna membatalkan puasa mereka berdua di sana.
Di sisi lain Rumi tersenyum saat tidak sengaja melihat postingan Debby, dengan foto Shafa dan Debby itu sendiri di sebuah restoran siap saji.
"Alhamdulillah... Mereka akrab, sempat khawatir sih Shafa akan kurang nyaman. Tapi setelah mendapatkan pesan singkat darinya dan melihat postingan ini aku jadi lega." Rumi kembali meletakkan ponselnya, lalu bersiap untuk menjalankan ibadah shalat Maghrib.
***
Di sebuah meja makan, keluarga ustadz Rahmat sudah berkumpul. Ada banyak hidangan lezat di atas meja.
Diantaranya yaitu, sayur sop Iga sapi, rendang daging, orek tempe, sambal, beberapa gorengan, dan juga kolak pisang.
Ada beberapa buah juga di sana sebagai pendamping makanan mereka.
Keluarga itu biasanya menyantap ta'jil nya lebih dulu, sama dengan keluarga ustadz Irsyad. Setelah membatalkan puasa mereka langsung melaksanakan sholat magrib berjamaah. Barulah mereka menyantap hidangan berat itu, terkadang juga mereka menyantapnya sebagai makan malam mereka setelah sholat tarawih, jika di rasa mereka masih kenyang saat menyantap ta'jil tadi.
Nuha meraih piring milik suaminya setelah piring itu kosong di santap A' Faqih lalu membawanya ke tempat cuci piring.
Di meja itu Umma Hasna dan Abi Rahmat masih menikmati buah segar di hadapan mereka.
"Abi, hari Jum'at besok Faqih tidak ikut kajian ya."
"Kenapa?"
"Iya, soalnya ada urusan bareng teman ke Bogor." Tutur Faqih. Mendengar itu Nuha menoleh sedikit.
'A'a mau ke Bogor?' (Nuha)
"Nuha ikut?" Tanya Abi Rahmat.
__ADS_1
"Tidak Bi," jawab Faqih, mendengar itu Nuha kembali menoleh ke belakang sedikit.
'A'a ada urusan apa ke Bogor ya? Kenapa dia tidak bicara apapun dengan ku tadi?' masih bergumam dalam hati dengan tangan masih bekerja membersihkan piring kotor itu.
Faqih menoleh ke arah Nuha. "Neng... Sini dulu." Titah A' Faqih. Nuha pun mematikan kran airnya lalu berjalan mendekati kursinya lagi.
"Tidak apa ya A'a tinggal sebentar?"
'tidak apa sih, tapi kalau di rumah ini sendirian tanpa A'a rasanya seperti asing.' batin Nuha. Ia pun tersenyum lalu mengangguk.
"Memang ada urusan apa sih? Sampai Nuha tidak kau ajak?" Tanya Abi Rahmat.
"Ada lah Bi, urusan dengan sesama guru pengajar di rumah Tafiz, dan itu laki-laki semua, jadi tidak enak jika membawa istri." Faqih pun merasa bersalah sudah berbohong pada keluarganya, terlebih pada Nuha. 'maafkan A'a ya sayang.' batin Faqih kemudian.
"Begitu ya..." Abi Rahmat manggut-manggut.
"Emmmm, niatnya Nuha mau Faqih antar dulu ke rumah Abi Irsyad dulu, kali saja Faqih pulang sampai malam. Dan Nuha jenuh jadi lebih baik di rumah Umma Rahma biar ada temannya." Jelas Faqih. Sedikit kelegaan di hati Nuha saat Faqih bilang hendak membawanya pulang dulu ke rumahnya. Setidaknya dia jadi jauh lebih nyaman. Dan lagi Nuha pun sudah rindu dengan Ummanya itu.
"Kenapa musti di antar ke Bekasi sih?" Tanya Umma Hasna.
"Biar ada teman saja Umma." Jawab Faqih.
"Memang Umma Hasna tidak bisa di jadikan teman? Lagi pula Jum'at besok Umma kan kebagian giliran menyediakan tempat untuk pengajian ibu-ibu majelis. Umma butuh bantuan Nuha untuk masak." Tutur Umma Hasna.
"Umma biasanya pakai jasa katering kalau ada acara pengajian di rumah kan?" Kata Abi Rahmat.
"Khusus besok, Umma mau masak sendiri dengan Nuha, sekalian mengenalkan Nuha dengan para ibu-ibu majelis?" Tuturnya.
"Tapi Umma." Faqih hendak berbicara namun tertahan saat tangan Nuha meraihnya, ia menggeleng pelan, lalu menoleh ke arah Umma Hasna seraya tersenyum.
"Tidak apa Umma, Nuha di rumah ini saja. Bantuin Umma masak." Tersenyum.
"Nah, itu baru anak baik. Lagian apa bedanya di sini sama rumah di Bekasi. Sama-sama rumah mu juga kan?" Ucap Umma Hasna.
"Iya Umma." Tersenyum ceria, Nuha masih merasa saja, jika dia di cintai sekali oleh Umma Hasna, sampai-sampai larangan itu ia anggap sebagai perwujudan jika dia bangga dengan sang menantu, dan bahkan ingin mengenalnya kepada teman-teman pengajian. Sungguh itu mengharukan sekali bagi Nuha.
"Neng, serius mau di sini saja? Katanya kangen sama Umma Rahma?" Tanya Faqih.
"Tidak apa A', kan Umma Hasna butuh bantuan Nuha. Pekan besok saja menginap di rumah Abi Irsyad ya?"
"Itu baru menantu Umma..." jawab Umma Hasna tanpa melihat ke arah ustadz Rahmat yang tengah geleng-geleng kepala.
Sementara gadis itu masih dengan polosnya, menyunggingkan senyum, senang.
Bersambung...
__ADS_1