Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
kegigihan A' Faqih


__ADS_3

Mentari semakin meninggi, pertanda waktu sudah tiba pada pertengahan hari.


Seruan salam dari balik pintu saat A'a dan Abi baru saja pulang dari masjid membawa Nuha berlari kecil menghampiri sang suami yang sudah tersenyum tipis di belakang Abi Irsyad yang tengah menggoda keduanya seraya berjalan masuk meninggalkan anak dan menantunya itu.


Di lihatnya Nuha sudah kembali ceria, padahal saat keluar dari tandas tadi gadis itu habis menangis. Walaupun Nuha bicara tidak...tidak... Namun A' Faqih bukan tipe suami yang tak peka, dia selalu tahu apa yang sedang di rasa sang istri.


Kembali kepada Nuha yang lantas meraih tangan A' Faqih dan mengecupnya, ia pun membawakan sajadah yang tadi menggantung di bahu sang suami.


Seperti itu lah Nuha, melayani suami sepenuh hati. Seperti Umma Rahma yang selalu melakukan itu pada Abi Irsyad jika Umma tak sibuk sih, karena bakti pada suami adalah ibadah paling mudah dalam hidup ini, di samping itu pahalanya pun lebih tinggi dari apapun. Jadi melayani suami semaksimal mungkin sama sekali tak akan merugikan mu.


"Neng, jadi ke fresh market?" Tanya Faqih. Keduanya berjalan menaiki anak tangga.


"Iya, A'... A'a nanti ke rumah Tafiz jam berapa?" Tanya Nuha.


"Sebentar lagi sih."


"Ya sudah Nuha jalan nunggu A'a saja."


"Iya neng." Jawab A'a seraya tersenyum.


Memang, A'a tetap berangkat hari ini ke rumah Tafiz. Walaupun jaraknya jadi lebih jauh maka dari itu A'a berangkat lebih awal. Setelah bersiap Nuha kembali membatu sang suami mengenakan jaketnya, terlihat wajah itu benar-benar sudah tidak sesedih tadi. Faqih meraih wajah Nuha.


"Neng, di sini saja ya. Saat A'a ke Bogor nanti."


"Loh kenapa A'? Nuha sudah bilang kalau Nuha mau bantu Umma kan?"


"Iya sih, cuma A'a takut pulang malam, nanti kamu sama siapa?"


"Tidak masalah A'... Kan masih ada Umma Hasna. A'a tidak perlu takut Nuha akan sendirian."


"Iya, tapi?"


"Berangkat saja A'... Nuha senang kok membantu Umma."


"Begitu ya?" Tanya Faqih agak ragu. Namun dia tidak bisa mengatakan bahwa ada ketidakcocokan ibunya kepada Nuha yang justru membuatnya lebih khawatir.


Tapi karena masih adanya sebuah kepercayaan, bahwa Umma tetaplah orang yang baik A'a pun mengiyakan. Tidak baik juga bukan punya pikiran buruk terhadap orang lain, lebih-lebih pada ibunya sendiri.

__ADS_1


***


Saat ini A' Faqih baru saja tiba di rumah Tafiz, butuh waktu satu jam lebih untuknya sampai. Ia pun sadar ternyata selama ini Nuha berjalan setiap hari ke rumah Tafiz lumayan jauh juga ya?


Sementara dirinya saja sedikit merasa lelah.


Tapi herannya gadis itu tetap ceria, dan datang tepat waktu setiap harinya.


Kraaakkk, A' Faqih melepas pengait helm miliknya, dengan posisi masih duduk di atas motor. Bersamaan dengan itu motor Harun baru saja tiba, beliau pun berhenti di sebelah A' Faqih.


"Assalamualaikum A'...?" Harun menyapa dengan senyuman hangat, lalu mengulurkan tangannya. Mereka masih sama-sama duduk di atas motor.


"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab A' Faqih.


"Tumben baru datang A'...?" Tanya beliau.


"Iya, saya berangkat dari Bekasi soalnya." Jawab Faqih, pria itu membulatkan bibirnya seraya manggut-manggut.


"Oh iya...? Kurma hari ini datang A' bagaimana A'a mau ambil sekarang?"


"Wah... Benarkah? Boleh deh boleh. Tapi stok sedikit dulu ya. Kamu bawa sekalian kan?"


"Alhamdulillah... Sini deh ku bayar kontan."


"Alhamdulillah, ini A'...." Harun mengeluarkan kantong keresek di bagian depan motornya. "Niatnya A'a mau jual ke mana?"


"Coba ku tawarkan ke teman-teman ku dulu... Mereka kan dosen tuh, dan mau coba menitip ke koprasi juga."


"Wah... Semoga laris manis ya A'..."


"Aamiin..."


"Jujur ya A' saya salut loh... A'a ini sebenarnya dari keluarga mampu, tapi bisa A'a tidak malu berjualan kurma dan madu."


"Saya tanya pada mu, kau malu tidak berjualan seperti ini?"


"Tidak A'...? Kan kebutuhan, sudah gitu halal pula."

__ADS_1


"Nah itu kamu tahu, lagi pula? Untuk apa kita banyak uang bisa beli ini, beli itu tapi hasil minta orang tua kan?"


"Iya A'a benar."


"gitu...ya sudah ku bawa ya. Nanti uangnya ku kasihkan, karena aku harus ke ATM dulu."


"Iya A' gampang itu mas..." Harun tersenyum, bersamaan dengan A' Faqih yang turut tersenyum. Beliau lantas turun dari motornya dengan kantong keresek lumayan besar di tangan berjalan meninggalkan parkiran setelah memberi salam lebih dulu pada Harun.


Di dalam ruangan beliau...


Faqih mencoba menghubungi salah satu temannya, guna menawarkan kurma miliknya. Terlihat senyum tersungging di sana, sepertinya salah satu orang yang dia tawarkan berkenan. Beliau pun mencatat nama dan banyaknya yang di pesan, setelah itu beralih lagi ke penelfon yang lain.


"Berapa? Alhamdulillah saya catat pesanan antum ya." Faqih bersemangat. Dia kembali mencatatnya. "Iya, nanti sehabis mengajar saya antar ya... Terimakasih banyak." Tuturnya dengan ponsel masih menempel di telinga.


Selang beberapa menit beliau membaca ulang listnya Alhamdulillah, sudah lebih dari tiga puluh pack di pesan orang. Rasa bahagia seolah tak bisa di gambarkan, pria itu lebih bersemangat rasanya, seolah jalan seperti di mudahkan saat ini.


Faqih pun menutup buku catatannya, dan memutuskan untuk mengajar lebih dulu di kelasnya.


Dalam posisi mengajar itu, handphone beliau beberapa kali bergetar. Tanda pesan chat banyak yang masuk, beliau mengabaikan sesaat karena beliau juga harus fokus me-murojaah hafal para Hafizh di hadapannya.


Hingga rampung pada pekerjaannya itu. Faqih pun membuka isi pesan dari teman-temannya yang beliau tawarkan lewat pesan singkat. ada yang menolak, ada yang mengiyakan, ada pula yang menunda pesanannya di undur jadi Minggu depan.


Namun apapun itu beliau tetap mensyukurinya.


Faqih kembali menekan tombol keluar dari menu chat itu, dan di lihatnya foto Nuha di layar utama.


'A'a semangat karena kamu neng, doakan A'a rezekinya lancar terus ya?' batin Faqih seraya tersenyum dengan ibu jari mengusap layar ponsel tersebut, baru setelahnya ponsel itu kembali di masukannya ke dalam saku koko dan kembali berjalan menuju ruangan, tempatnya beristirahat.


Dan saat jam pulang, Faqih sempatkan mengirim pesan jika dirinya akan pulang telat pada Nuha, karena adanya urusan lain dengan teman sesama hafizh, sementara sang istri di sebrang hanya mengiyakan.


Dalam beberapa jam itu, A'a ke sana kemari mengantarkan pesanan kurma milik teman-temannya. Terlihat respon mereka sangat baik, bahkan mendukung sekali. Tidak ada satu pun yang mengejek beliau yang lulusan Kairo itu malah justru menjadi pedagang kurma.


Selain mengantar beliau juga menawarkan madu jika saja mereka ingin pesan. Ada sih beberapa yang berkenan hingga senyum dan ucapan syukur terus tercurahkan dari bibir A' Faqih.


Waktu sudah semakin senja, kurma miliknya hanya tinggal tujuh belas pack. Sungguh penjualan yang luar biasa bukan untuk awalan? Faqih menyimpan kurma sisa itu di jok motornya, dan melanjutkan laju motornya kembali ke Bekasi menuju rumah orang tua Nuha.


Catatan, prinsip hidup Faqih Al Malik:

__ADS_1


Harta bisa saja kita dapatkan dari orang tua, kerabat, atau bahkan warisan. Namun sesungguhnya harta yang paling baik justru bersumber dari jerih payah sendiri. Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahih-nya, dari al-Miqdam R.a, Rasulullah Saw bersabda;


"Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud As memakan panganan dari jerih payahnya sendiri." (HR. Bukhari No: 2072).


__ADS_2