
Sudah menjadi adat keluarga Ulum, jika di hari pertama IdulFitri selepas solat Ied. Dan ketika ustadz Irsyad tidak mudik ke Magelang atau mungkin menggantinya dengan hari esok maka keluaga Ulum akan datang untuk bersilaturahmi dengan keluarga ustadz Irsyad.
Sebuah senyum hangat tersungging di bibir Irsyad, ketika Ulum dan Aida mengucap salam di depan pintu.
"Taqabbalallahu Minna Waminkum" Ulum menjabat tangan ustadz Irsyad,
Hingga di peluknya Fathul Qulum erat.
"minna waminkum taqobbal ya karim." Jawab ustadz Irsyad, seraya mengusap-usap punggung Ulum senang. "MashaAllah, kepala madrasah kita." Terkekeh Keduanya. lebih-lebih Ulum yang menjadi malu-malu, karena baru tiga bulan ini dia menjabat sebagai kepala sekolah di madrasah tempatnya mengajar.
Buah dari keikhlasan dan kegigihan Ulum. Serta sifat yang selalu mengutamakan kebutuhan anak-anak dan istrinya, di tambah sikap Ulum yang tidak pernah libur berinfaq secara diam-diam membuat rezeki Ulum semakin mendekati masa tua semakin mengalir deras.
"Alhamdulillah ustadz, doa ustadz itu."
"Kok doa, saya? Jelas doa istri dan anak-anak mu itu."
"Hehe... iya ustadz." Jawab Ulum.
"Ayo masuk... Ulum, Aida." Titah beliau, Irsyad melihat Safa sudah tumbuh semakin dewasa. Membuatnya geleng-geleng kepala. "MashaAllah keponakan pakde, semakin cantik saja.... Sudah ada yang melamar belum ini?" Tanya Irsyad menggoda, saat Safa sedang mengecup punggung tangan ustadz Irsyad. Sementara Safa hanya tersenyum malu.
"Belum ada yang sampai ke saya ustadz." Ulum menjawab.
"Owalah begitu ya hehehe... Kalau si imut ini?" Berpaling pada Qonni yang tengah tersenyum lebar.
"Carikan saja jodoh untuk Qonni pakde.." ucapnya asal. Di lihat Safa sudah geleng-geleng kepala saat mendengar jawaban dari Qonni.
"Waduh... Hahaha." Ustadz Irsyad tergelak "Belum waktunya kamu punya calon nduk... Belajar dulu yang rajin ya. Sebagai gantinya. yang ini dulu, mau?" Beliau mengeluarkan amplop lebaran dari saku kokonya, lalu mengarahkannya ke arah Qonni yang semakin berbinar lalu meraih amplop tersebut.
"Pengalihan Qonni terima dengan senang hati. Terimakasih pakde Irsyad." Semua yang di sana pun terkekeh. Termasuk Rahma yang sedang menjabat dan memeluk Aida.
Ustadz Irsyad mengusap-usap kepala Qonni gemas, gadis itu memang hampir mirip Nuha saat remaja. Hanya sedikit lebih berani berbicara dan percaya diri saja.
Hingga mereka mulai asik mengobrol, keluarlah Rumi dengan Koko sebatas lutut berwarna putih, dan celana bahan berwarna hitam. Pria itu seolah memberikan sihir yang membuat Safa tanpa sadar menatapnya sangat dalam, ketika Rumi menyalami paman Ulum dan memeluknya setelah mengucapkan selamat IdulFitri, lalu beralih pada Aida dan Qonni. Dia pun mengulurkan tangannya pada Safa.
Gadis itu terpaku, sementara Qonni hanya tersenyum jail dia menyikut pinggang Safa hingga membuat gadis itu terkesiap.
"Astagfirullah al'azim. Maaf." Dia menelungkup kan kedua tangannya di depan dada.
"Salaman saja tidak apa, aku sedang tidak menjaga wudhu kok." Ucap Rumi tersenyum.
'ya Allah, kenapa senyumnya membuat ku ingin menangis. Kenapa hati ini semakin tidak bisa mengontrol sih?' batin Safa yang mulai mengangkat tangannya, lalu menjabat tangan Rumi untuk yang pertama kali.
Baru sampai di ujung jari Rumi, dia sudah tidak sanggup karena debaran jantungnya itu.
__ADS_1
"Maaf Rumi, belum terbiasa jadi?" Safa menelungkup kan kedua tangannya di depan dada, "Taqqobalallahu wa Minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin ya." Ucap Safa. Rumi paham dia tersenyum.
"Sama-sama... Mohon maaf lahir dan batin juga ya." Dia pun duduk di kursi lain namun lumayan dekat dengan Safa, membuat gadis itu semakin tidak bisa bersikap dengan tenang.
Qonni mencondongkan tubuhnya kesamping.
"Cieee yang lagi deg...deg serr." Bisik sang adik membuat Safa melirik sebal lalu meraih tangan Qonni dan meremasnya pelan.
"Jangan macem-macem kamu." Bisik Safa kemudian, membuat Qonni terkekeh. Ia pun kembali melirik ke arah Rumi pelan, di lihat pria itu tengah membaca pesan chatnya. Tersenyum tipis lalu mengetik sesuatu, setelahnya di masukan lagi ponselnya itu ke dalam saku kokonya dan kembali fokus mendengarkan percakapan antara kedua orangtuanya dengan paman dan bibinya itu.
Sementara Safa hanya mengerutkan keningnya, dia sedikit penasaran.
Siapa yang sedang berbalas chat dengan Rumi itu?
Karena lagi-lagi Rumi mengeluarkan ponselnya, menutup mulut menahan kekehannya lalu kembali memasukkan ponselnya itu kedalam saku, tanpa membalas lagi.
Dalam perbincangan yang semakin hangat dan sudah cukup lama juga, bahkan beberapa tamu sudah mulai berdatangan ke rumah Ustadz Irsyad membuat keluaga Ulum berpamitan.
–––
Di dapur...
Tepatnya beberapa saat setelah Ulum berpamitan, juga beberapa tamu yang turut pulang juga. Rumi berjalan menuju dapur guna mengambil air mineral di dalam lemari pendingin.
Ustadz Irsyad berjalan masuk ketika sang putra tengah menenggaknya. "Rumi, Abi mau bicara sebentar." Duduk di hadapan Rumi.
"Bicara apa bi?" Tanya Rumi sembari menurunkan gelasnya.
"Menurut mu, Safa bagaimana?"
"Bagaimana? Maksud Abi?"
"Menurut pengamatan Abi. Gadis itu sepertinya mengagumi mu."
Deg...!
"Abi ini bicara apa? Tidak mungkin Safa mengagumi Rumi."
"Kalau iya bagaimana?" Tanya Abi Irsyad.
"Rumi tidak tahu." Jawab Rumi.
"Kok tidak tahu?"
__ADS_1
"Mau bagaimana? Rumi kenal Safa adalah saudara, jadi ya kaya tidak bisa lebih dari itu."
"Begitu ya? Namun jika kau ternyata berjodoh, bagaimana?" Tanya Abi Irsyad lagi.
Rumi terkekeh, "Abi tidak bermaksud menjodohkan Rumi dengan Safa kan?" Tanya Rumi yang sudah menangkap itu dari ayahnya.
"Tidak juga sih. Namun melihat tatapan gadis itu seperti sudah lain kepada mu. Abi takut itu akan menjadi masalah untuknya." Jawab Abi Irsyad. "Namun jika suatu saat kau Abi jodohkan dengan Safa memang mau?"
Pertanyaan Abi Irsyad membuat Rumi tercengang. "A...aku?" Rumi mendadak gagap, tangannya yang sedang memegang gelas pun gemetaran. Hingga membuat Abi Irsyad menyentuh tangan Rumi.
"Tidak sekarang Rumi, kau masih harus sekolah dan bekerja secara mapan. Baru kau bisa menikahi seorang gadis."
"Abi–" seru Umma Rahma, Abi Irsyad pun menoleh sejenak, lalu kembali menatap kearah Rumi.
"Safa wanita Soleha kok, dan tidak ada hubungan darah juga dengan kita. Jadi kau bisa menikahinya, jika kamu bersedia." Sambung Abi Irsyad, membuat Rumi menjadi bimbang.
"Abi, ada tamu." Suara Rahma sudah mendekat ke arah dapur.
"Iya Umma, sebentar." Abi Irsyad beranjak, dia pun menepuk-nepuk bahu Rumi, lalu melenggang pergi. Meninggalkan Rumi yang masih membisu menatap kearah bibir gelas yang ia pegang.
'menikahi Safa?' batin Rumi, mulai berfikir keras. Ia kembali menenggak air minum dalam gelasnya, lalu menghela nafas panjang sembari menyandar di kursi makan dengan kepala menghadap ke arah langit-langit.
Perkataan Abi Irsyad seolah menjadi perdebatan di kepalanya, entah apa yang tengah di pikirkan Rumi yang jelas ia sedikit merasa jika apa yang di katakan Abi Irsyad mungkin akan menjadi daftar pertimbangannya saat ini.
Lalu Debora??
'calon imaaaaaaam.' seruan itu tiba-tiba terdengar di telinga Rumi.
'Safa memang satu keyakinan dengan ku, sedangkan Debora tidak. Dia anak pendeta, yang belum tentu bisa ku bawa ke Agama ku.' Bergumam dalam hati.
"Astagfirullah al'azim." Rumi duduk dengan normal lagi. Ahhh kenapa tiba-tiba Rumi teringat gadis katolik itu dan membandingkannya dengan safa. Dia pun menggeleng pelan kepalanya.
beranjak kemudian setelah merasa ini pikiran konyol yang tak perlu dia pikirkan, sebaiknya Rumi melupakan apa yang di bicarakan dirinya dan sang ayah tadi. Lalu fokus pada studinya.
Bersambung....
_______________________________________
Catatan:
Hai.... Ini cerita terakhir tentang Rumi, Debora dan Safa di novel Ikrar cinta sang Hafizh Qur'an. Sisanya aku akan kembali berfokus pada Nuha dan A' Faqih sampai tamat, dengan di sisipkan ustadz Farhat dan Qori. karena novel ini sudah hampir tamat, tinggal dikit lagi...
Dan inshaAllah Rumi akan ada Novelnya sendiri, jadi buat yang suka kisah Rumi di tunggu aja ya.🤗🤗🤗 (Tapi nggak janji juga, tergantung peminatnya ada apa nggak hehehe)
__ADS_1