
Faqih menoleh ke arah Umma Hasna,
Dia lantas menghentikan pijatannya, dan beranjak dari posisinya itu mengecek ke area tangga.
Faqih hanya takut Nuha mendengarnya walaupun kenyataannya gadis itu sudah mendengar apa yang di ucapkan Umma Hasna tadi, namun karena Nuha sudah kembali naik bahkan bayangannya pun tak terlihat membuat Faqih bernafas lega dan menganggap Nuha tak mendengar itu
"Umma, sudah jangan bicarakan itu lagi. Faqih takut di dengar Nuha."
"Kenapa mesti takut? Yang penting kan kamu sudah sama Nuha. Dia tidak perlu cemburu kan?"
"Umma kok gitu sih bicaranya? Tidak baik Umma, itu sama saja tidak menjaga perasaan Nuha."
"Jadi Umma salah lagi? Bicara seperti ini pada mu?"
"Bukan begitu Umma. Faqih cuma takut di dengar istri Faqih, nanti dia bisa terluka."
"Kenapa mesti terluka? Memang Umma kenapa? Umma tetap menganggap dia menantu kan? Walaupun sebenarnya Umma lebih respect pada Zahra, toh Umma tetap menerima dia."
"Astagfirullah al'azim Umma." Faqih geleng-geleng kepala, dia tidak tau lagi harus berbicara seperti apa agar ibunya bisa paham arti menghargai.
"Assalamualaikum..." Abi Rahmat berseru seraya masuk, membuat percakapan mereka terhenti. Faqih pun tak ingin berbicara apapun lagi selain kembali melangkah masuk.
***
Di dalam kamar, Nuha semakin tidak fokus mengerjakan soalnya. Dia baru tahu jika Umma Hasna memang tidak menyukainya, lalu kenapa? Apa penyebabnya? Nuha masih bertanya-tanya dalam lamunannya, dengan sesekali mengusap air mata yang terjatuh itu.
Cklaaaaakk... Nuha menghapus air matanya cepat, lalu kembali menatap ke arah lembar soalnya.
"Bagaimana sayang?" Tanya A'a melangkah masuk mendekatinya.
"Nuha, baru mengerjakan lima soal A'..." Jawab Nuha tersenyum.
"Ada yang susah?"
"Emmm." Jawabnya mengulum bibirnya sendiri.
"Yang mana?" A' Faqih mencondongkan tubuhnya mengungkung Nuha.
Gadis itu pun menunjukkan bagian mana yang menurutnya sulit.
__ADS_1
"Oh..." Faqih pun menjelaskannya tafsiran dari kata yang di tunjukkan Nuha tadi.
Di sela-sela A'a yang berbicara gadis itu hanya menoleh ke wajah sang suami saja, dia tidak mendengarkan sama sekali penjelasan A'a itu.
"Paham kan?" A'a menoleh ke arah Nuha yang langsung terkesiap, lalu tersenyum.
"Maaf, bisa di ulangi A' tadi Nuha kurang fokus."
"Boleh... Kali ini dengarkan baik-baik ya?" Faqih mengecup pangkal kepala Nuha. Lalu kembali menjelaskannya.
'sesulit ini kah? Ku pikir, mencintai mu akan mudah karena kau juga mencintai ku A'…? Namun ternyata, aku tak mendapatkan cinta dari ibu mu.' Nuha kembali menoleh ke arah lembar soal itu. Berusaha fokus dengan apa yang di jelaskan sang suami.
Hingga dia mulai mengerti dan kembali mengerjakannya, dengan tenang. Sementara A'a memutuskan untuk duduk di atas ranjang mereka menyandar, dengan buku note di tangan dan penanya.
Beliau sendiri fokus pada pekerjaannya, mencatat modal madu dan kurma yang ia keluarkan hari ini, lalu mencoba mengurai harga madu yang akan ia jual sendiri.
'kalau jualan madu? Bisa secepat kurma? Mungkin untungnya akan terlihat, tapi sepertinya akan sulit.' batin Faqih. Beliau pun menoleh ke arah ponsel yang menyala karena adanya pesan chat, lalu meraih ponsel itu.
(Assalamualaikum, Ustadz Faqih... Kemarin antum menawarkan madu? Anna boleh pesan tiga botol besar? Dan kurmanya sekitar tiga puluh pack kirim ke pondok pesantren X bisa?)
'subhanallah... Alhamdulillah, ya Allah.' batin Faqih ceria, beliau pun membalas pesan itu semangat serta senyum yang tersungging senang.
Hingga malam sudah semakin larut, namun sepertinya gadis itu masih fokus mengerjakan soal dari sang suami. Padahal hanya belajar saja, namun dia menganggap itu seperti selayaknya kuis yang benar-benar di berikan sang dosen.
Bahkan tubuh yang lelah dan tangan yang masih sedikit perih pun tak di pedulikan. Hanya tinggal satu soal lagi, Nuha pun selesai, dia mulai menoleh kebelakang.
Niatnya hanya ingin memberikan lembar jawabnya pada A'a. Namun yang ia dapati, A'a sudah memejamkan matanya dengan posisi duduk menyandar di sandaran ranjang, sementara satu tangannya memegangi pulpen dengan buku di pangkuannya.
'A'a kelelahan sepertinya' Senyum Nuha pun mengembang, hingga dia putuskan untuk membereskan alat tulisnya, lalu memasukan kembali kursinya ke kolong meja belajar.
Setelah itu berjalan pelan mendekati A' Faqih dan duduk di sebelahnya. Nuha meraih buku di pangkuan A' Faqih pelan, dengan penanya juga, menyingkirkan itu ke tempat lain. Setelah itu di tatapnya sang suami lekat, wajah yang tengah tertidur itu benar-benar terlihat tenang untuk Nuha.
Tangan kanan Nuha pun terangkat, ia menyibak rambut A' Faqih yang menutupi sedikit matanya, kerena beliau ada pada posisi sedikit menunduk.
'suami ku yang tampan, dan baik hati. A'a perlu tahu, kalau aku tidak akan menyerah untuk mencintai mu, dan akan berusaha pula, membuat Umma mencintai ku.' batin Nuha seraya tersenyum. Ia mengusap pipi A' Faqih, mendekatinya serta memberikan kecupan di pipi A'a pelan, pesona sang suami memang luar biasa, dia beruntung sekali dari sekian wanita yang menyukainya? A'a malah memilih Nuha yang bahkan tidak ada apa-apanya dari pada Zahra itu sendiri, Nuha kembali Melepaskannya.
"Jangan hanya di pipi, sayang." Pinta Beliau serak, perlahan mata itu terbuka. Sehingga membuat pipi Nuha memerah seketika.
"A'a kebangun, maaf ya?"
__ADS_1
"Sini, kasih lagi." Mengetuk-ketuk pipi yang belum tercium oleh Nuha. Gadis itu tersenyum lalu memberikan kecupan di sana namun curangnya A' Faqih, dia malah kembali menghadap ke depan sehingga yang tersentuh Nuha adalah bibir sang suami. Mata Nuha melebar, ia reflek hendak melepaskan namun tubuhnya sudah di peluk A'a, yang langsung menggulingkan tubuh sang istri ke atas ranjang.
Hal itu membuat Nuha hendak berteriak saking kagetnya namun dengan cepat di bungkam lagi oleh bibir A' Faqih.
"Jangan teriak, mau memanggil Abi sama Umma ya?" Tanya A' Faqih seraya terkekeh.
"A'a sukanya gitu, kalau jatuh bagaimana?" Memukul bahu A' Faqih pelan.
"Memang sengaja A'a jatuhkan ke atas ranjang kan, hehehe." Faqih menghujani kecupan di ceruk leher Nuha.
"A'a lelah kan?" Tanya Nuha yang mulai memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir A' Faqih. Namun sepertinya pria itu tidak mau menjawabnya, dia masih fokus memberikan cumbuan pada gadis yang sudah mulai mengeluarkan suara cintanya. Faqih tersenyum, gadis itu sudah bisa mendesah sekarang, padahal kemarin-kemarin dia diam saja.
Faqih menatap wajah Nuha, mata gadis itu terbuka perlahan. Sama-sama menatap sang suami entah mengapa cinta itu semakin dalam, bahkan ada rasa tak rela jika sampai A'a berpaling darinya.
"A'a...?" panggil Nuha lembut.
"Emmm?" punggung jari telunjuknya Menyentuh kening Nuha, berjalan pelan turun ke hidung lalu kebagian bibir Nuha turun lagi hingga kebagian kancing baju sang istri.
"Anna Uhibuka Fillah." Gumam Nuha (aku mencintaimu karena Allah).
Mendengar itu Faqih tersenyum,
"ahabbakilladzii ahbabtani lahu." (Semoga Allah juga mencintaimu karena kau telah mencintai ku karenaNya.) ia menghadiahi lagi kecupan di bibir Nuha hingga beberapa detik.
"A'a sangat mencintai mu, sayang." ucap A' Faqih lembut di dekat telinga Nuha. Dengan tangannya yang bekerja melepaskan satu persatu kancing baju tidur Nuha.
Gadis itu tersenyum senang, tangan Nuha terangkat menyentuh wajah yang berada di atasnya. Faqih membalas senyum, dan beranjak duduk guna melepaskan atasannya lalu kembali menurunkan tubuhnya, dimana malam panjang semakin berjalan dengan di hiasai nikmatnya cinta di bawah kain selimut yang menutupi tubuh polos mereka, guna melakukan kewajiban mereka.
–––
Cinta adalah manusiawi. Setiap manusia yang memiliki nyawa pasti memiliki cinta. Ia adalah anugrah yang telah Allah berikan sebagai wujud rahmatnya agar manusia saling mengasihi. Selain itu, agar ukhuwwah yang Dia perintahkan bisa terjalin dengan baik.
"Dan dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berdua berkumpul karena-Nya dan mereka berpisah karena-Nya.” [Muttafaqun ‘alaih]
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
mohon maaf untuk hari ini aku up dua ya... agak kelelahan juga mungkin karena kurang tidur terus.
Dan maaf di bab sebelumnya ke up lebih dulu. untung yang ini ngatur jamnya pas... kalau nggak bahaya😂😂😂 okay happy reading.
__ADS_1