
Langit mulai menggelap, siang yang tengah rehat setelah menemani aktivitas para manusia mulai menjadikan malam sebagai pengganti teman yang sunyi di lautan gelap bertabur bintang.
Malam ini selepas magrib, Nuha berdiri sendiri di balkon kamarnya. mengamati rasi bintang di langit tak berawan.
Sementara A'a masih berada di mushola rumah, berzikir.
Nuha sendiri sudah selesai menjalankan ibadah solatnya di kamar, sekarang saatnya mencari angin di luar.
Kawasan komplek tempat tinggal Abi Irsyad sudah mulai sepi, ia bahkan tengah mengamati satu keluarga lagi yang tengah bersiap. Dengan mobil yang di atasnya terdapat barang, lalu sang suami tengah menutup barang tersebut dengan matras anti air.
setelahnya mengikat itu dengan tali tambang sekuat mungkin, agar barang bawaan mereka tidak jatuh.
Setelahnya mereka pun mulai masuk ke dalam mobil dan mengambil star, untuk perjalanan mudik Mereka.
Semakin mendekati lebaran kota Jakarta memang semakin sepi. Karena para warga yang memiliki kampung halaman, satu persatu mulai meninggalkan kota perantauan mereka, demi bisa berkumpul bersama sanak saudara di sana.
Hal yang menyenangkan saat hari raya, ketika kita bisa mendatangi kampung halaman setalah berkutat dengan pekerjaan yang membuat stres dan kembali dengan pemikiran yang segar dari desa.
Bersilaturahmi dengan mereka-mereka yang merindukan kedatangan kita, bercerita kisah masa kecil yang menyenangkan saat sama-sama masih di sana. Sungguh momen keluarga yang selalu di nanti setiap tahunnya, bahkan menjadikan mudik sebagai tradisi tahunan yang tak bisa kita tinggalkan begitu saja.
Selang beberapa lama, pintu kamar Nuha terbuka. A' Faqih masuk dan menutup kembali pintu kamar mereka, lalu berjalan mendekati Nuha di luar.
"Neng, kok di luar?" Tanya A'a. Gadis itu tersenyum.
"Lagi lihat bintang A'... Cantik ya." Nuha menunjuk ke langit, sementara tatapan A'a tertuju pada Nuha.
"Iya cantik." Jawab A'a, Nuha tersenyum dengan tatapan masih ke langit. "Benar... Dia sungguh cantik, bak malam yang penuh bintang tak berawan. Dia sangat baik, bak bintang yang menyinari malam sunyi. Dan dengan sosok sinar matanya, bagaimana mungkin aku membantahkan cintanya." Gumam A'a kemudian, Nuha pun menoleh terlebih saat A'a meraih tangan kanannya. Di lihat pria itu menatap penuh cinta ke arah Nuha, seraya mengangkat tangan Nuha mendekatkannya ke bibir. Sebuah kecupan lembut di berikan di tangan itu berkali-kali, lalu di tariknya pelan dan di letakkan di pinggang A' Faqih. Sementara satu tangan A'a Menyentuh pipi Nuha.
"Neng...? Maaf ya, selama ini. A'a belum bisa membahagiakan kamu." Tutur A' Faqih masih mengusap-usap wajah yang tengah menatapnya balik.
Tangan Nuha yang berada di pinggang A'a meremas kaos oblong miliknya. "Siapa bilang A'a tidak pernah membahagiakan ku??" Tanya Nuha. "Dengan kasih sayang A'a. Nuha bahagia kok." Tersenyum.
"Neng... A'a pasti akan rindu sekali pada mu." Membelai rambut Nuha.
__ADS_1
"Rindu? Maksudnya?"
"A'a sudah daftarkan kamu ke Al Azhar." Ucap Faqih yang seketika itu membuat Nuha mematung. "Neng bisa sekolah lagi tahun depan."
"Tunggu... Sekolah? Maksudnya?"
"Kemarin kamu tanya kan? Kenapa A'a jualan madu dan kurma? Semua demi menambahkan tabungan A'a untuk biaya sekolah mu." Ucap Faqih, Nuha pun menggeleng.
"A...? Nuha sudah tidak ingin sekolah lagi A'... Nuha mau di Jakarta saja bersama suami Nuha. Di sini..."
"Tapi A'a merasa bersalah. saat kau sedih ketika tahu, Hanifah sekolah di Kairo sementara kamu tidak, semua sebab A'a yang terlalu terburu-buru menikahi mu kan?"
"Nggak A'... Kenapa A'a mikir seperti itu sih? Nuha cerita ke A'a waktu itu bukan karena Nuha menyesal menikah dengan A'a. Serius A'..." Menitikkan air matanya seraya memegangi wajah Faqih. "A'a... Nuha tidak mau jauh-jauh dari A'a. Nuha mau di Jakarta, tolong batalkan pendaftaran itu A'... Sudah cukup Nuha belajar dengan A'a, tidak mau lagi ke Mesir." Kedua tangan Nuha melingkari di bagian pinggang Faqih memeluknya erat seraya menangis.
"Mencoba dulu sayang. A'a di sini akan berkerja lebih giat lagi, buat masa depan kita. Sementara kamu belajar lah dengan baik di sana ya."
"Tidak... Tidak mau, pokoknya Nuha tidak mau ke Mesir. Titik..! Nuha mau sama A' Faqih... Nuha tidak mau jauh-jauhan A'..."
Faqih terkekeh haru. Dia pun mengecup pangkal kepala Nuha. "Katanya A'a menyebalkan, sampai-sampai kamu minta A'a nikah sama ustadzah Nafisah saja, kau lupa itu ya?"
"Benarkah?" Tanya A'a senang.
"Bener A'... Serius." Mendongakkan kepalanya menatap ke arah A' Faqih.
"Kabogoh Abdi. MashaAllah." Tutur Faqih gemas. Dia pun melepaskan tangan Nuha lalu menggendong gadis itu yang langsung terkekeh. "Neng serius tidak mau lagi ke Kairo?" Tanya A'a.
"Serius... Mau di sini saja sama A'a." Kedua tangan Nuha melingkar di leher sang suami.
"Kesempatan tak datang dua kali loh ya. A'a tanya sekali lagi. Serius, tidak mau lanjutkan S2?"
"Serius... Serius... Serius... Seribu rius malah." Mengecup bibir sang suami.
"Genitnya MashaAllah... Berani-beraninya ya cium A'a... Siapa yang ngajarin coba?" Tanya Faqih datar. Nuha pun tergelak.
__ADS_1
"A'a dosen yang ngajarin. Hehehe."
"Oh ya? Pinter kamu ya sekarang."
"Pinter lah... Kan murid kesayangan A'a..." Jawabnya manja. Faqih pun geleng-geleng kepala.
"Berat juga euy... Masuk lah dingin." Ajak A' Faqih seraya membawa masuk Nuha yang terkekeh. "Ohh, neng tahu bedanya bulan sama kamu nggak?" Tanya A'a sembari berjalan mendekati ranjang.
"Nggak... Nggak tahu."
"Sama kalau begitu."
"Kok sama sih? Kasih teka teki tapi jawabnya gitu." Bersungut. 'heran, kirain mau ngerayu.' batin Nuha sedikit kecewa.
"Ya emang tidak tahu neng." Meletakkan Nuha di atas ranjang. "Karena kamu sama bulan itu nggak ada bedanya, sama-sama Indah." Menarik hidung Nuha gemas, sembari tertawa.
"Aaaaa.... A'a." Nuha merona.
"Senang ya di gombalin?" Tanya A' Faqih.
"Senang dong," jawabnya bernada manja.
"Kalau gitu kasih hadiah dong."
"Apa?" Tanya Nuha.
"Apa ya?" pura-pura berfikir sembari turut merebahkan di sebelah Nuha, lalu Menarik selimut itu menutupi tubuh mereka.
"Heiii... Aku belum sembuh betul loh A'..." terkekeh.
"Bercumbu saja deh, yang penting kangen-kangenan..." Tertawa di dalam selimut. Suara kecupan bibir yang beradu pun mulai terdengar di sana, bercampur dengan suara tawa keduanya.
Luar biasa cinta A' Faqih yang benar-benar membuat Nuha hanyut kedalam cintanya dengan waktu yang sangat cepat.
__ADS_1
Bersambung...