Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
teguran mas Irsyad untuk Rahma


__ADS_3

Faqih kembali masuk kedalam ruangan Nuha, terlihat kekasihnya menatap lurus kedepan dengan sudut mata yang menggenang. Ada apa ya? Bertanya-tanya dalam hati.


Faqih mendekati Nuha yang tiba-tiba terkesiap lalu tersenyum hangat dengan bibirnya yang tipis dan pucat itu. Sepertinya dia terkejut saat Faqih tiba-tiba masuk.


Sebenarnya Faqih merasa janggal, terlebih melihat Umma Hasna tiba-tiba menjadi diam. Matanya yang merah terlihat jelas bahwa beliau habis menangis tapi kenapa?


"Neng...?" Panggil Faqih. "Ada apa? Umma bilang apa?" Tanya Faqih tidak ingin berbasa-basi dia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan pertanyaannya itu sudah menggambarkan bahwa dia berharap Nuha tahu apa yang terjadi.


"Tidak ada apa-apa A'..." Jawabnya halus. Dia masih sesekali meringis membuat Faqih berhenti menanyakan soal itu. Sudah lah tidak perlu di pertanyakan masalah itu kan yang pasti saat ini adalah kesehatan Nuha. Dia harus segera pulih, masalah keinginan Umma Rahma yang ia ucapkan tadi bisa di fikir nanti kan.


Mungkin saja, karena Umma Rahma adalah mantan seorang perawat Nuha jadi jauh lebih terpantau jika harus tinggal selama masa pemulihannya di Bekasi. Dan itu bisa di bilang ide yang bagus sih. Faqih tersenyum seraya membelai lembut rambut Nuha.


Ya... Semoga saja seperti itu, pikir Faqih.


Dia pun kembali mencurahkan seluruh perhatiannya kepada sang istri, mengusap kembali perutnya itu pelan seraya bersholawat. Hingga mata Nuha perlahan-lahan terpejam akibat kantuknya.


–––


Di tempat lain...


Abi Irsyad terus melangkah keluar dari area rumah sakit, kedua tangan yang saling meremas di depan. Itu sudah menggambarkan bahwa dia khawatir, kalau sang suami pasti akan marah karena mendengar kata-kata dia tadi.


Langkah mereka terus terayun hingga sampailah Keduanyan di depan mobil, Irsyad membuka pintu mobil untuk Rahma lebih dulu.


"Mas, Ki...kita belum pulang kan? Rahma ingin menginap mas."

__ADS_1


"Masuk dek." Titah Irsyad tanpa mendengarkan ucapan Rahma.


Tidak bisa membantah, Rahma pun masuk kedalam mobil itu dan duduk setelahnya pintu pun di tutup dengan ustadz Irsyad yang berjalan menuju kursi kemudi.


Di dalam mobil keduanya dia sejenak, sedikit tegang di buatnya. Rahma paham sih sang suami itu marah pastinya. Tinggal pasang telinga saja, menunduk, dan diam.


Jari-jemari Irsyad mengetuk-ketuk lingkar kendali di hadapannya, menatap tajam ke depan dimana suasana area parkir yang sepi hanya beberapa orang yang berlalu lalang, lalu keluar masuknya mobil.


"Rahma." Panggil beliau. Membuat Rahma tertunduk langsung. Benar, jika Irsyad sudah memanggilnya dengan nama sudah pasti beliau marah.


"Iya mas." Jawab Rahma lirih dengan tangan saling meremas.


"Kurang tegaskah aku pada mu? Sampai kau bisa berucap seperti itu? Kau tahu Nuha baru saja siuman kan?"


"Iya mas."


"Seorang istri, mas," menjawab dengan sangat lirih.


"Ade tahu status Nuha sudah berubah, tapi kenapa harus berbicara seperti itu pada Nuha? Apa hak mu, dek? meminta Nuha kembali kerumah kita?!" Menegaskan sedikit nada bicaranya, yang seketika itu pula membuat tangan Rahma gemetar. "Mas tanya sekali lagi...! Apa hak mu menyuruh Nuha kembali ke rumah kita? Sampai memohon seperti tadi?"


"Ma...maaf mas, tolong maafkan Rahma. Hiks... Rahma bersalah, Rahma hanya merindukannya untuk tinggal lagi bersama kita." Isak Rahma meraih tangan Irsyad. Dia menutupi Semua yang ia dengar kepada sang suami, karena itulah yang seharusnya ia lakukan. Tidak ingin memperkeruh suasana, yang berujung pada hubungan yang tidak baik untuk dua keluarga yang baru saja menyatu.


Irsyad menoleh ke arah Rahma, tangan kanannya meraih tubuh sang istri, memeluk.


"Dek...? Ade tahu? Kita sudah tidak ada hak lagi akan Nuha, semua keputusan Nuha mau kemana itu ada di Faqih. Kita tidak bisa memaksakan kehendak, tolong jangan menjadi ibu mertua yang akan membuat Faqih merasa tidak nyaman karena kita terlalu ikut campur, Umma." Ustadz Irsyad menurunkan suaranya, kini sudah kembali normal kembali. Di belailah kepala Rahma lembut lalu di kecup pula keningnya. "Mas tidak salah berkata seperti ini kan?" Tanya Irsyad Kemudian.

__ADS_1


"Tidak mas... Mas berhak memarahi Rahma. Karena Rahma yang bersalah." Masih dalam Isak tangisnya.


"Maaf ya... Karena jika anak sudah berkeluarga, kita sangat di larang keras ikut andil dalam hal apapun di dalam keluarga anak kita sayang. kecuali jika mereka meminta pendapat, atau mungkin sudah kembali menyerahkan tanggung jawab atas Nuha. Selain itu Kita harus menghargai Faqih, Umma."


"Walaupun anak mu dalam kondisi tidak baik? Atau dalam hal yang membahayakan?" Tanya Rahma tiba-tiba.


"Maksudnya?" Tanya Irsyad.


"Maksud ku, misal kata Mereka-mereka yang mendapat kekerasan dari Suaminya, apa orang tua tetap harus diam saja?"


Irsyad tersenyum. "Itu beda lagi ceritanya sayang. Jika suami melakukan kekerasan fisik dan mental ya kita harus bertindak, kita tanyakan dulu pada anak kita. Apa dia mau bertahan atau mungkin ingin menyerah."


"Kalau si Istri itu di ancam?"


"Di lihat dulu kondisi yang sebenarnya sayang. Kalau terancam ya kita bantu. Kita beri perlindungan, lagi pula Faqih kan tidak mungkin melakukan itu. Jadi tidak perlu kita mengkhawatirkannya. Abi percaya Faqih bisa melindungi Nuha. Lihat saja betapa Nuha sudah bisa mencintai suaminya, padahal sebelumnya dia sempat menolak kan? Apa itu tidak cukup bukti kalau Faqih adalah pria yang bisa menyayangi Nuha?"


'andai kau tahu mas? Apa yang ku dengar tadi. Apa kau masih bisa berbicara seperti ini?' Rahma tertunduk.


"Dek...?"


"Iya mas... Rahma menyadari itu kok. Maafkan Rahma mas."


"Jangan lagi-lagi meminta Nuha untuk melakukan apapun tanpa izin suaminya Umma. Nuha bisa berdosa Walaupun harus menuruti keinginan orang tuanya."


"Iya mas." Mengangkat tangannya hendak mengusap matanya. Ustadz Irsyad pun menahan tangan itu, lalu melepaskan cadar Rahma. Mengusap-usap mata yang basah itu menggunakan saputangannya.

__ADS_1


"Jangan sedih ya. Jika kita rindu masih bisa kok kita menjenguk ke sana. Tanpa memaksa Nuha dan Faqih untuk tinggal bersama kita." Mengecup keningnya, sementara Rahma hanya diam saja.


'biarlah menjadi rahasia ku, mas Irsyad tidak perlu tahu. Yang pasti aku kan memantaunya sendiri. Aku pun percaya pada Faqih yang bisa melindungi Nuha.' batin Rahma masih dalam pelukan ustadz Irsyad.


__ADS_2