
Senja... Tak pernah lelahnya mengukir keindahan yang selalu membuat para penikmatnya terkagum.
Seperti sebuah lukisan alam yang penuh arti.
Menemani laju motor A' Faqih yang tengah menyusuri jalan ibu kota, dengan hembusan angin sore yang menyegarkan.
Di belakang Nuha mengernyitkan dahi, dia rasa jalan yang di tempuh bukan arah pulang. A'a mau membawanya kemana?
Hingga tangan Nuha semakin mempererat pegangannya, mencondongkan tubuhnya ke sebelah kiri, agar lebih dekat dengan telinga A' Faqih.
"A'a, kita mau kemana?" Tanya Nuha sedikit berseru, karena suaranya kalah dengan deru motor serta angin yang menghempas.
"Ngabuburit neng." Jawab Faqih sedikit menoleh.
"Tapi, waktu buka tinggal empat puluh lima menit lagi."
"Ya tidak apa, kita bisa makan di luar kan? A'a mau ajak istri A'a ini makan berdua saja di luar." Faqih mengecup tangan Nuha lembut. Gadis itu tersenyum. ya sudah lah ikuti saja, Nuha senang jika A'a mau mengajaknya jalan-jalan.
Hingga di sebuah mall, Faqih mulai memarkirkan motornya. Tak lupa juga dia melepaskan helm di kepala sang istri. Faqih menatap sejenak saat Nuha tengah membenahi kerudungnya yang tertekuk di bagian kening.
"Sudah cantik kok Neng... Tidak usah khawatir." Tuturnya.
"Bukan A' ini hanya kusut saja." Gumam Nuha meniup-niup ke atas agar ujungnya yang berada di bagian Kening meninggi lagi. Faqih terkekeh melihat pipi Nuha yang menggembung, beliau lantas menarik pipi itu gemas.
"A'a...." rengek Nuha.
"Apa?"
"Jangan cubit, ihhh."
"Kenapa? Maunya di cium ya?" Ledek A' Faqih. Nuha mendengus, lalu menarik pipi Suaminya juga.
"Heiii...?" Faqih menatap Nuha seraya meringis.
"Sakit kan?"
"Ck, berani ya." Tangan Faqih yang satunya menarik lagi pipi Nuha yang lain.
"Aaaa...." Nuha reflek Melepaskan cubitannya. "Lepas A'... Aku sudah melepaskan cubitan ku loh." Nuha memukul-mukul kedua lengan Faqih, Sementara sang suami hanya terkekeh dan melepaskannya. Karena sang istri mulai protes.
"Mau masuk tidak sih? Sakit tahu A'...!" Gadis itu mengusap-usap kedua pipinya, dengan tatapan sebal.
"Jadi sayang, yuk masuk." Diraihnya tangan Nuha, menggandeng lalu memasukan tangan itu ke saku jaketnya, setelahnya mereka pun berjalan bersama.
'i... Ini? Duh malah jadi tontonan A'a.' Batin Nuha yang merasa tidak nyaman dengan pandangan orang. Sebenarnya mereka merasa iri dengan mu Nuha. Jadi abaikan saja, itu hal romantis yang berusaha ingin di tunjukkan suami mu.
Hingga keduanya semakin masuk dan kini sudah berdiri di depan toko pakaian syar'i.
__ADS_1
"A'a tunggu, mau ngapain?"
"Masuk lah. A'a mau belikan kamu baju."
"Tapi lebaran masih lama kan?" Tutur Nuha.
"Hei, memang hanya saat lebaran saja baru bisa beli baju lebaran."
"Iya sih." Nuha menuruti. Keduanya sudah berada di dalam dengan staf yang langsung mendekati.
"Selamat datang kak," sapa beliau mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
Nuha melirik ke seluruh penjuru toko. Tempat yang mendominasi warna pastel dengan suara musik khas timur tengah. Ini toko baju milik orang Arab, terlihat dari seorang tuan toko yang tengah duduk di sebelah meja kasir seraya bermain ponsel.
"Ayo neng pilih saja." Titah A'a. Nuha mengangguk pelan dia berjalan menyusuri baju-baju yang tergantung. Sepertinya semua yang ada di sana mahal, kenapa mesti masuk ke sini sih? Batin Nuha. Tapi dia melihat salah satu mukena yang sangat indah, berenda.
'wah... Iya, aku ingin belikan ini untuk Umma Hasna, satu untuk Umma Rahma. Belikan saja dengan warna yang berbeda.' batin gadis itu tersenyum cerah. Dia mendekati dengan semangat menyentuh mukena itu. 'bahannya halus sekali.' melirik sebuah bandrol, seketika matanya membulat.
'gila mahal banget.' meletakan lagi bandrol itu, tapi dia suka dengan motif dan modelnya. Sangat elegan.
"Neng mau mukenah ini?" Tanya Faqih.
"Mau, tapi niatnya bukan buat Nuha. Tapi buat dua Umma kita." Jawabnya. Faqih paham maksudnya, dia pun tersenyum.
"Ambil saja nanti A'a bayar."
"A'a, aku yang mau kasih ke Umma Hasna dan Umma Rahma." Ucapnya.
"Bayar bagaimana, uang A'a kan di kasihkan ke Nuha semua."
"Yang itu di tabung saja sayang. Pakai uang yang di A'a saja ya."
"Tidak mau A'... Kalau A'a yang membayarnya sama saja A'a yang membelikan untuk Umma."
"Iya deh, begini saja. Kamu bayar separuhnya saja."
"Tidak mau."
"Neng. Uang yang di kamu jangan di pakai. Itu khusus untuk kebutuhan kamu. Nanti kalau butuh apa-apa lagi kamu minta ke A'a saja."
"Aku bukan anak kecil yang di pegangi uang tapi masih suka minta di jajanin. Kalau seperti ini mending uang A'a di pegang A'a saja."
"Iya...iya deh... Kamu saja yang bayar." Faqih menyerah. Gadis itu pun tersenyum.
'tidak apa lah mahal, kan untuk dua wanita spesial.' batin Nuha. Meraih dua mukena yang berbeda warna itu.
"Ayo A' ke kasir." Ajak Nuha.
__ADS_1
"Kamu, tidak mau mencari buat diri mu dulu?" Tanya Faqih mengusap kepala Nuha. Gadis itu menggeleng pelan.
"Kenapa?"
"Karena Nuha sedang tidak ingin beli pakaian A'..."
"Lalu maunya apa?"
"Tidak mau apa-apa." Tersenyum.
"Neng, pilih beberapa ya. A'a tuh pengen kasih kamu hadiah, karena kamu sudah mengerjakan soal dengan benar sayang."
"Loh, A'a sudah mengoreksi?"
"Sudah, waktu kamu tidur."
"Kok tidak bilang?"
"Niatnya A'a mau ngerjain kamu dulu, eh malah kemarin ada masalah gara-gara ustadz Farhat." Mendadak kesal lagi. Nuha terkekeh.
"Kenapa sih, harus cemburu sekali sama Ustadz Farhat? Padahal Nuha dan Ustadz Farhat kan tidak ngapa-ngapain." Tanya Nuha. Faqih tidak ingin menjawabnya, tidak mungkin kan? dia memberitahu kalau Farhat mengaguminya.
Seperti paham saat Faqih hanya diam saja. Gadis itu pun menilik ke arah jam tangannya.
"A'a sepuluh menit lagi waktu buka. Kita ke kasir sekarang yuk." Ajak Nuha.
"Duluan saja neng, nanti A'a nyusul." Titah sang suami. Sementara Nuha hanya mengangguk dan berjalan mendekati meja kasir.
Faqih menoleh ke kanan dan ke kiri ia melihat beberapa baju yang sangat bagus, lalu tersenyum. Di ranggainya beberapa gamis lengkap berserta hijabnya dengan pilihan warna yang sering Nuha pakai.
Lalu membawanya ke kasir.
"Ini sekalian mbak." Ucap Faqih di dekat Nuha. Gadis itu menoleh.
"A'a... Banyak sekali beli bajunya?" Nuha sedikit berbisik.
"Buat kamu sayang."
"Tapi ini banyak sekali sampai lima potong?" Nuha masih menahan itu namun Faqih tak menggubris ucapan protes Nuha, dan lebih fokus menatap lurus ke depan.
"Ini mau di jadikan satu kak?" Tanya kasir tersebut.
"Di pisah saja." Jawab Faqih.
"Baik kak." Kasir itu mulai menghitung. "Untuk mukenah totalnya jadi satu juta delapan ratus. Dan untuk bajunya tiga juta sembilan ratus delapan puluh tiga ribu."
Deg...! Mata Nuha membulat. A' Faqih langsung mengeluarkan kartu ATM-nya.
__ADS_1
"Bayar untuk bajunya saja mbak." Ucap Faqih. Sang kasir pun menerimanya.
"A'a...?" Bisik Nuha, dia tidak mau A'a mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk baju saja. Sementara sang suami hanya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri. Setelah transaksi baju itu selesai barulah dia menyerahkan kartu ATM miliknya membayar mukenah yang ia beli.