
Kita beralih sejenak ke kota Bandung.
Rumi berdiri di depan kampusnya menunggu Shafa dan Debby tiba. Sesuai perjanjian jika Shafa akan naik travel di depan kampusnya lagi, Karena setelah acara Shafa sore ini dia benar-benar kembali ke Jakarta.
Sebenarnya ini sudah terlalu sore, menilik jam sudah menunjukkan pukul lima.
Namun sepertinya seberkas sinar mentari masih nampak mengoranye menembus celah-celah dedaunan di sana. Rumi duduk dengan santai di atas motornya, hingga sebuah dering ponsel membuatnya terkesiap.
Jasa travel menghubungi Rumi. Ya... Karena Rumi yang memesan travelnya untuk Shafa.
"Hallo Assalamualaikum kang?" Sapa Rumi pada pria di sebrang.
"Walaikumsalam, punten nyak A'... Iye teh travelnya sedang bermasalah... Duh kumaha nyak?"
"Waduh kok bisa?"
"Tidak tahu, tiba-tiba mogok. Paling bisa jalan besok? Mau saya alihkan ke travel lain mendadak tidak bisa A'... Kumaha?"
"Ya sudah lah kang, mau bagaimana lagi. Tapi besok tolong Carikan yang pagi bisa?"
"InysaAllah bisa A' ... Saya kolingan dulu sama teman saya ya? Kayanya mah ada yang berangkat pagi."
"Ya sudah kang, usahakan ya."
"Iya A'... insyaAllah." Sambungan telepon terputus saat Rumi dan akang pemilik travel itu saling mengucap salam.
Hingga tak lama sebuah motor mendekat, Debby benar-benar tulus sekali mengantar jemput Shafa. Walaupun gadis itu sangat berusaha keras menolak. Namun Debby tetap keukeuh membantu Shafa.
"Assalamualaikum Rumi." Sapa Shafa.
"Walaikumsalam warahmatullah." Tersenyum.
"Assalamualaikum kak? Kita tepat waktu kan?" Tanya Debby.
"Alaikum... Iya Deb, tapi sepertinya Shafa tidak jadi pulang sore ini juga."
"Loh kenapa?" Tanya Shafa.
"Travelnya mogok, dan nggak ada penggantinya. Akhirnya ku ambil jadwal lain, besok bagaimana? Tidak apa kan? Lagian sudah senja takut kemalaman sampai Jakarta." Jawab Rumi.
"Begitu ya?" Shafa sedikit kecewa namun mau bagaimana lagi.
__ADS_1
Sementara yang di sebelah malah tersenyum girang.
"Alhamdulillah, teteh nginep lagi. Kita sahur sama-sama lagi deh." Ucap Debby ceria.
"Ta...tapi Deb, aku benar-benar tidak enak loh."
"Kan sudah di bilang tidak apa."
"Deb?" Rumi memanggil, gadis itu menoleh. "Terimakasih banyak ya, kau benar-benar baik hati." Puji Rumi tersenyum.
Shafa pun turut tersenyum tipis, mendengar pujian Rumi untuk Debby seperti ada sesuatu di lubuk hatinya. Sebuah Ketidak ikhlasan, Shafa pun beristighfar. Terlebih saat Debby menatap senang ke arah Rumi.
"Oh iya... Kita ke food court yuk... Buka puasa bertiga, aku yang traktir." Ajak Rumi pada keduanya.
"Ya Allah? Serius kak Rumi." Debby bersemangat.
"Iya serius dek." Reflek Rumi memanggil dek kepada Debby. Gadis itu pun semakin meronta-ronta dalam hatinya.
'dek?' (Shafa)
'whaaat suatu kemajuan, manggil dek sebelum halal hahaha... Lope lope kak Rumi.' (Debby.)
"Yuk kita jalan, sudah jam lima lewat seperempat, jalan-jalan dulu saja di mall ya sambil ngabuburit." Ajak Rumi kepada dua wanita itu. Debby pun mengangguk cepat, sementara Shafa hanya mengiyakan.
Rumi menoleh ke arah toko itu. "Kalian mau masuk melihat-lihat?"
"Boleh nih?" Tanya Debby.
"Boleh lah... Masuk saja," jawab Rumi.
"waaaah asik... Ayo teh Shafa." Debby menarik lengan Shafa masuk, Sementara Rumi hanya berdiri menunggu di luar.
Di dalam Debby benar-benar senang melihat hijab yang cantik-cantik di sana. Dengan berbagai motif dan modelnya. dia sungguh sudah ingin menggunakan hijab itu untuk segala aktivitasnya sehari-hari, hingga tangannya menyentuh salah satu hijab segi empat.
"Cantik." Gumam Debby.
"Kamu mau beli itu Deb?" Tanya Shafa. Debby menggeleng.
"Tidak Teh, teteh mau beli tidak?"
"Boleh deh aku ambil beberapa mumpung di sini." Ucap Shafa seraya tersenyum. Dia pun meraih beberapa lalu menoleh ke arah Debby, "aku mau ke kasir, mau ikut?"
__ADS_1
"Debby di sini saja Teh, masih betah melihat-lihat, teteh ke kasir duluan saja."
"Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar ya?" Ucap shafa pada Debby yang langsung mengangguk. Shafa pun berjalan dan saat hendak berbelok ia berpapasan dengan Rumi.
"Loh ku kira kamu mau di luar saja?" Tanya Shafa. Pria itu tersenyum,
"tidak apa aku ingin mencari sesuatu untuk Umma dan Nuha juga." Jawab Rumi. Shafa pun tersenyum, dia benar-benar pria yang perhatian sekali pada Umma dan adiknya itu.
"Ya sudah aku ke kasir dulu ya." Ucap Shafa.
"Iya," jawab Rumi sembari melanjutkan langkahnya. Di sana ia melihat Debby sedang memegang hijab segi empat itu seraya mencobanya.
"Cocok Deb..." Ucap Rumi. Gadis itu menoleh dan langsung saja ia lepas hijabnya.
"Hehehe. Pengen deh pakai ini seperti kak Shafa." Tutur Debby sembari mengembalikan lagi hijab itu ke tempatnya.
Rumi meraih hijab itu lagi. Membuat tatapan Debby tertuju ke hijabnya.
"Kamu suka ini?" Tanya Rumi.
Eh...? Gadis itu membisu.
"Ambil saja, nanti ku bayar." Ucap Rumi menyerahkan lagi hijab itu kepada Debby.
"Ta...tapi, bukan masalah tidak ada uangnya kok kak, ini karena?"
"Anggap saja hadiah karena kamu sudah berpuasa sampai hari ini." Rumi tersenyum cerah. Sungguh sihir apa itu? Membuat Debby tiba-tiba mematung dengan jantung yang semakin berdebar-debar. Perlahan tangan Debby Menyentuh hijab itu. Tepat disaat yang bersamaan, Shafa kembali menghampiri Debby dan melihat Rumi tengah menyerahkan hijab itu pada Debby.
"Coba pakai lagi." Titah Rumi. Debby menghadap ke cermin lalu memakainya. Salah satu tangan Rumi meraih peniti yang tergantung di antara para asesoris hijab lainnya. "Pakai ini juga."
"Kak, sudah cukup."
"Tidak apa. Pakai hijab itu selama jalan-jalan ini ya." Rumi tersenyum. Seolah Debby ingin sekali menangis haru karena perlakuan Rumi itu. Sementara Shafa memutuskan memutar tubuhnya, dan berjalan keluar dari toko hijab itu seraya tersenyum kecut.
'jangan cemburu Shafa... Tidak baik. Kita bertiga sama-sama tak saling memiliki hubungan. Ini hanya pertemanan, iya hanya pertemanan.' batin Shafa, satu paper bag berisikan hijab yang hendak ia serahkan pada Debby pun urung ia berikan, karena Rumi sudah membelikan hijab untuk Debby lebih dulu.
Hingga tiba waktu Maghrib, mereka sudah berada di salah satu restoran siap saji.
ke-tiganya duduk dengan posisi Rumi di tengah-tengah antara Debby dan Shafa yang saling berhadapan. Menikmati hidangan berbuka puasa mereka sembari bersenda gurau.
Terlihat Rumi menikmati sekali candaan Debby itu, gadis itu benar-benar ramai dan heboh. Apalagi dengan hijab di wajahnya, wajah Debby jadi jauh lebih terlihat cantik.
__ADS_1
Tunggu...! Cantik? Ahhh lihat kak Rumi langsung memalingkan wajahnya gara-gara terlalu lama memandang Debby yang asik mengoceh itu. Entah lah dia sekarang sudah tidak takut lagi pada dua wanita itu, mungkin karena sudah semakin mengenal. hehehe
Bersambung...