Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
A' Faqih marah.


__ADS_3

Sudah cukup lama Nuha berdiri di depan gerbang, A'a belum juga muncul. Dia pun sedikit cemas, sebenarnya A'a kemana sih? Kenapa pergi tidak memberi kabar. Tidak mungkin kan A'a sengaja meninggalkan Nuha sendirian.


Nuha menilik ke arah jam tangannya, lima menit lagi waktu berbuka dia pun mulai kesal.


A'a tidak pernah seperti ini, kalaupun pergi dia pasti izin. Lagian urusan apa sih sampai dia harus pergi mendadak begini.


Di sebuah parkiran Farhat masih duduk di atas motornya, dia belum bisa pergi dari rumah Tafiz itu karena tidak tega meninggalkan Nuha sendirian. Farhat turut mencoba menghubungi Faqih namun tidak aktif, hingga dia memutuskan untuk menyalakan mesin motornya, dan melaju pergi keluar meninggalkan Nuha yang masih berdiri di depan gerbang menuju salah satu minimarket terdekat.


Dia membelikan dua bungkus roti dan dua botol air mineral, lalu kembali ke rumah Tafiz itu. Terlihat bingung Nuha karena ustadz Farhat kembali dan menghentikan laju motornya di dekat dia berdiri.


"Maaf ustadzah, sudah adzan Maghrib sebaiknya ustadzah batalkan dulu puasanya." Farhat menyerahkan satu bungkus roti sobek, dan air mineralnya.


"Terimakasih kak, tapi... Saya tidak enak menerimanya."


"Tidak apa ust, hanya sekedar air kok." Farhat masih mengulurkan itu pada Nuha yang tengah bimbang mau menerima atau tidak. 'maaf Faqih, aku tak bermaksud menggoda istri mu. Namun dia harus membatalkan puasanya.' batin Farhat.


Perlahan tangan Nuha meraihnya, bersamaan dengan itu sorot lampu dari motor yang mendekat membuat keduanya menutupi matanya.


"Neng–" seru A' Faqih seraya mematikan mesin motornya langsung.


"A'a?" Nuha tidak jadi menerima botol yang masih terarah kepadanya. Tatapan Faqih tertuju pada Farhat. "A'a dari mana? Nuha nunggu A'a dari tadi."


Faqih meraih kepala Nuha memberikan kecupan di kening. Itu kekanak-kanakan sih, namun jujur saja Faqih kesal melihat kekasihnya tengah bersama pria yang mengagumi dia juga. Nuha terkejut dia merasa tidak enak sekali karena di cium di depan Ustadz Farhat.


Sementara Farhat hanya tersenyum, dia kembali memalingkan wajahnya.


"A'a...?" Panggil Nuha, Faqih pun langsung menoleh ke arah Nuha.


"Naik neng." Titah Faqih dengan suaranya yang terdengar dingin.


'A'a kok tatapannya jadi nyeremin gitu? Apa beliau marah?' batin Nuha yang langsung menuruti Suaminya duduk di atas motor sang suami membonceng di belakang. Motor pun mulai mundur sedikit lalu berbelok.

__ADS_1


"Duluan ustadz. Assalamualaikum." Ucap Faqih yang langsung membawa laju motornya menjauh.


"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Farhat lirih. Dia pun menghembuskan nafasnya. "Astagfirullah al'azim, Faqih sepertinya salah faham ini." Pria itu geleng-geleng kepala. Dia mengangkat botol yang masih ditangannya yang tadi hendak di terima Nuha, di bukalah botol itu kemudian lalu meminumnya setelah membaca doa berbuka puasa.


"Alhamdulillah..." Gumam Farhat setelah membatalkan puasanya. Dia pun kembali menyalakan mesin motornya lalu pergi.


Sepanjang perjalanan, Faqih tak bersuara, membuat Nuha semakin tegang di buatnya. Beliau pun menghentikan laju motornya di depan minimarket.


"Duduk saja di bangku, A'a yang masuk." Ucapnya dingin seraya masuk kedalam minimarket tersebut.


'benar kayanya A'a marah. Tapi kenapa? Seharusnya kan aku yang marah karena dia pergi tidak bilang-bilang.' Nuha menatap ke arah dinding kaca toserba itu melihat A'a hanya mengambil dua botol air mineral dan roti sobek yang sama persis jenisnya seperti yang tadi di sodorkan kak Farhat. Tanpa ekspresi beliau mendekati kasir, Nuha pun mendekati kursinya lalu duduk. Hingga keluarlah A'a dari dalam toserba itu menghampiri sang istri.


Faqih duduk di hadapan Nuha seraya menatap tajam sang istri lalu membuka penutup botolnya. "Ini minum." Menyodorkan botol yang sudah terbuka pada Nuha.


"Terimakasih A'..." Nuha meraihnya dengan perasaan takut. Terlebih tatapan tajam itu masih saja terarah kepadanya. Nuha memalingkan wajahnya sembari meminum itu.


'jangan ngeliatin kaya gitu kek, serem ngeliatnya.' batin Nuha. Melirik sesekali lalu kembali berpaling. 'tajam sekali sih iiih... Apa salah ku coba?' Nuha menurunkan botolnya, dia sudah selesai minum.


"Kasihkan botol itu ke A'a." Titahnya datar. Nuha pun menyerahkan botol yang masih ada airnya itu. A' Faqih pun menerimanya dan langsung meminumnya.


"Senang ya?"


'apa? Apa coba maksudnya?'


"Berbunga-bunga pasti kan? setelah melakukan perbuatan dosa." A'a menyilang ke-dua tangannya di depan dada, seraya menyender di kursi.


'apaan sih? kok jadi aku di sini yang terlihat bersalah?' Nuha masih menunduk.


"Senang kan kamu, bisa berduaan sama angin segar mu itu."


'eh... Angin segar? Memangnya aku ngapain?' kedua tangan Nuha saling meremas, padahal dia bisa protes duluan saat menunggu A'a yang pergi tanpa bilang apa-apa dulu.

__ADS_1


"Jawab jangan diam saja."


"A...aku harus jawab apa? Kan... Kan A'a yang pergi dan Kak Farhat tadi?"


"Ustadz Farhat...! sudah ku bilang panggil dia jangan kakak, masih saja panggil kakak?"


'apa-apaan sih dia ini jadi marah tidak jelas begini. Aku yang harusnya kesal woy...! Dasar suami killer.' Nuha benar-benar geram tapi ketakutannya mengalahkan apapun.


"Nuha...!"


"I...iya A'a, maaf... Nggak lagi-lagi panggil kakak." Melirik ke arah Faqih yang semakin menajamkan pandangannya lalu menunduk lagi. "Tapi ustadz Farhat." Sambungnya lirih.


"Enak ya, melakukan dosa di bulan puasa saat suami tidak ada."


"Kok A'a bilangnya gitu sih? Siapa yang melakukan dosa?"


"Mau menjawab ucapan A'a?" Potong Faqih. Nuha pun langsung bungkam.


'apa sih dia ini, iiissshhh kaya aku sudah melakukan kesalahan tercela saja.'


"Dari jam berapa berduaan seperti tadi?" Tuding Faqih. Nuha melebarkan bola matanya namun masih dalam posisi menunduk.


'beduaan? Tuduhan macam apa itu? Memang aku tidak punya kehormatan apa? Sampai-sampai aku harus berdua sama pria lain di belakang suami ku? Sepertinya ini hanya cara dia lolos dari kemarahan ku sih. Dia marah duluan ck..! Dasar licik.'


"Jawab Nuha."


"Astagfirullah A'a siapa yang berduaan sih, tadi tuh ya? Ahh sudah lah... Ini di tempat umum, Nuha malu kalau kita harus bertengkar di sini." Bisik Nuha meraih tangan Faqih dan menggenggamnya.


Faqih mendesah, dia beranjak dari posisi duduknya lalu menggandeng tangan Nuha. "Ayo pulang, selesaikan di kamar kita, dan terima hukuman mu nanti."


Gleeekk...!

__ADS_1


'ya Allah semoga dia nggak cari perkara di dalam kamar. Dengan hukuman yang aneh-aneh.' Nuha mengikuti langkah sang suami dengan sedikit berlari. Mau bagaimana lagi, Faqih berjalan cepat dengan kaki jenjangnya itu sembari menarik Nuha dengan kakinya yang pendek itu. Dia ini lupa apa pura-pura lupa kalau istrinya itu pendek ya ampun A'a. Tapi....? Nuha jangan di apa-apakan ya A' di dalam kamar hehehe.


Bersambung...


__ADS_2