
Langit di luar sudah semakin terang, dua anak itu harus kembali ke Asemka. Padahal inginnya Faqih, Nuha tetap di rumah Umma Rahma dan menginap lagi semalam, selama dirinya pergi ke Bogor hari ini.
Namun keukeuh nya Nuha yang tetap ingin kembali untuk membantu ibu mertuanya masak hari ini membuat Faqih tak bisa menolak lagi.
"Dede, kasih ini untuk Umma Hasna ya." Sebuah kotak berisi lapis legit di serahkan kepada Nuha.
"Iya Umma, Umma Hasna suka kue ini." Tutur Nuha ceria sembari menerimanya.
"Iya, salam buat Umma dan Abi mu di Asemka ya." Umma Rahma mengecup kening Nuha lembut. "Hati-hati sayang, Umma tunggu kedatangan mu lagi ya."
"Iya Umma." Nuha membalas kecupan itu di pipi sang ibu, setelah itu beralih pada Abi yang juga memberikannya kecupan di kening.
Hati Rahma yang mudah tersentuh itu kembali membuatnya menitikkan air mata. Dia masih ingin Nuha di rumah ini, belanja dan masak bersama lagi. Namun mau bagaimana? Dia sudah berkeluarga sekarang. Kini motor mereka berdua sudah mulai melaju keluar dari pagar rumah.
Terlihat mata Umma Rahma semakin membanjir di sana. Sementara Abi Irsyad langsung melingkari tangannya di bahu sang istri dan mengusapnya pelan.
"Sepi.." gumam Rahma masih menatap ke pagar rumahnya, Abi Irsyad pun terkekeh.
"Masuk yuk nanti kang mas nyanyiin biar ramai."
"Tidak mau, nyanyiin terus. Yang lain kek."
"Loh, kalau minta yang lain itu urusan malam hari. Sekarang kan puasa." Ledek Abi Irsyad. Sementara Umma Rahma hanya diam saja, dia masih tidak mood untuk meladeni ledekan sang suami.
Tangan Irsyad pun menyusup masuk ke dalam cadar Umma Rahma. "Zaujatii." Gumamnya pelan mengusap pipi sang istri. Umma Rahma menoleh.
"Tahu kan sekarang, kenapa dulu mas minta anak lagi? Ya seperti ini."
"Iya tapi Rahma memang hanya mampu ngasih mas dua kan? Kita juga dulu sudah mencoba lagi bahkan Rahma tidak KB setelah Nuha dan Rumi lima tahun. Mas saja yang terlalu cepat menikahkan Nuha." Bersungut.
"Gini, jika Nuha tidak menikah. Namun dia malah berangkat ke Kairo apa tidak semakin jauh dari mu? Itu kan keinginan Nuha?"
"Huuuuhh... Iya sih tapi kan? Aaaahhhh, kenapa waktu cepat sekali sih. Padahal baru kemarin loh Umma melahirkan si kembar."
"Hehehe, yang penting masih ada mas. Bisa pacaran lagi kan kita. Ada keuntungannya loh dek."
__ADS_1
"Apaan sih mas? Sudah tua... Inget umur."
"Sudah di bilang berkali-kali ya. Bahas umur terus nih. Apa bedanya si sayang...? Tetap tampan loh mas ini." Menaik-turunkan alisnya.
"Lebih tampan Rumi tuh."
"Samain saja terus dengan yang lebih muda. Ibarat parfum Rumi itu sudah campuran, kalau Abinya kan masih original."
"Hahaha... Original tuanya. Sudah lah masuk panas di luar."
"Nggak mau jadi patung Semar lagi nih?"
"Nggak...!" Jawab Rahma melangkah masuk.
"Patung Pancoran mau?" Irsyad mengikuti di belakang sembari menutup pintu rumahnya. Sementara yang di dalam sudah tergelak.
Huhuhu romansa Abi Irsyad dan Umma Rahma memang selalu bikin merindu. Cuman begitu lah... Sekarang sudah berganti masa, dimana Rumi dan Nuha lah yang akan mendominasi. Hehehe
***
Mereka baru saja tiba, seruan salam membuat Abi Rahmat dan Umma Hasna yang tengah di ruang tengah menyaut.
"Tersenyum lah Umma, menantu dan anak mu sudah kembali." Titah Abi Rahmat, sementara Umma hanya diam saja. Sudah cukup sepanjang hari mendapatkan ceramah ustadz Rahmat kemarin, dia tidak ingin ada masalah lagi, lebih baik diam saja dari pada berucap namun akan di salahkan.
Dua anak itu masuk. Dan langsung menghampiri Abi dan juga Umma, meraih tangan mereka lalu mengecup punggung tangannya. Umma Hasna menyunggingkan senyum tipisnya pada Nuha.
"Umma sudah sehat?" Tanya Nuha yang langsung duduk di sampingnya.
"Emmm, Alhamdulillah." jawabnya singkat.
"Alhamdulillah... Oh iya, ini ada titipan dari Umma Rahma untuk Umma Hasna dan Abi." Nuha menyerahkan bungkusan berisi kue lapis legit di tangannya.
"Terimakasih," jawabnya singkat. Hanya menerima lalu kembali ia letakkan di atas meja.
"Sama-sama Umma. Ada salam juga dari Abi Irsyad dan Umma Rahma untuk kalian." Nuha tersenyum.
__ADS_1
"Walaikumsalam warahmatullah. Terimakasih ya neng, Sampaikan itu pada Abi dan Umma mu." Jawab Abi Rahmat seraya tersenyum pada Nuha yang hanya mengangguk senang. Beliau lantas beralih pandang pada Faqih. "A'a, jadi ke Bogor?" Tanya Abi Rahmat.
"Iya, Bi... Sebentar lagi jalan. Ustadz Harun sedang mengantar barang lebih dulu." Jawabnya pada Abi yang sudah membulatkan bibirnya.
Mereka berempat duduk sejenak di ruang tengah menonton acara televisi bersama, yang pasti dengan keheningan seperti biasanya. Memang keluarga ini sangatlah menyukai ketenangan, tidak seperti di rumah Nuha yang selalu di hiasi dengan canda tawa antar satu sama lain. Apalagi jika tengah kumpul bersama kak Rumi juga, tingkat ramainya mengalahkan apapun.
Hingga selang beberapa menit ponsel A'a berdering, beliau menerima panggilan itu dan langsung beranjak.
"Neng, A'a jalan sekarang ya. Ustadz Harun sudah menunggu di rumah Tafiz." Tutur beliau pada sang istri yang mulai mengangguk pelan. Mereka pun melangkah keluar bersama. setelah Faqih berpamitan dengan ayah dan ibunya.
Seperti yang di katakan A' Faqih.... dia benar-benar pergi hari ini mengendarai motor matic, dengan jaket hitam dan helmnya. ia nampak gagah sekali bagi Nuha.
Wah... Nuha semakin jatuh hati saja sepertinya, kau semakin menyadari jika suami mu itu tampan ya Nuha? Kemana saja selama ini? Mungkin ya... Karena tertutup sifat menyebalkan A' Faqih sih, membuatnya telat gabung dalam daftar para pengagum Faqih Al Malik. Hehehe berlebihan sekali kau Author?
Seperti sebuah drama mengharu biru... Eh, tidak seperti itu juga. Nuha hanya mengecup punggung tangan Suaminya, Faqih pun tersenyum ia mengusap pangkal kepala Nuha lembut.
"A'a jalan dulu ya neng, nanti mau A'a bawakan apa?" Tanya Faqih. Pria itu sungguh sangat lain sekarang, sudah tidak sedikit bicara lagi sih dia. Itu adalah karakter Faqih yang semakin di ketahui Nuha, tidak sih sepertinya memang Author yang belum bisa lepas dari karakter novel pertama hahaha.
"Tidak mau apa-apa, yang penting A'a pulang cepat ya." Jawab Nuha, Seperti itu lah keinginan para istri. Walaupun saat pulang nanti tetap di cari oleh-olehnya. Namun kepulangan suami lah yang mungkin akan paling ia rindukan.
Dan setelah terucap salam, motor itu menjauh keluar dari pagar rumah tersebut.
Sekarang Nuha sudah seperti sendirian, semakin asing rasanya dia pun bingung mau melakukan apa. Sementara Umma sepertinya masih menyantai didalam.
'jadi masak tidak ya Umma?' batin Nuha, dia ingin masuk kembali namun ragu. Karena ikut nimbrung akan membuatnya kikuk, di kamar saja rasanya tidak enak. Haduuuhhh begini sekali ya kalau tidak ada A'a.
Cukup lama Nuha berdiri di depan, dan akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku teras, bermain dengan kuku-kukunya.
Hingga tak lama Abi Rahmat dan Umma Hasna pun keluar. Mereka sudah siap?
"Neng, Abi mau antar Umma ke pasar dulu ya. Kamu istirahat saja." Ucap Abi Rahmat.
"Iya Bi." Nuha meraih tangan ke-duanya mengecup punggung tangan itu satu persatu. Juga menjawab salam dari keduanya yang sudah melangkah mendekati mobil mereka.
'jadi masak rupanya.' Nuha tersenyum tipis, dia pun kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang di kendarai Abi melaju keluar.
__ADS_1
Bersambung....