Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
cerita A'Faqih


__ADS_3

Di kamar A' Faqih.


Nuha sedang duduk di atas ranjang mereka sembari mengamati suaminya yang tengah mengeluarkan sesuatu seperti kontainer plastik besar di bagian atas lemari pakaiannya.


"A' mau Nuha bantu?" Nuha berusaha menawarkan. Karena sepertinya Faqih sedikit kesulitan.


"Tidak usah neng, A'a bisa kok." Cukup lama namun akhirnya kontainer itu bisa di turunkan dengan bersusah payah. "Alhamdulillah."


Nuha tersenyum, ia pun mendekati A' Faqih.


"Debunya banyak Neng, di sana saja."


"Tidak apa A', Nuha mau di dekat A'a." Nuha sudah berjongkok di sebelah A' Faqih. Pria itu pun tersenyum lalu memberikan kecupan di pipi Nuha.


Kraaakkk, kraaaakkk A' Faqih membuka kunciannya di sisi kiri dan kanannya itu lalu membuka penutupnya.


Terdapat banyak buku-buku tebal di dalamnya.


"Ini buku-buku A'a neng waktu kuliah di Kairo. Masih ada banyak sih, yang penting-penting A'a taruh di kamar, sisanya di gudang." Tutur A' Faqih.


"MashaAllah, banyak sekali ya." Nuha meraih satu persatu. Hingga pandangannya teralihkan saat melihat selembar Foto yang terdapat potret A' Faqih, dengan posisi menyamping tak memandang ke arah kamera. ia pun meraihnya seraya tersenyum. "A'a pakai penutup kepala?"


"Hehehe, iya A'a pakai Ghutrah, waktu itu cuaca lagi panas sekali. Itu saja yang motret teman A'a."


"Ganteng seperti pangeran Arab." Nuha mengecup pipi Faqih. Faqih tersenyum.


"Nuha simpan ya." pinta Nuha.


"Boleh, ambil saja." Mengusap kepala Nuha. Setelah itu beliau meraih beberapa buku, lalu mengajak Nuha duduk lagi di atas ranjang mereka.


"Sementara, kamu baca-baca dulu yang ini ya. Sebenarnya pengambilan jurusan di sana di bedakan antara laki-laki dan perempuan. Jadi tidak apa ya neng belajar dengan jurusan yang A'a ambil."

__ADS_1


"Tidak apa A', kan Nuha cuma belajar bukan mau kuliah di sana. Jadi apa saja, tidak ada bedanya." Tersenyum cerah.


'kamu akan berangkat kok sayang, haaaaahhh A'a pasti akan rindu sekali kalau kau kuliah di sana.' batin A' Faqih tersenyum.


"A'a dulu ambil jurusan apa?" tanya Nuha.


"Jurusan Tafsir dan ‘Ulumul Qur’an, Fakultas Ushuluddin," jawab A' Faqih.


'waaaahhh... Bukan main, bisa tidak ya aku mempelajarinya.' Nuha ternganga.


"Hehe kok bengong?"


"A'a hebat. Lulusnya cepet lagi."


"Alhamdulillah, jangan puji A'a, neng. A'a kurang suka di puji."


"Kenapa?"


"A'a mau cerita sedikit ya?" Ucap Faqih sembari menempelkan bibirnya di rambut Nuha.


"Iya..." jawab Nuha.


"Dulu nih ya? Jadi inget. Kalau pas lagi musim panas di Mesir MashaAllah, kadang Sampai rindu panasnya kota Jakarta yang tidak ada apa-apanya, lebih-lebih jika sedang menjalankan ibadah puasa. Dan lagi neng? Di sana tuh kalau lagi musim panas, mandi saja harus nunggu air dingin dulu."


"Masa?" Tanya Nuha yang mulai tertarik.


"Iya, pipa-pipa di sana kan dari besi, jadi kalau di siang hari air seperti di didihkan. Ya tidak mendidih sih. Cuman jadi panas saja, jadi kita biasanya nampung dulu di ember di diamkan sampai agak dingin. Dan harus di tungguin juga."


"Kok di tungguin?"


"iya lah Kalau nggak? nanti di pakai teman, kan ngeselin."

__ADS_1


"Hehehe... Sampai segitunya? Emang sama mereka nggak di ganti airnya?"


"Di ganti sih, tapi kan jadi nungguin lagi." Jawab A' Faqih, Nuha pun terkekeh.


Di lihat sang istri benar-benar sudah mulai nyaman bersamanya. Dan sudah tidak terlihat bersungut-sungut lagi seperti saat sebelum menikah. Faqih mempererat pelukannya.


"Senangnya, tapi A'a dulu betah tidak di sana?" Tanya Nuha bernada manja.


"Betah tidak betah neng, namanya juga jauh dari tanah kelahiran. Senikmat-nikmatnya di sana, lebih nikmat di negara sendiri. Sekarang sih enak sudah ada asrama. Dulu kan para mahasiswa susah nyari tempat tinggal karena memang biaya sewa rumah mahal. Kalau A'a Alhamdulillah bisa tinggal dengan layak. Beberapa teman-teman A'a sampai ada yang tidur di pelataran toko yang tutup, jadi seperti menggelandang gitu."


"Ya Allah kok gitu sih A'...?"


"Mau bagaimana lagi, mereka kan rata-rata anak pesantren yang masuk begitu saja. Jadi cuma modal berangkat, kuliah, sama Visa."


"Berat juga ya hidup di sana."


"Makanya, jangan pikir orang-orang yang kuliah di Mesir itu nikmat. Banyak cerita sedih para ustadz yang benar-benar sampai jualan apa saja demi bisa bertahan hidup di Kairo, karena mereka tidak hanya kuliah, tapi makan juga butuh kan?" Tutur Faqih seraya mengecup bahu Nuha.


"Kalau suami ku ini? Bagaimana kehidupan di sana dulu?" Tangan Nuha mengusap-usap rambut A' Faqih.


"Kalau A'a? Dulu sih Alhamdulillah, kiriman Abi selalu cukup. Cuman sempat kehabisan uang juga sih di sana, gara-gara apa ya waktu itu? Intinya jadi ke habisan uang, sementara A'a tidak berani minta kiriman lagi ke orang tua. Akhirnya A'a ikut teman-teman jualan bakso pakai tenda gitu, di dekat kampus, kaya bazar makanan lah."


"MashaAllah. Bisa kebayang muka datar kaya A'a nawarin bakso pakai bahasa Arab." Nuha bengong sesaat guna membayangkan. Lalu terkekeh kemudian.


"Bayangin apa kamu?" Menarik pipi Nuha. Gadis itu pun mengaduh seraya meminta ampun.


"Ya habis... A'a itu jutek banget, dengan ekspresi wajah datar itu."


"A'a itu bukan jutek, tapi cool."


"Emmm, iya lah... Saking coolnya bikin Nuha darah tinggi ya?" Mendengar itu Faqih terkekeh sesaat. Ia senang karena sang istri sudah lebih lepas saat ini.

__ADS_1


__ADS_2