Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
hadirnya malaikat kecil (Extra part)


__ADS_3

Waktu yang semakin bergulir...


Umma Rahma sudah di perbolehkan pulang, walaupun kondisinya tak sebaik dulu. Kini Umma seperti mengalami kelumpuhan pada syarafnya. Sehingga membuatnya sedikit kesulitan menggerakkan tangannya dan kakinya.


Sore ini di taman depan rumah, ustadz Irsyad menghentikan laju kursi rodanya. Sedangkan Nuha keluar membawakan bubur buatannya untuk Umma Rahma.


"MashaAllah, aromanya harum sekali. Lihat Nuha sudah pandai masak ya Umma?" Puji Abi Irsyad sembari menerima mangkuk dari tangan Nuha, sementara Rahma hanya tersenyum sembari mengangguk.


"Dede, hari ini menginap lagi?" Tanya Umma Rahma lirih.


"Iya Umma, Dede mau sama Umma terus buat merawat Umma pokoknya."


"Loh, kasihan A'a dong sayang bolak balik setiap hari. Kamu juga lama tidak mengajar di rumah Tafiz kan?" Ucap Umma.


"Sambil makan ya? Baca bismillah." Potong Abi Irsyad mengarahkan sesendok bubur itu ke arah mulut Rahma. Hingga bibir itu terbuka seiring dengan masuknya sendok ke dalam mulutnya.


Sembari mengunyah Rahma meraih tangan Nuha.


"Umma tahu kamu masih ingin di sini merawat Umma, namun kamu juga tidak boleh mengesampingkan A'a." Ucap Umma Rahma membuat Abi Irsyad tersenyum dengan tatapan kagum pada Rahma.


"Tapi, A'a tidak pernah merasa gimana-gimana kok Umma."


"Dede, walaupun A'a tidak merasakan kesal, setidaknya Kamulah yang seharusnya peka sendiri. Jangan egois." Ucap Abi Irsyad sembari mengarahkan lagi sendoknya ke arah Umma Rahma.


"Iya Bi." Jawab Nuha lirih.


"Lagi pula di sini ada Abi, jadi jangan khawatir ya." Sambung Abi Irsyad.


hingga tak lama Rumi ke luar, turut duduk di gazebo itu.


"Anak Umma, yang satu ini? Kapan nikahnya?" Tanya Umma Rahma pada Rumi.


"Rumi belum kepikiran Umma, belum ada keinginan nikah juga. Seperti janji Rumi mau jagain Umma dulu sama Abi." Jawab Rumi.


"Kamu mau menunggu Umma wafat dulu baru nikah ya?" Tutur Umma Rahma. Membuat ketiganya menatap kearah Umma Rahma. Irsyad pun beristighfar pada sang istri yang tengah terkekeh. "Rumi, sebaiknya di nikahi saja Bi sama Shafa. Biar kita semakin jadi saudara."


"Kok Shafa?" Tanya Rumi.


"Dia baik hati kok, Abi setuju tidak?" Tanya Rahma.


"Iya Umma." Jawab Abi Irsyad. Sementara Rumi hanya diam saja.


"Rumi... Tapi Umma tidak maksa kamu sama Shafa sih... Siapa saja boleh. Asal secepatnya ya. Umma pengen lihat kamu bersanding terus punya anak. Tidak sabar melihat cucu-cucu Umma...ada yang kembar tidak ya?" Terkekeh. Sedangkan dua anak itu hanya menatap sedih ke arah ibunya.


"Umma, habiskan dulu makannya lalu minum obat, setelah itu istirahat ya." Titah Abi Irsyad, Rahma pun mengangguk.


–––


Petang menjelang, mengganti matahari dengan bulan.

__ADS_1


Di kamar Nuha... A'a terlihat lelah sekali, sudah hampir satu bulan beliau bolak balik Asemka Bekasi. Membuatnya seperti terlihat loyo semakin harinya. Belum lagi dengan pekerjaannya mengurus ruko baru, serta beberapa pesanan.


"A'a maaf ya?" Ucap Nuha yang tengah memijat kaki suaminya yang tengah memejamkan mata.


"Maaf apa neng?"


"A'a bekerja keras sekali sih. Nuha kasian sama A'a."


"Tidak apa, A'a tuh malah sedang semangat sekali neng, sekarang pesanan semakin banyak. Kiriman bahkan sampai ke luar pulau Jawa. Jadi kaya tidak terasa lelah saja, dan di rumah baru terasa." Terkekeh.


"Apa kita kembali ke Asemka saja? Rumah kita lama tidak di tempati A'..."


"A'a tetap datang setiap hari kok, buat membersihkan rumah."


"Iya tahu. Tapi kan? Nuha tidak enak sama A'a karena Nuha terlalu sibuk mengurus Umma. A'a jadi tidak terurus." Gumam Nuha, Faqih pun tersenyum sembari beranjak.


"Kata siapa A'a tidak terurus? Setiap kali pulang, kamu selalu melayani A'a dengan baik kok, contohnya sekarang ini." Faqih mengecup pipi Nuha. Gadis itu tersenyum. "Tidak usah memikirkan hal apapun yang sifatnya buruk sayang. A'a tuh senang dan ikhlas menjalaninya, A' Faqih cuma butuh doa dan dukungan mu. Supaya A'a jauh lebih semangat lagi untuk sukses di bidang yang A'a geluti ini."


"Iya A'..."


"Pokoknya kamu tidak usah terlalu memikirkan A'a.... Tidak apa jika ingin di sini dulu, bahkan sampai calon anak kita lahir." Faqih menurunkan kepalanya mengecup perut Nuha. "Tidak sabar A'a tuh. Dede sehat-sehat, dan jangan malu ya saat tahu, punya Abi seorang pedagang Kurma."


Mendengar gumaman Faqih Nuha terkekeh. Membuat Faqih turut tertawa serta mengecup kening Nuha.


***


Usaha Faqih semakin berkembang.


Dengan perut Nuha yang sudah membesar Nuha membantu mengurus di bagian kasir A'a. Sementara A'a tengah mengecek barang yang datang dari sebuah mobil box.


Beberapa jenis kurma pesanan pun di turunkan. Serta menghitung ulang peti berisi kurmanya lalu mencocokkan pada nota di tangannya, di sana beliau mondar mandir menuju meja kasir guna mengambil sesuatu, dengan sesekali mengusap perut sang istri lalu kembali berjalan keluar menghampiri supir mobil box tersebut.


Nuha tersenyum saat A' Faqih duduk lesehan di bawah meja kasirnya. Setelah selesai dengan urusannya itu.


"Lelah ya?" Tanya Nuha.


"Iya... Kalau ada bongkaran barang begini. Ya Allah." Melepas pecinya lalu mengipasi dirinya. Nuha pun mengulurkan segelas air mineral pada Faqih.


"A'a... Besok kita ke rumah sakit ya."


"Emmm?" A'a menengguk minumannya. "Sudah jadwal kontrol kah?" Tanya A'a.


"Iya, soalnya besok tanggal HPLnya. Dan Nuha belum ada kontraksi, jadi besok harus ke rumah sakit." Jawab Nuha, Faqih pun beranjak. Dia mengusap perut Nuha.


"Dede, mau keluar kapan? Besok ya? Iya kah?" Tanya Faqih, sebuah gerakan di perut membuat Keduanya terkekeh.


"Di respon langsung loh, manja ya kalau sama Abinya.." Ucap Nuha. Faqih pun terkekeh.


"Maaf A'... Stok kacang arabnya masih tidak ya?" Tanya Ali seorang pegawai yang membantu Faqih.

__ADS_1


"Masih kayanya, di gudang atas, yang di situ habis ya? Tapi tinggal yang harganya mahalan dikit. Coba di cek ke gudang Li." Ucap Faqih sembari berjalan keluar mendekati pelanggannya. Di sana Nuha masih saja mengamati sang suami dengan rasa Syukur teramat. Kerja keras suaminya mulai membuahkan hasil. Ya walaupun tidak menutupi ada bantuan dana dari Abi Rahmat juga, 50:50 lah sama modal dari A'a sendiri. Namun dia tetap bersyukur atas itu.


Esok harinya...


Karena tidak ada kontraksi sama sekali, dokter memutuskan melakukan prosedur pacu karene di rasa aman untuk melakukan proses normal.


Hingga sepuluh menit berlalu, kontraksi mulai dirasakan Nuha, tangannya meremas kencang tangan A' Faqih yang tengah memeganginya. Hingga perawat pun mengecek pembukaannya setelah beberapa jam kemudian, hingga di dapati Nuha sudah masuk ke pembukaan tujuh.


Nuha pun di pindahkan keruangan bersalin, dan tak membutuhkan waktu lama, bagian kepala sang bayi sudah terlihat... Dokter pun mulai memberikan aba-aba agar Nuha mau mengejan.


"Jangan di tahan ya mbak... Kalau sudah terasa ada dorongan langsung mengejan saja. Yuk bismillahirrahmanirrahim." Dokter memberikan perintah.


Hingga kepala bayi mulai keluar seluruhnya, bayi pun memutar.


"Yuk mbak sekali lagi ya." Titah sang dokter.


"Sekali lagi neng, semangat." Faqih mengecup kening Nuha, hingga dalam tarikan nafas panjang, Nuha mulai kembali mengejan sekuat tenaga. Barulah Seorang bayi perempuan keluar dengan tangisnya untuk yang pertama kali.


"Alhamdulillah wa syukurlah... Neng, anak A'a lahir... MashaAllah." Di ciumnya wajah Nuha berkali-kali. Gadis itu hanya tersenyum tipis sembari bergumam hamdalah lirih, masih merasa lemas.


Setelah bayi itu dibersihkan, dokter pun meminta Faqih untuk mengadzani bayinya.


Di lihatnya bayi mungil itu benar-benar membuat A' Faqih merasa bahagia bercampur haru.


"Anak Abi..." Di kecuplah pipi yang masih kemerahan itu. "Bismillah... Allahu Akbar Allahu Akbar..." A' Faqih mulai melafazkan adzan di dekat telinga kanan anaknya, dan komat di telinga kirinya. "Laa ilahailallah..." Faqih membaca doa lalu mengecup pipi itu lagi.


"MashaAllah cantiknya, gemas juga Abi nak." Faqih mengusap pipi itu pelan.


Hingga beberapa saat Nuha pun sudah di pindahkan di kamarnya, kini dia tengah memberikan Asi pertama untuk putrinya.


Keduanya terkekeh karena mulut bayi mungil itu tidak sampai-sampai pada sumber menghisapnya, sehingga membuatnya merengek.


"Ya Allah... Bibirnya masih kecil sekali sih. Belum muat." Faqih tergelak, sembari mengusap kepala anaknya itu. "Eh... Iya neng, jadi di kasih nama Ziya? anak kita Kan perempuan."


"A'a masih ingat ya?" Tanya Nuha


"Ingat dong." Mengecup pipi Nuha. Gadis itu pun tersenyum dan mengangguk.


"Ziya siapa bagusnya ya A'?" Tanya Nuha.


"Karena Ziya memiliki makna cahaya... A'a mau menambahkan nama Al Zuhra di belakang. Jadi Ziya Al Zuhra, cahaya yang cemerlang. setuju tidak?"


"MashaAllah... Setuju A'... Pokoknya kalau A'a yang kasih nama, Nuha setuju saja." Ucap Nuha senang dia pun mengecup kening sang anak. "Seperti terlahir kembali, semoga Ziya yang ini ceria dan Solehah seperti almarhumah gadis kecil itu ya A'..."


"Iya..." A' Faqih tersenyum.


Bersambung...


(Extra part ini Tinggal dua bab lagi buat besok ya teman-teman.)

__ADS_1


__ADS_2