Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
Cinta berlebihan sang Hafizh.


__ADS_3

Sepanjang berjima, gadis itu semakin merasakan sakit di area perutnya, namun dia diam saja. Sampai aktivitas intim mereka berakhir, Faqih memberikan kecupan di bibir Nuha sebanyak tiga kali seraya membelai kepala Nuha.


"Neng?" Panggil A' Faqih, gadis itu pun membuka matanya. Menatap sang suami lekat. "Maafkan A'a atas segala kekurangan A'a... Maafkan setiap kali A'a melakukan hal bodoh seperti tadi ya." A' Faqih kembali menempelkan bibirnya di dekat telinga Nuha. Mata Nuha kembali terpejam, merasakan sensasi tak biasa, sementara kedua tangannya masih memegangi kedua lengan A'a meremasnya pelan.


"A'a cuma ingin kau lebih sabar lagi menghadapi perangai A'a yang terkadang suka keras terhadap mu." Tutur A' Faqih lembut. Nuha pun kembali membuka matanya dengan pandangan lurus ke depan. "Sungguh, A'a tidak bermaksud melukai mu." Sambung A' Faqih kemudian.


'aku tahu dia memang keras, namun mengetahui dia bisa semarah ini hanya karena hal sepele. Aku jadi takut jika sampai melakukan kesalahan lebih dari ini.'


"Neng? Kenapa diam saja, masih marah ya sama A'a?" Tanya Faqih mendongakkan kepalanya. Di lihat Nuha tersenyum tipis dengan wajah yang tiba-tiba saja pucat. Ya... Nuha menahan sakit sebenarnya.


Dia pun turun dan merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri, dengan seruan adzan isya yang mulai terdengar.


"Neng kenapa? Neng sakit?" Tanya Faqih membelai lembut kepala sang istri. Nuha pun menggeleng.


"Tidak A' Nuha lelah, A'a bebersih dulu sana. Mau ke masjid kan? Lagian A'a Kenapa harus sekarang sih melakukannya, A'a jadi terburu-buru kan?" Sebenarnya satu tangan Nuha masih memegangi perut bagian sampingnya itu, di bawah selimut. Faqih tersenyum, dia mengecup lagi bibir Nuha yang tengah bersungut.


"Hukuman untuk mu, karena sudah membuat A'a cemburu parah, jangan buat A'a seperti ini lagi ya."


"berlebihan. Itu tidak baik A–" Nuha Merengek manja. Faqih pun terkekeh seraya kembali memberi kecupan di pipi Nuha.


"Mandi sama-sama yuk." Ajak beliau.


"Nuha lelah A'... A'a duluan saja ya, biar Nuha rehat dulu." Menyentuh pipi sang suami.


"Maaf ya sayang, tadinya A'a mau kasih libur malam ini." Faqih mengecup pipi Nuha berkali-kali, gadis itu pun terkekeh.


"Sudah sana mandi..."


"Tapi maafin A'a dulu, maaf karena A'a tadi sudah marah-marah pada mu." Faqih masih merasa bersalah.


"Iya A'a sayang." Jawab Nuha tersenyum, Faqih pun senang dia hendak mencium Nuha lagi namun langsung di dorong Nuha. "Sudah sana mandi A'.... Keburu ketinggalan jamaah."


"Iya sekali lagi....muaaah." Faqih mengecup bibir Nuha lagi sebelum meraih sarung yang teronggok di lantai, lalu berjalan masuk kedalam tandas.

__ADS_1


Sementara A'a sudah menghilang ke dalam tandas, Nuha pun kembali meringis. "Sakit sekali Ya Allah. Kenapa ya?" Nuha beranjak duduk dengan selimut menutupi tubuhnya meraih air di meja, lalu meminumnya. Sakit itu pun sedikit reda.


"Sepertinya memang aku kurang banyak minum air putih." Gumam Nuha. Ia pun merebahkan tubuhnya lagi, menatap langit-langit kamar.


'A'a marah jika aku dekat-dekat Kak Farhat, berarti aku harus menjaga jarak. Aku tidak mau A'a benar-benar melarang ku mengajar. Dan marah lebih dari ini.' gumam Nuha dalam hati, dia pun beranjak dengan kain selimut yang menggulung di tubuh lalu meraih jubah mandinya, seraya menunggu A'a selesai ia berdiri di dekat pintu tandas. menunggu A' Faqih keluar, dengan jubah mandi menutupi tubuhnya yang putih mulus itu.


Cklaaaak krieeeeeet... Pintu kamar mandi itu terbuka. A' Faqih keluar dengan rambutnya yang basah seraya tersenyum saat mendapati Nuha, dan langsung meraih tubuh Nuha, memeluknya erat. Syukurlah dia sudah tidak marah lagi begitu pikir Nuha yang membalas senyumannya.


"Terimakasih kesayangan. Maaf ya jadi mandi lagi." Menciumi leher Nuha, gadis itu membalas pelukan sang suami.


"Iya A'... Sudah sana pakai baju. Koko A'a, sarung sama sajadah sudah Nuha siapkan di atas ranjang. Nuha mau mandi dulu ya."


"Iya. Terimakasih ya." Mengusap kepala sang istri yang hanya tersenyum lalu masuk kedalam kamar mandi.


Hingga rampung dengan urusan mandi, Nuha pun keluar, dia mendekati ranjangnya karena sepertinya dia kembali merasakan sakit di area perutnya, dan intensitasnya semakin sering. Sepertinya ini tak biasa? Apa perlu dia membicarakan ini pada A'a lalu memeriksanya ke dokter.


Namun tidak lah, nanti saja selagi masih bisa di tahan sepertinya itu tidak masalah.


***


Sementara Anak-anak sudah berhamburan pulang setelah di jemput oleh orang tua mereka masing-masing.


Karena selama Ramadhan, kegiatan belajar mengajar jauh lebih cepat. Dan kajian pun di lakukan seminggu dua kali sehabis mengajar.


Posisi tiga ustadzah itu sebagai berikut, Nuha berjalan di tengah dengan dua orang berada di samping kanan dan kiri Nuha.


"Ust bagaimana sudah ada hasilnya belum?" Ledek salah seorang teman seraya melingkari lengan Nuha.


"hasil apa ust?" Tanya Nuha.


"Debay." Jawab ustadzah Innah


"De? Bay?" Polosnya Nuha masih saja tidak mengerti.

__ADS_1


"Astagfirullah Dede bayi. Maksudnya ustadzah Innah ini, ustadzah Nuha sudah isi belum." Ustadzah Sarah menjelaskan.


"Owh... hahaha. Ya Allah Gusti," terkekeh sendiri. "Belum ngecek ust, sepertinya belum sih kan baru dua Minggu Nuha nikahnya."


"Iya juga sih, tapi kadang kalau ustadzah cek sekarang dan jika rezekinya juga di kasih cepat suka sudah nampak loh kaya saya satu tahun yang lalu." Tutur ustadzah Innah.


"Benarkah begitu?" Tanya Nuha berbinar.


"Iya ust. Sudah merasakan tanda-tanda belum? Seperti mual? Perubahan mood dan sebagainya?"


"Sepertinya itu belum sih." Jawab Nuha.


"Ummm, tapi tidak ada salahnya sih ngecek ust."


"Hehehe, iya deh coba besok-besok Nuha cek." Tersenyum ceria. Mereka pun melanjutkan langkah mereka menuju masjid.


Di depan masjid itu, Faqih sudah berdiri di depan pelataran menunggu Nuha yang tak kunjung nampak.


"MashaAllah ust, pangerannya sudah menunggu." Ledek ustadzah Innah pada Nuha yang hanya tersenyum malu-malu.


"Ustadzah jangan seperti itu ahhh..." Nuha tersipu malu.


"Hahaha, kita masuk duluan ust. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Nuha pelan.


"Assalamualaikum A'..." Sapa mereka kemudian saat melewati A' Faqih yang langsung menjawabnya namun tatapannya tertuju pada sang istri. Nuha semakin mendekat sembari Melepaskan alas kakinya.


"Assalamualaikum A'..." Meraih tangan A' Faqih seraya mengecup punggung tangannya.


"Walaikumsalam, kok baru datang?"


"Iya tadi nunggu ustadzah Sarah dulu, buat jalan bersama."

__ADS_1


"Ya sudah masuk gih, Abi sudah di atas mimbar." Titah sang suami. Nuha pun mengangguk dan berjalan masuk melalui pintu yang berbeda dari pintu masuk para ustadz, Faqih mengamati Nuha hingga gadis itu masuk kedalam dan menghilang dari pandangan barulah beliau masuk.


__ADS_2