Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
kecupan lembut dari mas Farhat. (Qori & Farhat)


__ADS_3

Di sebuah meja makan, Farhat melihat makanan itu terlihat menggugah selera sekali.


Sarapan pagi yang tak terlalu berminyak, walaupun hanya tempe dan tahu goreng. Serta sayur bayam juga sambal, benar-benar menu yang sederhana namun nikmat.


Tunggu! Tapi dia belum belanja hari ini kan? Lalu bayam ini, cabai, dan lauknya dari mana?


Dia pun memutuskan untuk duduk beberapa saat, menunggu Qori saja lah. Takutnya gadis itu belanja dengan uangnya sendiri.


Hingga hampir tiga puluh menit, Qori turun, menghampiri sang suami yang hanya bermain ponsel di atas kursinya.


"Loh, mas Farhat belum makan?" Tanya dia, Farhat pun meletakkan ponselnya di atas meja. Menunggu Qori duduk di kursinya.


"Mas nunggu kamu, ayo makan sama-sama." Ajaknya.


'apa, mas Farhat menunggu ku?' tiba-tiba saja dia merasakan berbunga-bunga.


Hingga Qori mulai ngambil beberapa lauk untuk mas Farhat, dan mereka pun makan bersama.


'masakan Qori enak sekali.' gumam beliau dalam hati, menikmati setiap suapan nasi yang basah karena kuah sayur bayam buatan sang istri, lebih-lebih sambalnya. Tidak terlalu pedas namun nikmat, cocok dengan tempe goreng yang masih sedikit garing dengan bumbu yang tak terlalu asin. Semuanya pas di lidah Farhat.


Setelah makanan itu habis di lahap Keduanya, Qori menuangkan air mineral ke dalam gelas lalu menyerahkannya kepada sang suami.


"Terimakasih ya." Ucap mas Farhat.


"Sama-sama mas." Tersenyum.


Setelah menengguknya habis, gelas itu kembali di letakkan di atas meja. "Ini kamu belanja sendiri?" Tanya Farhat.

__ADS_1


"Iya mas, tadi pas Qori keluar ada tukang sayur lewat, didepan rumah. Jadi Qori langsung memintanya untuk berhenti, dan Qori belanja seadanya. Maaf hanya sayur ini ya mas, mas pasti kurang berselera."


"Bukan... Bukan begitu dik, maksudnya... Mas kan belum kasih kamu uang belanja, mas cuma tidak enak saja kalau kamu masak dengan bahan makanan yang kamu beli sendiri. Dan sebaiknya tadi kamu minta uang ke mas Farhat."


"Tidak apa mas, kan Qori ada. Lagi pula tadi mas Farhat sedang sibuk mengurus Agam jadi Qori tidak mau mengganggu mas Farhat."


"Ya sudah, begini saja. Berapa tadi uang yang kamu keluarkan, biar mas ganti."


"Nggak mas jangan. Ini tidak seberapa kok."


"Dik, mas itu harus menafkahi mu. Sebentar ya." Mas Farhat beranjak, dia masuk ke dalam kamar mereka hanya untuk mengambil dompetnya lalu menyerahkan lima lembar uang ratusan ribu kepada Qori. "Mas cuma ada cash segini, besok-besok kalau ada rezeki lagi, mas tambahin." Uang itu masih di tangan Farhat, sementara Qori masih diam saja. "Ini ambil dik."


"Nggak mas, uang itu di pegang mas Farhat saja. Qori tahu mas sudah keluar uang banyak, dari membebaskan Agam, membayar mahar ku yang besar, padahal aku bukanlah wanita cantik dan sempurna. Dan mas harus menafkahi aku juga? Apa aku tidak keenakan jadinya?" Gadis itu menunduk, Farhat pun menghela nafas, dia kembali duduk di atas kursinya, meletakkan uang itu di atas meja.


"Kok bilang seperti itu? Mas kan tulus melakukannya untuk mu. Lagi pula menafkahi mu itu kewajiban ku sebagai suami kamu."


Farhat meraih dagu gadis itu mengangkatnya. Melihat wajah sendu yang sudah terdapat genangan air mata di sudut matanya. "Qori tidak perlu berfikir untuk membalas Budi mas. Cukup menjadi istri yang baik, itu sudah cukup."


"Tapi Qori tidak cantik kan? Qori tidak menarik. Bagaimana Qori bisa menjadi istri yang baik untuk mas Farhat?" Air mata Qori menetes.


"Cantik..." Potong mas Farhat, "Qori juga menarik, serius. Cuman mas memang masih belum mengenal mu, itu sebabnya mas masih canggung."


"Hiks..." Qori semakin terisak, mungkinkah Farhat mengatakan itu hanya karena melihatnya menangis. Dia ingin menghentikan tangisnya, namun tidak bisa.


"Tolong jangan nangis Qori, mas jadi merasa kalau kau tak bahagia."


"Qori bahagia, Tapi mungkin mas Farhat yang tidak bahagia, karena memperistri wanita tidak sempurna seperti ku dengan terpaksa karena iba." Menyeka air matanya sendiri sementara tangan Farhat menahan itu, dan memilih untuk menyekanya dengan tangan beliau.

__ADS_1


selesai dengan urusan air mata, lalu keduanya mulai saling tatap, hingga Farhat mulai mendekati bibir manis gadis itu, berusaha untuk mengecupnya.


'bismillahirrahmanirrahim, aku harus memberikan ini untuk istri ku, agar dia yakin aku menikahinya bukan hanya karena iba semata.' semakin mendekat dan menyatu lah bibir itu dengan lembut, sementara satu tangan memegangi pinggang Qori, agar semakin mendekat kepadanya.


Di sisi lain satu tangan Qori meremas lengan Farhat, dengan mata yang terpejam.


Ini kali pertamanya mendapatkan sentuhan di bibirnya.


Membuat dia merasakan kenyamanan, serta debaran jantung yang tak beraturan. Cinta yang semakin dalam untuk sang suami, membuatnya merasa tidak sanggup jika harus merelakan suaminya pergi meninggalkan dia.


Sesaat kecupan itu dilepaskan oleh mas Farhat, meninggalkan jejak kemerahan di wajah Farhat yang sepertinya menjadi lebih malu-malu.


Sehingga membuat pria itu tiba-tiba beranjak.


"Mau kemana mas?" Tanya Qori menahan lengan itu.


"Mau... Mau ngecek Agam."


"Tapi Agam kan tidak nangis, dia pasti masih tidur."


"Se...sebentar kok." Berjalan kaku saat tangan Qori sudah melepaskannya, dan masuk dengan pintu kamar yang tertutup.


Qori menghela nafas, dia menyentuh bibirnya sendiri lalu tersenyum. "MashaAllah, lembut sekali kecupannya." Bahagia bercampur haru saat mendapatkan kecupan pertama di bibirnya.


Berbeda dengan pria yang ada di dalam kamar itu, dia membentur-benturkan pelan keningnya di tembok yang dia alasi dengan lengannya itu.


"A... Aku menciumnya? Ya Allah? Bagaimana ini? Aku tak berpengalaman, belum lagi tadi habis makan? Belum sikat gigi selain mandi tadi, pasti bau bawang ini... Aaaaaa memalukan sekali." Farhat kalang kabut sendiri, merasa apa yang dia lakukan tadi kepada Qori pasti membuat Qori tidak nyaman. Sepertinya pria itu malah akan jadi semakin canggung kepada wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Ya ampun mas Farhat... Hehehe

__ADS_1


__ADS_2