Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
makan ketoprak (extra part)


__ADS_3

Sepasang suami istri itu sudah sampai di salah satu kedai pinggir jalan yang cukup lengang belum begitu ramai atau mungkin memang sudah sedikit lewat sarapan pagi, jadi yang makan di sana sudah tidak begitu banyak.


Sang pedagang ketoprak memberikan satu porsi ketoprak spesial pada keduanya, dengan empat butir telur rebus yang di potong empat, sesuai pesanan A' Faqih.


Kening Nuha berkerut, kenapa harus banyak sekali pesan telur rebusnya. A' Faqih hanya memilih putih telurnya lalu menyerahkannya pada Nuha menggunakan sendok yang hanya satu juga.


"A' Faqih, makannya pakai sendok masing-masing saja ya, jangan disuapin." Bisik Nuha dengan tatapan tidak enak terarah pada orang di belakang A' Faqih. Karena beberapa orang itu curi-curi pandang ke arah mereka sesekali. Belum lagi para ABG di dekat mereka.


"Bukan mulut mu, neng." Perintahnya lagi tanpa menggubris ucapan Nuha. Sehingga mulut Mungil Nuha mulai terbuka.


"A'a aku sudah kenyang, sebelum ke tempat bidan kita kan sudah sarapan. lagi pula, Kenapa telurnya banyak sekali?"


"Lupa ya, tadi Bu bidan bilang apa? Kamu harus banyakin makan makanan yang mengandung banyak protein. Biar bekas luka operasi usus buntu mu cepat sembuh, jadi tidak menganggu kandungan mu."


"Ya tapi nggak di tukang ketoprak juga kan? Nuha bisa merebusnya sendiri di rumah, kalau kaya gini keliatan rakus sekali A'..." Runtuk Nuha.


"Tidak usah pedulikan orang lain kenapa sih.... Buka mulutnya." Mengarahkan lagi.


"Nggak mau sama kuning telurnya A'." Nuha menolak, A'a pun kembali meletakkan itu dan menyingkirkan kuning telur yang masih menempel, lalu menyerahkan lagi pada Nuha.


"A'a juga makan." Ucap Nuha sembari mengunyah.


"Iya..." A'a memasukkan sesuap lontong yang basah terguyur bumbu kacang dengan mie putih beserta kuning telurnya tadi ke dalam mulutnya sendiri.


"Kok di makan kuning telurnya?" Tanya Nuha, sementara A' Faqih masih fokus mengunyah dan menyingkirkan lagi kuning telur lain, yang masih menempel dengan putihnya. "Memang tidak serek?" Tanya Nuha, kembali membuka mulutnya, saat A'a menyodorkan sesuap untuknya.


"Nggak neng, dari pada di buang, mending A'a yang makan." Jawab A' setelah menelan makanannya dan memasukan lagi sesuap ke mulutnya sendiri. Nuha pun tersenyum, lalu mengangkat tangannya hendak memanggil Abang ketopraknya. Secepat itu pula A' Faqih meraih tangan Nuha.


"Mau ngapain?" Tanya A'a.


"Minta es teh."


"Kamu kok jadi minum es terus, nanti radang bagaimana?"


"Hawanya panas A'... Kayanya bawaan Dede bayinya deh." Nyengir.

__ADS_1


"Ck... Ya sudah jangan panggil Abangnya. Biar A'a saja yang buatkan es tehnya."


"Hah...! Kok A'a?"


"Iya... A'a tidak mau kamu minum hasil buatan laki-laki lain."


"Idih... Ini ketoprak saja dia yang bikin kok, lagian namanya juga pedagang. A'a ini ya berlebihan sekali?" Runtuk Nuha.


"Pokoknya A'a aja yang bikin."


"Sook, sana bikin lah..." Nuha mengalah saja, sedangkan A' Faqih hanya tersenyum tipis lalu menepuk-nepuk pangkal kepala Nuha gemas, saat Nuha berucap dengan bahasa Sunda yang masih terdengar kaku.


"Ini jangan di singkirkan ya, takutnya ada yang duduk di sebelah kamu." Faqih meletakkan tas selempang beliau di bangku plastik di sebelah Nuha lalu pergi.


"Ck...! Kalau aku cantiknya kebangetan pantes kamu kaya gitu A'..." Nuha geleng-geleng kepala.


Dan benar saja, A'a minta izin ke abangnya untuk membuat es tehnya sendiri.


"Allahu Rabbi... Di buatnya beneran loh..." Nuha menoleh ke kiri dan ke kanan, beberapa orang sudah menatap kearah Faqih sembari bisik-bisik yang entah apa. Dengan tatapan iri mungkin. "Kayanya yang perlu di cemburuin sih dia deh, liat saja pandangan para ukhti itu. Ckckck. Dasar pangeran tampan." Terkekeh tanpa suara sembari menutup mulutnya sendiri.


"Sedotannya mana?" Tanya Nuha.


"Oh iya... Bentar." Bangun lagi, Nuha pun sedikit menikmati di perlakukan seperti ini oleh Faqih. 'boleh songong nggak sih? Tapi boleh dong ya... kapan lagi coba?' batin Nuha terkekeh jahat.


"Ini neng," Faqih mencelupkan sedotan di gelas Nuha, lalu mengarahkannya ke dekat bibir Nuha. Sebelumnya gadis itu menoleh lagi kepara ukhti ABG yang sedang mengamati mereka. 'hei... Sekalian saja bikin iri para ABG itu hahaha... Kalian mau yang kaya gini kan para gadis?' batin Nuha sembari menyeruput es teh dari sedotan yang di pegangi A' Faqih.


Beberapa ada yang memegangi dadanya lalu saling berbisik... 'astagfirullah al'azim... Hahaha.' Nuha ingin tergelak, sehingga membuatnya langsung tersedak.


"Pelan-pelan minumnya." A'a meraih tissue hanya untuk mengusap bibirnya. Ngerasa banget di rumah sendiri atau bagaimana sih A'... Bikin iri Author aja.


"Maaf habis enak buatan A'a..." Ucap Nuha, Faqih terkekeh.


"Berlebihan... Ayo makan lagi."


"Iya suami ku." Jawab Nuha manja. Faqih pun mengusap kepala Nuha lembut. Di sambungnya lagi makan mereka hingga habis tak tersisa, walaupun lebih banyak A'a yang makan sedangkan Nuha hanya makan telurnya dan beberapa potong lontong saja, namun sepertinya dia mulai merasa begah sih.

__ADS_1


Di dekat mobil mereka, setelah keluar dari tenda. Nuha menopangkan satu tangannya ke pintu mobil.


"Kenapa?" Tanya Faqih.


"Begah dan sedikit mual A' jadi pengen muntah... Kayanya kebanyakan telur deh, jadi kaya amis gitu. A'a sih."


"Ya sudah mau cari toilet umum dulu, atau bagaimana?"


"Nggak tau lah, pengen muntah tapi nggak pengen ke toilet." Mood Nuha tiba-tiba buruk.


"Ya terus gimana?" Menyentuh pipi Nuha. Melihat wajah Nuha yang seperti mual itu, malah membuatnya ikut-ikutan mual. "Duh... Ke toilet saja yuk... A'a juga mual ini." Di raihnya tangan Nuha seraya berjalan mencari toilet umum.


Keduanya pun berpisah untuk masuk ke toilet masing-masing.


Di dalam sana? Mual Nuha hilang, hanya tersisa begahnya saja, sedikit sih. Berbeda dengan sang calon bapak muda itu, dia benar-benar mengeluarkan isi perutnya lumayan banyak.


Beliau pun membasuh mulutnya dengan air, lalu menyender di dinding toilet.


"Ya ampun... Rasanya begini sekali. Kalau Nuha mual-mual seperti ini, pasti kasihan sekali." Faqih mengeluarkan permen dari sakunya, membuka lalu memasukkan kedalam mulutnya sendiri menghalau mual itu. Setelahnya beliau pun bergegas keluar, merasa khawatir dengan Nuha.


Dan saat dia keluar di lihatnya Nuha sudah terlihat segar lagi. Segera dia mendekati sang istri yang sudah mengembangkan senyumnya, seraya menyentuh pipinya.


"Bagaimana, masih mual?" Tanya Faqih.


"Tidak A'... Malah tidak jadi muntah."


"Syukurlah kalau begitu... Pulang yuk, istirahat dulu. Nanti habis Dzuhur kerumah Abi Rahmat, dan selesai magrib baru ke rumah Abi Irsyad. Buat ngasih kabar bahagia ini." Faqih menyentuh perut Nuha, gadis itu pun tersenyum lalu mengangguk.


Hingga kembali ia merasakan perutnya yang berkedut.


"A'a merasakannya tidak?" Tanya Nuha.


"Tidak... Memang kamu merasakan apa?"


"berkedut lagi, sepertinya dia tahu Abinya sedang menyentuh." Tutur Nuha.

__ADS_1


"MashaAllah.... Sehat-sehat ya sayang, Abi tidak sabar ingin melihat mu." Ucap Faqih seraya tersenyum. Tatapan Nuha tertuju pada sang suami, rasanya bahagia. ternyata seorang Faqih Al Malik bisa semanis ini memperlakukannya. Hingga rasa syukur pun terus terucap di benak Nuha.


__ADS_2