Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
Takdir hidup tak pernah salah.


__ADS_3

Kembali ke beberapa jam sebelumnya. di kota Jakarta, sinar mentari sudah mulai terik padahal waktu masih menunjukkan kurang dari jam sebelas siang.


Motor A' Faqih baru saja memasuki pagar rumah ustadz Irsyad, bagaikan surga paling nyaman. Nuha melebarkan senyumnya, kala dia bisa melihat lagi halaman rumah tempatnya bermain.


Kebun yang tertata rapi, bunga-bunga dan tanaman hias yang segar, suara gemericik dari kolam ikan mini, dan lagi gazebo dengan mini rak di dalamnya tempat menyimpan beberapa buku bacaan.


Nuha sangat merindukan rumahnya, namun yang paling ia rindukan adalah? Dua pasang suami istri yang usianya sudah tidak muda lagi, keluar dengan sambutan hangat dari balik pintu rumah.


"Dede..." Panggil Umma Rahma, kedua tangannya merentang menyambut sang putri bungsu yang paling ia cintai dan ia rindukan.


"Umma" gumam Nuha lirih, langsung saja Nuha mendekat dan menghamburkan sebuah pelukan. Bagaikan tak bertemu bertahun-tahun, Umma menciumi wajah Nuha tanpa cela.


"MashaAllah... Rindu, Umma rindu sekali sayang." Sebulir air mata menetes. Umma, sebegitu rindunya kah dengan Nuha? Padahal baru satu mingguan lebih loh hehehe. Begitu lah ibu ya? Mau tidak berjumpa satu jam pun jika dia sudah tau sang anak sudah berkeluarga dan menetap di tempat lain mengikuti suaminya, maka tidak bisa di pungkiri kerinduan pasti akan tetap ada seolah sepi terus saja menghantui. Apa lagi obatnya? Tentu saja saat anak itu datang, sungguh kebahagiaan yang sangat sepele namun berarti bagi para orang tua.


"Assalamualaikum." Faqih mendekat memberi salam, Beliau meraih tangan Abi Irsyad seraya mengecup punggung tangannya, yang di balas sebuah pelukan selamat datang dari sang ayah mertua, setelah menjawab salam dari sang menantu.


Selesai menyapa Abi, Faqih pun beralih pada Umma. Sama halnya pada Nuha, Rahma pun senang saat kedatangan Faqih.


"Aura menantu Umma, MashaAllah. Tampannya bukan main." Memuji, Faqih pun tersipu. Sementara Abi Irsyad hanya memajukan bagian bawah bibirnya. Karena yang di puji tampan hanya sang menantu. Begitulah bapak satu ini yang masih suka iri ya.


Pandangan Rahma beralih pada Nuha yang hanya melebarkan senyum, gadis ini seperti menjadi lebih pendiam.


"Dede lelah tidak?" Tanya Umma Rahma. Nuha menggeleng pelan.


"Tidak Umma." Jawab Nuha lembut, dia ketularan Faqih sepertinya menjadi gadis yang hanya bicara sedikit. Namun lebih baik sih, Nuha terlihat lebih kalem.

__ADS_1


"Kalau begitu kita belanja yuk... Umma kangen belanja bersama Dede." Ajak Umma Rahma, gadis itu langsung menoleh ke arah A' Faqih. Sementara A' Faqih hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Mau Faqih antar Umma?" Tanya Faqih, menawarkan.


"Tidak usah, Umma sama Nuha mau pakai sepeda motor saja, tidak apa kan?"


"Tidak apa Umma, cuman kalau Umma belanja banyak kan takut susah bawanya." Tutur Faqih.


"Tidak, hanya belanja sedikit kok." Jawab Umma Rahma.


"Umma, ajak dulu dong anak-anak masuk. Suruh Nuha sama Faqih istirahat sebentar, baru ajak pergi." Titah Ustadz Irsyad, Umma Rahma pun terkekeh.


"Iya... Iya... Yuk masuk yuk anak-anak Umma. Ya Allah saking rindunya mau belanja bareng Nuha, sampai lupa nyuruh kalian masuk." Umma Rahma menggandeng dua anaknya masuk ke dalam rumah, Sementara sang suami dia abaikan. Akhirnya ustadz pun geleng-geleng kepala, namun dia juga senang karena dua anak itu berkunjung ke rumahnya.


Seperti ini lah kamarnya yang tak seluas kamar mereka di rumah A' Faqih, namun banyak kenangan serta kenyamanan.


Di depan meja tempatnya belajar ada sebuah papan agenda kecil, ada beberapa kertas warna-warni yang tertempel di sana serta beberapa foto Nuha.


Gadis itu tersenyum, saat membaca sebuah tulisan.


(Manjjaada wajjada... Kairo Mesir.)


Jari jemarinya mulai mendekat dan melepas tulisan itu dari tempatnya. Dia sudah tak butuh lagi target perjalanan hidup itu. Kini kehidupan barunya adalah A' Faqih, iya... Sakinah bersamanya. Nuha meremas tulisan itu dan hendaknya dia membuang catatan itu ke dalam tong sampah yang masih kosong. Namun seketika itu pula di tahan Faqih, gadis itu menoleh.


"Kenapa di buang?" Tanya A' Faqih.

__ADS_1


"Tidak apa A'... Hanya catatan omong kosong." Jawabnya. Faqih terdiam, ia pun membuka genggaman tangan Nuha dan meraih kertas di tangannya.


"Neng tahu? Jika tidak ada suatu pengorbanan pun yang menjadi sia-sia?" Tanya Faqih lembut. Bagaikan kata-kata motivasi yang tak berarti, Nuha hanya tersenyum kecut. Diapun menyentuh resleting jaket A' Faqih, lalu menurunkannya, Membantu jaket itu terlepas dari tubuhnya.


'aku tak mengharapkan itu lagi A'... Kau lah prioritas ku saat ini.' batin Nuha yang mulai merasakan matanya yang menganak. Faqih Menyentuh kedua tangan Nuha, gadis itu mengangkat kepalanya.


"A'a sangat menyayangi mu... A'a mau neng bahagia." Tutur Faqih, seolah tak bisa lagi di tahan air mata Nuha menetes begitu saja. Nuha pun memutar tubuhnya, tidak ingin Faqih melihatnya menangis.


'apa salah ku? Tidak... Ini bukan suatu kesalahan, ini adalah hadiah dari Allah yang perlu aku syukuri.' Nuha berjalan memasuki kamar mandinya. Tangan Faqih terangkat hendak menahan itu, namun sang istri sudah masuk dan pintu tandas sudah tertutup.


Di dalam tandas, Nuha membungkam mulutnya dengan kain handuk. Tiba-tiba saja dia ingin menangis, dia sangat merindukan kehidupannya sebelum menikah. Sebagaimana dia bisa bersenda gurau dengan bebasnya.


'aku harus patuh akan aturan hidup ku... Aku harus patuh dengan takdir hidup ku.' bahu itu bergetar, dengan satu tangan Menyentuh dadanya, sementara satu tangannya membungkam mulutnya agar tak keluar sedikit pun suara Isak tangisnya.


Sementara yang di luar tengah menyender di tembok sebelah pintu tandas, memegangi kertas memo milik Nuha tadi.


Saat ini Faqih merasa bimbang, tentang sang istri yang harus merelakan impiannya demi bisa mengabdikan hidup untuk dirinya, sementara sang ibu?


Benar.... hingga detik di mana Nuha dan dirinya hendak pergi ke rumah Ustadz Irsyad pun beliau tetap tidak ingin keluar dari kamarnya.


Faqih meremas kepalanya dengan kedua tangannya itu, ia bahkan ingin menangis saat ini namun di tahan sebisa mungkin untuk menjaga-jaga jika saja Nuha tiba-tiba keluar dari kamar mandi itu, dia tidak ingin terlihat sedih di mata Nuha.


'aku benar-benar harus mencari uang untuk Nuha, aku akan memberikan pendidikan tinggi untuknya. Dan sementara istri ku kuliah, aku akan bekerja keras di sini untuk memberikan dia hunian.' batin A' Faqih. Seraya menggenggam kertas memo itu.


Takdir tidak pernah salah menempatkan posisinya, setiap kali kita merasa kecewa akan itu? Sesungguhnya ada hal baik yang tengah menanti di depan, hanya tinggal menunggu. Kapan waktu itu hadir sebagai sebuah pembuktian, bahwa pilihan Tuhan tak pernah salah.

__ADS_1


__ADS_2