Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
permintaan pak Lukman


__ADS_3

Di luar bangsal Qori...


Lek Hilman sudah membawa pria itu sedikit menjauh dari pintu ruang rawat Qori, dia pun melepaskannya seraya menatap Farhat.


"Farhat? Kamu itu kalau bicara mbok ya di pikir dulu. Kamu main ngajak nikah anak orang? Kamu harusnya berfikir loh, lihat sendiri tadi bapaknya seperti apa?"


"Lek, Farhat tahu. Ini terlalu gegabah. Namun justru karena mereka berdua butuh perlindungan. Maka Farhat harus menikahi Qori."


"Menolong tidak harus di nikahi loh... Kamu ini? Ya Allah. Sekarang kalau dia jadi benar-benar berharap buat di nikahi oleh mu bagaimana? Di pikir dulu Farhat... Jangan main ajak nikah saja, kamu pikir menikah itu hanya coba-coba atau bagaimana sih?"


"Astagfirullah al'azim pak lek, tidak mungkin saya hanya coba-coba. Saya serius pak lek. Saya mau menikahi Qori."


"Nih ya, menikah itu harus melihat keturunannya loh. Dia itu bukan dari keluarga baik-baik, seharusnya kamu rundingan dulu sama orang tua mu. Biar nggak timbul masalah."


"Yang saya nikahi itu Qori lek, dan saya percaya dia wanita Solehah."


"Iya tapi ini bapaknya loh... Kamu sudah melihat bapaknya seperti apa kan?" Masih berusaha membujuk Farhat untuk membatalkan niatnya itu.


"Pak, mas Farhat ini niatnya baik pak. Masa di larang sih. Lagian benar kata mas Farhat Qori itu butuh perlindungan. Selama ini kita lihat sendiri bagaimana gadis itu di siksa oleh bapaknya, setelah ibunya pergi meninggalkan mereka kan?" Haidir mencoba menenangkan sang ayah.


"Haidir, menolong si menolong. Tapi jika sampai membuat masalah pada keluarga besar kita? Itu bisa mencoreng nama keluarga dia juga kan. Apalagi Farhat itu ustadz." Tutur lek Hilman yang semakin khawatir dengan keputusan sang keponakan.


Ustadz Farhat pun geleng-geleng kepala seraya tersenyum. "Lek, inshaAllah. Niat Farhat baik, dan mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa. Nanti saat Farhat pulang. Farhat akan memberitahukan ini pada ayah dan ibu di rumah. Semoga saja Allah membatu memberikan keikhlasan hati pada orang tua Farhat agar menerima mereka berdua, menjadi istri dan anak Farhat." Ucap ustadz Farhat.


"Ya sudah... Paman hanya mendukung saja. Semoga sih tidak terjadi masalah apa-apa." Menyerah. Sementara Farhat hanya bergumam hamdalah, lalu masuk lagi ke bangsal Qori.


Guna mengatakan bahwa dia benar-benar serius menikahinya, dan akan datang lagi besok bersama kedua orangtuanya.


Dengan tatapan penuh haru Qori merasa bahagia, "Terimakasih banyak mas, aku tidak tahu lagi ingin bicara apa selain itu." Menelungkup kan kedua tangannya di depan dada seraya menangis.


"Cepatlah sehat, jika saat malam takbir ini kau belum di perbolehkan pulang. Kita menikah di rumah sakit ini saja tidak apa ya? Walaupun hanya ijab Qabul." Ucap Farhat.


"Hiks... Aku tidak mengharapkan pesta mewah mas. Karena sesungguhnya aku bukan lah wanita yang pantas untuk menjadi istri mu."


"Sssstt... Mas ikhlas menikahi mu Qori. Yang penting kau mau menerimaku juga, dan tetap menghormati ku. Walaupun mau Seberapa pun nafkah yang akan mas berikan pada mu setelah ini."

__ADS_1


"Hiks..." Qori mengangguk. Dia bahkan terus berucap terimakasih berkali-kali pada pria yang turut tersenyum senang. Lalu beranjak.


"Mas pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa, atau saat bapak datang. Kamu bisa hubungi mas."


"Iya... Iya mas Farhat."


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Tersenyum senang, bahkan dia pun tidak bisa mengukur seberapa bahagianya saat ini. Yang ia lakukan hanyalah menatap punggung pria yang yang sudah mulai menghilang seiring pintu bangsal itu mulai tertutup. "MashaAllah, calon suami ku." Menitikkan air matanya lagi.


***


Hari sudah berganti, sebuah ketukan membuatnya menoleh Seraya tersenyum.


"Mas Farhat." Gumamnya. Seketika itu senyumnya meredup saat sang ayah datang. Tumben sekali dia masuk dengan cara mengetuk pintu bangsal itu.


"Mana pria yang katanya akan menikahi mu? Dia sudah berjanji akan datang hari ini dengan kedua orangtuanya kan?" Tanya pak Lukman. Sementara Qori masih diam saja, di saat seperti ini kenapa sang ayah malah datang. Bukan Qori tidak suka, namun dia takut sang ayah akan membawa masalah saat keluaga ustadz Farhat datang.


"Hei...! Apa kau tidak bisa bicara? Mana calon mu itu?"


"Cih..." Menyulutkan api ke ujung puntung rokoknya.


"Pak, maaf... Di sini ada bayi Ku. Tolong jangan merokok disini." Ucap Qori pelan-pelan. Dengan sedikit lirikan tajam Qori langsung tertunduk. Hingga sebuah ketukan lagi terdengar.


"Assalamualaikum." Sapa ustadz Farhat, beliau sedikit terkejut saat mendapati pak Lukman ada di dalam, langsung saja ia lebarkan senyum pada pria yang sudah menatapnya dengan senyum sinisnya.


Di ikuti dengan ayah dan ibu, ustadz Farhat pun masuk.


"Ayah, ibu. Perkenalkan dia pak Lukman ayah dari Qori." Ucap Farhat. Dengan ragu kedua orang tua Farhat menjabat tangan pak Lukman. Setelah itu sang ibu pun beralih pada Qori.


"Assalamualaikum nduk." Sapa ibunda Farhat seraya memeluk hangat sang calon menantu lalu melakukan gerakan cipika-cipiki.


"Walaikumsalam warahmatullah Bu." Jawab Qori menyambutnya. Sang ibu mertua pun menoleh ke arah anak itu, sungguh wajah yang menyejukkan hati. Membuat ibunda Farhat langsung menggendong bayi dalam dekapan Qori.


Semalaman, Farhat berbicara dengan orang tuanya. Menjelaskan semuanya apa adanya, sesuai dengan apa yang di katakan Qori padanya.

__ADS_1


Dan dengan menitikkan air mata sang ibu merestui niat baik Farhat, bahkan dia pun sudah siap dengan apapun yang akan di lakukan oleh calon besannya itu. Tanpa mengurangi restunya pada Qori.


"Emmm... Mumpung kalian ada di sini sekalian saja saya ingin meminta mahar untuk anak saya ini." Ucap pak Lukman to the poin.


"Ba... bapak... Bapak kok bilang seperti itu." Ucap Qori merasa tidak enak.


"Tidak apa nduk." Ucap ibu Aminarti. Beliau kembali menoleh ke arah pak Lukman. "Silahkan pak, ucapkan saja mahar yang bapak inginkan."


Tersenyum sinis. "Tidak banyak tiga puluh juta saja."


"Astagfirullah al'azim, bapak." Qori berseru.


"Baiklah akan saya berikan mahar segitu pak." Jawab Farhat. Qori pun menggeleng.


"Tidak mas jangan. Itu terlalu banyak, lagi pula Qori sudah di nikahi saja itu sudah bersyukur."


"Tidak apa dik... Sungguh aku ikhlas."


"Tapi mas?"


"Tutup mulut mu Qori...!!! Kau butuh wali kan? Jika kau mau aku menjadi wali mu? Ya calon suami mu ini harus menuruti persyaratan yang ku buat. Bayar mahar itu, lagi pula itu kan tidak banyak."


"Bapak?"


"Nduk, tidak apa." Tutur sang calon ayah mertua. "Iya pak. Keluarga kami akan memberikan mahar itu."


"Bagus, karena pernikahan akan di gelar besok malam. Saya mau itu segera di berikan besok juga ya."


"Astagfirullah al'azim." Qori geleng-geleng kepala, dia benar-benar malu dengan kelakuan bapaknya itu.


"Mas?" Qori menatap seraya menggeleng ke arah pria yang sudah menempelkan jari telunjuknya itu kebibirnya sendiri.


"Tidak apa-apa." Gumam Farhat lirih seraya tersenyum.


Kalian perlu tahu. Jangan kaget jika ada seorang bapak berhati buruk seperti pak Lukman. Karena di dunia ini? Jangankan ayah, ibu pun terkadang ada yang seperti itu. Demi menuruti nafsu duniawi. Mereka bahkan mengesampingkan hati nurani, rela melukai siapapun demi kepuasan. Walaupun itu pada anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2