
Subuh ini ustadz Farhat di tunjuk untuk mengimami salah satu Mushola, yang letaknya tak jauh dari rumah saudaranya.
Di daerah tambun. Karena semalam beliau bermalam di sana, rumah pak lek daripada ustadz Farhat itu sendiri.
Dengan lantunan ayat yang tak begitu panjang suratnya, beliau memimpin jalannya dua rakaat shalat dan khunutnya itu dengan baik, hingga beberapa pujian tercurahkan untuknya.
Ustadz Farhat Fathurohman, Memang bukan anak seorang kyai, namun keluarganya menjunjung tinggi syariat Islam dalam lingkungan mereka, membuatnya taat sejak usia belia.
Hingga saat usianya menginjak dua belas tahun, Farhat mulai tinggal di pesantren hingga dia duduk di bangku sekolah menengah atas. Beliau juga seorang Hafihz dari usia sepuluh tahun, dan menjadi Hafizh tiga puluh juz saat usianya menginjak tujuh belas tahun.
Kenapa Farhat dan Faqih berteman? hingga akhirnya Farhat turut mengajar di rumah Tafiz, padahal dia sendiri juga seorang guru Agama di salah satu Madrasah Aliyah dengan gelar PNSnya seharusnya dia sudah mapan. Namun karena kecintaannya terhadap anak-anak yang mau menghafal Al-Qur'an beliau memutuskan untuk bersedia membagi ilmunya juga di rumah Tafiz milik keluarga ustadz Rahmat.
Awal pertemuan Farhat adalah karena mereka sering bertemu dalam ajang lomba Hafihz anak-anak masa dulu, hingga Farhat mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Universitas Indonesia. di sana pula mereka bertemu lagi, dan masuk dalam satu fakultas yang sama. Faqih dan ustadz Farhat semakin dekat seiring aktifnya mereka dalam bidang tilawah di kampus tersebut, serta sering mengadakan acara syi'ar Islam di kampus mereka. (Sebelum Faqih mengambil S2 di Kairo)
Di pagi yang masih temaram ini, ustadz Farhat berdiri di atas mimbar. Dia memberi kajian singkat dalam kuliah subuhnya, tentang Tawakal.
"Bismillahirrahmanirrahim... Wawajadaka dallan fahada. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." Tutur ustadz Farhat, membacakan salah satu ayat dalam surah Ad-Dhuha ayat 7.
"Kenapa saya mengawalinya dengan membacakan surah Ad-Dhuha? Ketika kita sedih, ketika kita memiliki masalah, ketika kita sedang jatuh kedalam lubang paling dalam, maka bacalah surah tersebut. Cari tahu kandungannya, di sana kita akan mendapatkan jawabannya, karena sesungguhnya hidup tidak pernah lepas dari yang namanya ujian hidup. Maka sebaik-baiknya kita sebagai hamba Allah yang beriman, kita harus memiliki sifat Tawakal." Sambung ustadz Farhat.
Di tengah-tengah dakwahnya, terdapat seorang wanita hamil tengah berada di tengah-tengah antara jama'ah wanita.
Qori Salbiah gadis berusia 20 tahun, tengah meresapi setiap isi ceramah yang di bawakan oleh ustadz tersebut, hingga setitik air mata menetes di pipinya, dengan tangan yang mengusap lembut perutnya yang sudah semakin membesar, karena sudah masuk usia sembilan bulan. (Kalian ingat Qori kan? sahabatnya Nuha yang hamil tanpa suami? Di salah satu Bab Rindu, novel Ikrar cinta Ustadz Irsyad ada ya? Nah ini nasibnya sekarang. 😊)
__ADS_1
"Tawakal adalah sebuah kekuatan bagi orang yang beriman, bahkan dia menjadi ciri keimanan. Makin tinggi keimanan seseorang maka makin besar rasa bergantungnya kepada Allah. Di antara ciri orang yang bertawakal adalah munculnya ketenangan hati dalam hidupnya."
"Jadi ketika selama ini kita sering merasa khawatir, sering galau, sering bingung? Maka salah satu kunci untuk menghilangkan semua perasaan yang tidak nyaman itu adalah belajar tawakal. Belajar bergantung dan menyerahkan segalanya,masalah dan beban hidup kita pada Allah SWT. Kalau sudah seperti itu kita pasti percaya Allah itu sebaik-baiknya yang akan mengurus masalah kita, serta yakin Allah adalah sebaik-baiknya yang mampu memberikan jalan keluar di tengah-tengah kebuntuan masalah kita itu. Kita juga percaya Allah akan menuntun kita pada jalan yang terbaik. Seperti surat di atas yang saya bacakan di awal. Bahwasanya orang yang bertawakal adalah dia yang mampu mempercayai bahwa setiap hal yang membuat kita menangis, terluka, dan kecewa itu salah satu takdir Allah yang akan membangun kita menjadi karakter yang semakin kuat dan percaya saja bahwa itu tidak abadi, pasti akan ada titik dimana kita akan bertemu dengan hal indah yang akan membuat kita bahagia setelahnya."
"Seperti contohnya kita bermain game level? Semakin tinggi levelnya, maka kita akan bertemu lawan yang berat. Dan biasanya, kita akan gagal dulu terus kita ulang lagi level itu sampai akhirnya berhasil dan naik ke level selanjutnya seperti itu kan ya? Main game saja kita bisa loh seistiqomah itu, tapi kenapa berjuang dalam hal ujian hidup kita menyerah, dan menyalahkan orang lain, bahkan yang lebih buruknya sampai menyalahkan Tuhan?"
Ustadz Farhat masih menyambung ceramahnya, hingga tanpa sadar air mata Qori semakin menderas, dia menyentuh tangannya, menyingsing sedikit lengan bajunya menatap memar akibat hantaman sang ayah tadi malam, lalu kembali lagi menutupnya.
Bisik-bisik di belakang pun terus saja menghujam. Memang mereka menganggap Qori adalah wanita yang tak tahu malu, dengan perut besarnya itu dia masih mau memunculkan batang hidungnya di depan semua tetangga walaupun cibiran terus saja terhunus ke arahnya.
Qori menyeka air matanya, dengan tatapan lurus ke depan.
Hingga ceramah ustadz Farhat selesai. Qori masih tertahan di sana, saat semua jamaah wanita sudah berhamburan keluar, sebenarnya bukan tanpa alasan dia duduk diam diatas sajadahnya, melainkan rasa nyeri di perut.
'ya Allah... Mungkinkah aku akan melahirkan sekarang?' batin Qori mulai merintih.
Samar-samar telinganya mulai mendengar suara rintihan seorang gadis. Awalnya dia kurang yakin, dan berusaha mendengarkan ulang lagi dengan seksama.
"Ssssshhh... Ya Allah." Rintih Qori lagi.
"Tidak salah lagi, ini suara orang kesakitan." Farhat beranjak dengan cepat, ia mengucap bismillah lalu menyibak tirai hijau pembatas jamaah perempuan dan laki-laki.
"Innalilah..." Gumam Farhat. "Mbak? Maaf, apa anda baik-baik saja?"
__ADS_1
"Pe... perut, sakit." Jawab Qori, terlihat raut wajah panik namun masih berusaha tenang di diri Farhat.
"Maaf, apa mbaknya sedang hamil?" Masih menjaga jarak dari wanita itu.
"I...iya ustadz. Aaaaaa..."
"Allahuakbar... Bagaimana ini?" Farhat celingukan, mencoba mencari seseorang. Lalu kembali pada Qori. "Su...suami mbak mana? Mbak kesini sama suami mbak kan?"
"Aaaaaa...." Qori semakin merintih.
"Duh, bagaimana ini? Mbak tolong tenang sebentar ya, kasih tahu saya. Suami mbak di mana?"
"Sa...saya... Saya tidak... Me... memiliki su...suami us... ustadz."
"Innalilahi wa innailaihi roji'un." Gumam Farhat. "Lalu? Bagaimana bisa?"
"To...tolong saya ustadz, perut saya sakit. Sa...saya sudah tidak tahan." Mendengar itu semakin paniklah Farhat, dia mondar-mandir keluar masuk mushola mencoba mencari bantuan. Hingga datang salah satu saudaranya itu. Farhat mulai lega.
"Haidir...!!" Seru ustadz Farhat pada laki-laki berusia 22 tahun itu, yang langsung saja mendekat.
"Mas Farhat masih di sini? Kirain sudah pulang." Tanya Haidir.
"Tolong, cari bantuan. Siapapun kalau bisa wanita dan laki-laki ya... Ada yang yang mau melahirkan."
__ADS_1
"Siapa?"
"Entah mas juga tidak tahu namanya. Tolong ya... Cepat!" Kembali berlari masuk, sementara Haidir berlari mencari bantuan keluar.