Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An

Ikrar Cinta Sang Hafizh Qur'An
akang cilok sih...!


__ADS_3

Siang kembali datang, dimana tubuh Nuha yang sudah pegal membuatnya merasa ingin sujud syukur ketika adzan Zuhur berkumandang, karena saat itu juga A'a pun melepaskan dirinya dari lingkungan kaki dan tangannya yang berat itu.


Namun sepertinya keanehan itu belum berakhir saat ini A'a tengah duduk di atas ranjangnya, meminta Nuha memijatkan kepalanya sejenak karena pusing setelah tidur siangnya.


"Kencangkan neng ya Allah... Nggak kerasa atuh... Sok keras Ken." Titahnya dengan nada yang menyebalkan, membuat keikhlasan di hati Nuha menjadi berkurang, yang ada dia malah mendengus sebal. "Neng? Kemana deui?"


"Apa sih? A'a coba ngomongnya pakai bahasa Indonesia saja, Nuha nggak ngerti."


"Mau kemana lagi?" Menjelaskan.


"Mau ambil air A'..."


"Untuk apa?"


'nyembur kepala A'a... Biar tidak menyebalkan.' batin Nuha, dia pun menghela nafas. "Untuk kamu sayang." Jawabnya selembut mungkin.


"A'a nggak minta."


"Biar segeran."


"Nggak mau... Sini, Pijit deui... Sok neng." Fakih meraih tangan Nuha meletakkannya di kepala. Nuha pun memijatnya lagi, sungguh tangannya sudah benar-benar pegal. Tidak habis fikir Nuha, Faqih sakit sampai sebegitu merepotkannya. Membuatnya ingin berjalan ke tebing jurang lalu berteriak sekencang-kencangnya.


"A'a ayo sholat dulu. Sudah hampir lewat. Sudah jam setengah satu ini."


"Astagfirullah al'azim... Memang sudah Zuhur?"


"Iya... Memang A'a tidak dengar tadi suara adzan?"


"Nggak neng."


'dih kirain dia bangun karena dengar suara adzan.' batin Nuha.


"Ya sudah Tunggu apa lagi, ayo siap-siap sholat." Beranjak lebih dulu. "Sok neng... Lelet nih kamu ya."


'apa sih dia bilang aku lelet, dasar suami manja menyebalkan.' runtuk Nuha dalam hati, hingga kepala Faqih kembali nongol dari tandas.


"Neng...?"


"Iya, kesayangan iya ini mau turun." Nuha menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kemudian 'sabar Nuha... Sabar.' Nuha berjalan mendekati area tandas guna bersiap untuk sholat.


–––


Pukul dua siang...


Keduanya pun keluar dari hotel tersebut dan memutuskan untuk langsung kembali ke Jakarta, terlebih Sepertinya mood A' Faqih buruk, belum lagi dia yang masih merasakan mual. sebenarnya gadis itu sedikit khawatir juga melihat kondisinya namun mau bagaimana lagi. A'a bilang dia tidak apa-apa ya sudah lah turuti saja kemauannya itu yang tetap ingin menyetir sendiri mobilnya.


Di tengah perjalanan, Nuha benar-benar di buat dongkol. Dimana setiap kali ada jajanan dia pasti berhenti, entah itu siomay, batagor, hingga tahu gejrot dia pasti akan minta berhenti dulu untuk jajan.


Tidak seperti biasanya, padahal yang gemar sekali jajan kan Nuha. Sekarang seperti kebalikannya.


Seperti saat ini, baru sekitar sepuluh kilometer berjalan sehabis jajan tahu gejrot tadi, mobil sudah mulai pelan, di mana kepala A'a menoleh kebelakang.


"Ya Allah neng cilok."

__ADS_1


"Hah?! Lagi?"


"Iya." A'a mengentikan laju mobilnya menepi. "Sebentar neng... Yuk turun jajan dulu."


"Ya Allah A'a... Mohon maaf ya, kita udah berhenti berapa kali cuma untuk jajan? Nuha sudah tidak kuat nampung lagi makanan."


"Tapi A'a ingin makan cilok itu, keliatannya enak neng. Sok aahhh turun heula."


"Iya Nuha tahu, tapi kalau setiap saat kita turun buat jajan kapan sampai Jakartanya, yang seharusnya cuma dua jam bisa sampai lima jam kalau kaya begini." Nuha sudah sangat dongkol, dia pun memalingkan wajahnya ke samping.


"Neng...?" Panggil A' Faqih tegas.


"Apa sih? Nuha cape A'... Ck!"


"Nuha Qanita?" Panggil A'a lagi. Gadis itu menoleh malas.


"Turun ayo... Kita jajan cilok."


'iiiishhh bener-bener ya A'a ini.' Nuha garuk-garuk kepala kesal, "iya A..." Pasrah saja dia turun dari dalam mobilnya.


"Ikhlas tidak tuh?" Seru A'a dari dalam sebelum gadis itu menutup pintu mobilnya lagi.


"Ikhlas suami ku." Jawab Nuha malas.


"Mana senyum mu?"


Nuha melebarkan senyumnya... "Tuh..." Melihat itu Faqih menahan tawanya merasa gemas dengan Nuha.


"Kasian Hilwah ku." Gumam Faqih saat pintu itu sudah di tutup oleh Nuha, dia pun turut turun. Di luar seperti habis hujan terlihat dari aspal yang basah dan beberapa tetesan air dari pohon-pohon.


"Itu." Menunjuk ke sebuah gerobak.


"Ya Allah sudah kelewatan lumayan jauh A'..." Nuha menggandeng lengan A' Faqih.


"Nggak apa-apa, sambil jalan-jalan sore."


'rese ya nih orang, bener-bener niat banget ingin membuat ku lelah ya.' berjalan dengan malas mengikuti langkah kaki Faqih.


"Jalanya yang cepet neng, keburu pergi akangnya."


"Ya lagi kenapa tadi tidak mundur saja sih mobilnya... Sebel deh, liat jalannya kan licin." Nuha seperti ketarik-tarik saat melangkah bersama A'a yang seperti orang kebelet ke toilet saking takutnya tuh akang cilok pergi.


"Tidak usah menggerutu terus, menuruti suami kamu itu kan ibadah." Masih melangkah dengan cepat.


'seapa-apanya aja di sangkut pautin sama ibadah, dasar! Memanfaatkan sekali sih kayanya nih orang.' Nuha ingin sekali melepaskan pegangan tangannya. Sudah tidak sanggup dia berjalan di dekat A' Faqih.


Hingga akhirnya mereka sampai ke gerobak tersebut, di mana si akang sedang makan bakso di tenda sebelahnya.


"Kang! cilok–" seru Faqih. Pada pria yang sedang melahap satu baksonya utuh, sembari mengunyahnya. Bayangin saja ketika seseorang makan bakso panas kaya apa mulutnya, nah seperti itu lah gambaran akang ciloknya haha.


"Punten, ciloknya teh habis." Tutur beliau setelah menelan baksonya.


"Duh... Nggak ada sisa barang hiji, dua?" Tanya Faqih.

__ADS_1


"Teu Aya A'... Eta tingali?" Membuka tutup pancinya.


"Kali saja di keresek Hitam itu kang... Pengen sekali saya, serius." Faqih menunjuk ke arah keresek Hitam di dalam gerobak kaca itu.


"Itu mah salin saya... Beneran atuh A' habis cilokna." Jawab akang cilok, yang sedang kepedesan karena belum minum saat makan bakso tadi.


"Kumaha nyak? Bisa di cariin gitu? Cek lagi coba kang. Punten pisan."


"A'a ihhhh apaan sih, orang habis juga." Nuha menarik tangan A' Faqih.


"Tapi A'a pengen cilok neng."


"Jangan kaya anak kecil ya, ayo balik lagi saja kemobil kita cari kang cilok yang lain, yuk ahhh." Nuha menarik-narik tangan A' Faqih.


"Bentar neng kali saja di umpetin sama akangnya."


"Ya Allah ngapain dagangan saya umpetin, emas baru di umpetin, di bilang habis juga, tidak percayaan sekali?" Akang cilok itu mengusap wajahnya yang basah karena keringat, menggunakan kaosnya.


"Percaya kang... Hehehe maafkan suami saya ya." Nuha menarik tangan A' Faqih. "Ayo pulang... Kalau nggak Nemu nanti di Jakarta Nuha buatkan. Ayo A'..." Dengan memaksa akhirnya kaki Faqih pun melangkah maju, meninggalkan akang cilok itu.


"Neng..."


"Apa sih?"


"Pengen cilok ihh... Cari dulu ayo, kali saja ada." Masih saja dia membujuk. Nuha pun menghentikan langkahnya, lalu menghadap A' Faqih dengan tatapan kesal.


"I...itu kamu marah atau bagaimana?"


"Menurut A'Faqih?"


"Marah sih kayanya," Faqih garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"A'a tahu Nuha saat ini pengen apa?" Tanya Nuha menahan geramnya. Faqih pun menggeleng. Sementara Nuha melihat ada botol plastik sisa air mineral yang entah punya siapa di dekat trotoar jalan. Dia pun meraihnya. "Lihat nih, saking Nuha geramnya sama A'a." Nuha memeras botol air mineral itu sampai benar-benar terpelintir. Kraaaaaaakkk.


Gleeekk...! Faqih menelan selavinya.


"Sekarang A'a pilih? Mau langsung pulang? Atau cari jajan lagi? Kalau mau cari jajan lagi, mending anterin Nuha ke terminal dan Nuha naik bis saja lah...!"


"Iya... Iya kita pulang deh. Tapi?"


"Tapi apa lagi?"


"Istighfar dulu. Soalnya mau ada Yang jatuh."


"Maksudnya?" Nuha bingung, Faqih pun tersenyum jail. Dia bejalan pelan lalu menendang batang pohon hingga air di dedaunan itu semua mengenai Nuha sedangkan dia langsung berlari menghindari jatuhnya air itu, sembari tergelak.


"A'aaaaaaa ya Allah....!" Nuha menghentakkan kakinya kesal pada suaminya itu. Faqih pun mendekat lagi seraya tertawaan terbahak-bahak.


"Maaf sayang maaf.... Biar kepala mu itu dingin aja."


"A'a benar-benar ya? Pengen liat murkanya Nuha atau bagaimana sih?"


"Nggak papa murka terus. Kamu tuh bukan nyeremin kalau lagi marah tapi gemesin. Hahaha."

__ADS_1


"Pukul juga nih ya..."


"Hahaha ampun sayang... Yuk ah pulang, pukulnya pakai cinta saja di Jakarta ya." Menggandeng tangan Nuha Kemudian lalu membawanya menuju mobil mereka. Nuha pun menghela nafas panjang, berusaha sabar menghadapi Faqih yang kadang-kadang bersikap kekanak-kanakan itu. 'dasar anak tunggal manja.' runtuk Nuha dalam hati yang sudah habis kesabaran.


__ADS_2